
dua bulan kemudian...
[huuuuek....hueeek...] suara Mala dipagi hari.. Ia mengalami morning six. rasa mual yang begitu menyerangnya membuatnya begitu tersiksa. wajahnya pucat, karena seluruh isi yang dimakannya pagi ini, keluar melalui muntah.
Mala berjalan sempoyongan. kepalanya terasa berat, mendadak Ia jatuh terduduk dilantai. rasanya dunia berputar, perutnya seperti diaduk-diaduk.
"astagfirullah hal 'adzhim.. dik Mala." ucap Roni yang kaget saat mendapati istri tercintanya duduk lemah dengan wajah pucat. Ia membopong Mala kedalam kamar, membaringkannya dengan lembut.
Roni duduk ditepian ranjang, menyeka keringat dingin yang mengalir diwajah istrinya. wajah cantik itu pucat pasi.
"abang panggilin bidan Sri ya dik" ucap Roni dengan lembut. Mala tak menjawab ucapan suaminya, Ia merasa perutnya mual, seperti ingin memuntahkan apa saja didalamnya.
Roni mengambil handphonenya, lalu mencari nomor Bidan Sri, dan menelefonnya.
"hallo, bu bidan. bisa minta tolong kerumah saya? Mala mengalami mual-mual." ucap Roni khawatir.
lalu Terdengar jawaban mengiyakan dari bidan Sri.
tak selang beberapa menit, bidan Sri datang dengan membawa tas yang berisi peralatan medisnya.
Bidan Sri yang cantik, memeriksa kondisi Mala. Ia menyarankan Mala untuk buang air kecil, karena disarankan untuk melakukan tespack. dengan dipapah Roni, Ia menuju kamar mandi, lalu dengan ditemani Roni Ia buang air kecil, dan melakukan tes urin menggunakan alat tes kehamilan.
alat tersebut ada memperlihatkan garis dua. Ia mengandung kembali. semburat kebahagiaan terpancar diwajahnya, namun seketika sirna, karena Ia akan dapat menebak, jika memasuki tiga bulan, kejadian yang sama akan terjadi. bayinya akan hilang dengan cara keguguran.
Roni mengelus rambut istrinya. Ia tau apa yang dirasakan istrinya. sebenarnya Ia sadar, jika istrinya orang yang subur. jika saja janin mereka tidak gugur, mungkin mereka akan memiliki banyak anak.
Mala yang semula berbahagia, kini harus dapat mengontrol hatinya, agar tidak terlalu euforia, agar tidak kecewa kemudian.
"adik hamil bang.." ucap Mala lirih, air matanya mengalir deras. tidak tahu harus sedih atau bahagia.
Roni mengangguk, mengecup kening istrinya dengan lembut. Ia meraih tespack yang berada ditangan Mala, lalu menyerahkan gayung berisi air agar Mala segera 'istinja. Mala menerimanya.
setelah selesai membersihkan hadas kecilnya, Ia ingin bangkit dari kloset, namun mendadak pusing, Roni dengan sigap menangkapnya, lalu membopongnya keluar dari kamar mandi, membawanya kedalam kamar.
Bidan Sri yang melihat sikap kelembutan dan kesabaran Roni, merasa haru. meski bukan berlimpah harta benda, namun Roni type suami idaman, penuh kasih sayang dan tanggungjawab.
Roni membaringkan Mala di ranjang dengan lembut. lalu menyerahkan alat tespack yang dipegangnya kepada bidan Sri. sesaat bidan Sri mengamatinya.
"waaah.. mbak Mala hamil lagi ya mas, selamat ya?" ucap bidan Sri tersenyum. lalu Ia memberikan obat pereda rasa mual, penguat janin dan vitamin.
Roni menjawabnya dengan senyum datar, karena Ia tau, memasuki tiga bulan umur kandungannya, Ia harus kecewa lagi, karena akan kehilangan calon buah hatinya.
Bidan Sri menangkap semburat wajah putus asa dari pasangn suami -istri ini. Ia mencoba menguatkan hati keduanya.
"ini nanti diminum obatnya ya Mbak, jangan putus asa, kita manusia harus semangat, berusaha dan berdoa, hasilnya serahkan pada Allah." ucap bidan Sri menyemangati keduanya.
