
Mala menyuapkan nasi kemulutnya dengan tidak bersemangat. Ia teringat pemuda yang baru saja menerima donor darah darinya. Ada perasaan yang begitu mendalam, seperti sebuah keterikatan.
"Kamu kenapa dik..?" Ucap Roni lembut.. panggilan untuk Mala yang yak pernah berubah.
"Gak ada apa-apa koq bang.." jawab Mala berbohong.
Seorang dokter datang memeriksa kondisi Hadi. Setelah memastikan semuanya. Dokter itu memastikan jika Hadi sudah boleh pulang. "Hari ini sudah boleh pulang ya bu..pak. bisa dirawat jalan. " ucap dokter itu sembari memberikan resep obat yang harus ditebus oleh Mala dan Roni.
"Administrasinya tolong diselesaikan terlebih dahulu ya bu.."ucap Perawat tersebut.
Mereka mengangguk, mengerti.
Mala mengemasi seluruh barang-barang mereka dan dibantu oleh Roni. Setelah itu mereka keluar dari ruangan.
"Bang.."
"Ya.."
"Abang bawa hadi kedalam mobil dulu ya.. ? Mala selesaikan administrasinya dulu." Ucap Mala lembut.
Roni mengannggukkan kepalanya, sembari berjalan membawa barang dan menuntun Hadi. mereka menunggu didalam mobil.
Mala sampai di bagian administrasi.." mbak, berapa biaya administrasi anak saya..?" Ucap Mala lembut, kepada karyawan tersebut..
"Atas nama siapa ya bu..?" Tanya karyawan tsrsebut.
"Hadi Putra chakra" jawab Mala.
Karyawan itu memeriksa data atas nama pasien yang disebutkan.
Setelah memeriksanya, akhirnya ketemu juga.." pasien atas nama Hadi Putra Chakra sudah dilunasi ya buk…" ucap karyawan itu menjelaskan.
Mala mengerutkan keningnya, "Haah..sudah..? Siapa yang melunasinya..? Penasaran sekaligus bingung.
"Gadis cantik, Dua hari yang lalu Ia melunasinya. Bahkan uang pertanggungannya berlebih."
"Gadis cantik..? Apakah gadis yang kemaren keluarganya menjemput kami menggunakan jet pribadi..?" Mala berguman dalam hatinya.
"Kepada siapa kami harus mengembalikan sisa uangnya?" Ucap sang perawat lagi. Bahkan kini Ia merasa bingung.
"Ditunggu saja bu.. mana tau dia akan kembali lagi" ucap Mala bersahaja.
Perawat itu mengangguk.
"Sampaikan salam dan terimakasih kepada gadis itu jika kembali kemari lagi" ucap Mala tulus.
"Baik bu.. akan kami sampaikan.
"Kemana gadis itu..? Mengapa tidak ada kemari lagi? Saya belum sempat berterimakasih padanya." Mala berguman lirih.
***
__ADS_1
Mala ingin beranjak dari tempatnya, namun Ia teringat akan seseorang. Pemuda itu..
Mala menyempatkan dirinya untuk melihat pemuda korban kecelakaan itu. Sesampainya diruangan pasien, Ia melihat perawat telah mengganti spreinya.
"Kalau boleh tau,dimana pemuda korban kecelakaan kemarin..?" Ucap Mala penasaran. Ia seolah merasa hampa, karena tidak menemui yang Ia cari.
"Pasien itu sudah dibawa pulang keluarganya bu.." Ucap perawat itu menjelaskan.
"Haaaa.." ucap Mala lemah. entah mengapa hatinya begitu hampa. Ia menatap kosong kamar itu.
Ia teringat saat menggenggam jemari pemuda itu. "Siapa kamu hai anak muda..? Mengapa aku seperti mengenalmu..?" Mala berguman dalam hatinya dengan lirih.
Mala berjalan dengan gontai. Ia berjalan sembari menatapi kamar kosong tersebut, hingga suara Roni membuyarkannya. "Dik..buruan.."
Mala menoleh sembari tersenyum datar. Lalu berjalan meninggalkan rumah sakit.
****
"Bu…kita singgah dirumah kak Satria ya..? Hadi mau ambil barang-barang dulu.."ucap Hadi dengan manja kepada Mala.
Untuk beberapa bulan ini, Mala akan merawat Hadi di kos-an, dan Roni pulang kekampung untuk mencari nafkah biaya kuliah Hadi.
"Iya sayang.." ucap Mala sembari membelai lembut rambut anak lelakinya. Namun Ia merasakan separuh jiwanya pergi. Pertemuannya dengan Pemuda itu telah mengusik hatinya.
