
saat semuanya larut dalam suasana haru, sosok bayangan hitam itu merasuki tubuh Roni melaui ubun-ubunnya.
Roni yang masih tertidur karena pengaruh obat penenang, tiba-tiba membuka matanya dengan sangat lebar.
Seketika Ia beranjak dari tidurnya, lalu berjalan menuju kearah mereka.
Mata Roni seketika berubah menjadi merah, lalu mengeluarkan geraman yang menakutkan.
"sudah tiba waktunya.!! Dan kalian harus musnah malam ini juga..!" suara parau nan mengerikan menggelegar di seisi ruangan. Sontak hal itu membuatnya semuanya kaget.
Roni berjalan dengan gontai menuju kearah Mala dan lainnya. Seketika Mala merasa gemetar, nafasnya tersengal dan memburu. "bang Roni, sadarlah.. Ini Mala bang..? Mala berjalan mundur, sembari mencoba mengingatkan Roni, suaminya.
Namun Roni semakin mendekatinya, Satria menghalangi langkah Roni. Seketika Roni mengangkat tubuh Satria hanya dengan satu cengkraman, lalu melemparkannya ke lantai. Sebuah tenaga yang sangat luar biasa.
Satria meringis menahan sakit. Mala dan Shinta menjerit histeris melihat apa yang sedang terjadi.
Hadi bingung harus bagaimana. Nika Ia mekawan, maka tubuh Ayahnya akan menjadi korban, jika tidak melawan maka nyawa ibunya yang menjadi taruhannya. dimana Hadi merasa bagaikan memakan buah simalakama.
Roni berusaha menerkam Mala, namun Mala sudah terlebih dahulu bersiaga untuk menghindar. Ia keluar dari kamar bersama dengan Shinta. Hadi mencoba menghalangi ayahnya yang ingin mengejar ibunya.
Hadi menahan tubuh Roni, dengan kedua tangannya yang diletakkan didada Roni. Dengan cekatan, Roni mencengkram pergelangan tangan Hadi, lalu menepisnya, sembari memberikan tendangan telak di perut Hadi, seketika Hadi terjerambab dilantai, memegangi perutnya yang nyeri.
Satria mencari cara untuk melumpuhkan Roni tanpa harus melukainya. Karena jika ceroboh, maka nyawa Roni yang menjadi taruhannya.
Roni mengejar Mala yang kini merasa terpojok bersama Shinta.
Dengan cepat, Roni melayang dan melompat kedinding, lalu merayap bagaikan cicak-cicak didinding.
Setelah itu Ia menerkam Mala, dan mencekiknya, Shinta yang ketakutan, mengambil penyapu lantai hendak membantu menyelamatkan calon ibu mertuanya.
Belum sampai batang penyapu itu mengenai tubuh calon ayah mertuanya, Roni sudah terlebih dahulu menangkapnya dengan satu tangan kirinya, dengan tatapan menghujam. Lalu Roni melemparkan penyapu itu begitu saja. perlahan Roni bangkit hendak menyerang Shinta.
Shinta ketakutan dan memucat. Sembari berjalan mundur.
Hadi mencengkram tubuh Roni dari belakang, Ia mencoba memeluk tubuh Roni, agar tidak melukai Shinta.
Roni berusaha memberontak. Hadi membacakan suratul an-nas ditelinga Roni, tubuh Roni semakin kuat memberontak.
"aaaaarrrrgh.."
Roni menggeram.. Ia menyikutkan kedua sikunya di tulang rusuk Hadi, membuat Hadi mengendurkan cengkramannya.
Satria datang membawa kain sarung yang terdapat diranjang. Laku dengan cepat memasukkan sarung tersebut ketubuh Roni. Ia memuntir sarung itu hingga mengunci tubuh Roni. "cepat ambilkan tali..!" titah Satria kepada siapa saja.
Mala yang masih kesusahan untuk bangkit karena cekikan Roni dilehernya, berjalan dengan terhuyung-huyung. Ia mengambil baju dasternya, lalu menyerahkannya kepada Satria.
__ADS_1
"daster bu..? Satria minta tali. Masa Iya ayah diapakaikan daster." ucap Satria bingung
Mala membulatkan matanya, lalu mengikat Roni dengan daster tersebut.
Satria cengengesan.
"Di..! bantu kakak bawa ayah ke kemar." pinta Satria.
Tubuh Roni semakin kuat memberontak, namun Ia tidak dapat melepasakn dirinya dari ikatan tersebut..hanya dapat bergerak-gerak seperti cacing kepanasan.
Satria dan Hadi membopong tubuh Roni kedalam kamar dan membaringkannya diatas ranjang.
"pegangi yang kuat ya Di, jangan sampai terguling." pinta Satria.
