
Bayu berfikir keras untuk permintaan Mala. Ia dalam dilema. Hubungannya dengan Mala yang mulai membaik, haruskah kembali terpuruk.
Hari sudah semakin malam, langit kelam menghiasi malam.
Terdengar suara langkah kaki dari arah belakang, Bayu yang merasa curiga, segera mengintainya. Ia melihat Mala sedang berbaring diranjang dengan mata yang masih terjaga, Ia yakin Wanita itu sedang berfikir keras untuk penyelesaian kasus anaknya.
Bayu keluar dari kamar, lalu mencari suara langkah kaki yang Ia yakini menuju kearah pintu dapur. Dan benar saja, suara ketukan pintu dari arah belakang.
Mala yang mendengar suara ketukan pintu itu juga merasa curiga, Ia mengekori Bayu dari arah belakang.
Saat Bayu membukanya, dan...
Seketika suasana hening, saat dua pasang mata saling bertatapan. "Satria.." Guman Bayu lirih, saat melihat sosok pria yang berdiri diambang pintu dengan raut wajah acak-acakan.
Kondisi Satria sangat dekil dan terlihat sedikit kurus. "Pak Bayu.. Mengapa kamu berada serumah dengan Ibuku..?" tanya Satria dengan penasaran.
Namun belum sempat Bayu menjawab pertanyaan Satria, terdengar suara Mala yang melangkah dengan sangat tergesah-gesah.
Melihat siapa yang datang, Mala menyerobot dari arah belakang, lalu dengan segenap kerinduannya, Ia menghamburkan dirinya dalam pelukan sang anak lelakinya. Tak henti-hentinya Ia menangis dab memeluki tubuh sang anak, serta kecupan kerinduan dari wanita itu.
"Sayang.. Akhirnya kamu kembali.." Isak Mala, setelah menghujani wajah puteranya dengan kecupan penuh kerinduan.
Namun Mala melepaskan pelukannya dari tubuh Satria, saat melihat seorang gadis berada dibelakangnya.
"Siapa gadis ini sayang..? Mengapa ikut bersamamu.." tanya Mala penasaran.
Satria menoleh kepada Mirna yang berada tepat dibelakangnya. "Teman Bu, Ia tersesat dihutan, dan Satria menolongnya.." jawab Satria berbohong.
"Masuklah, bersihkan diri kalian terlebih dahulu, nanti kita bahas setelahnya." titah Mala, lalu mempersilahkan keduanya masuk.
__ADS_1
Satria menganggukkan kepalanya, lalu Bayu memberi jalan masuk, saat berpapasan, Satria menatap penuh arti kepada Bayu, namun saat ini Ia kngin segera mandi dan membersihkan dirinya. Ia meletakkan tas ranselnya dilantai dapur, karena kondisi tas yang masih basah dan banyak pakaian kotor.
Mala mengajak Mirna masuk, Ia meminta gadis itu mandi dan membersihkan dirinya dikamar mandi dapur, Mala menyediakan perlengkapannya.
Sementara itu, Mala mempersiapkan makan malam untuk Satria dan sang gadis, Ia juga membuat minunam teh wedang jahe buat keduanya, agar tidak masuk angin, karena telah melakukan perjalanan yang sangat jauh.
Saat Satria mengguyur tubuhnya, sebuah siluet terpampang didepan matanya, tampak olehnya saat Mala digrebek warga, dan dinikah paksakan oleh warga, sedangkan Ia juga melihat sekelebat bayangan yang dipastikan itu adalah genderuwo yang tampak menyerupai Bayu.
Satria ingi mempertanyakannya nanti, setelah Ia dan Ibunya sudah merasa santai.
Saat hidangan sudah tersedia, Mirna juga sudah selesai dengan mandinya. Gadis itu tampak begitu sangat ayu, saat telah membersihkan dirinya.
Mala memberikan pakain gamisnya untuk gadis itu. Sehingga Ia terlihat sangat cantik, dengan rambutnya yang terurai basah.
Bersamaan dengan itu,Satria sudah keluar dari kamarnya,Ia juga mencukur jambang, jenggot serta menggunting tipis kumisnya.
Kini Ia sudah tampak lebih segar, dan aroma masakan Mala sang Ibu menggoda perutnya yang meronta untuk meminta diisi.
"Makanlah.. Mungkin kalian sangat lapar." ucap Mala dan duduk diantara keduanya. Lalu keduanya makan dengan sangat lahapnya.
