
Mala masih memikirkan cara agar Chandra tak lagi berharap banyak darinya. Kedatangannya bersama Hadi pastilah adalah maksud tertentu. Mungkin saja Ia ingin memastikan benar tidaknya jika Ia sudah menikah atau belum.
Namun, tiba-tiba saja Ia teringat aka Roni, sang suaminya yang menjadi cinta sampai hayatnya.
Mala berniat ingin berziarah kemakam Roni siang Ini. Ia mencari Hadi dan Hamdan, namun tak terlihat dimanapun. Ia berniat akan pergi sendiri saja. Sementara Chandra tampak tertidur di sofa.
Mala berjalan menyusuri ketempat makam yang tak jauh dari rumahnya. Entah mengapa, kali ini Ia memilih lewat jalur belakang, meski sedikit semak dan jarang dilalui, namun Ia merasa agar cepat sampai kesana.
Setelah jauh berjalan, akhirnya Ia sampai dipagar belakang makam. Ia melangkah masuk dengan membuka sendalnya, dan mengucapkan salam kepada ahlil kubur.
Saat Ia berada dibawah pohon beringin, Ia melihat sebuah mobil berhenti didepan pagar makam dari arah depan.
Mala menghentikan langkahnya. Entah apa yang membuatnya begitu takut. Ia bersembunyi dibalik pohon beringin mencoba mengintai siapa peziarah tersebut.
Terlihat dikejauhan, sesosok pria berpakaian hitam sedang datang menuju kearah sebuah makam dengan membawa bukket bunga lili berwarna putih.
Gemuruh didada Mala kian menderu, karena semakin lama wajah itu semakin dekat dan Ia kenali.
Deeeeg...deggg...deeggg..
Gemuruh didadanya kian tak menentu, Mala mencengkram kulit pohon beringin dengan sangat kuat, Ia bagaiakan tak berpijak saat mengetahui Bayu menuju makam Roni.
"Hai.. Maaf, aku terlambat datang mengunjungimu.. Pagi tadi ada proyek yang harus aku kerjakan. Doakan semoga segera tercapai. Villa yang akan ku bangun, untuk mengenang persahabatan kita saat bersama dipadang rumput, akan menjadi Villa yang sangat indah.." Bayu menghela nafasnya dengan berat.
"Aku juga akan membangun sebuah resto yang menjual makanan kesukaan kamu semasa kita berteman. " ucap Bayu dengan nada lirih.
Lalu Ia meletakkan bukket itu dengan lembut, diatas makam Roni. "Oh ya.. Sepertinya keluargamu datang berkunjung, anak lelaki dan menantumu, juga saudaramu yang lain.. Aku bingung harus bagaiamana berinteraksi dengan mereka, tapi aku janji, akan menjaga Mala untukmu.. Dan janji laki-laki itu pantang untuk diingkari." ucap Bayu dengan nada serius.
Disisi lain, Mala yang bersembunyi dibalik pohon beringin merasakan tubuhnya sangat bergetar. Ia tidak pernah menyangka jika orang yang selalu mengunjungi makam suaminya adalah Bayu.
"Apakah Ia juga yang waktu itu membawa Bang Roni ke puskesmas saat kecelakaan..?" seketika bayangan beberapa bulan yang lalu kembali muncul diingatannya, saat kecelakaan Roni terjadi, seorang pria dengan cepat membawanya ke puskesmas, dan karena kondisi yang kalut, Mala tidak memperhatikan siapa orang tersebut dan lupa mengucapkan terimakasih.
"Aku pergi dulu.. Esok aku mengunjungimu lagi.." ucap Bayu, sembari beranjak pergi.
Mala mengintai dari balik pohon beringin, pandangannya mengikuti arah tubuh pria pergi. Dan setelah memastikan Bayu pergi dengan mobilnya, Mala berjalan dengan langkah gontai, Ia tak tahu harus mengatakan apa, hanya air matanya yang tiba-tiba jatuh dari sudut kelopak matanya.
__ADS_1
"Katakan Bang.. Apakah Kau juga mengenalnya..? Apakah Dia alasanmu setiap pagi menolak sarapan dariku.." isak Mala dengan tersedu.
Mala tidak tahu apa artinya Ia menangis, dan karena apa juga Ia menangis. Namun hanya sebuah kesedihan yang tiba-tiba datang merasuki hatinya.
Ia memandangi bukket bunga lili itu dengan nanar. Tak ada tindakan apapun darinya, untuk menyingkirkan buket itu atau juga menyentuhnya, Ia hanya memandanginya dengan nanar.
Mala menaburkan kembang yang dikutipnya dari taman dirumahnya dengan sebotol air mineral. Dan Ia tahu, jika dibandingkan dengan harga buket bunga lili itu tidaklah sesuai harganya. Dimana pasti bukket itu dipesan dari kota dengan harga yang sangat mahal.
Lalu mengapa Bayu sampai mengorbankan uang begitu banyak hanya demi sebuah buket..? Mala sangat bingung memikirnya.