Hadi mengangguk mengerti. Mala dan Shinta juga ikut membantu untuk memegangi Roni.
Satria menekan ibu jari kaki Roni dengan kuat, lalu memejamkan matanya dan merafalkan doa, Ia mencapai kemurniannya.
Tanpa henti Satria terus berdzikir dan berdoa untuk memaksa mengeluarkan jin ifrit yang bersarang ditubuh Roni.
Seketika terdengar suara jeritan yang memekakkan telinga sekaligus membuat bulu kuduk meremang.
Kepulan asap hitam bergulung-gulung keluar dari tubuh Roni, diiringin dengan jeritan yang mengerikan.
Asap hitam itu berubah menjadi sebuah bayangan, lalu menghilang.
"Ki.. Tolong.. Aku ki.. " erangan lirih Sosok bayangan hitam tersebut. Ia merasakan sakit yang luar biasa, Ia terkena sambaran sebuah cahaya putih yang memaksanya untuk keluar dari tubuh Roni.
Seorang pria sepuh berbadan cungkring, sedang menghadap sebuah pembakaran dupa. Aroma kemenyan dan minyak duyung, memenuhi seisi ruangan.
pria sepuh itu membuka matanya. Lalu menatap tajam. "mengapa kau kembali sebelum aku perintahkan..?!" ucap Pria dengan berang.
Tatapannya penuh amarah dan dendam.
"maaf Ki, anak itu tidak seperti yang kita bayangkan. Ia memilikiilmu kanuragan yang cukup tinggi, aku tak sanggup melawannya." bayangan hitam itu terus mengerang kesakitan.
"mengapa hanya melawan seorang bocah ingusan saja kamu tidak mampu.? Dimana harga dan martabat dirimu sebagai setan..?" tanya pria sepuh itu dengan berang.
"selain ilmu kanuragannya tinggi, ia juga terlalu ki.." jawab sosok itu dengan merunduk.
"terlalu apa maksudmu..?!" cecar pria itu dengan emosi.
"terlalu Tamvan ki.." jawab makhluk mengerikan itu yang masih terus merunduk.
"Siaaal..! Dasar setan ganjen, sia-sia aku memberikanmu tumbal janin, jika kau harus lemah dengan seorang bocah." teriak pria sepuh itu berang.
__ADS_1
"maaf ki..aku khilaf.." ucapnya lemah.
"baiklah.. Sementara waktu beristirahatlah kau terlebih dahulu, setelah aku memberikanmu tumbal 7 janin, maka kekuatanmu tidak akan terkalahkan." titah Pria sepuh itu dengan nada penuh dendam dan amarah.
"sekarang ki perginya..?!" tanya sosok itu.
Pria sepuh tersebut, menatap berang. "besook..!! " teriaknya denngan amarah.
Sosok mengerikan itu tersentak mendengar teriakan pria sepuh tersebut.
Dengan secepat kilat Ia menghilang.
Seorang wanita sepuh menghampirinya, membawa sebuah lentera ditangannya. "jangan terlalu emosi Ki, jaga kesehatanmu.." ucapnya.lirih, sembari meletakkan lenteta tersebut disisi kanan suaminya.
"bantu aku Ni, mencari tumbal 7 janin, untuk memulihkan tenaga dan menambah kekuatan pada makhluk suruhanku itu." ucap si pria kepada istrinya.
"pasti Ki, aku akan mencarikannya untukmu, secepatnya." jawab wanita yang usinya sudah senja.
-------******------
Roni mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa sangat sakit dan pegal. Seperti rasanya orang yamg sedang terkena pukulan benda tumpul.
Ia melihat Mala, Hadi dan dua orang asing sedang menegelilinginya.
Mereka memandangnya denagan perasaan senang.
Roni merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"bang Roni.. Akhirnya kamu sadar juga." teriak Mala dan memeluk tubuh Roni. Mala menangis dalam pelukannya. "aku kira kamu tidak akan sadar bang. Aku rindu kamu yang dulu.." ucap Mala dengan tangisan.
"apa yang terjadi..?" tanya Roni dengan penasaran. Karena Ia tidak menyadari tentang apa yang sedang dialaminya.
Mala tidak menjawabnya. Ia masih terisak karena tidak menyangka jika Roni dapat sembuh.
"lalu siapa kedua orang pemuda ini..?" tanyanya dengan penasaran
"gadis ini teman Hadi.. Sedangkan pemuda adalah..." mala menggantung ucapanya.
"Dia siapa..?" Roni semakin penasaran.
:Dia anak kita bang.." ucap Mala terisak.
"anak mana..? Apakah kau memiliki selingkuhan..?" tanyanya berang.
Seketika suasana menjadi hening..
__ADS_1
Bersambung.
😴😴😴😴