
Sang Puteri Siluman terus gencar memberikan sentuhan yang memabukkan dan melenakan. Seketika Satria mendengar suara panggilan dari seseorang yang sangat Ia kenal.
"Anakku.. Sadarlah.. Itu hanya kesenangan semu yang nantinya akan dapat merusak mental dan jiwamu. Bahkan ragamu akan terkuras habis bagaikan sebuah benalu yang tumbuh diinduk pohin lalu menghabiskan seluruh energimu. Ingatlah.. Ia hanya memanfaatkanmu.." suara bisikan seseorang dari alam dunia mencoba membuyarkan segala angannya.
Seketika Satria tersadar dari segala sesuatu yang melenakannya.."Paman Hamdan..?" ucapnya lirih.
"Astaghfirullahaladzim.." ucap Satria beristighfar berulangkali, lalu Ia melanjutkannya dengan berta'awudz berulang kali pula..
"A'udzubillahiminnas syaithannirradzim.." ucap Satria lagi sembari menarik nafasnya. Seketkka sang puteri terlempar jauh kesudut dinding istana saat sedang asyik menggoda Satria.
Sang Puteri mengeluh kesakitan, Lalu Satria membuka matanya, dan seketika beristigfhar kembali ketika melihat tubuh polos Sang puteri.
Kalimat-kalimat yang dilontarkan Satria begitu sangat menganggu dan membuat ruangan istana menjadi serasa panas. Dengan rasa kesal dan penuh amarah karena hasratnya yang tak tersampaikan, maka Sang puteri berteriak dengan sangat kencang."Pengawal.. Datanglah kepadaku sekarang juga...!" titah Sang puteri dengan nada penuh amarah.
Seketika para pengawal yang dipanggil sang Puteri hadir dihadapannya. "Apa yang harus kami lakukan Puteri..?" tanya para pengawal yang merundukkan kepalanya saat mendapati sang puteri dengan tubuh polosnya.
"Bawa pemuda ini kedalam penjara bawah ruangan istana, aku ingin melihat seberapa kuat Ia dapat bertahan." ucap Sang Puteri dengan lantang.
Seketika para pengawal yang berjumlah 6 irang dengan senjata tombak ditangannya menyeret Satria kedalam sebuah lorong dan memasukkannya kedalam sebuah ruangan pengap dan remang-remang. Didalam ruangan itu, terdapat sebuah penjara yang berjeruji.
Para pengawal melemparkan tubuh Satria kedalam ruangan itu, lalu mereka mencoba menguncinya disana.
Satria beranjak bangkit dan berulangkali beristighfar akan ke khilafannya. "Ampuni dosa-dosaku ya Rabb.. Lepaskanlah aku dari segala jerat iblis yang menjerumuskan.." pintanya dengan sangat penuh penyesalan dan.penuh harap.
Lalu seketika muncul sebuah siluet ular naga yang tak lain adalah Chakra Mahkota. "Apakah kau menyesalinya..?" tanya Khadam itu.. Yang seketika membuat Satria merasa terkejut.
Lalu pemuda itu menoleh kearah seseorang yang sedang berbicara padanya, lalu Ia menganggukkan kepalanya. "Baiklah.. Aku akan membantumu keluar dari tempat ini.. Namun kau harus berjanji untuk dapat melawan hasrat duniamu yang tampak memabukkan.." ujar Chakra Mahkota kepada Satria.
__ADS_1
Pemuda itu merundukkan kepalanya. Ia sadar jika tadi Ia sempat terbuai dan terlena akan pesona puteri siluman ular yang tampak menggiurkan.
Sssssssshh..
Suara desisan ular tampak seperti menuruni anak tangga yang berasal dari lorong istana diruang bawah para tahanan yang membangkang.
Bersembunyilah dibalik perisai ghaibku.. Jangan keluar sebelum aku perintahkan.. Aku akan menjelma menjadi dirimu dan menggantikanmu.." ujar Chakra Mahkota dan merubah wujudnya menjadi Satria, Ia mengambil aroma keringat milik Satria agar sang puteri siluman dapat terpedaya oleh tipu muslihat mereka.
Seketika Chakra Mahkota merubah wujudnya menjadi Satria dan memberi perisai ghaib kepada Satria agar tak terlihat oleh puteri siluman ular.
Kreeeek...
Suara derit pintu besi dibuka..
