Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Draft


__ADS_3

Bayu semakin pusing, Ia panas dingin setelah beberapa kali menyaksikan Pak Danang menggauli para asisiten rumah tangganya.


Ia bergegas kekamarnya. "gila juga si tukang kebun, otaknya Mesum banget.. Emang sesuai sama pekerjaannya sih, suka bercocok tanam dan membersihakan kebun.." omel Bayu, sembari mengusap wajahnya yang bingung.


Ia duduk ditepian ranjang, mengingat apa yang baru saja dilihatnya. Bahkan Ia melihat Danang yang baru saja berpindah dari Rumi lalu menuju kepada Nia. Bayu menyaksikan betapa buasnya Danang dalam memperlakukan kedua wanita itu.


Saat Ia dalam kondisi bingung, Nini Maru datang menemuinya. "Haah.. !" Bayu terperanjat melihat kehadiran Nini Maru yang tiba-tiba saja berada disisinya.


"kalau nongol itu jangan ngagetin donk Ni..? Buat aku sport jantung saja" ucap Bayu menggerutu, sembari mengelus dadanya.


Nini Maru memandang dengan masam "berisik amat ne bocah, untung saja ganteng, kalau gak, wiiih.. dah aku cekik kamu sampai tewas.. !!" Nini Maru berguman lirih, tanpa didengar oleh bayu.


"kamu harus ingat, besok malam adalah malam jum'at.. Kamu harus menyediakan tumbal Janin padaku." ucap Nini Maru dengan nada pemerasan.


Bayu menoleh kearah Nini Maru.."aku tidak Mau.. Cari saja sendiri..!" ucap Bayu seenakanya.


"Heeeiii..!! Aku sudah membawamu kemari, dan berhasil medekatkanmu kepada Wanita incaranmu.. Apa balasanmu kepadaku.?!" ucap Nini Maru sengit.


Bayu terdiam sejenak. Ia teringat akan Danang. "beri aku waktu, 2 bulan lagi akan ada janin untukmu." ucap Bayu meyakinkan iblis betina itu.


"kelamaan..!! Aku mau malam jum'at ini..!!" tolak Nini Maru dengan geram.


Bayu sedikit kesal menghadapi Nini Maru. "mengapa aku bisa terjebak oleh makhluk merepotkan sepertimu..?! Aku katakan aku tidak bisa, cari saja sendiri, aku akan sediakan ayam cemani saja untukmu, setelah dua bulan baru kamu mendapatkannya." Bantah Bayu dengan Santai.


Nini Maru menggeram. Lalu Ia ingin menarik lengan Bayu, namun sebuah cahaya hitam menghalanginya. Nini Maru merasa kaget, lalu mencoba menerawang apa yang membuat Bayu berubah. Ia melihat jika keris ki Kliwon telah bersarang didalam tubuh Bayu.


"Haah.!! Mengapa keris itu dapat bersarang disana? Bukankah Reza sudah lama menginginkan keris itu menyatu dengan tubuhnya, namun tidak pernah berhasil.. Tetapi Ia memilih Bayu." Nini Maru merasa tidak nyaman.


"pantas saja dia seperti berani membantahku.." Mini Maru berguman lirih sembari menatap ragu.


Bayu merasa ngantuk, lalu membaringkan tubuhnya, sesaat kakinya terhalang oleh Nini Maru. "Geserlah Ni.. Gangguin orang tidur saja..!!" hardik Bayu dengan kesal.


Merasa Bayu mulai kesal, Nini Maru memilih untuk pergi kekamar rahasia, dengan perasaan geram.


🐛🐛👻👻👻👻🐛🐛🐛


Satria memasuki ruang kerjanya. hari ini Ia ingin membuat agenda pembelian mobil ambulance. Dimana satu special untuk jenazah, dan satunya khusus untuk rujukan pasien ke rumah sakit.


Bahkan Satria memiliki rencana untuk mengadakan alat rontgen dan USG, agar membantu masyarakat kampung ini tidak jauh-jauh harus memeriksakan kandungannya ke kota.

__ADS_1


Sayup-sayup Ia mendengar kembali senandung cinta yang didendangkan oleh seorang gadis. Ia beranjak dan menyingkap tirai, lalu menatap keluar jendela. "siapa pemilik senandung itu..? " guman Satria lirih.


Ia mencoba memejamkan matanya, menghayati setiap lirik yang disenandungkan oleh pemilik suara tersebut. Perlahan senandung itu menghilang. Satria membuka matanya, menatap pada arah utara, disana terdapat hutan lebat yang belum terjamah oleh manusia.


Satria menghirup udara dengan sangat dalam, lalu menghelanya dengan kasar.


"apakah dihutan sana terdapat sesuatu misteri..?" Satria berguman lirih.


