Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
draft


__ADS_3

Mala tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia semakin bingung dan terasa tergagap untuk mengatakan apa.


"Mari saya bantu.. Apa mau saya antarkan sampai rumah..? Saya pemilik baru rumah sebelah itu" Ucap Bayu mencoba setenang mungkin, sembari menunjuk kearah rumah Reza.


Andai saja Mala dapat melihat isi hatinya saat ini, mungkin Ia tak kalah gemuruhnya. Debaran didadanya kian memburu tak terkontrol.


Wajah cantik itu.. Ah..sungguh melenakannya.


"emmm.. Ini, suami saya sedang sakit, gak tau kenapa tiba-tiba sampai berjalan nyasar kemari.." jawab Mala dengan tergagap. Ia sungguh takut dengan semua kebohongan yang Ia tutupi. Ia tidak dapat membayangkan jika sampai orang lain mencurigainya, Ia tidak akan sanggup menerimanya.


"O.. Boleh saya bantu untuk membawa suaminya, saya tau jika itu sangat berat.."ungkap Bayu tulus.


Dengan rasa terpaksa, Mala mempersilahkan orang asing itu mengangkat Roni yang kini bersandar di pundak Mala.


Dengan hati-hati Ia mengangkat Kepala itu dan akan memindahkannya ketangannya. Saat wajah suami Mala terpampang jelas diwajahnya, seketika Ia terperangah.


Rasa terkejutnya melebihi saat Ia melihat Mala dari lantai dua kamarnya.


Namun semuanya tak mampu Mala rasakan, karena rasa kaget itu tertutup oleh masker dan kacamata hitam Bayu.


"Haaah.. Dia.. Roni..? Mengapa bisa..?.berarti suami Mala mengalami depresi..? Dia orang yang sudah menjadi temanku beberapa hari ini..?" Bayu berguman dalam hatinya.


Rasa gemetar menjalar disekujur tubuhnya. Ia seperti orang tremor yang otot-otot tubuhnya bergetar dengan cepat.


Bayu berusaha menyembunyikan rasa gemuruh dan gemetarnya.. Ia mengangkat tubuh Roni kedalam dekapannya.


"Ikuti saya, saya akan mengantarkan Anda kerumah.." ucap Bayu berusah tenang.


Ia memanggul tubuh Roni, lalu dengan segenap tenaganya mengangkat sampai kerumahnya menuju garasi mobil.


Saat melintasi taman belakang, mereka berpapasan dengan Danang. Saat melihat Mala, Danang begitu amat terpesonanya dengan kecantikan Mala meski berbalut dengan hijab.


Mata Danang yang tertuju pada Mala terlihat begitu sangat liar.


Bayu yang menyadari hal itu, segera menatap tajam pada Danang dengan tatapan sarkas membungkam.


Seketika Danang tersenyum kecut.


"Ambilkan saya kunci mobil diatas meja sofa." perintah Bayu kepada Danang.


Dengan senyum seringai, Danang menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Bayu menuju garasi mobil yang dengan mempercepat langkahnya. Mala mengekorinya dari arah belakang.


Sesampainya dimobil, Bayu menunggu Danang yang tadi dimintanya untuk mengambil kunci mobil.


Berat tubuh Roni tak menjadi penghalang baginya, Namun Ia masih tidak percaya, jika Roni adalah suami dari Mala, wanita yang begitu amat didambanya. Selain itu, Roni juga merupakan teman baru dan juga Ayah dari mantan Bosnya, Satria.


Danang yang ditunggu akhirnya tiba juga. "Bukakan pintu mobilnya.." titah Bayu kepada Danang.


Danang lalu membuka pintu mobil. "bukakan pintu tengah.."Ucap Bayu kembali.


Danangpun menuruti perintah Bayu. Bayu memasukkan tubuh Roni kedalam jok tengah.


Setalah itu, Ia mempersilahkan Mala untuk naik.


Danang yang sedari tadi memandangnya tampak begitu liar. Ia tak henti-hentinya memandangi Mala.


Bahkan saat Mala hendak naik keatas mobil, Ia sudah berfantasi liar dengan kemolekan yang dimiliki oleh Mala.


Bayu yang melihat hal itu seketika menjadi geram. Dengan sorot mata yang tajam, Ia membungkam Danang.


Bayu kemudian menghidupkan mesin mobilnya, lalu beranjak membawa mobil itu bergerak membelah jalanan desa.


"Kita pulang ke rumah mbak atau gimnna..?" tanya Bayu mencoba mencairkan suasana.


