
Mala berniat untuk membeli obat yang diresepkan oleh dokter untuk Hadi.
dengan segala semangat yang dimiliki Hadi, kink pemuda itu sudah mulai pulih.
Ia sudah dapat berkuliah lagi. semua juga katena andil sang ibu yang merawatnya dengan sungguh-sungguh.
"bu..Hadi berangkat kuliah dulu ya..?" ucap Hadi lembut. sembari menyalim ibunya.
Hadi mengendarai mobil pemberian ayahnya. kini Ia tak lagi menunggu angkot. meski lukanya belum begitu terlalu sembuh, namun Ia memaksakan untuk masuk kuliah. Ia tidak ingin jika harus mengulang mata kuliah jika sampai mendapat IPK hancur.
Mala mengangguk, "hati-hati dijalan ya sayang." ucap Mala sembari tersenyum.
"iya bu.." jawab Hadi sembari mengecup pipi ibunya. lalu beranjak pergi, yang diikuti oleh tatapan Mala dengan iringan Doa yang tulus untuk buah hatinya.
setelah Hadi berangkat kuliah, Mala segera berberes dirumah kontrakannya. Ia juga menyiapkan masakan untuk makan siang dan malam sekaligus. untuk menghemat biaya hidup, maka Mala harus pintar-pintar mengatur keuangan.
Mala pergi ke apotik dengan menggunakan angkot. Ia juga akan membeli beberpa bahan kebutuhan pokok.
Mala bebelanja dipasar tradisional. ada beberapa bahan yang dineli untuk stok selama seminghu, sembari menanti kiriman dari Roni, suaminya.
setelah selesai berbelanja, Mala melanjutkan ke apotik membeli obat untuk Hadi.
saat Ia hampir selesai berbelanja, datang seorang pria tampan yang hampir tergerus usia. Ia baru saja turun dari sebuah mobil mewah, dan berjalan tertatih menggunakan sebuah kaki palsu dibagian kaki kirinya.
Ia menemui penjaga apotik, lalu memberikan secarik kertas yang tertulis nama obat untuk dirinya.
saat penjaga apotik meracik obat yang dibutuhkan olehnya. Mala telah selesai dengan belanjanya.
"makasih ya dik.." ucap Mala sembari beranjak pergi.
[deeeg..seeerrr..] detak jantung pria itu seperti tersengat aliran listrik saat mendengar suara wanita yang berada disisinya tadi. suara yang begitu Ia kenal, suara yang begitu Ia dambakan.
wanita itu telah berjalan dengan cepat. Ia telah mencapi pintu keluar apotik.
Pria berkaki palsu itu berputar arah, ingin mengejar wanita berhijab lebar tersebut. wanita cantik yang telah Ia tetapkan cinta untuknya, masih tertata rapi dihatinya.
hatinya begitu berbunga, ketika mendengar suara wanita yang selama puluhan tahun tak pernah Ia dengar lagi.
dengan begitu bersemangat Ia mengejar wanita yang menjadi belahan jiwanya. suara panggilan apoteker tak lagi dihiraukannya. Ia ingin segera melihat wanita yang begitu dirinduinya selama puluhan tahun.
Mala telah menaiki angkot. Pria itu memasuki mobilnya, Ia mengejar angkot yang ditumpangi Mala.
Hati pria itu kini tak menentu, debaran dihatinya begitu syahdu. Ia menahan buliran bening yang siap jatuh. hatinya begitu bahagia dan juga pilu.
__ADS_1
"Mala..itukah kau.."
"aku masih merindukanmu.."
"Cinta ini masih tertata rapi untukmu.."
"mengapa kau tiba-tiba hadir dalam hidupku.."
"sekian lama aku mencoba melupakanmu.. namun takdir membawamu kembali kepadaku" Pria itu berguman lirih dalam hatinya, sembari terus fokus menyetir, mengekori kemana arah angkot itu pergi.
pria itu menurunkan kecepatan laju mobilnya, Ia melihat angkot memberi tanda jika akan berhenti.
Ia melihat wanita cantik itu turun dari angkot, lalu berusaha untuk menyeberangi jalan.
Pria itu menepikan mobilnya dari jarak yang sediki menjauh, berhenti didepan sebuah toko, berpura-pura membeli sesuatu agar tidak mencurigakan.
