Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pewaris Tahta dan Harta


__ADS_3

Satria telah seminggu lamanya berada dirumah Mala. Ia mengalami banyak hal yang liar biasa. Ia tak menyangka jika Mala, Ibunya adalah seorang wanita yang begitu dikaguminya. Menurut penuturan ayahnya, jika Mala adalah dulunya seorang kembang desa yang banyak diinginkan oleh para pemuda bahkan duda untuk dipersunting menjadi istrinya. Namun ternyata, Roni adalah orang yang beruntung itu.


"pantas saja aku tampan iya kan Yah..?" Hadi nyeletuk seenaknya. Membuat Satria dan Roni tertawa renyah.


Seketika suasana hening, saat hanphone Satria berdering. "hallo, Assalamulaikum, pak Bayu.." ucap Satria ramah. Ia pasti dapat memastikan jika ada hal penting yang akan disampaikan oleh pak Bayu.


"waalaikumsalam, Mas Satria.. Maaf mengganggu, bagaimana kabarnya, apakah sudah ketemu ibunya Mas Satria?" tanya Pak Bayu dengan sopan.


"alhamdulillah sudah pak, apa ada hal yang penting ingin bapak sampaikan..?" tanya Satria.


"alhamdulillah..selamat ya Mas, saya ikut senang mendengarnya."Pak Bayu menyampaikan ucapan selamat dengan nada bahagia.


"begini, Mas Satria. Ada butuh Mas Satria untuk menangani sedikit masalah di perusahaan, ya.. Selama ini ada sih salah satu karyawan berbakat yang sudah membantu kita, tetapi ini sangat penting sekali dan sangat mendesak. Apakah Mas Satria bisa kembali secepatnya?" ucap Pak Bayu memohon.


Satria terdiam dalam kebisuan. Ia masih ingin berlama-lama dengan keluarganya. Rasa rindu itu masih melekat didalam qalbunya.


"baiklah Pak Bayu, saya akan segera kembali. " jawab Satria sembari memutuskan sambungan selulernya.


Mala nimbrung sembari membawa 4 gelas kopi ginseng dan gorengan. Ia menyajikannya diatas meja tamu, lalu duduk bersama mereka.


Satria menatap Roni dan Mala secara bergantian. Ada hal yang ingin harus Ia sampaikan. " Ayah, ibu, dan juga Hadi. Maukah kalian ikut bersamaku ke kota.? Kita mulai kehidupan yang baru disana. Aku memohon dengan amat sangat." Pinta Satria sembari mengatubkan kedua tangannya.


Roni dan Mala saling tatap, dan Hadi terperangah mendengarnya, hal yang tak pernah Ia duga selama ini.


"emmmm.. Tapi pekerjaan ayah disini bagaimana? Ayah dipercaya sebagai penanggung jawab gudang." ucap Roni bingung. karena Roni tidak mengetahui bagaimana Anaknya ini memiliki warisan kekayaan yang melimpah, dari orangtua pujonnya.


"Ayah tidak perlu repot-repot lagi untuk untuk bekerja, masih ada Satria dan dan Hadi yang akan memenuhi kebutuhan Ayah dan ibu.." jawab Satria dengan tatapan memohon.


Hadi mengernyitkan keningnya mendengarkan penuturan Satria. "emang kerja apa kak..? Soalnya, aku saat ini sudah bekerja secara online, kalau gajiku dibawah standar mana mungkin kulepaskan pekerjaanku yang saat ini masih dalam meniti karir." Hadi menyela ucapan Satria.


Satria hanya tersenyum simpul. Ia harus memastikan jika kedua orangtuanya akan ikut bersamanya. "Ayolah Aya, Ibu, Hadi,.."ikutlah dengnku.." Satria mulai melancarkan rayuannya.