Roni mengangguk lemah, sedangkan Mala masih diam membisu.
lalu Bidan Sri memberikan susu formula yang khusus untuk mual bagi wanita hamil. " ini nanti diminum susunya ya mbak Mala" semoga kehamilannya lancar." ucap bidan Sri tulus.
sebelum melangkah pulang, bidan Sri memberikan saran, agar tidak terlebih dahulu melakukan hunungan suami istri, selama tiga bulan, agar kandungan Mala kuat, dan menghindari resiko keguguran.
keduanya mengangguk mengerti.
lalu bidan Sri berpamitan pulang, karena Ia akan memeriksa pasien lainnya didesa ini, mbak Lisa istrinya mas Joni juga sedang hamil muda. Ia memeriksanya pagi ini.
sepeninggalan Bidan Sri, Roni dengan sigap melakukan apa yang diucapkan bidan Sri. Ia menyeduh susu formula khusus wanita hamil, dan mengambil toples plastik berukuran persegi panjang yang berisi crackers untuk sarapan Mala.
wanita yang sedang mengandung usia fase tri semester akan mengalami morning six, tentu hal ini sangat sulit menyesuaikan seleranya. Roni memberikan susu formula yang telah diseduhnya, serta beberapa keping crackers kepada Mala.
"diminum ya dik." ucap Roni sembari tersenyum. Mala menerimanya dengan mata sendu dan tidak bersemangat. sebenarnya Ia tidak ingin meminum susu tersebut, namun melihat usaha suaminya, Ia tidak ingin mengecewakannya.
Mala meminum susu tersebut, serta mengenyam beberapa keping crackers. setelah merasa cukup, Ia menyerahkan gelas bekas minumnya kepada Roni.
__ADS_1
"terimakasih ya bang" ucap Mala lirih. Ia harus terlihat tegar dihadapan suaminya, karena Ia juga mengerti, jika suaminya lebih rapuh dari dirinya. Ia masih merasa bersyukur karena Roni setia mendampinginya, meski belum juga mendapatkan momongan.
****
kabar Mala yang mengandung kembali tersebar diseluruh desa, kabar itu dihembuskan oleh Lisa yang menerimanya dari bidan Sri saat memeriksanya pagi itu, bersamaan dengan pemeriksaan Mala.
saat ini, Reza juga sedang membeli sesuatu di warung pak Joko, karena warung pak joko satu-satunya warung yang terdapat didesa itu. Reza berada dipaling sudut rak-rak yang berisi berbagai kebutuhan yang tersusun rapi diwarung itu.
"eh.. bu ibu..tau gak sih? kalau si Mala hamil lagi." ucap mbak Lisa membuka ghibahan di suatu pagi, saat bertemu dengan Rumi dan mbak Ratna di warung pak Joko. akang sayur tidak pernah lagi lewat beberapa bulan ini. mungkin si akang sayur pulang kampung.
karena akang sayur cuti terlalu lama, banyak warga yang mengeluh sulit mendapatkan kebutuhan lauk pauk, pak joko berinisiatif membeli sayur, ikan dan lainnya untuk kebutuhan lauk warga. karena pasar pagi tradisional berjarak puluhan kilometer dari desa.
"alhamdulillah" jawab mbak Ratna tulus, sembari memilih sayur untuk menunya hari ini.
"wah, subur juga ya mbak Mala, tapi kasihan selalu keguguran jika memasuki usia tiga bulan." mbak Arumi menimpali ghibahan itu. mereka tidak menyadari keberadaan Reza.
Reza yang mendengar ghibahan para ibu-ibu, berusaha menguping dengan memperlambat belanjanya.
"iya..mungkin benar yang dikatakan bu Dewi, bahwa janin dalam kandungan Mala itu korban dari peliharaan mbah Karso bapaknya Mala." ucap Lisa kembali.
Reza yang mendengar ghibahan itu tersenyum licik. sepertinya Ia sedang merencanakan sesuatu.
"iya juga ya? serem saya mendengarnya." ucap Rianti, janda berwajah manis tanpa anak. Ia baru tiga bulan menikah, namun nasibnya tidak beruntung, karena suaminya meninggal terkena penyakit jantung.
mereka terus menghibah, hingga mereka terdiam sejenak, saat mendengar Reza terbatuk kecil. pandangan mata mereka beralih kesumber suara, dimana Reza berada. ternyata mereka baru sadar ada orang lain diwarung itu selain mereka.
