
Bayu berusaha menyelesaikan urusannya dengan perjanjian jual beli padang rumput tersebut. Hari Ini mereka bertemu janji dengan pemilik ahli warisnya.
Setelah menyelesaikan akta jual beli, Ia mulai menyelesaikan persyaratan demi persyaratan yang harus diselesaikannya, terutama kelegalan ijin usahanya. setelah itu Ia mendatangi pihak Bank yang bekerjasama dalam membangun usaha propertynya.
Kemudian Ia mengajukan CV yang sudah didaftarkannya, dan kini memulai untuk bergerak mencari teman join dalam membangun usaha yang baru dirintisnya, yaitu kontraktor yang terpercaya dan juga jujur dalam bekerjasama.
Dilain sisi, tanpa Mala ketahui, suami barunya itu sudah berusaha keras untuk mencari jalan halal untuk menafkahinya. Sedangkan Mala masih menyimpan rasa kesal dalam hatinya, karena terjebak dalam pernikahan yang tak diinginkannya.
Hari berganti senja. Mala sudah menyiapkan makan malam, lalu bersiap untuk menunggu shalat maghrib tiba.
Saat bersamaan, Ia mendengar suara deru mesin mobil Bayu yang tampak memasuki halaman rumahnya. Mala terburu-buru masuk kedalam kamarnya, sengaja tidak mengunci pintu depan, agar pria itu dapat masuk sendiri tanpa Ia harus repot-repot membuka pintu untuk suami barunya.
Mala menunggu adzan maghrib yang beberapa menit lagi akan berkumandang.
Bayu memasuki teras, berniat hendak membuka sepatunya, dan bersamaan dengan itu, seorang wanita renta datang menghampirinya, meminta dua bungkus nasi putih tanpa lauk kepadanya. Wanita renta itu menjelaskan, jika Ia sudah biasa meminta kepada Mala.
"Baiklah, sebentar saya ambilkan.." ucap Bayu dengan senyum ramah, lalu beranjak bangkit, dan setelah melepas sepatunya.
Bayu memasuki rumah yang terlihat sangat sepi, bahkan ucapan salamnya juga tak disahuti oleh Mala.
Tanpa meminta persetujuan Mala, Bayu mengambil dua buah toples berbahan plastik merk mahal yang berukuran sama besarnya, lalu mengisi toples tersebut dengan nasi putih. Lalu membungkusnya dengan kantong kresek dan memberikannya kepada wanita renta tersebut.
"Terimakasih Den Bagus.. Kalau boleh tau, Aden ini siapanya si Mbak ya..?" Wanita renta itu tampak kepo.
"Emmm.. Saya suami barunya.." jawab Bayu tersenyum miris.
"Oh.. Begitu.. Baiklah.. Terimakasih atas nasinya.." ucap wanita renta itu, namun sesaat Ia berbalik.."oh ya.. Wadah ini mahal, biasanya para wanita akan mengomel jika sampai wadah ini menghilang dari rak piringnya" ucap Wanita renta sembari menenteng sedikit keatas kantong kresek yang dibawanya. Lalu berjalan dengan cepat dan menghilang.
__ADS_1
Bayu mengernyitkan keningnya.."Hanya wadah toples biasa, mengapa mesti diributkan.." Bayu berguman lirih, lalu memasuki rumah Mala.
Ia melihat kamar Mala terkunci, namun Ia tak ingin mengganggu wanita itu. Ia memilih untuk segera mandi dan membersihkan dirinya.
Samar-samar terdengar suara lantunan adzan maghrib, dan Bayu masih berada didalam kamar mandi. Tubuhnya merasa menggigil menahan sakit, jika tiap kali mendengar panggilan tersebut, dan akan berakhir bersamaan dengan selesainya suara adzan.
Pria itu memegang didinding bak mandi yang terletak didapur, Ia menyalin pakaiannya didalam kamar mandi. Lalu menuju sofa.
Ia tau jika Ia tak akan diijinkan memasuki kamar, maka Ia memilih untuk tidur diruang keluarga, sembari menonton televisi dan rebahan disofa.
Sesaat Ia mendengar suara Mala melantunkan beberapa ayat suci yang Ia tau itu adalah surah yasin, karena malam ini bertepat malam jum'at, mungkin Mala mengirim doa buat Roni dan keluarganya.
Seketika Bayu menggigil kedinginan, tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa, seolah Ia meminta agar Mala menghentikan lantunan ayat sucinya. Ia terlempar dari sofa, menahan kesakitan yang luar biasa. Lalu sebilah keris meluncur dari tubuhnya dan melayang keudara.
"Dasar pewaris bodoh.. Aku memintamu segera menggaulinya, namun kau tak juga mengindahkanku.. Aku mengingankan air madunya, agar kekuatanku semakin kekal..!!" hardik keris tersebut yang berbicara kepadanya.
