
Terdengar sayup-sayup lantunan adzan subuh.. Mala terjaga dari tidurnya. Ia merasa sesak pengen buang air kecil. Ia bergegas beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.
saat akan menuju kamar mandi, Ia tak sengaja melihat kamar bapak terbuka pintunya, Ia memeriksa kamar tersebut. sembari melihat kondisi bapak. Ia berdiri diambang pintu, melihat bapak tertidur lelap, dan si mbok tidur dilantai dengan beralaskan kasur tipis..
Mala kembali untuk niatnya semula, yaitu buang air kecil yang kian semakin mendesak. setelah selesai menunaikan hajatnya, Ia mengambil wudhu untuk shalat subuh. sudah lama sekali Ia meninggalkan kewajibannya.
setelah shalat subuh, Ia bergegas untuk memasak, menyiapkan sarapan dan memasak bubur untuk bapak, agar bapak lebih muda menelan makanannya.
hari masih remang-remang, Mala.sudah selesai dengan menu sarapan dan bubur untuk bapak. Ia bergegas membangunkan suaminya, untuk berangkat bekerja.
Mala masuk kedalam kamar, lalu mengguncang tubuh suaminya dengan lembut, mendapati Roni yang juga tak terjaga dari tidurnya, Mala mengecup bibir suaminya. seketika Roni menggeliatkan tubuhnya, lalu terkejut dengan sentuhan dibibirnya.
Ia membuka matanya, lalu mendapati Mala sedang mencumbunya. seketika gairahnya bangkit. lalu membalas cumbuan Mala. berpuasa selama 3 bulan sudah sangat menyiksanya. lalu sepasang insan yang dimabuk cinta memadu kasih mesrah.
mereka menuntaskan hasrat yang lama terpendam. setelah mencapai puncak surgawi, mereka terkulai lemas dalam dekapan nan lembut.
Mala menggeliatkan tubuhnya.."sayang, sudah siang..ayo mandi. kamu mau berangkat kerjakan?" ucap Mala lembut dan manja. Roni tersenyum, lalu beranjak bangkit dan ingin mandi. "ayo..mau mandi bareng sama abg..?" ucap Roni dengan kedipan mata genit.
Mala terkekeh..."ada bapak dan si mbok sekarang tinggal dirumah kita." ucap Mala mengingatkan suaminya. Roni menepuk jidatnya. lalu meraih handuk, melilitkan dipinggangnya. dan beranjak kekamar mandi.
saat melintasi kamar mertuanya, Roni mencoba melihat kondisi mertuanya. Iabtak melihat si mbok didalam kamar, mungkin sudah didapur. Ia melihat bapak mertuanya sudah bangun. Ia menggerakkan mulutnya ingin berbicara, namun seperti tak dapat mengeluarkan suaranya.
Roni penasaran dan mencoba mendekatinya. "ada apa pak?" ucap Roni ketika mendekati bapak mertuanya. namun Ia hanya dapat menggerakkan mulutnya saja. dan terlihat mulutnya miring sebelah kiri. "eh...eh...eh.." hanya itu yangbkeluar dari mulut mbah Karso.
Roni terperanjat, "apakah bapak mengalami stroke?" ucap Roni lirih. mbah Karso tak mampu menggerakkan tubuhnya, bahkan suarapun tak mampu Ia keluarkan. Roni menaruh rasa iba.
"bapak mau minum?" ucap Roni melemah. dan mbah Karso hanya menjawab anggukan yang lemah. lalu Roni mengambil air minum yang terdapat di atas nakas, menuangkannya kedalam gelas, lalu menyendokkannya kemulut mbah Karso.
air minum itu banyak yang tertumpah. hati Roni begitu miris. Ia tak pernah membayangkan jika bapak mertuanya mengalami kelumpuhan.
setelah memberikan minum, Roni beranjak keluar, dengan menggunakan bahasa isyarat kepada mbah Karso. dan mbah Karso mengangguk lemah, tanda mengerti.
saat berada didapur, Ia melihat mbok Darmi mertuanya sedang mencuci piring di washtafel. Roni bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.
