
Pagi hari nan cerah.
Mala sudah mempersiapkan segala hantaran yang akan dibawa untuk acara lamaran Satria.
Hadi juga sudah bersiap dan menata semua hantaran yang akan dibawa didalam mobilnya. Saat itu, Mirna hanya memandangi semua kegiatan penghuni rumah tersebut.
Sesaat Mala menoleh kepadanya. "Kamu mengapa belum bersiap? Segeralah mandi, nanti Ibu bawakan pakaian untukmu." ucap Mala menyarankan.
Mirna hanya menganggukkan kepalanya, lalu menuruti perintah Mala. Sesaat Mala menyiapkan pakaian untuk gadis itu, lalu meletakkannya di kamar belakang.
Tok..tok..tok..
"Mir.. Pakaian gantimu Ibu letakkan dikamarmu ya..?" ucap Mala saat berada dikamar mandi dapur.
"Iya..." jawabnya lirih. Lalu meneruskan mandinya, dan Mala melangkah pergi untuk mempersiapkan segalanya.
Hari ini Hanya mereka bertiga, mbak Ratna, Bimo, dan juga bidan Sri yang akan ikut mengantarkan acara lamaran itu.
Sedangkan Satria masih mengikuti aturan adat budaya dikampung, jika acara lamaran, maka pria tidak ikut hadir, hanya keluarga saja yang datang menghadiri.
Mirna sudah selesai dengan ritual mandinya, rambut panjang lurus sepinggang, tergerai basah. Ia menggunakan handuk pemberian Mala, lalu keluar menuju kamar yang berhadapan dengan kamar mandi, dan dipisahkan ruang dapur.
Saat bersamaan, Satria berada diambang pintu penghubung, untuk mengambil air minum. Ia terperangah melihat Mirna dengan balutan handuk yang membungkus tubuhnya hanya dari pangkal bagian tengah da da hingga bagian pangkal kedua pa ha saja.
Kulit putihnya yang kontras tentu saja tampak berkilau dengan butiran air yang masih menempel dikulitnya dan terkena terpaan cahaya bohlam.
Satria bersembunyi dibalik dinding penghubung, Ia mengatur nafasnya yang terdengar memburu, sebagai lelaki normal, tentu saja itu sangat mengganggu akal dan fikirannya.
Setelah Mirna memasuki kamarnya, Satria segera berbalik arah masuk kembali kekamarnya, dan membatalkan untuk mengambil air minum.
didalam kamarnya, Ia mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Ia tak menyangka jika membawa gadis itu kerumah ini merupakan sebuah godaan yang sangat besar.
Apalagi Satria pernah melihat gadis itu tanpa sehelai benangpun saat hendak digagahi oleh Rey disungai waktu itu, tentu Ia melihat jelas bagaimana lekuk indah tubuh sang gadis
Pemuda itu mencoba sekuatnya untuk membuang fikiran kotornya, menghela nafasnya dan mencoba untuk merilekskan deru nafasnya yang memburu.
__ADS_1
"Sayang.. Ibu dan rombongan akan berangkat, mana cincin yang akan Ibu pakaikan pada Syafiyah." ucap Mala dari pintu luar kamar puternya.
"Bentar Bu..." jawab Satria sedikit parau, lalu mencari kotak cincin yang kemarin Ia simpan didalm saku pakaiannya.
Satria keluar dari kamarnya, lalu memberikan kotak cincin tersebut kepada Mala, Ibunya. "Ini, Bu." ucapnya sembari memberikan kotak cincin berwarna merah darah tersebut.
Mala membukanya. "Waaah.. Indah sekali..." uvap Mala terkesima akan keindahan cincin tersebut.
"Ibu mau yang seperti itu..?" Nanti kalau Satria afa uang akan Satria belikan untuk Ibu." ucapnya dengan nada serius.
Mala tersenyum, lalu memegang pipi kiri puteranya. "Tidak sayang, Ibu hanya menganguminya, kamu paling tau caranya membahagiakan wanita, semoga menjadi suami yang baik ya.." ucap Mal, sembari melepaskan tangannya dari pipi sang putera.
Bersamaan dengan itu, Mirna berjalan melintasi mereka, karena Ia akan ikut diacara lamaran tersebut. Mala terkesima akan kecantikan sang gadis. "Wah... Cantik sekali kamu Mirna." ucap Mala keceplosan, yang membuat Satria merasa kikuk dengan pujian Ibunya kepada gadis itu.
"Terimakasih, Bu... Ibu juga wanita paling cantik." balas Mirna, sembari melirik kearah Satria, membuat pemuda itu blingsatan dan salah tingkah.