Bayu hanya meringis menahan sakit, berdiam memegangi perutnya yang terasa kaku.
Bersamaan dengan itu, Mala telah selesai melantunkan surah yasin tersebut, lalu keris itu kembali melesak masuk kedalam tubuh Bayu yang masih tampak lemah.
Aaaaaaarggh..
Suara erangan kesakitan saat keris itu melesak masuk kedalam tubuhnya. Wajahnya memucat, bagaikan kapas, saat proses penyatuan tersebut.
Mala keluar dari kamarnya, Ia merasa perutnya sangat lapar. Saat menuju dapur, Ia melihat Bayu sedang rebahan dilantai ruang keluarga, Ia hanya melintasinya saja, tanpa berkata apapun. Ia mengira jika Bayu sengaja rebahan dilantai.
Mala ingin makan, lalu melihat isi magic com sudah berkurang isinya, dan tampak wadah toples merk mahalnya menghilang dari rak piring.
__ADS_1
Mala mengernyitkan keningnya. Lalu menduga jika Bayu adalah pelakunya, karena tidak adalagi orang lain dirumah ini selain mereka berdua. Sedangkan asisten rumah tangganya hanya 3 kali seminggu datang kerumahnya untuk keperluan cuci setrika dan mengepel lantai. Sedangkan hari ini jadwalnya tidak datang.
Mala menuju ruang keluarga, Ia mendapati Bayu sudah berada disofa, sembari memegangi perutnya.
Mala berkacak pinggang dengan sorot mata tajam yang penuh intimidasi.
"Kemana wadah toples berwarna ungu yang dirak piring? Itu jumlahnya ada lima, mengapa tinggal tiga..? Kemana yang dua lagi..?" tanya Mala tanpa basa basi dan penuh emosi.
Bayu mengernyitkan keningnya, teringat akan ocehan wanita renta tersebut.
"Ya Tuhan.. Apa istimewanya sih wadah plastik itu, sehingga membuat kaum wanita semarah itu..? Cuma wadah plastik doank.." Bayu berguman lirih dalam hatinya.
"Iya..maaf, tadi ada nenek-nenek minta nasi putih, karena gak ada wadah lain ya aku kasih saja wadah itu. " jawab Bayu seenaknya.
Mala terdiam sejenak.. Ia teringat akan nenek renta yang biasa datang setiap sore kerumahnya, dan ini adalah hari ke tiganya.. Namun Ia biasanya memberinya dengan bungkus kertas yang Ia simpan dilemari kitchen setnya.
"Pokonya aku gak mau tau, ganti dengan merk dan warnah yang sama.." ucap Mala ketus, lalu berbalik badan menuju dapur dengan kesal.
Bayu mengernyitka keningnya.. "Ya Tuhan.. Hanya karena toples, dia semarah itu.." ujar Bayu menggelengkan kepalanya. Kini rasa sakitnya mulai mereda.
Mala makan malam sendirian, namun Ia menyisihkan lauk untuk Bayu, ada rasa tak tega dihatinya pada pria.
Setelah selesai makan malam, Ia kembali kekamar, dan saat melintasi Bayu, Ia berhenti sejenak. "Jangan lupa, ganti tu toples dengan merk dan warna yang sama.." ucap Mala dengan wajah masam, lalu, beranjak pergi menuju kamar, sebelum Ia membuka pitu kamar, Ia berbicara dengan sedikit suara keras " kalau mau makan ambil sendiri didapur.." ucapnya ketus. Lalu memasuki kamar dan menutup pintu kamar dengan kasar, sehingga membuat Bayu tersentak karena kaget.
Bayu mengelus dadanya, lalu menuju dapur. Ia memeriksa sisa toples yang dimaksud oleh Mala, lalu melihat merknya.
Ia membuka layar phonselnya, berseluncur diaplikasi belanja berwarna orange. Lalu mengetik nama merk toples tersebut beserta warnanya. Alangkah kagetnya Bayu, ternyata harganya memang mahal.. "Busyeeet.. Cuma toples doank harganya mahal banget.. Aku kira dapat harga goceng seperti yang dijual dipasar.." Bayu berguman lirih.
__ADS_1
Namun karena tak ingin menambah permusuhan dengan wanitanya, Ia memesankan satu set nya, lalu Ia melihat produk yang sama, dengan variasi yang berbeda berwarna merah terang transfaran, satu set prasmanan yang harganya lumayan mahal. Bayu lalu memesankannya juga dari toko yang sama "Biar gak ngomel lagi.." ucap Bayu sembari membuat pesanan barangnya, lalu membayarnya viar transfer.
Lalu Ia menuju meja makan, menyingkap tudung saji, tampak ada satu wadah lauk yang sengaja disisihkan Mala untuknya. Meskipun wanita tampak jutek padanya, namun masih menghargainya sebagai suaminya, dengan menyisihkan makanan untuknya.