Mala beranjak bangkit setelah membacakan beberapa ayat untuk dihadiakan kepada sang Suami, lalu kembali kerumah dengan menyusuri jalan semak dijalur belakang.
Sesampainya dirumah, masih terlihat sepi. Ia tak melihat Hadi dan Hamdan sedari tadi, bahkan mobil Hadi juga tidak terlihat.
"Kemana Hadi dan Hamdan pergi..? Tiak terlihat dari tadi.." Mala berguman dalam hatinya.
Ia memasuki rumah, tampak sepi. Ia melihat Chandra yang masih tertidur pulas. Saat Ia menuju dapur untuk mencuci tangannya, terdengar suara deru mesin sepeda motor berhenti didepan rumahnya.
Tak berselang lama, suara seorang pria terdengar setengah berteriak. "Pakeeeeet...!" teriakan seorang kurir yang biasa memanggil pelanggannya.
"Pakeeeeeet...!!" teriak kurir itu semakin kencang. Suara teriakannya membuat Chandra terbangun dan merasa terganggu. "Berisik banget itu tukang paket..! Mala kemana sih, mengapa tidak melihat kurir tersebut." Chandra beranjak bangkit sembari mengomel.
Chandra berjalan dengan sedikit sempoyongan, menahan rasa kantuk yang masih menggerogotinya.
Namun ternyata Mala juga sedang berjalan dibelakangnya. "Apakah dengan Bapak Bayu..?" ucap Kurir iru saat melihat Chandra yang masih dengan kondisi sempoyongan sehabis bangun tidur.
"Haaah..?!" ucap Chandra mencoba menajamkan pendengarannya atas pertanyaan dari Kurir itu.
Mala yang mendengar nama Bayu disebut sebagai penerima paket, segera beranjak dan mempercepat langkahnya. "Paket apa Mas..?" tanya Mala kepada kurir yang sudah menjadi langganannya itu.
"Ini ada paket atas nama Mas Bayu, Mbak.. Tolong diterima.." ucap Kurir itu dengan ramah.
Chandra mengernyitkan keningnya, melihat sikap Mala yang tiba-tiba menyerobot kedepan.
"Paket apa Mas..? Dan berapa harganya..?" Mala mulai was-was jika sampai itu paket COD dan Ia hanya memegang uang seadanya akan sangat memalukan.
__ADS_1
"Perlengkapan makan mbak.. Harganya sekitar satu juta lima ratus ribu.." jawab Kurir itu santai.
"Haaa..?! " Mala merasa kaget. Untuk apa Bayu memesan alat perlengkapan makan dengan harga semahal itu..? Dan sialnya saat ini Ia tidak ada dirumah, dan terpaksa mala yang harus membayarnya.
"Kenapa..?" tanya Chandra yang siap jadi pahlawan jika dibutuhkan.
"Emmm.. Anu.." kata Mala merasa kikuk.
"Tolong diterima mbak.." ucap Sang kurir, sembari ingin memotret Mala dan barang pesanannya.
"Tetapi Mas, saya tidak pegang uang segitu, apakah Mas bisa datang sore nanti, soalnya yang pesan barang ini sedang tidak ada dirumah.." jawab Mala dengan menahan malu.
"Biar aku saja yang bayar.." Jawab Chandra sembari mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Tidak perlu..!" jawab Mala ketus, menolak bantuan dari Chandra.
Kurir itu memandang bengong melihat pertengkaran kecil antara Mala dan Chandra tentang pembayaran paket tersebut.
"Maaf Mbak, ini paket sudah dibayar Via Pay.. Jadi tidak perlu dibayar Mbak.." ucap Kurir itu, lalu permisi pergi.
Seketika Mala dan Chandra saling pandang satu sama lain.
Mala beranjak pergi meninggalkan Chandra yang berdiri mematung diambang pintu, Ia kesal karena gagal menjadi pahlawan kesiangan buat Mala.
Mala penasaran untuk melihat apa isi kotak paket tersebut. Ia teringat jika Bayu ada meninggalkan nomor WA nya yang diletakkan diatas lemari hias, yang tak pernah diaentuh Mala sedikitpun.
Dengan rasa penasaran, Ia mengambil secarik kertas tersebut, lalu menyimpan nomor itu dengan nama 'BY' di nomor phone-nya.
Ia menghubungi Bayu Via WA, memfoto paket itu dan mengirimkannya kepada Bayu.
Tak berselang lama, terdapat balasan dari Bayu yang berisi pesan.. "Itu paket buat kamu, mengganti toples kamu yang aku berikan kepada nenek renta waktu itu.. Dan yang satunya lagi, sebagai permintaan maafku, atas kelancanganku memberikan toplesmu tanpa ijin terlebih dahulu." sebuah balasan yang mengagetkan Mala.
Chandra memperhatikan gerak gerik Mala yang begitu serius membaca isi pesan dari WA-nya dengan tatapan penasaran.
Seketika Mala menutup mulutnya. Bahkan Ia sudah melupakan kasus hilangnya toples itu. Kemarahannya waktu itu hanyalah sebuah kekesalan belaka, namun Ia tidak menyangka jika Bayu benar-benar menggantinya.
__ADS_1