
Satria terus melangkah menyusuri jalanan setapak. Beberapa butir pisang sedikit mampu untuk menghilangkan rasa laparnya. Namun Ia butuh air minum untuk menghilangkan rasa hausnya.
Satria terus berharap agar menemukan sumber mata air diperbukitan ini.
Tak selang berapa lama, terdengar suara gemericik air yang dipastikan berasal dari sumber air terjun. Satria tampak sumringah. Ia mempercepat langkahnya, dan tak sabar untuk segera sampai kesumber air tersebut.
Satria menajamkan pendengarannya, lalu memutuskan untuk menuju kearah barat.
Setelah sekian menit berjalan, tampak olehnya sebuah air terjun yang begitu gagah tegak mengalir dari atas tebing yang kokoh. Satria segera menysuri jalanan bebatuan dan harus turun kebawah untuk mencapainya.
Batuan licin yang berlumut terpampang menghadang jalannya. Suara gemericik dan percikan airnya terasa mengenai tubuh Satria dari jarak 5 meter.
Satria tak sabar, Ia segera meletakkan tas ranselnya dan membuka pakaiannya, lalu melihat sebuah kolam alam yang bedinding bebatuan dengan kejernihan airnya yang menyegarkan.
Kolam alam yang terpahat sempurnah itu hanya sedalam pinggang orang dewasa, dengan bebatuan yang banyak terdapat didasarnya.
Satria membenamkan dirinya disana, meraskan kesegaran air yang dapat meregangkan otot-otot tubuhnya. Rasanya dunia begitu indah, menikmati keindahan alam yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya.
Setelah beberapa lama berbenam, Satria menyembulkan kepalanya, memejamkan matanya, seolah-seolah tak ingin meninggalkan tempat itu.
Satria teringat akan pakaiannya, Ia berniat untuk mencucinya dan mengeringkannya di atas bebatuan dekat dengan ranselnya.
Lalu setelah itu Ia kembali kedalam kolam air terjun tersebut.
Tanpa pemuda itu sadari, sesosok Peri bergaun biru yang pernah Ia temui di aliran sungai waktu itu tengah memperhatikannya.
Disisi lain, Satria bak seorang bocah yang bertemu kolam renang dan bermain air tanpa merasa jenuh. Ia bahkan berenang sesukanya kesana kemari tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Sosok peri bermata indah itu terbang melayang dari atas bukit, lalu mendarat di bebatuan dimana dekat dengan posisi Satria sedang berbenam ria.
Peri itu terus memperhatikannya, hingga sesaat peri itu melakukan sesuatu hal diluar dugaan sang pemuda.
Seekor ikan gurami yang sedang berenang dibalik bebatuan, diangkat dengan sihirnya, lalu dilemparkannya kepada Satria yang sedang asyik berenang.
Seketika Satria merasa kaget, lalu menyembulkan kepalanya dan menyadari ada seekor ikan gurami yang tadi menimpuk kepalanya.
__ADS_1
Lalu Satria mengambil ikan tersebut, dan terlihat ikan itu tampak menurut saja dipegangnya.
"Kamu kenapa melompat diatas kepalaku..? Itu sangat sakit.. Apakah kamu mencoba menyerahkan diri untuk ku makan..? Karena saat ini aku lagi lapar.." ucap Satria kepada ikan tersebut.
Satria segera bangkit dan beranjak dari pemandiannya, karena ikan itu terlihat pasrah, maka Ia berniat untuk menjadikannya santapan.
Satria tidak menyadari jika Ia hanya menggunakan hotpans saja. Ia dengan santainya berjalan menepi ke bebatuan, karena Ia mengira hanya ada dirinya saja ditempat ini.
Satria menyiangi ikan tersebut dan membersihkannya. lalu Ia mencari beberapa ranging kayu kering dan sedikit menjauh dari air terjun, lalu berniat membuat perapian.
Setelah selesai membuat perapian, Satria mulai memanggang ikan tersebut. Ia tampak begitu bersemangat, dan aroma yang begitu menggoda.
Setelah cukup matang, Ia menyantabnya dengan sangat lahab, hingga tak menyadari apapun.
Setelah selesai menyantab ikan panggangnya, satria kembali mencari tas ranselnya dan untuk mengenakan pakaiannya.
Namun, saat ini Ia tidak melihat tas ranselnya dan juga pakainnya. Ia merasa yakin jika tadi Ia meletakkannya diatas batu besar tersebut.
