Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Goa-7


__ADS_3

Widuri terbang melayang memasuki Goa. Ia menenteng kantong kresek berisi dua buah toples berisi nasi putih yang akan diserahkannya kepada Satria.


Pemuda itu sedsng duduk bersila, Ia terus merafalkan mantra ajian segoro geni yang kini sudah mulai dikuasainya. Tubuhnya bergetar hebat saat sebuah hawa ghaib merasuki aliran darahnya. Ia tampak semakin bergetar hebat saat terus tanpa henti merafalkan mantra tersebut.


Widuri menunggu pemuda itu menyelesaikan rafalannya, hingga diakhir tepat 333 kali Satria tampak tersentak, lalu menatap nanar pada Widuri.


"Ibu.." ucapnya lirih dengan wajah pucat. Ia melihat dalam siluet bayangan Ibunya sedang dirundung masalah, ada tampak warga berkumpul sangat ramai dirumahnya. Ia mengkhawatirkan kondisi Ibunya.


Widuri menghampirinya, lalu membuka wadah kantong plastik tersebut, dan menyodorkan satu biah toples berisi nasi putih tanpa lauk apapun, seperti biasanya.


Satria mengernyitkan keningnya. "Mengapa wadahnya berbeda..?" tanya Satria sedikit penasaran.


"Karena yang memberinya orang yang berbeda, namun dari rumah yang sama." jawab Widuri dengan santai, lalu membuka tutup toples tersebut, dan menyodorkannya kepada Satria.


"Makanlah.. Ini sudah waktunya berbuka." Ucap Widuri, tanpa melihat wajah pemuda itu.


"Apa maksudmu..? Apakah ada orang lain yang tinggal bersama Ibuku..?" tanya Satria, semabri membaca doa sebelum makan, lalu menyuapkan nasi tersebut kedalam mulutnya.


"Ya.. Sekarang Ibumu sudah ada yang menjaga, maka kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkannya. Fokuslah pada tirakat terakhirmu, kamu harus menjaga kondisi kesehatanmu, karena malam ini kamu tidak diperbolehkan tidur hingga menjelang fajar, sampai pukul 12 siang esok.." ucap Widuri mengingatkan.


"Tapi siapa yang kamu maksud menjaga Ibuku..? Apakah Hadi pulang ke desa..?" tanya Satria semakin penasaran." jika kamu ingin mengetahuinya, maka fokuslah pada tirakatmu yang terakhir, jangan sampai kau tertidur, jika tertidur, maka batallah tirakatmu, dan kamu harus mengulanginya dari awal." ucap Widuri mengingatkan.


Satria menganggukkan kepalanya, meskipun Ia sangat penasaran dengan siapa yang telah menemani Ibunya, namun jika yang dikatakan Widuri benar, orang tersebut memberikan perlindungan, maka akan membuatnya merasa tenang malam ini.


Satria melahab habis nasi putih sebagai menu berbukanya selama 3 hari ini berturut-turut, dan juga sebagai menu sahurnya.


Widuri juga sudah menyediakan minum air putih untuk Satria, dan membersihkan sisa makanan Satria, lalu memasukkannya kedalam tas ransel milik Satria, tanpa sepengetahuan pemuda itu.


Satria kembali fokus, memulai kembali tirakatnya, setelah melaksanakan shalat maghrib.


Ia merasakan jika energi ghaib kembali merasuki aliran darahnya. Satria dapat merasakan keberadaan para demit yang ada diluaran goa, berusaha menerobos masuk kedalam ruangan tempat Ia akan melakukan tirakat.


Setiap kali para demit itu ingin memasukinya, sebuah dinding ghaib menghalangi mereka, dan membuat mereka terpental.

__ADS_1


Satria semakin merasakan sebuah gerakan yang sangat dahsyat sedang ingin melakukan serangan. Tampak berbagai macam bentuk dan rupa demit bak sebuah pasukan khusus yang siap menyerangnya kapan saja.


Namun tampaknya Chakra Mahkota telah mewaspadai semua hal itu.


Disisi lain, Nini Maru bersama Ki Kliwon telah menyambangi rumah Mbak Ratna yang tak jauh dari rumah Mala.


"Kita harus berpencar untuk mengalihkan perhatian mereka.." ucap Nini Maru mencoba membagi tugas kepada Ki Kliwon.


"Baiklah, Nini bertugas diluar, aku menyelinap kedalam saat mereka membuka pintu.." ucap Ki Kliwon meyakinkan. Lalu Ia mengubah wujudnya menjadi tak terlihat.


