
Satria memanjat pohon untuk mencari tempat berlindung agar tidur malamnya tidak diganggu hewan buas. Tas Ranselnya Ia sangkutkan dibatang pohon yang sedikit tinggi dari atas tanah, lalu Ia mengambil sorban pemberian Hamdan, dan sebilah pisau sangkur pemberian dari Hadi yang senantiasa terselip dipinggangnya.
Hari beranjak malam, kepekatan malam kian mencekam. Sepi, dan juga hening. Sesekali terdengar suara hewan nokturnal yang bernyanyi merdu mengiringi sepinya malam.
Satria muali memanjat batang pohon sebagai tempatnya berlindung dari serangan hewan buas.
Pengalaman pertamanya yang harus menjelajahi hutan, karena selama ini Ia hanya tahu hidup mewah dan bergelimang harta saat hidup bersama Jayanti dan Bram.
Namun, demi menyelamatkan garis keturunan keluarganya, Satria rela menempuh bahaya yang kini sedang berada didepannya.
Dengan tekad yang kuat, akhirnya Satria sampai di dadahan batang pohon yang tinggi sekitar 4 meter dari tanah.
Satria mulai membenahi letak posisi duduknya senyaman mungkin, agar Ia dapat tidur dengan lelap.
Satria memperhatikan sekelilingnya, hanya kegelapan yang tampak. Namun cahaya rembulan sesekali mengintip dibalik awan, memberikan cahayanya kian temaram.
Satria merasakan matanya mulai berat, rasa kantuk mulai menyergapnya. Perlahan mulai terkatup dan meredup.
Sayup-sayup Satria mendengar senandung cinta milik seorang gadis yang terdengar nun jauh disana.
Satria yang masih dalam setengah kesadarannya, menjadikan senandung itu sebagai lagu pengantar tidurnya.
Satria terbuai oleh senandung itu, hingga Ia terlelap dalam buaian mimpi.
👻👻👻👻👻👻👻
Satria tersentak. Ia merasakan seolah berada di sebuah padang ilalang yang sangat luas. Suasana berkabut dan sangat dingin menusuk tulang.
Satria berjalan menembus kabut embun yang sangat tebal. Tetesan embun menempel disekujur tubuhnya, hingga membasahi tubuhnya.
Satria terus menyibakkan ilalang yang sedikit tajam dan menggores kulit hingga menimbulkan luka goresan yang sedikit perih.
Satria terus melangkah, mencari penghujung padang ilalang yang tampak tak bertepi.
Hingga saat Ia hampir saja terperosok kedalam jurang jika saja tak mampu mengendalikan dirinya
__ADS_1
Satria melihat sebuah jurang yang menganga berada tepat dihadapannya. Satria menghentikan langkahnya tepat dibibir jurang.Â
Lalu tampak samar-samar diseberang tebing jurang, seorang gadis cantik nan ayu rupawan sedang duduk seorang diri. Ia bersenandung lagu cinta yamg begitu amat merdu dan syahdu.
Satria menatap takjub padanya.."Siapa gerangan gadis itu..? Sepertinya aku pernah melihat Ia sebelumnya." Satria berguman lirih dalam hatinya.
Namun perlahan gadis itu menghilang tertutup kabut embun tanpa menoleh kepadanya sedikitpun.
Satria mencari-cari kemana pergi menghilangnya sang gadis. Namun tak tampak dimana keberadaannya.
Satria menlenguhkan nafasnya. Lalu Ia beranjak dari tebing jurang, dan membalikkan tubuhnya hendak pergi, namun Ia dikejutkan oleh sosok Nini Maru dengan seringai runcing, dan kuku-kuku yang panjang dan tajam.
Tatapan kejam dengan bola mata merah tepat ditujukan pada Satria. Tangannya tiba-tiba saja memanjang ingin menggapai Satria. Saat jemari-jemari keriputnya yang kurus itu mencapai leher Satria dan mencekiknya.
Dalam kondisi terjepit seperti itu, Satria menarik piasau sangkur yang terselip di pinggangnya lalu menusukkan kepada jari jemari itu dengan cepat memotongnya.
Seketika jari jemari itu berputusan dan jatuh keats tanah. Lalu Satria meloloskan diri dan menjauh dari bibir tebing.
Dengan senyum seringainya, Nini Maru mengarahkan tangannya kepada jari jemari yang berjatuhan diatas tanah tersebut, lalu seketika jari jemari itu menyatu kembali dan secara utuh tanpa celah sedikitpun.
