Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Terpana


__ADS_3

Mala bergegas menghampiri Hadi, dan Roni, beserta sedikit rekan kerja Hadi diperusahaan baru tempatnya bekerja. Mala mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan aula. Namun, tak terlihat Satria di tempat itu.


"kemana Satria.? Mengapa Ia tidak terlihat.?" Mala mulai mencemaskan putera pertamanya itu.


Acara akan dimulai, namun putera pertamanya juga belum hadir.


Chandra menatap setiap tamu yang datang. Seketika matanya tertuju pada satu wanita berhijab hitam tersebut. Ia tersenyum sumringah. "Mala.. Mengapa kamu juga ada disini.? Apakah Ia salah satu orang yang diundang oleh Shinta..?" Chandra berguman dalam hatinya.


"meskipun usiamu sudah mencapai 40-an, namun, garis-garis kecantikan itu masih ada. Bahkan meskipun kau menutupi wajahmu dengan hijabmu, aku masih dapat mengenalimu. Kau pemilik bola mata indah itu.." Chandra berguman lirih dalam hatinya.


Sesaat Ia berniat akan menghampiri Mala, namun seseorang mencegahnya. "pak.. Acara akan segera dimulai.


"kepada kedua keluarga yang akan melakukan acara bertukar cincin dan lamaran, harap segera naiknkeatas panggung yang telah disediakan oleh pihak penyelenggara.


Chandra dan Shinta menaiki panggung. Sesaat Mala membulatkan matanya.. "Chandra.. Ayahnya Shinta.?" Mala menyunggingkan senyum renyah.


Siapa menyangka, jika orang dimasa lalunya akan dipertemukan kembali, dengan cara yang tidak terduga.


"bukannya itu pak Chandra yang kutemui waktu itu..?" Hadi berdebar-debar saat melangkah menaiki panggung. Selama ini, Ia memang belum pernah bertemu dengan papanya Shinta. Karena cinta mereka juga terjalin sangat begitu cepat.


Hal yang sama dirasakan oleh Chandra. Rasa gugup gemetar saat mengetahui Jika Mala adalah calon mertua dari anak gadisnya.


Sesampainya diatas panggung, Mala yang berdiri disebelah Roni, tampak bingung dan sedkit canggung. Shinta tampak sumringah. Binar dimatanya begitu sangat kentara.


Saat Hadi bertatapan dengan Chandra, mereka sama terkejutnya. "bapak..? Pak Chandra kan.?" ucap Hadi kaget, karena seperti dugaannya jika Chandra itu adalah calon mertuanya.


Begitu juga Chandra yang kini mengetahui jika orang yang akan menjadi calon menantunya adalah orang yang sangat diseganinya. Dimana ikatan ini akan membawa keuntungan bersama bagi kedua belah pihak nantinya.


"ternyata papa dan kak Hadi sudah saling kenal..?" ucap Shinta terkejut bercampur senang. Lalu acara pun dimulai. Hadi dan Shinta melakukan acara tukar cincin dengan Hadi. Sehingga mereka sah bertunangan.


Rencananya pernikahan mereka juga akan segera dilaksanakan secepatnya. Setelah acara selesai, para tamu berbaur kembali, dan menikmati hidangan yang disediakan oleh pihak chatering.


Chandra terus saja memperhatikan gerak gerik Mala yang sedari tadi tampak gelisah. Sesaat Satria muncul dari depan pintu Aula. Lalu pemuda itu menyalim tangan Mala dan mengecup pipi wanita itu.


"itu kan general manager perusahaan tempat Hadi bekerja. Lalu mengapa Ia begitu terlihat menghormati Mala. Apa hubungan Mala dengan pimpinan perusahaan itu.? setahuku ibuk Satria ada Jayanti dan Bram papanya sebagai pemilik perusahaan yang lama." Chandra semakin bingung dan penasaran. Namu Ia sangat senang, jika Satria dan Mala memiliki hubungan keluarga, ini sangat menguntungkan baginya.


Hadi dan Shinta tampak sangat bahagia mala ini, mereka berbaur dengan para undangan yang datang memberikan ucapan selamat.


Chandra mencoba menghampiri Mala, sekaligus ingin menyapa seorang General Manager perusahaan yang dalam konteksnya Ia sangat berperan penting bagi perusahaan sepertinya.


"Hai.. Tuan Ge...." ucapan Chandra terhenti, karena Satria membawanya menjauh.


"jangan sebut saya General Maneger dihadapan orang-orang, maupun keluarga saya" ucap Satria dengan Sarkas.


