Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Terseret


__ADS_3

"Dimana ya yank orang yang jualan es dawet.. kenapa gak ada terlihat satupun..?" tanya Shinta, sembari memegang tenggorokannya yang terasa kering.


"Iya..ya padahal tadi sewaktu kuta melintas kearah sini ada satu orang jual dipinggir jalan dibawah pohon itu." tunjuk Hadi pada sebatang pohon nan rindang daunnya.


Saat mereka mengarah kerumah Hamdan tadi, tampak ada seseorang orang yang berjualan es dawet disana.


"Iya.. Aku juga tadi lihat yank makanya aku jadi ngiler tadi ." ucap Shinta membenarkan.


"sekarang masih ngiler apa gak.? Kalau sudah tidak, kita balik kerumah Paman Hamdan yuk..? Nanti beliau kebingungan mencari kita." ujar Hadi dengan lembut.


Sesaat seseorang pria paruh baya melintas dari arah utara. Lalu Hadi mencoba bertanya "Mas, boleh tanya ya.. Penjual es dawet yang dibawah pohon dimana ya..?" tanya Hadi sopan.


Pria itu tampak kebingungan. Ia mengernyitkan keningnya.


"Mas dan Mbak bukan warga kampung sini ya..?" tanyanya selidik.


"Iya Mas.." jawab Hadi polos.


"Tidak ada orang jualan es dawet dibawah pohon Mas.. Itu hanya Ilusi Mas saja.." jawab Pria itu.


"Ilusi bagaimana Ma..? Istri saya juga melihatnya." jawab Hadi mencoba membenarkan ucapnnya.


Seketika pria itu memandangi keduanya.


"Harap hati-hati Mas, daerah sini masih rawan dengan hal-hal mistis, itu jika kalian percaya. Jika tidak ya sudah." pesannya, lalu sembari pergi.


Hadi bergidik mendengarnya. "Sayang.. Kota pulang saja yuuk.. Lagian tadi paman Hamdan berpesan kita harus tetap dirumahnya, jangan keluyuran kemana-mana.." Hadi mencoba mengingatkan Shinta.


Namun rasa ingin meminum es dawet begitu kuat, tak dapat dicegahnya. Namun Ia juga tak ingin membantah Hadi, suaminya.


"Ya sudahlah.. Kita cari nanti saja.." jawab Shinta mengalah.


Saat keduanya hendak beranjak dari tempatnya, mereka melihat sebuah iring-iringan dengan bunyi gamelan yang sangat indah, mengalun lembut nan syahdu. Memikat siapa saja yang mendengarnya.


Iring-iringan itu bersala dari arah selatan, tepatnya dari arah pohon rindang tempa dimana pedagang es dawet itu mangkal.


Seketika keduanya terpikat dan tersihir. Mereka berniat ingin menonton iring-iringan itu. Layaknya sebuah karnaval yang saat 17 agustus atau saat perungatan sebuah hari besar lainnya.


Layakbyadua orang bocah yang sedang kemaruk, mereka menonton iring-iringan tersebut.

__ADS_1


Tampak seorang dalang dan sinden dan peserta lainnya yang membawa alat-alat khas gamelan mengikutinya dari arah belakang semabri memainkan alat musiknya itu. Lalu Sinden bernyanyi lirih dengan suara merdu mendayu-dayu.


Dibelakang para sinden dan rombongannya, tampak warga lainnya mengikuti merwka dari arah belakang. Para pria dewasa dan anak-anak ada yang yang membawa hewan ternak, sedangkan para wanita yang hanya menggunakan pakaian khas kemben, membawa bakul dari ayaman bambu, memegangnya dan diletakkan dipinggang mereka dengan berbagai kebutuhan rumah tangga dan satur mayur lainnya.


Lalu peserta terakhir yang mereka lihat adalah pedagang es dawet yang mereka lihat saat pertama melintas kerumah Paman Hamdan.


Semua peserta iring-iringan tampak berwajah pucat dan dingin. Mereka tidak tersenyum sama sekali saat keduanya melemparkan senyuman. Pandangan mereka lurus kedepan.


Saat itu Shijta terlonjak girang, saat melihat si pedagang es dawet tersebut.


"Yank..itu pedangangnya Yank.." Ucap Shinta dengan.perasaan girang. tanpa berfikir panjang, Shinta menarik lengan Hadi untuk menghentikan si pedagang es dawet.


Mereka berdua tanpa sadar telah terseret kedalam iringan iringan tersebut.