Hadi melamun, hatinya sedang gelisah "kenapa kak Satria tidak menjengukku dirumah sakit..?" Hadi berguman lirih. Ia menghela nafasnya dengan berat.
****
"Ini bu, rumah kak Satria" ucap Hadi penuh semangat.
Mala memandangi rumah itu seksama, terlihat sepi. Sepertinya sang pemilik rumah sedang tidak ada dirumah.
"Hadi turun dengan sedikit tertatih. Ia membuka pintu gerbang rumah, namun rumah terlihat sangat sepi.
Seorang tukang kebun menghampiri Hadi. Nak Hadi cari Den Satria..?" Ucap penjaga kebun.
Hadi mengangguk "kak Satrianya kemana ya pak..?" Ucap Hadi penasaran.
"Lho..emangnya nak Hadi gak tau kalau…"
[Kriiiiiing…] handphone Hadi berdering. Roni melefon dari kos-an, karena jadwal keberangkatan bus ke desanya sudah hendak berangkat.
"Iya ayah.." ucap Hafi mengakhiri telefonnya.
"Emmm..ya sudah ya pak..titip salam dengan kak satria."
" saya mau antar ayah ke terminal." Ucap Hafi berpamitan, Ia melupakan barang-barangnya yang ada di kamar sebelah milik Satria.
Hadi beranjak meninggalkan tukang kebun, menuju mobil.
Roni telah membelikan mobil secound untuk Hadi, agar memudahkan Hadi berangkat kuliah. Mobil itu mereka beli dengan harga murah.
__ADS_1
Roni menjual sebagian tanah miliknya, untuk membeli mobil itu.
"Ayo bu..kita pulang ke kosan, ayah sudah mau pulang ke terminal." Ucap Hadi.
"Emm..kamu tidak jadi ketemu Temen kamu?" Ucap Mala penasaran.
"Orangnya tidak ada dirumah." Ucap Hadi datar.
"Oooo..ya sudah.."ucap Mala.
Saat mobil mereka meninggalkan rumah Satria, sebuah mobil hitam masuk dari arah yang berlawanan. Namun Mala tak begitu memperhatikannya, begitu juga dengan Hadi yang mana hatinya masih bertanya, mengapa Satria tidak menjenguknya.
Didalam mobil hitam itu ada seorang pemuda yang wajahnya penuh luka, dan berbalut kain kasah. Ia duduk disandaran jok mobil sembari terpejam
***
Hadi dan Mala mengantarkan Roni ke terminal bus.
"Mala merawat Hadi disini dulu ya bang.. sebulan saja.." ucap Mala, sembari mengecup punggung telapak tangan suaminya.
"Iya..abang Ridha koq deq."
"Baik-baik disini Ya..abang mau pulang dulu"
"Ntar tiap minggu abang kirimin uang.." ucap Roni dengan wajah tak rela namun pasrah. Karena Ia tidak pernah berpisah dari Mala.
Mala tersenyum datar.."abang juga baik-baik disana ya.." ucapnya melepaskan kepergian suaminya.
Setelah berpamitan, Roni menaiki badan bus yang sebentar lagi akan berangkat.
Setelah bus meninggalkan terminal, Hadi dan Mala pergi mengendarai mobilnya.
"Sayang..kita pindah kos ya..? Cari rumah kontrakan. Kalau cuma kamar kos seperti ibu tidak nyaman, karena berbaur dengan para remaja. "Ucap Mala kepada Hadi.
"Ya terserah ibu saja. Asalkan ibu nyaman" Ucap Hadi sembari tersenyum, menyetujui usul ibunya.
"Makasih ya sayang..kos-an yang dekat rumah sakit cuma kamar satu, kita cari yang kamar dua ya" ucap Mala, semabari membelai lembut rambut Hadi dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
****
Mala dan Hadi telah menempati rumah kontrakan yang baru. kontrakan itu tidak terlalu jauh dari kampus Hadi.
Mala akan merawat Hadi untuk beberapa bulan ini, sampai Hadi benar-benar sembuh.
Mala menata semua barang-barang mereka. lalu ingin mencuci pakaian yang sudah bertumpuk selama Ia menunggu Hadi dirumah sakit.
Mala ingin merendam cucian, lalu Ia melihat hijab yang terkena noda darah dan sudah mengering. hijab itu yang dipakainya saat pemuda itu mengalami kecelakaan tepat didepannya.
Mala meraihnya, melihat noda darah itu. ada perasaan rindu saat Ia terbayang wajah pemuda itu. "siapa kamu..?" ucapnya lirih, sembari mengusap lembut noda darah yang sudah mengering.
"siapapun kamu, semoga selalu dalam lindumgan Allah dan hidup penuh keberkahan.
__ADS_1