Iblis betina itu memutar tubuhnya, lalu menatap tajam pada Satria. Dengan satu lompatan, Ia terbang melayang, lalu menyerang Satria. Dengan gerakan cepat, Satria mengambil sorban yang melilit di lehernya, lalu mengibaskannya dan melibaskannya pada Nini Maru.
Nini Maru tersentak, lalu meringis kesakitan, sembari memegangi lengannya yang terkena sabetan sorban Satria. Lalu Ia kembali menyerang Satria. Saat ini pemuda itu sudah waspada, lalu dengan segera menyambut serangan yang di lancarkan oleh Nini Maru. Ketika iblis betina itu menyerangnya, dengan cepat Ia segera menangkisnya menggunakan sorban tersebut.
Sebuah kilauan cahaya berwarna perak memendar menerangi alam sekitarnya, lalu dengan segera menghantam tubuh Nini Maru yang sudah berada dekat dengannya.
Seketika iblis betina itu mengeluarkan suara lengkingan yang sangat memekakkan telinga.
"Haaah.." Satria tersentak, Ia mengerjapkan matanya. Memandang sekitarnya yang tampak sepi dan mencekam. Pemuda itu melihat kearah bawah, dari ketinggian semuanya tampak gelap, tak terlihat sesuatu pun.
Satria menyapu wajahnya dengan telapak tangannya. "Aku hanya bermimpi.." gumannya lirih, namun Ia merasakan mimpinya itu seperti nyata..
"Ibu.. Bagaiamana kabar Ibu..?" rasa rindu pada wanita itu kian merasuk kalbunya. Jika boleh meminta, maka Ia ingin selalu berada disisi wanita itu, namun sebuah misi harus Ia selesaikan, jika tidak ingin garis keturunan keluarganya yang terkena imbasnya.
👻👻👻👻👻
__ADS_1
Dinginnya malam kian merayap disekujur tubuhnya. Ia mencoba mengusirnya dengan membentangkan sorban pemberian Hamdan, lalu menjadikannya sebagai selimut.
Seketika rasa hangat datang menyelimutinya. seolah Ia merasakan dekapan cinta kasih seorang keluarga. Baru saja Ia merasakan kenyamanan, tiba-tiba saja Ia dikejutkan oleh suara-suara orang yang sedang memanggilnya.
"Sa....triiiiaaaa..." suara lirih nan parau terdengar dikejauhan sedang memanggilnya.
Satria memasang dengan benar indra pendengarannya. Suara itu seperti sangat lirih..
"Sa..triiiiaaaa..." kembali terdengar suara rintihan tersebut, diiringi oleh aroma kantil yang semakin merebak.
"Ternyata Dia.." guman Satria dengan kesal. Ia memandangi sekitarnya. Namun Satria merasakan sesuatu sedang memanjat pohon tempat Ia berlindung.
Satria mulai waspada. Ia mengangkat kedua kakinya yang terjulur dan mangatur posisi siap menyerang.
Srek..srek.. Srek..
Suara itu semakin terus memanjat, dan..
Arrrrrgggh...
Seekor macan tutul siap menyerangnya. Dengan cepat Satria menghindar dan berpindah dari satu dahan kedahan lainnya. Lalu dengan segera mengayunkann pisau sangkur itu untuk melukai Si macan tutul yang tampak begitu sangat lapar menginginkan mangsa buruan.
Lalu..
Kres ..
Kuku tajamnya menggores pergelangan tangan Satria, hingga membuat luka dan mengeluarkan darah dari bekas cakarannya.
Satria meringis menahan sakit, lalu dengan sekuat tenaga dan fokus untuk tetap mencari pegangan dan pijakan pada setiap dahan sebagai tempat pertahanan.
Hewan tersebut masih terus menyerang. Bahkan sesekali cakarannya mengenai dahan pohon yang didepannya.
Lalu, sebuah siluet ular naga raksasa keluar dari tubuh Satria. Siluet ular naga itu menjelma menjadi ular rakasasa dan menyerang si macan tutul hingga lemah dan tak berdaya lagi.
Macan tutul itu jatuh dari ketinggian, namun Chakra Mahkota yang merupakan Khadam penjaga Satria, dengan cepat menangkap hewan tersebut agar tak jatuh ketanah. Lalu membawanya turun kebawah dengan aman.
__ADS_1
Macan tutul itu menatap samar, lalu Ia ingin mengucapkan terimakasih, karena telah diselamatkan, meski perbuatannya tadi sudah menyerang satria.