***
__ADS_1
*
Roni menyalin pakaian untuk bekerja, Mala membereskan kamar dan sprei yang berantakan karena percintaan mereka barusan. "dik..bapak sepertinya terkena stroke.." ucap Roni dengan hati-hati.
Mala menghentikan pekerjaannya, lalu menatap kearah suaminya "darimana abang tau?" ucap Mala dengan nada cemas, wajah cantiknya ditekuk.
"tadi saat ingin kekamar mandi abang mencoba melihat kondisi bapak, namun ternyata bapak terkena stroke. mulutnya miring kesamping kiri, bahkan tubuhnya tak dapat digerakkan.
Mala beranjak dari pekerjaannya. menuju kamar bapaknya. Ia melihat bapaknya uangbyerbaringbdan menatapnya lemah. Mala mendekat dan memegang tangan bapaknya, menciumnya dengan sedih. "bapak yang kuat ya? bapak pasti sembuh." ucap Mala menghibur bapaknya.
mbah Karso hanya bisa mengerjapkan matanya. sepertinya ada pukulan yang mengenai syarafnya, hingga membuat kelumpuhan.
mbok Darmi yang belum menyadari kelumpuhan suaminya, datang membawa semangkuk bubur, ingin menyuapi suaminya. melihat Mala berada didalam kamar, mbok Darmi tersenyum.
"Mbok, bapak terkena stroke..!" ucap Mala datar. seketika senyum mbok Darmi menghilang Ia melihat wajah suaminya dengan sedih.
****
*
kejadian dirumah Lisa
Reza melangkah menaiki anak tangga kelantai tiga. memasuki kamar rahasianya. Ia membawa sesaji berupa ayam bakar cemani, bunga kantil, bunga kamboja, bunga mawar, bunga kenanga, dan bunga melati. terdapat juga kopi hitam pahit, pisang mas, dupa dan kemenyan.
Reza melakukan ritual pemanggilan nini Maru.. Reza memejamkan mata, serta merafalkan mantra. tak lama muncul satu sosok makhluk menyeramkan. Reza membuka matanya dan tersenyum.
"Nini....rencana kita berhasil. target kita kini dalam kondisi lumpuh, dan kini Ia menjadi orang yang tertuduh ditengah masyarakat. aku yakin seluruh warga sedang menudingnya."ucap Reza dengan wajah penuh kemenangan.
Nini Maru tertawa kemenangan. Ia merasa puas melihat mbah Karso masuk dalam jebakannya. sakit hatinya terbalaskan karena dicampakkannya waktu itu.
"aku ingin berkunjung melihatnya, apakah nini Mau ikut denganku..? ucap Reza menawarkan..
"heemmm..esok sajalah kita berkunjung, hari ini Nini sangat kenyang, karena telah mendapat asupan energi dari tumbal janin tersebut.Nini ingin mencernanya, untuk memulihkan energi Nini dahulu." ucap Nini Maru dengan suara parau.
"baiklah ni, tetapi aku hari ini ingin melihat wanita pujaanku. aku selalu merinduinya." ucap Reza sembari tersenyum. lalu diikuti kekehan nini Maru yang memekakkan telinga.
__ADS_1
Nini Maru memandang wajah Reza, lalu Ia berkata. "sebulan lagi aku ingin tumbal janin milik Rianti.." ucap Nini maru menyeringai..Reza memandang Nini Maru. "terserah..asal jangn milik Mala." ucap Reza gampang.
****
Rianti yang sudah telat satu bulan, tidak mengalami mual-mual. mungkin kondisi fisik seseorang berbeda. sebulan bekerja dirumah Reza, menumbuhkan benih-benih cinta dihatinya.
Ia sangat mengagumi katampanan Reza, duda kaya nan jutawan. bahkan duda tersebut begitu lihai dalam bercinta, membuat Rianti begitu terpesona dan candu. namun Rianti tak pernah menyadari, bahwa selama ini Ia hanya dijadikan sebagai pelampiasan hasrat dan pengalihan tumbal saja.