Bayu memperhatikan wajah cantik itu dari dashboar. Bagaimana mungkin Ia dapat melupakannya begitu saja.


Namun Roni, entah apa yang kini Ia rasakan. "Haruskah menjadi pecundang dengan mencari kesempatan dan memanfaatkan ketidakberdayaan Roni..? Begitu naifkah diriku..? Namun rasa cinta ini tak dapat kusembunyikan. Ia semakin tumbuh dan berkembang." Bayu berguman lirih.


"nanti kalau sudah sampai rumahnya, bilang ya Mbak.." ucap Bayu berbohong, padahal Ia sudah mengetahui rumah Mala sejak awal.


Setelah beberpa menit perjalanan, akhirnya hampir sampai didepan simpang depan umah Mala.


"simpang belok ya Mas.." ucap Mala dengan sungkan


Bayu menganggukkan kepalanya. Lalu Ia memutar mobilnya menuju rumah yang ditunjuk Mala.


Kini Mobil Bayu sudah sampai di depan rumah Mala. Ia melihat rumah itu dalam tahap pembangunan dan sedikit lagi rampung.


Bayu turun dari mobil, begitu juga Mala. Lalu Bayu membantu mengangkat tubuh Roni. "Dibawa kemana ini Mbak ?" tanya Bayu kepada Roni.


"emmm..minta tolong kekamar ya Mas.." ujar Mala dengan perasaan sungkannya.

__ADS_1


Namun Mala mencoba mengingat, sepertinya Ia mengenal suara itu. Suara itu seperti tidak asing baginya.


Namun, Ia mencoba menepiskan dugaannya, karena Ia sedang mengkhawatirkan Roni saat ini.


"Lho..bang Roni kenapa Mvak..?" tanya Bimo yang tak sengaja berpapasan dengan Mala.


"Nanti Mbak ceritain.. Ini masih kondisi genting." jawab Mala dengan terbata.


"Assslallammualikum.." ucap Bayu saat memasuki rumah Mala.


"Waalaikumsalam.." jawab Mala..


"suara itu.. Aku seperti mengenalnya.." Mala berguman dalam hatinya. Ia mencoba melirik wajah orang yang sedang membopong Roni.


Namun karena pria itu memakai pelindung, Mala tak dapat mengenali siapa Pria yang sudah menolongnya. Namun Ia memastikan jika pria itu sangatlah tampan.


Suasana rumah sedikit tampak berantakan. Itu semua karena tahap renovasi yang masih sedang berlangsung.


"Kemana saya harus meletakkannya Mbak..?" tanya Bayu lagi.


"Sekalian kekamar Mas..letakkan ditepian ranjang." jawab Mala.


Lalu Bayu menganggukkan kepalanya. Ia memasuki kamar dan Ia melihat tampak ada cairan infus yang tergantung disana. Lalu Ia meletakkan Roni disana.


Roni melihat cairan itu, lalu membacanya. "Berarti Ia terkena Gerd.. Apakah Ia tidak makan beberapa hari ini..? Beberapa hari ini kami tidak bertemu, Kasihan sekali diriinya.." Guman Bayu dalam hatinya.


Pengetahuan Bayu tentang kesehatn pernah Ia dapat saat berkuliah di Akademi keperawatan. Namun karena faktor lain, Ia memilih mengambil lagi kuliah jurusan bisnis dan bertemu dengan keluarga Bram.


Bayu memasangkan kembali jarum infus dioergelangan tangan Bayu, lalu membenahi letak tidur Roni agar lebih baik.


Mala tanpa sengaja melihat semuanya. "Siapa dia.. Mengapa begitu baik..? Dan tampaknya juga pintar.." Mala beguman lirih dalam hatinya.


Mala pergi kedapur untuk mengambil air minum, yang mana berniat akan ditwarkan kepada pria yang sudah membantunya.


Ia membuat segelas kopi panas, lalu membawanya kepada Pria, dan saat yang bersamaan, Pria itu juga keluar dari kamar hendak pulang.. Lalu..


Praaaaank...


Gelas yang dibawa Mala tersenggol tubuh pria itu tanpa sengaja dan jatuh berserakan dilantai.


tubuh Mala yang limbung itu segera ditangkap oleh Bayu, lalu pandangan keduanya beradu.

__ADS_1


Ah..mata indah itu.. Siapa yang sanggup menolak mengaguminya. Namun, Secepatnya Bayu membantu Mala berdiri, Ia tidak sanggup berlama memandang mata itu, Ia takut khilaf seperti kejadian yang sudah lama berlalu. Ia tidak ingin menyakiti hati wanita yang dipujanya.


Bersambung...


__ADS_2