🐛🐛🐛👻👻👻👻🐛🐛🐛


Mirna keluar dari goanya, Ia menghirup udara pagi dengan merentangkan kedua tangannya keatas. Semilir angin menerpa kulitnya, melambaikan rambutnya yang panjang lurus.


Cahaya mentari memendar dan memberikan kehangatan bagi siapapun.


Mirna duduk diatas sulur-sulur pohon beringin yang dipintalnya menjadi tempat bermainnya menghilangkan jenuh.


Ia mulai berayun, memejamkan matanya, serta menengadahkan kepalanya, merasakan hembusan semilir angin dan terpaan cahaya mentari. Ia terus memacu laju ayunananya hingga Ia merasakan seperti sesuatu yang sedang menatapnya.


Dua bola mata indah seorang pemuda, yang mengintainya dari kejauhan. Ia sudah tak sabar untuk menuntunnya hadir mencarinya dalam kesunyian jiwa yang menganga.


"hadirlah... Aku menunggumu disini.."


"mengisi ruang kosong dalam hatiku.."


"mengharapkan sentuhan belaian lembutmu.."


"Hadirlah duhaai sang belahan jiwa"


Bayangan wajah pemuda itu begitu semakin dekat, lalu Ia membuka matanya, tersenyum sumringah sembari merundukkan wajahnya, seolah-olah Ia merasa malu, ditatap begitu dalam oleh pemilik mata indah tersebut.


Mirna turun dari buaian, berlari-lari kecil sembari sesekali memutar tubuhnya dengan lembut, mengembang pakaian bagian roknya. Selendang yang menjuntai dilehernya, ikut melambai mengikuti gerakan tubuhnya. rambutnya yang tergerai dengan indah juga ikut melambai dengan lembut, menggambarkan suasana hatinya yang sedang bahagia.


Ia terus mendendangkan senandung cintanya..


"hadirlah.. Hadirlah duhai Belahan jiwa..


"sentuh hatiku dengan kasihmu..


"sekian lama aku menanti..

__ADS_1


"waktunya hampir tiba.."


Mirna terus berlari kecil. Menuju sebuah bukit tempat banyaknya tumbuh bunga edelwis. Ia merebahkan tubuhnya direrumputan, merentang keduanya tangannya, menantang memejamkan matanya dan membiarkan pendaran cahaya mentari menyapa kulitnya yang jernih.


Sesaat Ia bangkit, lalu memetik beberapa tangkai bunga edelwis, dan menggenggamnya erat. Ia begitu percaya saja dengan mitos bunga keabadian tersebut.


Mirna menatap dari atas bukit, sebuah perkampungan yang jauh disana, ada seseorang yang sedang menatapnya juga.


"segeralah.. Hadir.."


"dalam penyatuan jiwa yang satu."


Mirna kembali berjalan, menapaki jalanan setapak, menuju kedalam goa, tempat Ia menanti belahan jiwanya.


🐛🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛


Tok..tok..tok..


suara ketukan pintu.


"masuk..!" ucap Satria, memejamkan matanya, membuang segala rasa debaran didanya. Lalu Ia kembali bekerja.


Seorang bidan muda yang baru bekerja sebagai honorer dan ditempatkan dipuskesmas ini, meminta tanda tangan Satria untuk rujukan seoran pasien yang mengalami pendarahan pada kehamilannya.


"bagaimana ini pak, Mobil ambulance baru saja dipakai untuk mengantar jenazah. Sepertinya kita membutuhkan satu mobil lagi untuk special pasien." ungkap gadis itu mencoba mengungkapkan sarannya.


Satria menatap lekat wajah gadis itu. Seorang gadis manis yang terbilang biasa saja, namun, cukup cerdas dan memiliki rasa peduli.


"sudah saya fikirkan, dan tinggal pelaksanaannya saja." jawab Satria.


Iya membaca papan nama yang melekat di pakaian gadis itu "shafiyah, itu nama kamu kan.?" ucap Satria lirih, tanpa ekspresi apapun. Lalu mengulurkan berkas yang dibawah gadis itu.


Mendengar namanya disebut, Seketika Shafiyah merona merah. Wajahnya berubah menjadi malu. Ia merundukkan kepalanya, lalu berpamitan.


Sesaat akan keluar dari ruangan Satria, Ia mendengar kembali namanya dipanggil.


"shafiyah.. Jika mobil ambulance dalam 30 menit belum datang juga, maka gunakan saja mobil saya untuk mengantar kerumah sakit. Karena hari sudah mulai siang. Lakukan tindakan pencegahan diawal." titah Satria dengan tenang.


Shafiyah menganggukkan kepalanya. "ba..baik pak.." jawab Shafiyah tergagap. Ia baru menyadari, jika atasannya tersebut adalah pemuda tampan.

__ADS_1


__ADS_2