
Setelah pertemuannya dengan pria Asing itu, Roni merasa ingin bertemu dengannya lagi. Ia seolah merasakan mendapat seorang teman baru.
Entah apa yang mendorongnya ingin bertemu kembali pada pria itu. Ia melirik jam didinding kamarnya, tampak jam menunjukkan pukul 9 pagi.
lalu Roni berjalan mengendap menyelinap keluar. Setelah memastikan aman tidak ada yang melihatnya, Ia menyusuri jalanan arah selatan. Ia menuju pohon rindang yang pakai untuk tempat beristirahat kemarin.
Roni duduk dibawah pohon rindang itu, Ia menantikan seseorang. Matanya nanar menatap jalanan, mencari-cari orang yang Ia tunggu.
Setelah sekian lama menunggu, Ia tak juga melihat orang tersebut. Hatinya merasa kecewa. Ia memutuskan untuk pulang kerumah.
Roni kembali menyusuri jalanan, matanya seperti awas menatapi mobil yang melintas, berharap orang tersebut akan melintas. Namun Ia tak menemukan apa yang sedang dicarinya.
Kini Roni telah berada disimpang rumahnya. Ia ragu untuk pulang, lalu memutuskan menuju arah utara, menikmati mentari pagi yang mana pendaran cahayanya begitu sangat menghangatkan.
Saat Ia berjalan 200 meter, Ia melihat sebuah mobil berhenti diseberang jalannya.
Ia mengenali mobil itu, sepertinya mobil itu sedang menunggu seseorang. Roni meeasa senang, karena menemukan orang yang Ia cari.
Pemilik mobil yang melihat Roni diseberang jalan, seketika menyadari, jika Roni adalah orang yang ditemuinya semalam pagi.
Ia melihat Roni tampak clingukan ingin menyeberang jalan.
Lalu Ia memutuskan untuk membantunya menyeberang jalan. Pria itu turun dari mobilnya, menyeberang jalan, lalu membawa Roni menghampiri Roni.
"Mas mau menyeberang jalan..?" tanya pria itu ramah.
Roni hanya menatapnya dengan senyum sumringah, lalu menggelengkan keplanya.
pria itu tampak berfikir sejenak "mau sarapan..?" tanyanya lagi.
Roni menganggukkan kepalanya. Lalu tersenyum tipis.
"Bentar ya.. Aku putar mobil dulu, tunggu disini, jangan menyeberang sembarangan.." perintahnya.
Roni menganghukkan kepalanya. Lalu berdiri ditepian jalan.
Pria itu menyeberang jalan, lalu memasuki mobilnya, dan memutar arah. Sepertinya pria itu menganggap Roni orang dengan berkebutuhan khusus yang diterlantarkan oleh keluarganya, sehingga perlu dikasihani.
Setelah memutar mobilnya, Ia menghampiri Roni, lalu membuka pintu mobil, dan meminta Roni masuk kedalamnya.
Roni menasuki mobil, laku pria itu memutar arah utara, mencari sarapan untuk Roni.
__ADS_1
Setela melewati puskesmas, dan mereka menemukan warung penjual sarapan. Sesampainya disana, pria itu turun, lalu membeli 2 porsi sarapan, sepertinya ia juga belum sarapan.
Setelah selesai dengan pesanannya, Ia kembali ke mobil, lalu menyetir mobilnya, mencari tempat sarapan yang nyaman menurutnya.
Ia menemukan sebuah padang rumput yang tidak begitu luas, lalu mereka berhenti disana. Pria itu membawa dua porsi sarapan nasi uduk dan satu botol air mineral.
Ia membuka pintu mobil, lalu meminta Roni untuk turun.
Roni mematuhinya, lalu turun dan berjalan menuju padang rumput.
Disana mereka membuka sarapannya, lalu memakannya. Sesekali mereka bercengkrama, dan bersenda gurau, meskipun terkadang ucapan Roni tidak nyambung, namun pria itu merasa memiliki seorang teman.
Dirinya yang selama ini menutup diri dari masyarakat dan menghindari berinteraksi sosial, akhirnya mendapatkan teman ngobrol, meski terkadang tidak nyambung.
Namun pria cukup senang, setidaknya Roni membuatnya tidak merasa begitu bosan dengan kehidupannya yang terlalu tertutup.
Mentari semakin lama semakin naik, seketika Roni ingat Mala, Ia takut ketahuan jika menyelinap keluar.
Lalu Ia meminta diantar kembali pulang. Pria itu mengangguk menyetujui, lalu mengantarkan Roni ketempat Ia tadi bertemu.
setelah sampai ditempat tadi awal bertemu, Pria itu menghentikan mobilnya, lalu memutar mobilnya menyeberangi jalan, dan menghadap utara.
