
Satria menghempaskan dirinya ditepian ranjang. Ia masih belum mampu mencerna apa yang baru saja dilihatnya barusan.
Ia mengambil secarik kertas yang disimpannya dilaci nakas. Ia mengambilnya. memandangi sketsa wajah tersebut.
"aku yakin..wanita yang selalu hadir dalam mimpiku adalah wanita yang sama dengan wanita yang baru saja kutemui." Satria menatap nanar lurus kedepan.
Ia mengernyitkan keningnya "Wanita itu mendonorkan darah untukku..? waktu kecelakaan itu sebenarnya aku dirawat dirumah sakit mana..?" Satria mencoba mencari jawabannya. karena Ia tersadar saat telah berada di perjalannan pulang.
"bukankah golongan darah AB- darah yang langka? hanya 0.36% saja yang memilikinya.? lalu mengapa dengan kebetulan darah wanita itu memiliki darah yang sama denganku..?" ucap Satria dengan bingung.
Ia teringat akan seseorang.."Hadi.. ya Hadi..Aku dan Hadi juga memikiki golongan darah yang sama.atau jangan-jangan.." Satria menggantung ucapannya. lalu beranjak dari tempat tidurnya. Ia melangkah dengan tergesah-gesah menuju lemari pakaiannya.
"mungkin tidak salahnya jika aku memeriksa barang-barang pribadi Hadi. dan mungkin disana aku akan menemukan petunjukknya." ucap Satria penasaran.
Ia membuka kunci lemari pakaiannya. lalu mencari kotak kardus yang disimpannya didalam lemari. saat membuka lemari tersebut, Ia terperangah akan apa yang dilihatnya. Ia tak menemukan apappun disana.
"dimana kotak itu..? aku yakin menyimpannya disini." ucap Satria dengan bingung.
Ia terus menyibakkan pakaiannya yang tergantung, mencari barang-barang milik Hadi. "apa ada seseorang yang mengambilnya..? tapi siapa..? dan untuk apa..?" Satria masih dalam keningungan.
"Mama..ya mama. aku harus bertanya pada Mama. karena hanya mama yang dapat masuk kekamar ini. tapi jika mama pelakunya, untuk apa barang-barang itu..?" ucap Satria semakin penasaran.
Satria bergegas keluar kamarnya. mencari keberadaan Jayanti sang mama.
Ia menapaki anak tangga dengan tergesah-gesah. Ia celingukan kesana kemari mencari keberadaan Jayanti sang mama. namun tak terlihat. "kemana Mama pergi..? akhir-akhir ini seperti terlihat sangat sibuk sekali." ucap Satria berguman lirih.
samar-samar Ia mendengar suara Jayanti sedang bertelefon dengan seseorang. Satria mencari sumber suara tersebut. Ia menemukan Jayanti berada ditaman belakang dan sedang menelefon seseorang. "Ma.." sapa Satria dengan sopan.
Jayanti yang sedang bertelefon, lalu menatapnya dengan sedikit wajah panik. Entah apa yang sedang difikirkannya, saat melihat wajah Satria Ia begitu sangat kikuk. lalu Ia mengakhiri panggilan telefonnya.
"iya sayang... ada perlu apa cari mama..?" ucap Jayanti, sebisa mungkin mencoba tenang.
__ADS_1
Satria melihat dari gelagat Mamanya ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. "Ma..Satria mau tanya..? Mama ada lihat gak barang-barang dalam kotak kardus yang tidak digembok..? Satria meletakkannya di rak lemari pakaian paling bawah." ucap Satria sesopan mungkin. Ia takut juga melukai hati sang Mama.
Jayanti yang ditanya seperti orang yang sedang panik. "emmm...kotak kardus apa yang sayang..? Mama tidak ada masuk kekamar kamu. mungkin kamu salah letak kali..?" ucap Jayanti dengan nada sedikit gemetar.
"oh ya.. mama sedang sibuk. ada urusan yang masih harus mama selesaikan." ucap Jayanti beralibi.
Ia bergegas meninggalkan Satria yang masih berdirinmematung dihadapannya. dadanya bergemuruh. merasakan detak jantungnya yang terasa berdetak begitu kencang.
Satria merasa bingung dengan sikap mamanya."mengapa mama bersikap sangat aneh..? apa sebenarnya yang sedang disembunyikan mama dariku..?" ucapnya lirih.