Chandra terhenyak. "mengapa Ia menyembunyikan identitas diri dari keluarganya?" Chandra semakin penasaran.


Setelah berbincang ringan, mereka pun saling berpencar satu sama lain. Mengobrol dengan para tamu undangan.


Pandangan Chandra tak lepas dari wajah Mala. Sepertinya Ia mencuri-curi kesempatan saat Roni lengah. Melihat Roni pergi kekamar kecil, Chandra mengambil kesempatan untuk menghampiri Mala.


"hai.. "sapa seorang pria.


Mala menoleh kepada orang yang menyapanya. Seorang pria tampan dan bertubuh gagah berdiri disampingnya.


Chandra mengambil kursi kosong dan duduk disebelah Mala.


"Ya.. Calon besan.. Sambut Mala, Ramah. Bagaimanapun nantinya Chandra adalah mertua Hadi. Maka Ia bersikap ramah kepadanya


"apa kabar kamu.?"


"Alhamdulillah baik.. Aku turut berduka atas meninggalnya istrimu." ucap Mala, Tulus.


"Chandra menghela nafasnya dengan berat. Ia teringat akan peristiwa meninggalnya Jingga, istrinya. Kala itu Ia mengidap riwayat hepatitis akut, dan nyawanya tidak dapat terselamatkan.


Semenjak SLTP, Shinta sudah kehilangan ibunya, dan Chandra memutuskan untuk menjadi single parent.


"apakah kau masih tinggal dikampung halaman?" tanya Chandra penasaran.

__ADS_1


"iya.. Aku masih menjadi penunggu kampung yang setia" jawab Mala bergurau.


Seketika Chandra terkekeh, merasa geli dengan jawaban Mala.


"ya.. Seorang kembang desa memang harua menjaga desanya." kelakar Chandra. Mereka terlibat obrolan yang tampaknya begitu menyenangkan.


Dari kejauhan Shinta memperhatikan papanya yang terlihat begitu santai bersama Mala, bahkan papanya terlihat sangat sumringah mengobrol bersama calon ibu mertuanya.


Selama ini Ia mengetahui, jika papanya tidak pernah membawa satupun teman wanitanya kerumah, untuk diperkenalkan kepada Shinta. Bahkan papanya itu selalu bersikap dingin kepada setiap wanita.


Shinta terkenang saat itu, Ia pernah mengenalkan seorang wanita cantik nan aduhai kepada Chandra, namun Ia tidak begitu bersimpati menanggapinya.


Ia tahu jika papanya masih muda, dan Ia tidak ingin menghalangi jika ayahnya ingin menikah lagi. Karena kelak akan ada yang merawatnya.


"sepertinya papa sudah sejak lama mengenal calon ibu mertuaku. Itu tampak sekali dari raut wajah mereka yang tampak sangat ringan dalam mengobrol." Shinta berguman dalam hatinya.


"Hai.. Sayang.. Kamu sedang melihat apa..?" sapa Hadi.


Namun Shinta sepertinya tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Hadi, matanya tertuju pada apa yang kini menjadi perhatiannya.


Hadi mengekori arah mata Shinta tertuju pada suatu objek. Ia terperangah, saat melihat ibunya dan ayah Shinta tampak begitu ringan dan bercanda santai.


"apakah ibuku dan papamu yang sedang mengobrol mengaganggu hati dan fikiranmu.?" Tanya Hadi, sembari menyentuh pundak Shinta.


Shinta tersentak, dan menatap pada Hadi dengan tatapan yang sulit diartikan.


"berfikir positif saja, mungkin mereka sedang berkenalan, karena sebentar lagi, anak mereka akan menikah." goda Hadi dengan berbisik dutelinga Shinta.


Seketika Shinta melayangkan cubitannya dipinggang Hadi. Sehingga membuat pemuda itu meringis.


"aaaw.. Belum jadi seorang istri saja, kau sudah KDRT kepadaku.. Gimana nantinya jika aku hidup serumah denganmu.? Apakah kau akan melakukannya juga.? " Goda Hadi.


"aku bukan cuma hanya KDRT kepadamu, tetapi juga akan melahabmu!!.." jawab Shinta kesal.


"aku suka itu..!" ucap Hadi, sembari mensedekapkan kedua tangannya didadanya, lalu berlalu berbaur dengan yang lainnya.


Shinta mendengus kesal. "Ya Tuhan.. Mengapa sekarang dia berubah menjadi mesum.? Selama ini Ia terlihat sangat tidak peka, bahkan aku menyebutnya bego." Shinta berguman dalam hatinya.