Reza berjalan santai, menuju meja kasir yang dijaga oleh pak Joko.
"sudah belanjanya mas Reza?" ucap Pak Joko ramah. Reza membalas dengan anggukan.
pak Joko menghitung semua belanjaannya. lalu Reza menyerahkan sejumlah uang sesuai total belanjaannya.
Reza beranjak hendak pulang. saat melewati para ibu-ibu, Ia melempar senyum manis, yang membuat semuanya merasa kelimpungan. senyum itu seperti sihir yang begitu memikat hati.
"iya..ya.. kenapa si Reza betah menduda selama belasan tahun?" ucap Arumi menimpali.
"padahal dia tampan, kaya, dan itu lho, tubuhnya kekar banget." ucap Lisa keceplosan.
Ia tanpa sadar mengagumi ketampanan Reza.
"sadar mbak, ntar mas Joni cemburu.." celetuk Rianti, sepertinya Ia kesal mendengar mbak Lisa memuji Reza.
Rianti yang sudah dua bulan menjanda, merasakan khayalan yang tak mampu Ia cegah, Ia tak tahan melihat ketampanan dan tubuh kekar duda itu.
Reza mengendarai sepeda motor miliknya. lalu pulang kerumahnya, meninggalkan para ibu-ibu yang sedang memandanginya kagum.
****
Reza meletakkan kantong kresek yang dibawanya. menyerahkan pada bu Parmi, ibunya Rianti. Bu Parmi sudah sangat lama bekerja pada Reza. Ia bertugas memasak dan membersihkan rumah tersebut. setelah selesai bekerja, Ia pulang kerumahnya. seperti itu setiap saat.
bu Parmi bekerja untuk membantu perekonomian keluarga karena suaminya bekerja serabutan. ditambah lagi anaknya kini menjadi janda, Ia juga harus menanggung hutang biaya perobatan suami Rianti selama ini.
bu Parni menerima kantong kresek itu, lalu memulai memasak.
Reza menuju lantai tiga, memasuki kamar rahasianya yang menjadi tempat yang tak dapat dimasukin oleh siapapun, kecuali dirinya. Ia mengunci kamar tersebut. Ia melakukan ritual memanggil sekutunya.
"Nini Maru... Nini Maru..datanglah.. aku memerlukan bantuanmu.." ucap Reza dengan lirih..
lalu muncul bayangan makhluk menyeramkan, perlahan terlihat nyata. Ia merangkak mendekati Reza, membelai wajah duda tampan tersebut.
Reza membuka matanya, sembari tersenyum kepada makhluk yang dipanggilnya Nini Maru.
"apa yang ingin aku lakukan untukmu cucuku" suara berat dari makhluk itu.
__ADS_1
Reza tersenyum, ada semburat keceriaan disana.
"Mala mengandung lagi Ni." ucapnya semakin tersenyum.
"Ya..aku tau.."ucap Nini Maru dengan nada serak..
"darimana Nini mengetahuinya?" ucap Reza penasaran.Ia terkejut jika Nini Maru ternyata lebih dahulu tau dari dirinya, tentang perihal kehamklan Mala.
"karena aku berada didalam rahimnya. aku mengetahuinya, dan janin itu hasil perbuatan harammu dengannya." ucap Nini Maru menyeringai.
matanya yang bulat besar dan berwarna merah semakin menyala, gigi tarinynya terlihat mengeretak.
"benarkah itu janinku Ni?" ucap Reza sangt bahagia. namun sesaat dia tidak rela jika janin itu diserahkan kepada Nini Maru, karena Ia mencintai Mala.
makhluk yang mampu membaca isi hati Reza menggeram, Ia tidak ingin Reza mengingkari janjinya. Reza melihat wajah Nini Maru seperti kesal terhadapnya.
"kamu jangan mengingkari janjimu, jika sampai itu terjadi, aku akan membuat wajahmu membusuk" ancam Nini Maru setelah membaca isi hati Reza.
duda tampan itu terperanjat, Ia tidak menyangka Nini Maru mengetahui isi hatinya.