Seketika suasan berubah drastis.


Saat mereka memasuki iring-iringan tersebut, tampak rombongan menuju sebuah pasar yang tampak sangat ramai dan hiruk pikuk. Disana mereka menemukan segala penjual makanan dan apa saja yang mereka butuhkan.


Suasana tampak sepwrti pasar tradisional, namun terletak dihutan belantara. Pasar itu berada dipinggiran jalan berbatu sebesar bola kaki sebagai pengeras jalanan.


Disana mereka menggunakan sistem barter, atau uang koin perak dan logam mulia lainnya.


"Kenapa seperti aneh ya yank..? Tidak satupun yang ramah kepada kita.." ucap Shinta dengan bingung dan penasaran.


"Iya ya.. Mereka sepertinya sibuk dengan diri mereka sendiri." Jawab Hadi membenarkan ucapan Istrinya.


Sesaat Shinta melihat pedagang es dawet itu dipinggir jalanan bebatu. "Yank.. Itu pedagang es dawetnya, kita kesana yuk.." Ajak Shinta dengan gemas, sembari terus menggengam pergelangan tangan Hadi sedari tadi.


Hadi terpaksa mengikuti Shinta, karena ditarik dengan paksa.


Mereka telah sampai dihadapan sipedagang es dawet tersebut.


"Mas.. Pesan es dawetnya 2 gelas ya.." ucap Shinta dengan tak sabar.


Pedagang itu tidak melihat kepada keduanya. Namun tangan-tangannya dengan cekatan meracik es dawet pesanan Shinta.


Hadi yang memperhatikan pergerakan tangan pedagang itu, seketika mengernyitkan keningnya karena heran.


Sementara Shinta jelalatan memandangi para pedagang lainnya yang menajajakan berbagai barang kebutuhan dan pernak-pernik lainnya.

__ADS_1


Sesaat Hadi melihat jemari pedagang itu hanya berjumlah 2 ruas saja. Seketika Hadi terkejut dan..


"Astaghfirullahalladzim..!!" Ucap Hadi secara refleks ditengah keterjutannya.


Seketika suasana pasar berupa lengang, ucapan Hadi membuat seolah semua kegiatan itu terhenti.


Mereka memandang kepada Hadi dan Shinta dengan pandangan tak senang.


Seketika Hadi dan Shinta yang ditatap ratusan mata yang memandang keduanya dengan tatapan menghujam seketika menciut keberaniannya.


Suara gamelan juga mendadak terhenti, sinden juga tidak bersenandung lagi.


Seketika hawa dingin merasuk kedalam tulang mereka, keduanya berpegangan erat, seilah tak ingin dipisahkan oleh apapun.


Saat itu wajah-wajah para warga berubah datar dan dan rata tanpa hidung, bibir dan juga mata.


Seketika Hadi semakin mengeratkan genggamnanya dijemari Shinta.


"Sayang.. Sepertinya ada yang tidak berws dengan orang-orang ini." ucap Hafi menciba menguasai kesadarannya.


"Iya yank.. Aku merasakan hal itu." jawab Shinta.


"Teruslah berdzikir, jangan sampai lengah." Hadi mengingatkan.


Seketika Hafi mengingat kalimat Ta'awudz. Lalu Ia membacakannya.


"A'udzubillahiminas syaithannirazim.." Hadi mengucapkannya berulang kali, lalu ayat apa saja yang Ia ingat. Untung saja latahnya yidak kumat dengan mencantjmkan doa sebelum makan.


Hadi dan Shinta berusaha tetap menguasai kesadaran mereka dan terus berdoa memohkn perlindungan pada sang Maha Kuasa.


Seketika datang seseorang yang tampak seperti pimpinan mereka. Menggunakan pakaian kerajaan yang berada didalam gerbong pedati yang terbuat dari ukiran jepara.


Ia menyingkap Tirai yang menutupinya. Lalu memandang kepada keduanya.


"Singkirkan mereka berdua.. Kalimat yang diucapkannya membuat suasana alam disini terasa panas.!!" titahnya dengan tegas dan penuh amarah.


Seketika 6 orang pengawal yang yang sedari tadi dengan setia berada dibawah gerobak pedati segera menghampiri keduanya. Lalu dengan kasarnya menyeret keduanya dan melemparkan keduanya keluar dari alam mereka.


Bersambung..

__ADS_1


Author shalat subuh dulu..


__ADS_2