Roni merasakan kepalanya sedikit berdenyut. Hipertensi yang dideritanya terkadang sangat merepotkan. namun karena kedua anaknya selalu mengontrolnya untuk makan obat secara teratur, membuat tekanan darahnya terkontrol.


Sepertinya malam ini mereka melupakan untuk Roni makan obatnya. Selain itu, Roni juga pernah mengidap penyakit defresi dengan gejala hampir parah. Membuatnya juga harus meminum obat halloperidol+trihexypenidil secara bersamaan.


Dimana obat tersebut untuk menjaga emosinya agar tetap stabil. Efek dari kedua obat tersebut adalah mata mengantuk berat dan ingin tidur sepanjang waktu.


Siang tadi Ia sempat meminumnya. Sehingga rasa kantuknya tak dapat iya tahan lagi.


Ia dari kamar mandi menuju ruangan Aula. Ia mendekati kursi Mala sedang menunggunya. Samar-samar Ia melihat Mala sedang mengobrol dengan calon besannya tersebut.


"dik.. Kita pulang yuk.. Abang mengantuk berat." ucap Roni, yang mencoba untuk membuka matanya yang sangat sulit sekali dibuka.


Mala beranjak bangkit dari duduknya. Lalu menghampiri Roni yang tampak sangat mengantuk berat.


"Chan.. Kami permisi pulang dulu ya.. Bang Roni agak kurang sehat akhir-akhir ini." ucap Mala sopan. .


Chandra mengangguk, lalku bangkit dan mencoba memahami situasinya.


"baiklah.. Terimakasih, sudah memberi kehormatan kepada keluarga kami, dengan mengirimkan anak lelakimu, untuk menikahi puteriku. " ucap Chandra tulus.


Mala mengangguk. "semoga hubungan keluarga inginkan tetap terjalin baik." jawab Mala sembari tersenyum, lalu beranjak ingin pergi. Mala memimpin tubuh Roni kedalam mobil. Lalu mobil bergerak meninggalkan hotel.


---------------♡♡♡♡---------


Pov Chandra


"kalau sudah tamat SMA nanti, kamu mau gak kalau kita menikah muda.? Memiliki anak yang cantik dan lucu." ucap Chandra pada gadis cantik yang tengah diboncengnya menggunakan motor King merk Y*maha. Di Masa era tahun 90-an, motor itu sudah sangat melegenda, dan hanya orang yang berasal dari kalangan menengah keatas saja yang dapat memilikinya.


gadis itu memeluk pinggang sang kekasih, dengan menyandarkan kepalanya dipunggung sang kekasih pujaannya. Disekolah mereka dijuluki sebagai pasangan romeo and juliet yang sangat serasih.

__ADS_1


Dimana Chandra yang tampan dan berasal dari golongan orang terpandang, berpacaran dengan seorang gadis cantik yang menjadi kembang desa. Namun sayangnya, Mala kala itu adalah anak dari seorang dukun penganut ilmu hitam.


"apakah orangtuamu menyetujuinya.?" ucap Mala ragu akan hubungannya. Sejujurnya Ia sangat mencintai Chandra, namun kesenjangan setatus dan sosial akan menjadi penghalang keduanya.


Dipersimpangan jalan, sebuah mobil mendadk berhenti. Mobil itu menghalangi sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta. Keduanya telah menjalin cinta sejak mereka duduk di bangku SLTP, hingga kejenjang SMA mereka juga memutuskan untuk masuk kedalam sekolah yang sama.


dari dalam mobil, keluar seorang wanita cantik dengan raut wajah yang sangat penuh dengan amarah.


Chandra menghentikan sepeda motornya. Lalu Mala turun dari boncengan motor milik Chandra.


"Chandra.. Berapa kali sudah Mama katakan padau, jangan berhubungan lagi dengan gadis itu.!!" Lili menunjuk jemari telunjuknya kepada Mala yang saat itu sedang merasa gemetar.


Tatapan Lili ibunda Chandra tampak penuh kebencian yamg mendalam.


"Tapi Chandra mencintainya... dan Mala tidak ada hubungannya dengan kematian kak Nina. Itu hanya kecelakaan semata" Bela chandra untuk gadisnya.


"kamu itu hanya anak ingusan. Tau apa kamu tentang cinta.?! Ayo pulang sama Mama. Motormu akan dibawa oleh pak udin." hardik Lili, lalu menarik paksa pergelangan tangan Chandra untuk masuk kedalam mobil.