Mala dan Roni mulai goyah. Namun, Mala juga sayang meninggalkan rumah miliknya yang terasa bagaikan penyemangattnya. "kita coba saja dulu bang.. Jika betah kita tinggal dan jika tidak betah kita kembali kemari lagi." ajak Mala dan meyakinkah Roni


"baiklah kita ikut , tetapi bagaimana dengan Hadi yang kini masih magang beberapa beberapa hari lagi." tanya Roni dengan perasaan yang bimbang.


"auah tidak usah khawatir, aku bisa koq jaga diriku.. Nanti setelah selesai habis masa magang aku akan ikut menysul kesana." jawab Hadi, meyakinkan kedua tuanya yang kini masih meemsasa bimbanganya selama slaku mengkhawatirkannya.


Satria tersenyum lega, Ia akan memboyong ayah dan ibunya. Sebuah perasaan yang takndapat Ia gambarkan dengan apapun.


" kalau begitu, siang nanti kita berangkat, maka kita bersiap sedari sekarang." Satria mengingatkan, sembari beranjak bangkit, dan menservice mobilnya, untuk melakukan pengecekan, karena akan melalui perjalanan yang panjang.

__ADS_1


Mala mengemasin pakaiannya bersama milik Roni. Mereka akan hijrah ke kota, berharap mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Ia percaya jika Satria nantinyantidak mengecewakan mereka.


-------♡♡♡♡♡--------


Saat malam tiba. mobil Satria memasuki perkarangan sebuah rumah mewah yang berdiri kokoh. Roni memandanganginya dengan takjub. "bagaimana mungkin ini rumah satria. Tampak begitu mewah." Roni berguman lirih dalam hatinya.


Satria membawa kedua orangtuanya untuk memasuki Rumah yang sangat mewah tersebut.


Roni tak henti-hentinya memandang takjub. Ia terperangah dan berdecak kagum melihat semua kemewahan yang ada.


"mari Ayah, ibu, Satria perlihatkan kamar untuk kalian". Ajak Satria melangkah menuju ke kamar dilantai dasar.


Satria melewati kamar Rianti dan Bram ayah angkatnya. Ia tidak ingin mengusik kamar itu, meski bagaimanapun, kedua orang itu memiliki jasa yang sangat banyak pada dirinya.


Sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamar Jayanti, kamar yang dilengkapi dengan fasilitas mewah yang memukau. "luas seakli kamar ini, bahkan ruangan tamuku juga kalah." bathin Roni yang bedecak kagum.


"ayah dan Ibu beristirahalah dahulu, Satria ada urusan sebentar." ucap Satria dengan senym bahagia.


Keduanya menganggu dan menyetujuinya.


Satria meninggalkan keduanya. Lalu menuju kekamarnya. Ia melefon pak Bayu untuk segera datang kerumah, karena Ia tak dapat menemuinya akibat masih kelelahan dalam melakukan perjalanan.


-------♡♡♡♡♡-------


Sebuah panggilan masuk. "Hallo Mas Satria, maaf mengganggu, saya sudah berada didepan rumah. Mas. " uvap Pak Bayu.dari seberang telefon. Satria mengintai dari atas balkon, dan benar saja, mobil oak Bayu sudah terparkir disana.


Ia segera bergegas menuju lantai dasar untuk menemui pak Bayu.


"Masuk pak, " sapa Satria mempersilhkan tamunya masuk. Pak Bayu mengekorinya dari arah belakang.


Satria duduk disofa dan diikuti oleh pak Bayu.


"ada berita apa yang ingin bapak sampaikan?" tanya Satria penasaran.


Pak Bayu menghela nafasnya dengan berat. "perusahaan sedang mengalami kemajuan yang sangat signifikan, saya sudah mengimkan emailnya kepada Mas Satria, dan tolong dipelajari. besok say harus mendapatkan keputusannya.


Namun perusahaan cabang membutuhkan suntikan dana investasi, untuk menyokong agar terus berproduksi. " pak Bayu menuturkan semuanya secara gamblang.


"dan berkas-berkas pengalihan seluruh harta warisan milik Mas Satria juga sudah selesai, tinggal menandatanginya saja.