"besok..kalau mau sarapan, tunggu saja saya disini ya.." ucap pria itu mengingatkan.
Pria itu kembali memasuki mobilnya, sepertinya Ia membatalkan niatnya untuk mengintai seseorang.
Roni melambaikan tangannya, dan tersenyum menatap pria itu yang sudah mebghidupkan mwsin mobilnya.
Lalu pria itu memutuskan untuk kembali kerumahnya, dan akan bertemu Roni esok pagi lagi.
Roni berjalan pulang, Ia melihat sekilas Mala di samping dapur. Sepertinya sedang menjemur pakaian. Roni bergegas masuk kedalam rumah, dan menuju kekamarnya.
🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛
Mala telah selesai dengan pekerjaan dapurnya. Ia berniat untuk mengajak Roni mandi. Karena dalam hal ini butuh kesabaran.
Ia bergegas memasuki kamar, lalu melihat Roni sudah duduk ditepian ranjang.
Mala menghampirinya, lalu ikut duduk disana. "mandi yuk bang..? biar bersih.." ucap Mala dengan lembut.
Roni melihatnya sekilas, lalu menganggukkan kepalanya, Pertanda setuju.
__ADS_1
Mala memimpin Roni kedalam kamar mandi. Ia mulai melucuti semua pakaian suaminya. Melihat hal itu, sebagai wanita normal, tentu membuatnya merasakan sebuah hasrat.
Entah apa yang ada difikirannya saat ini, Ia terbakar hasrat yang menggebu. Ia mencoba membangkitkan senjata pamungkas milik Roni, berulang kali Ia mencoba, memberikan segala sentuhan dan belaian pada prianya, namun senjata itu tak jua bangun.
Mala mencoba dengan berbagai trik, namun tak ada respon yang diterimanya.
Mala menyerah, lalu nelangsa pada hatinya.
Roni mengalami disfungsi s*ksual, tubuhnya tidak begitu merespon apa yang sedang diberikan kepadanya.
Mala menatap nanar, lalu melanjutkan memandikan Suaminya.
Setelah selesai, Ia membawa Roni kedalam kamar, lalu memakaikan pakaian bersih, dan membuatnya kembali segar.
Mala manatap wajah tampan suaminya, masih segar diingatannya, bagaimana perkasanya Roni dulu saat diranjang. Ia mampu melakukannya hingga beberapa ronde pertempuran.
Namun kini, semua hanyalah kenangan, semua hanyalah hayalan, dan harapan hampa.
Mala menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya, mengeluarkan segala bentuk bebannya saat ini.
Ia mendekati Roni, mengecup lembut bibir itu, seolah ingin melepaskan segala gejolak jiwanya.
Lama Ia disana, menikmati segala keresahannya, meski semua tanpa balasan apapun. perlahan Ia melepaskan pagutannya, mencoba tersenyum miris, memejamkan matanya, mencari celah untuk menutup setiap lubang hampa dalam hatinya.
"Beri aku kekuatanmu Rabb.." ucapnya lirih, sembari, menggigit bibir dengan perasaan pilu.
Setelah beberapa saat menahan keresahan hatinya, Mala beranjak bangkit, lalu membelai lembut rambut basah Roni. "kita sarapan ya bang..?" ucap Mala berusaha tenang.
Roni menggelengkan kepalanya, pertanda Ia tidak ingin makan.
"nanti masuk angin bang, kalau tidak sarapan.." pujuk Mala.
Roni tetap tidak ingin makan..
"Ya sudah.. Nanti kalau sudah lapar bilang sama adik ya.?" ucap Mala lembut.
Roni menganggukkan kepalanya. Lalu menatap Mala dengan sendu.
Mala tersenyum tipis. "adik mau bersihkan rumah dulu ya.. Jangan kemana-mana.." pinta Mala kepada Roni.
Roni menganggukkan kepalanya, pertanda setuju. Lalu membaringkan tubuhnya ditepian ranjang.
__ADS_1
Mala menatap sendu, lalu menyelimuti Roni, dan beranjak keluar dari kamar, untuk melakukan kegiatan berberes lainnya.
~penderita skizoprenia yang sudah sembuh mengalami penurunan mental sekitar 20%, dan daya nalar. Namun ingatannya terhadap orang-orang yang dikenalnya masih utuh. Seperti keluarga dan sahabat, dan tetangga. Semangat bekerja juga mengalami penurunan, sedikit pemalas, dan sering merasa mengantuk.~