"Dimana kamu menemukannya Sayang.." tanya Mala yang sangat penasaran tentang Mirna.
"Ia pendaki yang tersesat Bu.." ucap Satria singkat dan mempercepat makan malamnya.
"Siapa orang tuamu, sayang. " tanya Mala kepada Mirna yang sedari tadi tampak diam saja.
"Dia amnesia, tidak mengingat siapa dirinya dan kekuarganya " jawab Satria berbohong, kalu diiringi anggukan kepala Mala, yang mempercayai ucapan puteranya.
"Bu.. Apa sebenarnya yang sedang terjadi.. Mengapa Pak Bayu berada dirumah ini.?" tanya Satria, sembari mencuci tangannya.
__ADS_1
Mala mendengusakan nafassnya dengan berat, Ia bingung harus memulai ucapannya dari mana.
Namun sesaat phonsel Mala kembali berdering, satu panggilan masuk dari Hadi.
Mala membilatkan matanya, lalu mengangkat panggilan masuk tersebut. "Bu.. Apa tanggapan Pak Bayu..? Apakah Ia mau membantu Hadi.?" tanya Hadi dengan gelisah dari seberang telefon.
"Belum ada jawaban apapun sayang, nanti Ibu tanyakan lagi. Tapi ada kabar gembira, Kakakmu sudah kembali.." ucap Mala sedikit mendapat semangat.
"Benarkah.. Mana Bu..? Berikan pbonsel ini pada Kak Satria Bu.." ucap Hadi yang seilah mendapatkan secercah harapan.
Mala memberikan phonselnya kepada Satria. "Ini Hadi, ada masalah besar yang sedang dihadapi oleh Hadi adikmu.. Berbicaralah padanya.." ucap Mala, memberikan phonselnya kepada Satria.
Sementara itu, Bayu tanpa sengaja mendengarkan obrolan Mala dengan puteranya tadi. Lalu Ia sedang berfikir keras bagaimana cara penyelesaiannya.
Disisi lain, Satria sedang mendengarkan segala penjelasan dari Hadi yang tampak begitu sangat khawatir dan ketakutan saat menceritakan semuanya.
Satria terdiam sejenak dengan raut wajah yang sangat tegang. "Besok kakak akan berangkat ke kota, kamu jangan panik duku, biar kakak yang menyelesaikan masalah tersebut." ucap Satria meyakinkan. Namun sebenarnya Ia juga ragu, namun Ia juga membutuhkan kesaksian Pak Bayi, sebagai kunci utama dari semua rangkaian peristiwa itu.
Lalu Hadi mengakhiri panggilannya. Tampak Satria sangat gelisah. "Bagaimana sayang..?" Tanya Mala dengan penasaran. Ia juga tak mengerti mengapa Bayu harus ikut menyelesaikannya, apa hubungan Bayu dengan semua ini..? Mala juga seamkin bingung dan penasaran.
Sementara itu, Bayu diam-diam kembali pulang kerumah Reza. Danang merasa kaget melihat kepulangan majikannya itu. Sudah lama majikannya itu tak menginjakkan kakinya kerumah. Namun segala kebutuhan pokok para asisitennya tetap dipenuhinya.
Bayu dengan tergesah-gesah membuka kunci pintu kamarnya. Ia membongkar isi lemarinya. Lalu mengambil sebuah kotak berwarna coklat yang terbuat dari kayu berukir. Kotqk itu dulu pernah diberikan seoarang wanita yang pernah singgah dihatinya, meski hanya sebentar saja, karena wanita itu pergi untuk selamanya.
"Maafkan Aku Satria.. Aku pernah mengatakan padamu jika kotak ini hilang.." Ia berguman lirih, sembari membukanya, dan meraba isinya satu persatu yang masih tetap utuh tanpa hilang satupun.
Lalu Ia menutupnya kembali, dan menyimpannya ditempat yang lebih aman.
Sementara itu, Mala tak mendapati Bayu dirumahnya. "Apakah Ia pulang kerumahnya? Untuk menghindari Ku karena meminta bantuan padanya.." Mala berguman lirih.
__ADS_1
Ada sedikit rasa kesal pada pria itu, karena mencoba menghindarinya saat Ia mulai membuka hati, dan meminta sedikit bantuan untuk masalah yang sedang dihadapi kedua puteranya.
"Sebenarnya apa hubungan Mas Bayu dengan semua masalah ini. ?" Mala mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Bayu darinya.