Nini Maru memancing penghuni rumah dengan menirukan suara seekor anak ayam yang mengelilingi rumah Mbak Ratna.


Sementara itu, Mbak Ratna merasa sangat aneh dengan suara anak ayam tersebut, sebab Ia merasa tidak memiliki peliharaan ayam.


Karena anak ayam itu terus bersuara dan mengelilingi rumahnya, maka Mbak Ratna memanggil Suaminya. "Mas.. Bisa tolong ambilkan senter.." ucap Mbak Ratna kepada Adi suaminya.


"Untuk apa sih Dik..?" ucap Adi yang merasa malas-malasan, karena sedang asyik melihat acara televisi kesuakaannya.


Ratna merasa sangat ingin melihat anak ayam terus berputar-putar mengelilingi rumahnya. "Itu lbo Mas, koq ada suara anak ayam yang mengelilingi rumah kita sedari tadi.." ucap Ratna penasarn.


Adi merasakan bulu kuduknya merinding dan merasakan jika itu hal yang tidak wajar.


"Raisya dimana dik..?" tanya Adi mulai khawatir.


"Dikamar mandi Mas.. Katanya perutnya sedikit mulas tadi.." Jawab Ratna dengan jujur.


"Ghazali suaminya kemana..?" cecar Adi mulai merasakan hal yang tak wajar.


Lembur kang, belum balik kerja, mungkin sebentar lagi balik, karena tadi sore sudah memberi tahu Raisya Ia terlambat pulang.


"Ibu jangan keluar rumah, itu bukan suara anak ayam, namun tipuan dari makhluk laknat yang sedang mengincar Raisya." Adin mencoba mengingatkan Istrinya.


Seketika Ratna merasa sangat merinding. Lalu membatalkan niatnya untuk mencari tahu tentang anak ayam tersebut.

__ADS_1


Tak berselang lama, terdengar suara deru mesin motor Ghazali yang baru saja pulang dari lembur. Seketika suara anak ayam itu menghilang, dan tak terdengar lagi.


Ghazali kemudian mengetuk pintu rumah mertuanya, agar membukakan pintu untuknya.


"Assalammualikum... Bu.. Ini Ghazali sudah pulang.." ucap Ghazali yang sudah merasa kelelahan setelah seharian bekerja.


"Iya.. Sebentar.." Jawab Ratna dari dalam rumah, disertai suara derap langkah kaki menuju arah pintu.


Kreeeeeek...


Terdengar suara derit pintu yang terbuka. bersamaan dengan itu, tampak Ratna yang sudah berdiri diambang pintu, lalu memberi jalan masuk kepada menantunya.


Saat Ghazali masuk kedalam rumah, Ia merasakan desiran angin berhawa sangat dingin ikut masuk kedalam rumah bersama sang menantu dan diiringi aroma kenanga yang sangat menyeruak.


Ratna terburu-buru menutup pintu rumahnya. Wanita paruh baya itu menyapu tengkuknya karena merasakan bulu kuduknya meremang.


Sesampainya Ratna diruang keluarga, Ia masih mencium aroma kembang kenanga tersebut. Ia measakan hatinya tidak nyaman.


"Mas.. Raisya sudah keluar belum dari kamar mandi..?" tanya Ratna mulai merasa khawatir.


"Belum ada.. Emang sudah berapa lama..?" tanya Adi yang juga merasa penasaran.


"Sudah cukup lama jugalah Mas.." ucap Ratna kian khawatir.


Adi yang merasakan sesuatu yang tidak beres terjadi pada anaknya, beranjak bangkit dari duduknya, lalu mencoba memeriksa kamar mandi.


"Raisya.. Raisya.. Kamu lagi apa..?" ucap Adi, sembari menggedor pintu mandi yang bwrada didapur.


Lama tak ada sahutan. Adi dan Ratna kian resah dan mulai khawatir. Suara gedoran pintu kamar mandi, membuat Ghazali yang baru saja memasuki kamar dan menyalin pakaiannya merasa penasaran.


"Ada apa Yah..? Tanya Ghazali penasaran kepada ayah mertuanya.


Raisya dari tadi dikamar mandi dan belum juga keluar, bahkan tidak menyahut, takut terjadi sesuatu dengannya.." ucap Adi dengan suara gemetar.

__ADS_1


Mendengar penuturan Ayah mertuanya, Ghazali lalu mendobrak pintu kamar mandi, dan membuat ketiganya tercengang, karena mendapati Raisya yang tergeletak di lantai kamar mandi dengan bersimbah darah.


Seketika ketiganya terpekik histeris sehingga mengegerkan warga lainnya.


__ADS_2