"tetapi aku sangat mencintainya Ni.. aju menginginkan janin itu lahir kedunia hingga pada waktunya. aku sangat mencintai Mala" uca Reza menghiba pada iblis betina yang menjadi sekutunya.
"beri aku pilihan lain, asal jangan kandungan Mala" ucap Reza memohon, sembaei merapatkan kedua tanganny, menangkup didada. mengharap Nini Maru memberikannya pilihan.
Nini Maru menatap Reza, sebenarnya Ia juga tidak ingin putus hubungan persekutuan dengan duda tampan tersebut, karena Reza merawatnya dengan baik selama ini.
"baiklah, carikan aku tumbal lain, namun aku ingin hasil dari hubungan zinahmu, dan jangan lupa kau harus meminum madu cinta wanita tersebut, agar wajahmu terlihat muda selamanya." ucap Nini Maru memberikan pilihan.
Reza mengangguk menyetujui persekutuannya, sembari tersenyum mendengar keputusan Nini Maru. namun Ia bingung, harus mencari wanita itu dimana, wanita yang dapat diajaknya berzinah, tanpa paksaan. jika harus ke wanita malam, Ia takut tertular HIV AIDS.
Nini Maru meninggalkan Reza dengan iringan tawa yang menyeramkan...
Reza keluar dati kamar rahasianya. melangkah menuju lanyai satu, berniat hendak sarapan.
saat berada didapur, bu Parni sedang menyiapkan sarapannya, menatanya dimeja makan. lalu Reza memulai sarapannya.
"emmmm.. nak Reza... ibu ingin mengatakan sesuatu" ucap bu Parni dengan ragu, Ia takut untuk menyampaikan iai hatinya.
Reza menghentikan sejenak sarapannya. "ada apa bu?" ucap Reza sopan kepada bu Parni yang sedikit cemas wajahnya.
"ibu mau bilang, kalau mulai besok anak ibu yang menggantikan bekerja disini. soalnya ibu mau menemani bapak bekerja disawah" ucap bu Parni sembari meremas ujung kain pakaiannya untuk menghilangkan kegugupan.
"anak ibu yang mana?" ucap Reza penasaran, sebab Ia tidak begitu memperhatikan seluruh wanita yang ada didesa ini. karena Ia sibuk mengintai Mala.
"itu...anu..anak ibu si Rianti, dia sudah menjanda dua bulan yang lalu, suaminya meninggal karna sakit jantung. jadi dia butuh pekerjaan untuk membayar hutang biaya perobatan suaminya semasa hidup" ucap bu Parni menjelaskan.
"memangnya hutangnya banyak bu?" jawab Reza menyekidik.
"lumayan banyak nak Reza, sekitar sepuluh juta. itu dipinjam dari pak jefri rentenir dikampung ini, ditambah bunganya yang terus membengkak setiap saat." ucap bu Parni sembari tersedu. Ia tak mampu menahan beban hidupnya.
Reza seperti mendapat angin segar. Ia berencana menjadikan Rianti sebagai budak penghasil janin untuk ditumbalkan kepada Nini Maru, agar kandungan Mala terus berkembang dan dan lahir dengan selamat.
"boleh bu, suruh dia besok datang menggantikan pekerjaan ibu" ucap Reza tersenyum licik. Ia mengeluarkan dompetnya, memberi 2 juta rupiah kepada bu Parni.
"ini untuk gaji ibu bulan ini, dan sisanya berikan pada Rianti untuk mencicil hutangnya pada pak Jefri" ucap Reza sembari menyerahkan uang tersebut kepada bu Parni.
bu Parni sumringah, wajahnya berseri menerima uang pemberian dari Reza Ia tak menyadari bahwa ada niat jahat yang sedang direncanakan duda itu terhadap anak perempuannya.
"terimakasih nak Reza, kamu sangat baik sekali" ucap bu Parni sembari tersenyum.
Reza membalas dengan anggukan. " dan semua ini tidak gratis." guman Reza dalam hatinya. sembari tersenyum penuh kemenangan.
bu Parni dengan semangat menyelesaikan pekerjaannya, agar segera dapat pulang, Ia sudah tak sabar untuk mengabarkan hal ini kepada Rianti anaknya. Ia berharap Rianti dapat segera melunasi hutangnya kepada rentenir Jefri yang bersikap sangat kasar saat menagih hutang.
__ADS_1