Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Rey Menangkap Warga


__ADS_3

"aku haus darah.." Rey merasakan dahaganya sangat kuat. Rasa itu terus mengganggunya. Sudah lama sekali Ia tidak merasakan manisnya daging manusia.


Babi hutan tak membuatnya merasa puas. Ia sepertinya sudah mulai ketagihan.


Rey memuruni rumah pohonnya. Ia berjalan sembarangan tanpa arah. Langkahnya gontai. Bayangan akan daging manusia terus mengisi otak kepalanya.


Rey melihat seekor kelinci sedang berlari disemak-semak. Namun binatang yang terlihat jinak itu sangat sulit untuk ditangkap.


Binatang menggemaskan itu ternyata seekor binatang pelari yang handal.


Rey mengejarnya. Berlari hingga jauh meninggalkan rumah pohonnya. Hingga akhirnya , langkahnya terhenti saat mendengar gemericik air sungai.


Rey menajamkan pendengarannya. Lalu mengikuti sumber bunyi dari gemericik air tersebut.


Ia menyibakkan semak tumbuhan perdu yang tumbuh subur ditempatnya berdiri.


Ia melihat pemandangan yang sangat menggiurkan hatinya. Seorang wanita sedang mencuci sendirian diatas batu besar ditengah sungai yang dangkal.


Rey menjulurkan lidah, dan menyapu bibirnya dengan lidah. Rasa ingin menyantap sangat terlihat di matanya.


wanita yang hanya menggunakan kain panjang sebagai penutup tubuhnya saat mencuci, membuat naluri hasratnya bangkit.


Rey tak sabar ingin mendekap wanita itu. Sepertinya wanita itu tidak menyadari jika bahaya tengah mengincarnya.


Wanita itu mencuci pakaian sembari bersenandung lirih. Ia begitu tampak sangat bahagia, terlihat dari lirik senandung yang dinyanyikan.


Ternyata wanita muda itu adalah seorang darah manis. (istilah orang tua dulu darah manis itu orang yang sedang bertunangan, dan biasanya rawan akan marabahaya)


Wanita muda itu dipinang oleh pemuda yang berasal dari luar desa nya. dalam waktu dekat Ia akan melangsungkan pernikahan.


Rumah wanita muda itu berada jauh dari sungai. Dan sungai itu adalah sumber air satu-satunya didesa. Biasanya Ia mencuci bersama 2 orang temannya, namun hari ini, kedua temannya sedang tidak mencuci, karena ada sesuatu hal.


Wanita bernama yati itu masih asyik dengan kegiatan mencucinya. Lalu tiba-tiba Ia berhenti bersenandung. Sesuatu membekap mulutnya. Lalu menarik dan menyeretnya.


Wanita itu meronta-ronta meminta untuk dilepaskan, hingga kainnya melorot, tertinggal bersama cucian dan perlengkapannya.


 


Rey memukul kepala wanita muda itu dengan keras, sehingga wanita itu tak sadarkan diri.


Setelah korbannya tak sadarkan diri Rey memanggul wanita itu di pundaknya dengan posisi telungkup.


Lalu Ia berlari sangat kencang, menuju rumah pohonnya.


Setelah satu jam lamanya Ia berlari, Rey akhirnya sampai dirumah pohonnya.

__ADS_1


Dengan sangat susah payah. Akhirnya Ia sampai juga diatas rumah pohon.


Nafasnya tersengal. Ia meletakkan wanita yang tak sadarkan diri itu dilantai batangan kayu. Ia duduk tersandar dan kelelahan.


Rey mengatur nafasnya agar segera normal. Setelah menetralkan nafasnya, Ia memandang tubuh wanita itu. Ia ragu akan niatnya semula. Memakannya atau menjadikannya tawanan.


Perut Rey semakin keroncongan. Rasa perih kini mulai menggerogoti lambungnya. Ia masih memiliki satu ekor anak babi hutan yang diikatnya di dibawah pohon rumah kayunya.


Akhirnya Rey memutuskan untuk memakan anak babi hutan itu dan menjadikan wanita itu tawanannya. Rey turun ke bawah, lalu membunuh anak babi hutan dengan menusukkan batang kayu tepat didubur anak babi hutan.


Suara lengkingan kesakitan terdengar dari anak babi hutan, lalu Ia meregangkan nyawanya.


Rey menikmati babi hutan itu dengan lahabnya.


 


Tresno gelisah tak tahu sebabnya. begitu juga dengan Marni yang sedari tadi menunggu puterinya mencuci, tetapi sudah lewat tengah hari belum pulang juga.


"pak..coba lihat dulu Yati ke sungai? Koq sampai jam segini belum pulang juga mencuci." ucap Marni dengan perasaan khawatir.


"apa mungkin sedang main air dengan temannya Lia dan Lina ya bu.? " jawab Tresno, namun ragu.