Rianti meraba perutnya yang masih rata, harapan ingin memiliki duda tampan tersebut begitu besar, Ia berharap, benih yang dikandungnya akan meluluhkan hati sang jutawan.
Rianti kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia ingin membersihkan semua ruangan. saat ini Ia sedang berada dilantai dua, Ia asyik dengan pengepelnya, lalu tiba-tiba Ia mendengar langkah kaki dari lantai 3 rumah Reza.
"langkah siapa itu?" ucap Rianti penasaran, Ia mengintai dari balik tiang dekor beton penyanggah rumah tuannya. Ia melihat bahwa Reza yang turun dari lantai 3.
Reza menuruni anak tangga, lalu tangga berikutnya hingga kelaantai dasar. Rianti penasaran dengan apa yang terdapat dilantai tiga.
setelah memastikan Reza berada dilantai dasar, Ia mengendap-endap ingin melihat apa yang dilakukan tuannya dilantai 3 tersebut. sesampainya disana, Ia melihat kesekeliling, pandangannya tertuju pada sebuah kamar.
"mengapa ada kamar dilantai 3? sedangkan tuan Reza tinggal seorang diri? apakah yang disembunyikannya dikamar itu? apakah tuan Reza menyimpan wanita lain selain aku?" rasa cemburu dan penasaran menggelayuti hatinya.
selama ini Reza hanya memerintahkan untuk membersihkan ruangan lantai dasar dan lantai dua saja, dan melarang semua pekerja untuk mencapai lantai 3. rasa penasaran, membuatnya ingin membuka pintu kamar tersebut.
Rianti melangkah sangat hati-hati, Ia mencapai handle pintu, lalu Ia ingin menarik handle pintu..dan.."apa yang kamu lakukan disitu..?!" suara Reza lantang Reza mengejutkannya, lalu Ia terburu-buru memutar tubuhnya melihat kearah Reza sembari tertunduk.
"maaf...tu..tu..tuan..saya hanya ingin membersihkannya." ucap Rianti terbata-bata, tunuhnya gemetar, karena baru kali ini mendengar suara keras Reza. selama ini tuannya itu sangat irit bicara. jika tidak karena keperluan yang penting, Ia tidak pernah berbicara pada Rianti. tuan yang sangat dingin.
"siapa yang mengijinkanmu ha..?!" nadanya penuh amarah, lalu melangkah mendekati Rianti. Ia mencengkram rahang Rianti, "sekali lagi kamu coba-coba untuk membukanya, kupastikan kamu celaka.!" ucap Reza dengan nada ancaman dan penuh kemarahan. Rianti bergidik mendengarnya.
lalu Reza melepaskan cengkramannya dengan kasar, meninggalkan bekas merah berbentuk jari tangan diwajah mulus milik Rianti.
Reza melangkah ingin pergi, namun Ia menghentikan langkahnya, "apa yang kamu tunggu disitu?!.. ikuti saya!" uvapnya dengan nada perintah, yang diikuti Rianti dengan tubuh yang gemetaran.
sesampainya dilantai dua, Reza menarik pergelangan tangan Rianti dengan kasar, membawanya masuk kedalam kamarnya.
Rianti terperangah melihat kamar luas milik Reza dengan segala kemewahan isinya. rasa gemetar berubah takjub. alangkah bahagianya jika Ia bisa menjadi pendamping hidup Reza, hidup penuh kemewahan.
__ADS_1
Reza menarik tubuh Rianti, lalu menghempaskannya diranjang nan empuk. selama ini Rianti tak pernah merasakan bagaimana rasanya kenyaman dikasur yang empuk. bahkan saat Reza menggaulinya, selalu berada diatas meja makan.
"sebagai balasan atas kelancanganmu, aku akan menghukummu" ucap Reza, lalu menerkam tubuh Rianti dengan rakus. Rianti melambung tinggi hingga melupakan peristiwa dikamar dilantai 3. kini Ia merasakan surgawi didalam kamar milik tuannya yang berada dilantai 2.