
Pukul 9 pagi.. Suasana riuh dan gempita..
Praaaank.. Tung..taaang..
Suara palu dan sebagainya saling bersahutan saat melakukan perenovasian rumah Mala.
system renovasinya rumah Mala diperbesar, dan rumah lama dikurung oleh dinding yang baru. Ketika dinding baru sudah berdiri tegak, maka dinding lama dihancurkan.
Suara dentingan benda-benda itu membuat bising dan telinga merasa terganggu.
Suara-suara itu membuat Roni yang sedang tertidur merasa gelisah. Ia tidak ingin ada suara bising saat Ia tertidur.
Matanya yang berat dan sulit untuk dibuka membuatnya semakin kesal.
Roni mengerjap-ngerjapkan matanya, memaksa matanya untuk terbuka.
Setelah usaha yang cukup keras, akhirnya Roni berhasil membuka matanya. Masih berat, namun Ia tetap berusaha.
Roni memegangi kepalanya yang pusing, pengaruh obat tersebut membuat penggunanya selalu mengantuk.
Karena merasa terganggu, Ia berjalan dan berusaha untuk keluar dari kamar.
Mala masih sibuk didapur. Ia sedang mencuci pakaian yang diputar di mesin cuci.
sembari mencuci, Ia juga sibuk memasak, untuk menu makan siang. Karena Satria lebih suka makan siang dirumah, maka Mala memasak makan siang dan sekalian untuk pekerja bangunan yang akan merenovasi rumahnya.
Roni berjalan sembari memegangi kepalanya, Ia sekuat tenaganya untuk berusaha keluar dari rumah.
Suara dentingan alat-alat tukang membuatnya begitu amat tersiksa.
Roni mencapai pintu keluar dengan terhuyung-huyung. Seaaat Ia berhenti didepan pintu, melihat sinar mentari yang sudah lama tak Ia lihat. Pendaran cahayanya menyapa kulitnya yang begitu amat menghangatkan.
Entah mengapa Ia tersenyum saat merasakan hangatnya sinar mentari.
Roni berjalan keluar rumah, tanpa ada satupun yang mengetahuinya.
Para tukang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tak sesiapapun yang menyadari Roni keluyuran.
Saat berada dipersimpangan jalan, antara utara dan selatan, Roni memilih kearah selatan.
Jika ke utara, itu arah puskesmas dan rumah Bayu, namun selatan arah menuju kampung sebelah. Disana terdapat pasar tradisional yang jaraknya lumayan jauh jika ditempuh berjalan kaki. Disana juga banyak bangunan ruko yang menjual berbagai alat kebutuhan rumah tangga.
Roni menyusuri jalanan dengan sangat sumringah. Pendaran mentari membuatnya begitu amat semangat.
Pagi ini Ia belum sarapan, saat Mala membangunkannya untuk sarapan, Ia tidak mau bangun dan menolaknya.
Tak sedikitpun Roni merasakan lelah saat berjalan .
__ADS_1
Hingga saatnya Ia merasakan perutnya sangat lapar. Ia ingin memakan sesuatu. Namun Ia tidak tahu harus meminta kepada siapa.
Sesaat ada seorang penjual sarapan pagi dipinggiran jalan, dengan sebuah stailing kaca yang berdiri kokoh.
Aroma masakan yang menggugah selera membuatnya begitu tergoda.
Ia menghampiri penjual sarapan tersebut.
"mau beli apa pak..?" tanya penjual sarapan dengan ramah.
Roni terdiam, namun Ia melihat ada ayam goreng kalasan yang biasa Ia makan karena Mala sering memasaknya.
Roni hanya menunjuk ayam goreng tersebut.
"mau makan disini apa dibungkus pak..?" tanyanya ramah..
Roni diam membisu. Lalu sipenjual memilih untuk membungkusnya.
setelah selesai, penjual sarapan itu yang seorang wanita berusia 55 tahun menyerahkan pesanan Roni.
"ini pak.. 10 ribu.." ucap Penjual itu.
Roni meraihnya, lalu memutar tubuhnya untuk pergi.
Sipenjual sarapan merasa heran. Ia mengernyitkan keningnya. " pak..pak.. Bapak belum bayar pesanannya." ucap Si ibu dengan nada kesal.
Roni menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah si ibu. Ia merogo saku celana dan bajunya, namun tidak ada sepeser uangpun.
Sipenjual bertambah berang. "kalau tidak ada uang kenapa pesan..?! Bikin kesal orang saja pagi-pagi..!!" hardik si ibu penjual sarapan.