"Chandra meronta-ronta ingin keluar, namun cengkraman tangan Lili semakin kuat.


"ijinkan aku mengantarnya sampai kerumah dahulu Ma..kasihan Ia ditinggal tengah jalan." Chandra mencoba membantah.


Plaaaaak..


Sebuah tamparan mendarat diwajah tampannya. Roni memegangi pipinya yang sakit. Namun lebih sakit ketika Cintanya dipaksa putus tanpa alasan yang jelas.


mobil milik orang tua Chandra, bergerak meninggalkan Mala yang kini berdiri terpaku dalam diam.


Sesaat Roni datang dengn mendayung sepeda tuanya. Melihat Mala yang sedang berdiri seorang diri, lalu menghampirinya.


"Mau tumpangan untuk pulang.?" ucap Roni menawarkan tumpangan.


Mala menganggukkan kepala. Hatinya saat ini sedang hancur. Hatinya sakit mendapatkan penghinaan dan tuduhan dari Mamanya Chandra.


Mala naik diboncengan sepeda Roni, lalu menangis terisak sepanjang perjalanan.


----------♡♡♡-------


"Mama.. Mengapa mama tega meninggalkan gadis itu seorang diri ditengah jalan. Kampung ini sangat sepi , bagaimana jika ada orang yang menjahatinya.?" cecar Chandra.


"Diam kamu..!! Itu belum sebanding dengan perbuatan ayahnya yang menumbalkan janin kakakmu Nina, hingga menyebabkannya pendarahan dan meninggal dunia." sergah Lili dengan nada emosi.


"tapi itu bukan berarti kesalahan Mala Ma..?!" jawab Chandra dengan memberiakn pembelaan.


"Chandra, jika ayahnya memiliki ilmu hitam, bukan tidak kemungkinan Itu akan menurun kepadanya, dan kau akan menjadi tumbal Berikutnya." Ucap Lili dengan sengit.


"tapi Ma.?!" ucapnya Tercekat ditenggorokannya.


Lili menatap tajam padanya, mengunci setiap gerakannya. "persiapkan semua keperluanmu, Sore nanti kita akan pindah ke kota.! Papamu sudah membeli rumah disana. Dan.. Lupakan gadis itu..!!" ucap Lili dengan penuh penekanan.


Melihat Lili sudah pergi, Chandra menyelinap keluar, Ia berlari sekencangnya tanpa alas kaki untuk menjemput Mala yang tertinggal dipersimpangan, Ia mengantarkan gadis itu pulang kerumah orang tuanya. Ia merasa bersalah karena telah meninggalkannya begitu saja.


Di pertengahan jalan, Ia melihat Roni sahabatnya telah membawa Mala pulang dengan menggunakan sepeda tuanya. Ia bersembunyi dibalik pohon kelapa sawit. Lalu mengintai mereka yang sedang melintasinya. Tampak sepertinya Mala tengah terisak menahan tangis. Chandra merasakan, jika hati gadis tengah merasa hancur karena ucapan Mamanya.


Chandra menatap mereka dengan perasaan yang bercampur aduk. Namun Ia tidak ingin menambah kepedihan oada gadis yang amat dicintainya.


--------'♡♡♡----


Sore itu, Lili membuktikan ucapannya. Dengan perasaan yang sangat berat dan kacau, Ia harus ikut pergi bersama orangtuanya, untuk pindah kekota. Bahkan Ia juga tidak berkesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan kepada kekasih hatinya.


Saat melintasi desa, Ia melihat sang pujaan hatinya sedang berjalan kaki baru pulang dari warung untuk berbelanja. Mata gadis itu masih terlihat sembab. Ia berjalan sembari merundukkan kepalanya. Ia tidak menyadari jika Chandra sedang menyapanya dengan bahasa verbal yang begitu tragis. Ia tidak menyadari jika pemuda yang dicintainya akan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Chandra ingin menyapanya, namun kaca mobil yang terkunci menghalanginya, Ia memandang gadis itu hingga memutarkan tubuhnya. Hingga saatnya tubuh gadis menghilang bersama mobil yang terus bergerak meninggalkan desa.


Hatinya hancur berkeping-keping. Saat cintanya sedang tumbuh dan bersemi, kini harus terhempas layu dan tak dapat lagi tumbuh.


namun kini takdir mempertemukan mereka, dengan dengan cara yang berbeda dan waktu yang berbeda pula.

__ADS_1


Cinta yang pernah tumbuh , kini telah hadir dalam kembali dalam sebuah cerita yang dikemas dalam


Kisah yang dramatis.


__ADS_2