Mala terlihat sangat kesusahan membawa barang-barang belanjaannya yang lumayan banyak. pria menggunakan kacamata hitam dan topi agar tidak terlihat mencolok.
Ia sengaja ingin memberikan bantuan untuk membawa sekarung beras dengan berat 5 kg, umtuk meringankan beban Mala. dengan suara yamg dibuat nge-bas "bisa saya bantu seberangkan bu.?." ucapnya, dengan berusaha menyembunyikan identitasnya.
"Mala menoleh kearah pria yang hendak menolongnya itu." oh..boleh..terimakasih.." ucap Mala sopan.
Pria itu membantu menyeberangkan Mala dan membawa sekarung beras. meski Ia sendiri berjalan dengan tertatih, namun berhasil memberikan pertolongannya.
"terimakasih ya Mas.." ucap Mala dengan sopan dan tulus.
"aah..kamu..masih secantik dulu.. bahkan wajah kamu terlihat lebih bercahaya.." guman Pria itu dalam hatinya.
"tapi apa yang sedang dilakukannya dikota ini..?" Pria itu masih berguman dalam hatinya.
lalu Ia mengangguk. dan masih berdiri terpaku.
Mala permisi untuk pergi, Ia memasuki gang untuk mencapai rumah kontrakannya.
Diam-diam pria itu membuntuti Mala. hingga Mala sampai didepan kontrakannya. sebuah rumah petak empat yang berukuran kecil.
"apa yang kamu harapkan dari Roni pria miskin itu Mala..?"
"mengapa kamu begitu setiap padanya? meskipun kehidupan yang kamu jalani tidaklah begitu mudah.." Pria itu berguman lirih.
hingga akhirnya Mala masuk kedalam kontrakan dan menghilang dari balik pintu.
****
__ADS_1
Pria itu berjalan dengan hati yang sangat bahagia. Ia tidak pernah membayangkan jika dapat bertemu dengan wanita yang Ia puja selama hidupnya.
Ia bersiul-siul senang. seolah-olah Ia menemukan air ditelaga yang bening, setelah sekian lama kehausan.
Ia kembali menuju mobilnya. melajukannya dengan hati yang berbunga. sepanjang jalan ia tersenyum membayangkan wajah cantik itu.
sesampainya dirumah, Ia diomelin oleh Rianti, yang sejak tadi sudah menunggunya.
"kamu kemana saja sih mas..? lama banget ditungguin." ucap Rianti dengan ketus.
"emangnya kamu mau kemana.?" ucapnya dengan nada lembut, agar Rianti tak mencurigainya, jika hari ini Ia baru saja bertemu seseorang yang sejak lama dirinduinya.
"anterin aku ke restaurant. aku mau ketemu seseorang." ucapnya dengan kesal.
"baik Ratuku..aku akan membawamu kemanapun." ucap Reza dengan tersenyum licik.
Rianti merasa heran dengan sikap Reza yang tiba-tiba berubah manis.
"Ne orang kenapa..? koq tiba-tiba berubah jadi manis..?"
"Atau jangan-jangan lagi kesambet..?" Rianti berguman lirih.
"yuuk aku anterin sekarang.." ucap Reza dengan semangat, sembari berjalan keluar rumah menuju mobil.
Rianti melihat gelagat yang aneh dari suami kumpul kebonya.
Ia berjalan mengekori Reza. lalu masuk kedalam mobil.
selama perjalanan menyetir, Rianti melihat Reza tak henti-hentinya tersenyum. Rianti mengernyitkan keningnya.
"sepertinya ada sesuatu yang sedang disembunyikannya dariku..?"
"tapi apa..? sepertinya aku harus mencari tau.." Rianti berguman dalam hatinya.
"kita ke restaurant mana ma..?" ucap Reza dengan lembut.
Rianti menyebutkan nama Restaurant yang akan mereka tuju.
****
Reza menghentikan mobilnya, didepan restaurant mewah yang akan menjadi tempat Ia bertemu seseorang.
"Mas, kamu pulang saja dulu. saya lagi ada bisnis penting. nanti pulangnya saya dianterin oleh rekan bisnis saya saja." ucap Rianti dengan nada perintah.
__ADS_1
Reza hanya mengangguk menuruti semua perintah Rianti. kehidupan Reza kini berbalik, jika dulu Ia adalah majikan Rianti, maka kini Riantilah yang menjadi majikannya.