Suara kegaduhan itu didengar oleh seorang pria tampan yang sedang membeli bohlam ditoko sebelah. Karena penasaran, Ia, menghampirinya.
pria berkacamata hitam, menggunakan topi, dan masker itu sudah berada disisi Roni.
"ada apa bu..? Koq ribut-ribut?" tanyanya lembut.
Si ibu menatap kesal pada pria tersebut.
"ini nih.. Si bapak ini sudah buat saya kesal pagi-pagi. Beli sarapan tapi gak dibayar, mana saya belum buka dasar lagi." ucap Si ibu nyolot.
"emang berapa harga sarapannya bu..?" tanya pria itu setenang mungkin.
Si ibu menatap malas kepada Roni. "sepuluh ribu rupiah.." jawab si ibu ketus.
Pria itu mengembil dompetnya, lalu mengeluarkan uang selembaran 100 rbu rupiah.
"ini untuk bayar sarapan mas ini." ucap pria itu dengan tenang, sembari mengulurkan uang tersebut.
__ADS_1
Si ibu menatap pria dengan bingung. "saya belum ada kembaliannya Mas, soalnya belum ada yang membeli.." ucap si ibu lirih.
"sudah..ambil saja.. Saya ikhlas koq." ucap pria itu dengan senyum datar.
Si ibu membeliakkan matanya, serasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
" Iya bu.. Anggap saja sedekah, karena sedekah itu pembuka pintu rezeki kita." jawab Pria itu lembut, namun penuh sindiran.
Si ibu tertunduk malu. Mungkin benar yang diucapkan pria itu, jika selama ini Ia sangat begitu kikir terhadap hartanya.
Pria itu lalu menoleh kearah Roni " sudah mas, silahkan dimakan sarapannnya, ini sudah hampir setengah sepuluh, nanti masuk angin." ucap pria itu sembari tersenyum tulus.
Pria itu merasa seperti pernah melihat Roni, tapi entah dimana. Ia mencoba menggali memorynya, namun sepertinya tak menemukannya.
Roni membalas dengan anggukan sebagai ucapan terimakasihnya.
Pria itu ikut membalas dengan anggukannya dan kembali dengan berbelanjanya. Ia berencana akan membeli lemari es untuk mengganti yang sudah lama dan rusak.
Roni menyeberangi jalan utama yang tampak lengang. Ia berjalan arah pulang dan menyurusuri jalanan.
Setelah cukup jauh berjalan, Ia sampai disebuah ponon nan rindang.
Roni berhenti disana Ia berhenti dan duduk dibawahnya.
Roni membuka bungkus sarapan itu, lalu memakannya dengan lahab.
Saat itu Pria itu sedang menuju arah pulang, tanpa sengaja Ia melihat Roni duduk dibawah pohon tersebut.
Karena merasa iba, Ia menepikan dan menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Ia melihat Roni sarapan tanpa air minum, lalu Ia mengambil sebotol air mineral yang ada dilaci nakas mobilnya, lalu membawanya dan berjalan menghampiri Roni.
Roni sudah selesai sarapan, lalu Ia bingung harus dengan apa mencuci tangannya sekaligus minumnya.
Saat Ia sedang bingung, seseorang menawarkan sebotol air minum padanya, dengan senyum tulus.
Roni membalas senyuman itu, lau meraihnya dan menganggukkan kepala sebagai ucapan terimakasih.
Pria itu duduk disebelah Roni. "mau kemana mas..?" tanyanya ramah.
"Roni hanya membalas dengan senyum datar..
Pria itu menganggap jika Roni mengalami kebisuan, karena tidak berbicara dari tadi.
"mau saya antar pulang..?" tanya Pria itu ramah.
Roni menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
__ADS_1
"oh ya sudah.. Hati-hati ya mas.. Saya mau pulang dulu, masih ada urusan.." ucap pria itu, lalu beranjak pergi.
~hai Reader.. disini Roni tinggal murni sisa skizoprenia ya. Karena saat kerasukan kemarin sudah dusembuhkan oleh Satria. Jadi jni adalah murni skizoprenia. Ini disebabkan karena Ia membunuh Reza saat itu. Hal itu yang membuat Roni merasa tertekan dan takut akan dosa. Namun demi kehormatan istrinya, Ia melakukan hal itu. penyakit ini tidak bisa sembuh 100% , hanya 85 % saja tingkat kesembuhannya.~