Lalu Puteri siluman ular masuk kedalam penjara itu, dan merubah wujudnya menjadi seorang gadis yang cantik nan aduhai..
Satria palsu memandang dengan penuh senyum licik.."Apakah kau tidak berniat membawaku kesuatu tempat yang indah untuk kita memadu kasih..? Mengapa harus ditempat yang penuh lembab dan pengap seperti ini.." balas Satria palsu dengan penuh godaan.
Meski Puteri siluman sedikit curiga dengan gelagat Satria saat ini, namun Ia yang sudah terbakar hasrat membara karena terlalu terpesona oleh ketampanan anak manusia tersebut, sehingga membuatnya lupa untuk waspada.
Satria palsu kemudian membalas setiap sentuhan dari sang Puteri ular yang membuat siluman itu terpedaya.
Seketika tanpa sadar, Satria palsu merubah wujudnya menjadi seekor naga raksasa yang tanpa aba-aba langsung membelitkan tubuh puteri siluman ular yang masih hanyut dalam hasrat yang membara.
Tanpa sepengetahuan puteri siluman Ular, Khadam Chakra Mahkota membawa Satria dengan ekornya lalu melemparkannya keluar dari penjara tersebut.
"Ikuti lorong disebelah kanan, disana akan kau temukan jalan keluar menuju puncak bukit. Jangan pernah menoleh kebelakang apapun yang terjadi dan memanggilmu.." titah sang Khadam Chakra Mahkota.
__ADS_1
Satria meringis kesakitan karena lemparan tersebut begitu amat bersemangat, sehingga Chakra Mahkota melupakan jika Satria sampai terluka.
Namun tak ada waktu bagi Satria untuk menggerutu, Ia harus segera berlari keluar dari lorong dengan bantuan perisai ghaib dari Chakra Mahkota.
Disisi lain, Puteri siluman ular merasakan tubuhnya sakit karena belitan dari Chakra Mahkota yang mana sisik dari ular naga itu begitu kasar dan tajam.
Sesaat matanya terbuka, menatap seekor naga dengan kepala pria berjanggut dan berwarna putih yang tak lain adalah sama sebangsa jin dengannya.
Seketika puteri siluman ular kobra hitam membeliakkan matanya, lalu dengan bengis Ia merubah wujudnya menjadi siluman ular dengan menyemburkan bisa beracunnya kepada khadam Chakra Mahkota.
Lalu Chakra Mahkota menghindari semburan bisa beracun itu dengan cepat, dan kembali menyerang dengan semburan hawa dinginnya.
"Brengsek kau.. Beraninya kau menipuku..?!" seru Puteri siluman ular dengan nada penuh amarah dan kekesalan.
Puteri Siluman itu sangat marah karena berhasil dikelabui. Semburan hawa dingin dari cahaya berwarna violet itu melumpuhkan kekuatannya, namun Chakra Mahkota tidak melepaskannya begitu saja sebelum memastikan Satria dapat lolos dari lorong menuju pintu keluar.
Sementara itu, Satria terus berlari, namun sesaat Ia mengingat akan tas ranselnya yang mana disana ada banyak barang yang harus diselamatkannya, berupa tasbih pemberian Khadam syech Maulana dan beberapa barang lainnya.
Satria bingung apakah Ia harus kembali kedalam ruangan istana tempat dimana tad ranselnya berada atau terus melangkah mengikuti perintah Khadam Chakra Mahkota. Pemuda itu merasa dilema, langkah kakinya kian menyurut.
"Aku harus kembali ke istana, aku harus mengambil tad ranselku, disana ada banyak barang yang harus ku selamatkan.."Ujar Satria, lalu memutar langkahnya, dan kembali menyusuri lorong gelap dan mencoba mengingat dimana Ia pernah dibawa oleh para pengawal.
Satria terus berlari dan akan mencapai ruangan istana. Dikejauhan Ia melihat tas ranselnya yang reonggok diatas lantai beralaskan permadani. Lalu Ia berusaha mengendap-endap untuk mendapatkannya.
Seketika sebuah suara menyapanya.."Akhirnya kau datang kembali hai anak muda..!" suara seekor siluman ular kobra berwarna hitam yang berukuran raksasa telah menunggunya dibelakang, saat Satria akan menyentuh tas ranselnya.
Seketika Satria terdiam sejenak, lalu memandang kepada siluman ular tersebut dengan tatapan penuh kekesalan.
__ADS_1