Satria memandang tanpa ekspresi. Meskipun Ia sempat sedikit kesal dengan cara Jayanti yang merampasnya dari perut ibunya, namun setidaknya Jayanti dan Bram telah memberikan kehidupan yang layak baginya.

__ADS_1


"Mama..Papa.. Semoga kalian tenang disana, kuhadiahkan sepaling Fatiha untuk kalaian." satria berguman lirih.


Mala yang baru saja selesai mandi, merasakan perutnya sangat lapar. "Bang, Mala keluar dulu ya? Mau cari makanan atau sedikit memasak untuk makan malam kita. Ucap Mala kepada Roni.


Roni hanya mengangguk menyetujui. Ia masih sangat letih dengan perjalanan jauhnya. Ia memilih untuk membaringkan tubuhnya di ranjang nan empuk..


Mala keluar dari kamar, mencari tempat persediaan makananan. Saat melihat Satria sedang mengobrol, Mala sedikit ragu untuk bertanya "emmm.. Satria.." Mala menggantung ucapannya.


Satria menoleh kearah ibunya. "Iya bu..?" Sahut Satria.


"dimana letak dapurnya? Ibu bingung karena rumah ini terlalu luas". ungkap Mala jujur.


Bayu yang melihat Kehadiran Mala, terperangah tak percaya. Jika ibu kandung Satria begitu sangat cantik.


"Ya Tuhan.. Begitu indahnya ciptaan-Mu.." Bayu berguman dalam hatinya dan tak berkedip.


memandang Mala.


dua bola mata indah itu begitu menyihirnya, ia berdecak kagum memandang keindahan yang terpampang jelas dimatanya. Bahkan diusia Mala yang ke 46 tahun, Ia masih terlihat begitu segar dan tanpa celah. Apalagi Mala uang memiliki tubuh Aduhai, tubuh langsing nan menawan.


Bagi seorang duda yang sudah lama menjomblo, tentu membuatnya sangat gila. Jika Jayanti cantik, maka wanita ini jauh lebih cantik.


"mari Satria antar bu..? Ibu Mau memasak..? Bahannya ada di kitchenset dan sebagian lagi ada dilemari es ya bu." Satria berjalan menuntun arah ibunya kedapur.


Mala mengekorinya dari belakang.


Mala yang tak menyadari dengan tatapan Bayu, berjalan dengan melenggang menuju dapur.


Bayu merasakan debaran-debaran aneh merasuki qalbunya. Seberapa kuat Ia mencoba menepisnya, namun debaran itu semakin bergelora. Dua bola mata indah itu tak mau pergi dari ingatannya.


Hingga akhirnya Satria tiba di ruangan utama. Bayu mencoba mengatur nafasnya, agar tak terlihat mencolok. Ia juga akan merasa malu, jika tertangkap basah oleh Satria telah diam-diam mengangumi kecantikan ibunya.


" emm..Mas Satria.. Saya permisi pulang dulu, saya tunggu balasan email dari mas ya.." ucapnya sedikit gugup.


"koq buru-buru pak, tidak minum dulu, ibu saya sedang memasak air untuk membuat kopi." ucap Satria santai.


"emm..terimakasih mas.. Saya ada keperluan lain." ucap Pak Bayu. Ia sangat terlihat konyol dengan tingkahnya.


"oh.. Kalau begitu silahkan pak, saya tidak bisa menahan bapak berlama-lama jika ada urusan lain." Satria menatap pak Bayu dengan santai.


"emm..kalau begitu, saya permisi Mas.. Assallammualaikum.." ucap pak Bayu berpamitan.

__ADS_1


"waalaikumsalam." jawab Satria.


Pak Bayu keluar dengan sangat terburu-buru. Ia tak mampu mengontrol degub jantungnya yang berdetak dengan begitu kencang."oh..tidak.. Mengapa harus seperti ini." Pak Bayu menggerutu dalam hatinya. lalu mengendarai mobilnya dengan perasaan yang sangat galau. Hingga Ia menyertir dengan tangan yang gemetar.


__ADS_2