"sebaiknya aku cek cctv saja." ucap Satria berguman lirih. sembari beranjak pergi kekamarnya.
sesampainya dikamar, Ia membuka laptopnya. lalu membuka file cctv. namun Ia tak menemukan apapun disana. "mengapa tidak ada filenya..? apakah cctv ini rusak atau sengaja ada orang yang merusaknya.?" Satria semakin penasaran.
Ia mencoba mengecek cctv dibagian koridor kamarnya. Ia terperangah, karena tidak ada cctv disana. "hah..? kemana cctv ini..? mengapa tidak ada..? sepertinya, sebelum Ia melepas kameranya, Ia mematikan saklar listrik terlebih dahulu. sehingga tidak ada jejak yang ditinggalkannya." ucap Satria mulai memecajkan masalah satu demi satu.
"lalu mengapa Ia begitu berniat untuk mengambil barang-barang milik Hadi..? disana tidak ada harta benda yang berharga seperti berlian atau emas..? hanya sebuah kotak kecil yang berisikan...?" Satria menggantung ucapannya.
"atau lebih baiknya aku mencari Hadi saja." ucap Satria lirih.
--------------
Mala mempersiapkan masakannya. Ia memasak menu ayam goreng kalasan permintaan Hadi.
Ia terpaksa berbelanja lagi karena barang belanjaannya yang tadi beserakan tadi telah raib.
Ia memasak dengan hati dan perasaan yang kacau. ada rasa trauma yang begitu mendalam saat mengalami kejadian tadi.
"mengapa mas Reza berada di kota ini..? apakah Ia pindah kemari saat meninggalkan desa..?" Mala masih larut dalam alam fikirannya.
Ia begitu gemetar, saat mengingat Reza menyekapnya. "apa yang ada dalam fikiran mas Reza.? mengapa Ia mengatakan mencintaiku..? selama didesa, Ia tidak pernah menunjukkan gelagat yang aneh..? atau selama ini Ia berbuat baik padaku, karena diam-diam menyukaiku..?" Mala terperangah dengan pertanyaan yang diajukan oleh dirinya sendiri. dan [ praaang...] suara sutil besi terjatuh dari genggamannya. Jantung Mala berdetak kencang membayangkan hal itu.
__ADS_1
"tidak..tidak..aku tidak boleh terlalu lama tinggal kota ini. Hadi mulai sudah sembuh total. sebaiknya aku segera pulang ke desa." ucap Mala bergetar.
Hadi yang mendengar suara benda terjatuh ke lantai, segera memeriksanya. Ia melihat Ibunya sedang memungut sutil tersebut.
"ada apa bu..? koq wajah ibu terlihat pucat..?" ucap Hadi khawatir.
Mala hanya menggelengkan kepalanya. " tidak ada apa-apa koq sayang. Ibu hanya kefikiran ayahmu didesa. kasihan gak ada yang mengurusi." ucap Mala berbohong.
Hadi memeluk Mala dari belakang " kalau Ibu kangen ayah ya ibu bisa menjenguk Ayah. Hadi sudah sehat koq bu.. lagian bakti istri itukan kepada suaminya, bukan pada anaknya. seharusnya Hadi yang berbakti kepada ibu." Ucap Hadi dengan tulus.
"beneran..? kamu gak apa-apakan ibu tinggal pulang..? kasihan ayahmu, sudah lelah mencari nafkah untuk kita, tetapi tidak ada yang mengurusinya." ucap Mala lirih.
Hadi mengangguk tulus. "beneran bu.. gak apa-apa.." ucap Hadi dengan tulus, sembari mengecup pipi ibunya.
"kalau begitu, besok anterin ibu ke terminal bus ya..?" ucap Mala bersemangat.
Hadi mengangguk, menyetujui.
"Ya sudah..ibu lanjutkan dulu memasaknya, ntar gosong karena kebanyakan ngobrol " ucap Mala sembari tersenyum.
Hadi melepaskan pelukannya, dan Mala melanjutkan memasaknya.
saat sedang mala memasak, Hadi melihat pergelangan tangan ibunya seperti lebam. "pergelangan tangan ibu kenapa lebam bu..?" ucap Hadi penasaran..
Mala tertegun mendengar pertanyaan Hadi. "emmm..tidak apa-apa..koq. cuma luka biasa saja." ucap Mala berbohong.
mampir di mari juga ya..
__ADS_1