Satria mengedarkan pandangannya, mencari barangnya yang hilang. "Aku yakin pasti ada demit yang sengaja menutupinya.." ungkap Satria dengan lirih, sembari memegang dagunya.
Tak butuh waktu lama, Satria melihat tas ransel dan pakaiannya kembali ditempat semula. Seketika Satria tersentak dan menghampiri barang-barang miliknya.
Sesaat kemudian, Satria merasakan sebuah sapuan lembut dari selendang milik seseorang yang melintasinya dari arah belakang.
Aroma khas wewangian yang menenangkan hati mengiringi kehadiran sosok tersebut.
Satria menoleh kearah dimana sosok pemilik selendang nan lembut tersebut.
Satria terpana melihat sosok dihadapannya. Sesosok peri yang pernah Ia temui dialiran sungai waktu itu.
"Apakah dia yang menimpukku dengan ikan itu..? Sebab kemarin dia juga yang memberi ikan itu kepadaku." Satria berguman lirih dalam hatinya.
Sosok peri itu berjalan diatas air, tanpa basah sedikitpun, meskipun pakaiannya terkena air.
Sosok itu datang menghampiri Satria yang kini diam terpaku, dan tak berkedip sedikitpun.
__ADS_1
Sosok itu terus datang, dan semakin mendekat. Setelah jarak mereka begitu dekat, sosok peri itu memberikan sebuah senyuman terindah yang tak pernah terlihat oleh anak manusia.
"Mau ikut bersamaku..?" tanya sang peri sembari mengulurkan tangannya.
Sesaat Satria tersadar, lalu menggelengkan kepalanya.."Tidak.. Aku masih ada urusan penting.. Tetapi jika kau yang ingin ikut denganku terserah saja.. Aku tidak melarangmu.. Lagipula aku tidak memiliki teman dihutan ini.." ucap Satria balik bertanya.
"Apakah kau mengijknkannya..?" jawab peri itu dengan suara yang begitu lembut.
"Ya.. Jika kau mau.." ucap Satria dengan senyum sumringah.
"Baiklah.. Aku akan ikut denganmu.." jawab peri itu, sembari melayang merapatkan dirinya dipunggung Satria
Seketika Satria merasakan tubuhnya merinding, mendapat perlakuan tak biasa dari sosok itu.
"Pakailah pakaianmu, jangan membuatku salah faham.." ujar sosok itu, lalu melepaskan perbuatannya terhadap Satria, dan melayang menjauh, membiarkan Satria memakai pakaiannya.
Satria menatap sosok itu, yang terbang melayang keatas bukit.
"Pakai kabur segala.. Bukannya sedari tadi dia sengaja diam-diam sudah mengintipku.." gerutu Satria, lalu mengenakan pakaiannya.
Setelah selesai dengan semuanya, Satria beranjak dari tempat tersebut, lalu melanjutkan perjalanannya ke atas bukit, untuk menemukan goa dimana tempat kitab segoro geni itu disembunyikan.
Sesaat sosok peri itu turun melayang menghampirinya, lalu berjalan disisinya, membuat perjalanannya saat ini terasa begitu bersemangat.
"Apakah kau lelah..? Tanya peri itu tanpa menoleh kepada Satria.
"Emm.. Tidak juga.. Air terjun itu sudah memberikan kesegaran padaku, dan juga ikan yang begitu gurih. Ditambah lagi dengan perjalanan yang ditemani seorang peri cantik.. Tentu perjalanannku menyenangkan.." jawab Satria, membuat sosok peri disisinya tersipu malu dan tersenyum sembari merundukkan kepalanya.
Aroma lembut yang ditimbulkan oleh sosok peri itu membuat rasa nyaman dan seperti semangat yang tanpa lelah dalam menempuh perjalanan kali ini.
"kamu berasal dari mana..?" tanya Satria dengan hati-hati.
" Dari duniaku yang berbeda dari duniamu, dan sedang menuju kekehidupanmu.." ucap Peri itu sembari tersenyum tipis.
Raut wajahnya yang ayu rupawan tak mampu digambarkan oleh apapun.
__ADS_1
"Mengapa kau ingin mengikutiku..?" tanya Satria dengan selidik. Sembari terus melangkah tanpa lelah.
"Karena aku memilihmu.." jawab peri itu dengan singkat.