
Bayu tanpa terasa mengucapkan ikrar perjanjian kepada Nini Maru. Ia telah menerima pemberian Nimar dan berhasil melunasi segala hutang-hutangnya.
"sepertinya ini sudah menjadi takdir hidup yang harus ku jalani. Sudah kepalang tanggung. Aku harus terus melangkah." ucap Bayu dengan tatapan sinis.
Seketika Nini Maru muncul dengan wajah menyeramkan dan merangkak menghampiri Bayu. " sediakan sesaji ayam cemani untukku, aku akan memberikan kembali kekayaan yang lain untukmu" ucap Nini Maru dengan suara parau. Ia mendekatkan wajahnya tepat ditelinga Bayu dengan gerakan perlahan, jemari yang panjang dan keriput membelai rambut Bayu dengan lembut. Lalu Ia menghilang.
Bayu akhirnya dibutakan oleh kilauan emas dan tumpukan permata yang membuatnya goyah.
"sebaiknya aku kepasar untuk membeli ayam cemani dan perlengkapannya.
Bayu bergegas beranjak dari ranjangnya. Ia membersihkan dirinya di kamar mandi, mengenakan pakaian yang membentuk tubuh kekarnya. Ia menggunakan topi dan berkacamata hitam, agar tidak begitu dikenali oleh siapapun. Penampilannya itu justru membuatnya terlihat lebih tampan.
seumur hidupnya, baru kali ini Ia menginjakkan kakinya kepasar. dan semua karena pengaruh Nini Maru.
Bayu mencari tempat jejeran para pedagang unggas. Ia melihat seorang pedagang unggas yang menyediakan ayam cemani. Ia melihat ada beberap pembeli disana.
"berapa ayam ini seekornya pak.?" tanya Bayu kepada pedagang itu.
"kalau ayam ini lebih mahal dari ayam lain mas. Ini seekornya 200 ribu saja." jawab si pedagang unggas.
"kalau burung puyuhnya berapa perekornya pak..?" tanya seorang pembeli lain.
Seeerr...
Jantung Bayu bagaikan tersengat aliran listrik saat mendengar suara tersebut.
"Mala.." Bayu berguman lirih dalam hatinya.
Matanya terpana memandang wanita didepannya. Ia tidak mengerti, entah perasaan apa yang membuatnya begitu terpeskna oleh Mala. Bukankah dikota ini banyak terdapat wanita cantik. Namun saat melihat wanita ininuntuk pertama kalinya, Ia seperti gila dan tak mampu melepaskan bayang-bayang wanita ini.
Tampak pedagang itu melayani Mala dengan serius. Mala membeli 20 ekor burung puyuh, sepertinya Ia akan memasak enak hari ini.
Pedagang itu membersihkan burung puyuh tersebut, hanya dengan mengulitinya.
Mala tampak serius memandangangi pedagang itu yang tengah membersihkan pesanannya.
Merasa diperhatikan seseorang, Mala mencoba menoleh ke arah orang tersebut, namun Bayu segera membuang wajahnya kearah lain. Mala lalu mengalihkan pandangannya dan kembali fokus pada pedagang itu.
"ini peasanannya mbak, semuanya 60 rb saja." ucap pedagang itu ramah.
Mala membayarnya. "ini pak uangnya.." ucap Mala sembari menyodorkan uang berjumlah pas.
"makasih ya Mbak.. "ucap Pedagang itu.
"sama-sama pak.." jawab Mala berlalu.
Bayu memandangi punggung Mala yang berjalan membelah kerumunan bersama pembeli lainnya, lalu menghilang.
"Mas.. Mas.. Melamunin si mbak tadi ya..?" goda si pedagang itu.
Bayu tersenyum datar menanggapi godaan pedagang itu.
__ADS_1
"si mbaknya tadi 2 hari sekali kemari lho mas.." goda sipedagang kepada Bayu.
"masa sih pak..? ucap Bayu penasaran.
Pedagang itu terkekeh mekihat reaksi Bayu yang sepertinya terpancing oleh ucapannya.
"Iya mas. Tetapi si mbaknya masih ada suami, karena pernah kemari berdua. masnya naksir ya. atau jangan-jangan masnya mau beli ayam cemani untuk memelet si mbaknya." ucap pedagang itu dengan nada kelakar.
Bayu terkekeh mendengar ucapan pedagang itu. "bisa aja ne bapak.." jawab Bayu datar.
"tapi mas nya cakep koq. Single atau beristri?" goda si pedagang.