"ya sudah.! Ibu saja yang lihat kalau bapak tidak mau" ucap Marni dengan kesal. Lalu Ia beranjak menuju sungai.


Tresno yang melihat istrinya ngambek langsung mengekori dari belakang.


"lho. Lia dan Lina tidak mencuci bareng dengan Yati toh..?" sapa Marni dengan cemas.


"kami tadi keluar desa bu lek. Kami belanja kado untuk pernikahan Yati yang sebentar lagi akan digelar. Tapi jangan bilang-bilang sama Yati ya bu Lek." ucap kedua gadis itu sembari tersenyum.


[Deegh...]


Debaran dihati Marni semakin kencang. Ia membayangkan hal buruk pada anak gadisnya. Wajahnya pucat seketika.


Lia dan Lina saling pandang satu sama lain. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"ayo Pak. Cepat kita ke sungai." ucap Marni sembari menarik tangan Tresno dengan langkah yang terburu-buru.


Lia dan Lina merasa kebingungan. Namun akhirnya mereka mengekor dari belakang menuju arah sungai.


Sesampainya disungai Marni langsung berteriak


"Yatiii.." Ia sangat histeris dan ketakutan. Mereka tak menemukan Yati disana. Hanya kain sarung basahan yang dipakainya, cucian, sabun dan keranjang pakaian.


"Yatiiii.." teriak Lia dan Lina bersamaan. Mereka juga merasa cemas akan keadaan sahabatnya. Apalagi sebentar lagi sahabatnya akan melepas masa kegadisannya, dan menyandang gelar istri.

__ADS_1


Teriakan mereka didengar warga yang melintas. Para warga yang baru saja pulang berkebun merasa penasaran. Lalu menyempatkan diri menghampiri mereka.


"ada apa pak Retno..?" sapa seorang warga.


"Yati pak, tiba-tiba menghilang. Ini cuciannya ada, tetapi Yatinya gak ada." ucap Retno dengan cemas.


Lina melihat ada noda darah di bebatuan yang sudah mengering. Darah itu berasal dari luka goresan kaki Yati saat diseret oleh orang yang tak dikenal.


"lihat, ini ada noda darah, sepertinya Yati diseret ke arah semak" ucap Lina menduga.


Lalu mereka mengamati penemuan yang dilihat Lina. "tidaaak." teriak Marni histeris. Ia membayangkan Yati telah dimangsa binatang buas.


Marni menangis tersedu-sedu. "Yati..mengapa nasibmu sangat malang Nak.?" rintihan Marni menyayat hatinya.


Semua yang berada disungai merasa kengerian yang sangat mendalam. Mereka membayangkan Yati yang kesakitan saat dicabik binatang buas.


"apakah kita lakukan pencarian saja? Mana tau kita menemukan jejak Yati." usul salah seorang warga.


"baiklah, sebaiknya kita lakukan pencarian sekarang, sebelum hari gelap." yang lain menimpali.


"kalau begitu, para wanita sebaiknnya pulang, karena akan sangat berbahaya didalam hutan." Pinta Retno.


"tapi Ibu ingin ikut mencari pak..!" rengek Marni dengan menghiba.


"tidak bu, pulanglah bersama Lina dan Lia biarkan kami para laki-laki yang mencari." Retno memujuk istrinya.


Akhirnya Marni mengalah. Dengan perasaan hancur Ia kembali pulang kerumah sembari memunguti cucian Yati yang belim selesai.


Dalam sekejap, kabar menghilangnya Yati tersebar luas. Warga berbindong-bondong menyambangi rumah Marni. Mereka berempati dan berdoa bersama untuk keselamatan Yati.


Marni yang terus menangis, membuat matanya sembab. Ia sangat terpukul akan peristiwa yang menimpanya.


---------


Para warga desa yang turut membantu pencarian Yati berteriak memanggil nama Yati. Mereka menyisir semak perdu dengan membawa senjata tajam.


Mata mereka terus menyusuri setiap sudut hutan. Berharap Yati ditemukan. Seorang warga mendengar suara mencurigakan dari balik semak. Ia mengendap-ngendap mencari tahu suara apa yang sedang didengarnya.


"Haaah..!" matanya terbelalak, saat melihat seekor harimau yang sedang memakan sesuatu dengan mulutnya yang berdarah-darah.


"aaaaaaaaa...." teriaknya dengan sangat kencang. Pria itu berlari dengan sangat kencang, lalu seekor harimau mengejarnya dari arah belakang.


Warga yamg lain membantu dengan menjulurkan kayu panjang untuk menakut-nakuti harimau tersebut.


Melihat banyaknya warga membuat Harimau memilih untuk pergi.

__ADS_1


Warga saling pandang satu sama lain. "apakah Yati dimangsa harimau itu..?" ucap Retno lirih. Hatinya hancur berkeping-keping.


Lututnya terasa lemas. Ia seperti tak mampu untuk berdiri lagi lalu jatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2