"Ya sudah, ayo Kita berangkat segera, tidak baik membuat pihak wanita menunggu terlalu lama." ucap Mala dengan semangat.
Mirna menganggukkan kepalanya dan mengikuti Mala dari arah belakang, Ia berjalan dengan melenggokkan pinggulnya yang membuat pria manapun akan tak berkedip memandangnya.
Saat seluruh rombongan akan berangkat, sebuah mobil memasuki perkarangan rumah. "Bayu..." ucap Mala lirih saat melihat mobil siapa yang memasuki perkarangan rumahnya.
Satria yang penasaran, mencoba melihat siapa yang datang. Ia berdiri diambang pintu deoan rumahnya.
Bayu turun dari mobilnya, lalu tak berselang lama, Ia membuka pintu tengah mobilnya, dan tampak keluar seorang pria berusia senja dan diikuti oleh wanita berusia senja juga.
"Opa dan Oma...? Mengapa mereka bersama Pak Bayu dan apa tujuan mereka kemari..?" Hadi terlihat panik, karena Ia takut kehadiran keduanya akan mengacaukan acara lamaran kakkanya.
Bayu membawa keduanya menghampiri Mala. "Dia orangnya..." ucap Bayu kepada kedua pasangan senja tersebut, sedangkan para rombongan menatap bingung, juga halnya dengan Mala yang tak mengenal keduanya.
Dengan tiba-tiba, Ayunda memeluk Mala."Maafkan dosa almarhum anak dan menantuku, yang pernah menyakitimu dengan cara mencuri janinmu.." ucapnya dengan terisak, sembari membelai lembut punggung Mala.
Seketika semuanya terkesima dan tercengang mendengar pengakuan wanita senja itu. Lalu Rakesh memandang kearah Satria yang berdiri diambang pintu. "Kemarilah cucuku..." ucapnya sembari merentangkan kedua tangannya.
Satria berjalan menghampiri pria senja itu, lalu memberikan pelukannya. "Maafkan Opa, telah menuduhmu berbuat keji... Maafkan." ucapnya dengan tulus.
__ADS_1
"Tidak perlu meminta maaf Opa, Aku sudah memaafkan jauh sebelum Opa meminta maaf." jawab Satria tulus.
"Opa sudah mengembalikan semua aset perusahaan sesuai semestinya." ucap Rakesh dengan nada serius.
Satria memahami, jika semua ini dapat terjadi karena campur tangan Pak Bayu, yang Ayah sambungnya.
Ia melirik ke arah Bayu, lalu Bayu memandangnya, sembari menganggukkan kepalanya.
Mala baru mengerti, jika pasangan senja itu adalah orangtua dari Almarhum Bram dan mertua dari Jayanti. "Aku sudah memaafkan, karena dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah" Ucap Mala dengan tulus.
Lalu Ayunda menyeka air matanya. "Terimakasih.." ucapnya lirih dan sedikit sendu.
Ayunda memandangi rombongan yang tampak bersiap akan pergi. "Ada acara apakah ini..?" tanya Ayunda dengan rasa penasaran.
"Acara lamaran Satria, dan hari ini acaranya... Apakah Opa dan Oma ingin bergabung?" ucap Mala dengan nada ajakan.
"Baiklah... Kami akan ikut meramaikannya." jawab Rakesh dan Ayunda dengan semangat. Lalu para rombongan bergerak untuk segera berangkat.
Bayu membuka pintu depan mobilnya."Masuklah..." ucap Bayu menawarkan kepada wanitanya.
Mala memandang pria tersebut, lalu memasuki mobil tersebut, diikuti oleh Rakesh dan Ayunda yang duduk dijok tengah.
Rombongan itu akhirnya berangkat menuju rumah Syafiyah. Saat dalam perjalanan menuju kesana. Mala merasakan kehadiran Bayu dalam hidupnya ternyata membawa bulir-bulir keindahan.
"Terimakasih..." ucapnya lirih, sembari melirik kepada pria disisi kanannya yang sedang fokus menyetir.
"Untuk apa...?" tanya Bayu dengan santai.
"Untuk segalanya..." jawab Mala tulus.
Bayu tersenyum sangat manis. "Bukankah itu kewajibanku, untuk memberikan tanggungjawabku sebagai pemimpin kepala rumah tangga...?" ucap Bayu dengan tenang.
Mala mengerjapkan kedua bola matanya yang indah dengan senyum kebahagaiaannya.
Hingga tanpa sadar mereka telah sampai di depan ruamah Syafiyah.
__ADS_1
Ia segera memalingkan wajahnya,