"bapak kepo.." jawab Bayu, lalu membayar pesanannya. Kini Ia membawa ayam itu kedalam mobilnya yang dimasukkan kedala kotak kardus. Lalu Ia teringat akan membeli kembang setaman yang juga ada dijual disekitar pasar.
Ia menyusuri pasar, untuk menemukan pedagang kembang.
Saat itu Ia melihat Mala sedang membeli beberapa tangkai bunga mawar segar dengan batangnya. Ia memastikan jika kembang itu untuk pengharum ruangan yang akan diletakkan dipot dan diberi air.
"Ia terus mengamati wanita Pemilik bola mata indah. Ia sepertinya tak mampu melepaskan bayang-bayang Mala dari hidupnya.
"mengapa matamu begitu menyihirku.." Bayu mensedekapkan kedua tangannya didadnya. Postur tubuhnya yang tinggi 186 cm, kulit kuning langsat, rambut dengan potong rap, hidung bangir dengan bibir tipis, membuatnya terlihat sempurna untuk seorang pria. Ia mengenakan jeans berwarna hitam, dengan paduan kaos ketat membentuk tubuh kekarnya. Dengan penampilannya itu, sangatlah mudah baginya mendapatkan seorang gadis belia.
Namun entah mengapa hatinya begitu terikat dengan Mala yang seumuran dengannya.
saat melihat Mala telah selesai dengan belanjanya, Bayu memalingkan wajanya, seoalah-olah tidak melihat wanita itu.
Aroma kasturi tercium saat Wanita itu melintasinya. Bayu mencoba menyesap aroma yang begitu menyentuh relung hatinya.
Bayu tergagap mendengar bisikan itu, Ia tidak mengerti apa maksud dari makhluk itu. Namun sepertinya Nini Maru memahami isi hatinya.
Ia tersenyum sumringah, jika saja Nini Maru mewujudkan keinginanya itu.
Bayu kembali ke tujuannya, membeli kembang setaman dan membawanya pulang.
--------♡♡♡♡-------
Bayu kembali kerumah dengan membawa seluruh keperluan yang di butuhkan untuk ritualnya kepada Nini Maru.
Ia menyusun seluruh sesaji didalam sebuah nampan yang berbentuk bundar.
Malam ini Ia akan melakukan ritual pertamanya.
"aku sudah terlanjur basah, maka sekalian mandi. Aku harus apa? Semua permasalahan terus menghimpitku. Aku tak dapat keluar.." Bayu berguman lirih.
-----------♡♡♡♡--------
Malam telah tiba. Bayu mengambil sebilah pisau dan menyembelih ayam cemani tersebut. Ia menampung darah ayam tersebut didalam sebuah gelas kaca.
Bayu menguliti ayam tersebut. Lalu memaggangnya.
Setelaha selesai. Bayu membuat segelas kopi hitam pahit sebagai teman untuk sesaji.
__ADS_1
Setelah itu Ia membakar kemenyan dan dan dupa. Aroma menyeruak keseluruh kamarnya.
Lalu Ia mengucapkan Mantra. Kun rubbuna nuril jakim"
Lalu Ia menyenandungkan senandung lagu lingsir wengi. Lagu karya cipta Sunan Kalijaga, namun telah diplesetkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo Tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet
Menjelang malam, dirimu (bayangmu) mulai sirna
jangan terbangun dari tidurmu
awas, jang terlihat (memperlihatkan diri)
aku sedang gelisah
jin setan ku perintahkan
jadilah apapun juga,
namun jangan membawa maut
Bayu memejamkan matanya. Sembari terus menyenandungkan lirik tersebut. Sehingga membuat Nini Maru datang menemuinya. Aroma kembang kenanga bercampur dengan aroma kantil menjadi satu. Menimbulkan aura mistis yang begitu sangat kental.
Bayu membuka matanya, saat Ia merasakan sebuah tangan menyapa kulit wajahnya.
Sesaat Ia terperanjat oleh kehadiran Nini Maru dalam wujud mengerikan.
"mengapa kamu masih kaget saat melihatku..? Bukankah kau sudah terbiasa..?" ucap Nini Maru.
"abisnya Nini nyeremin." jawab Bayu kesal.
"kau sudah memberikan sesaji pertamamu padaku, maka malam jum'at kliwon nanti, sajikan unntukku satu tumbal janin.! Jangan lupakan itu.. Hihihihi...: ucap Nini Maru parau.
"haah.. Janin..?!!" Bayu terperangah tak percaya.
Ia menyesap seluruh sesaji yang diberikan untuknya. Lalu Ia pergi menghilang. Meninggalkan Bayu yang diam terpaku.
__ADS_1