
Dikeheningan malam yang sepi, suara teriakan Mbak Ratna, Adi dan Ghazali terdengar sangat jelas ditelinga para tetangga yang akan merajut mimpinya.
Bayu yang masih merintih kesakitan, mencoba mendengar suara jeritan yang jelas berada ditetangga sebelahnya.
Wajahnya yang masih memucat, mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya yang tersungkur dilantai. Ia beranjak bangkit dengan sedikit terhuyung.
Rasa penasaran yang kuat, membuatnya ingin melihat apa yang terjadi pada tetangganya, namun Ia juga tak ingin meninggalkan Mala sendirian.
Pria itu mendekati kamar Mala, lalu berusaha untuk mengatakan sesuatu "Mala.. Jika masih mendengarku, jangan pernah membuka pintu kamarmu, aku ingin melihat kerumah Mbak Ratna, sepertinya ada terjadi sesuatu.." Titah Bayu dengan suara lirih. sembari menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Mala hanya menjawab dengan sebuah suara deheman, yang mengisyaratkan bahwa Ia mendengarkan.
Bayu merasa lega, lalu berjalan tertatih menuju pintu depan rumah. Saat Ia membuka pintu tersebut, Ia melihat kelebatan bayangan berwarna putih yang melintas tepat dihadapannya bersama sosok Ki Kliwon yang turut mendampingi bayangan putih tersebut.
Secepat kilat Bayu kembali menutup pintu tersebut, dan bersandar disana. "Brengsek.. Apa yang sudah mereka lakukan dirumah Mbak Ratna..?" Bayu berguman lirih. Ia berniat membatalkan untuk keluar rumah, Pria itu mengintai dari balik tirai jendela, dimana banyak para tetangga yang berdatangan dan semakin ramai.
Mendengar Bayu yang masih berada didalam rumah, dan suara ramai para warga, membuat Mala sedikit penasaran. Ia membuka pintu kamarnya, mencoba melihat apa yang sedang terjadi.
Tampak olehnya Bayu sedang mengintai dibalik tirai jendela. Mala menghampirinya, ikut mengintai apa yang terjadi, sepertinya Mala melupakan jika jarak mereka kini begitu dekat.
"Apa yang terjadi pada Mbak Ratna..?" Ucap Mala penuh kekhawatiran pada dirinya sendiri.
"Entahlah.. Sepertinya, ini ada kaitannya dengan Kuntilanak sialan itu..!" umpat Bayu dengan kesal.
"Haaah..?! Raisya sedang mengandung.. Jangan-jangan..?!" Wajah Mala memucat membayangkan apa yang sedang menimpa keluarga sahabatnya.
Mala tidak tega melihat sahabatnya itu dalam kekalutan." Aku harus melihatnya..!" ucap Mala mencoba meraih handle pintu untuk segera keluar melihat apa yang sedang terjadi.
"Jangan..!!" Bayu menepis tangan Mala, lalu menghalangi Mala yang bersikeras ingin keluar." Jenglot itu masih mengincarmu, bagaimana jika Ia menyerangmu tiba-tiba..?" Bayu mencoba mengingatkan Mala.
"Tetapi Mbak Ratna sahabatku.. Dia selalu ada disetiap aku memiliki masalah.." ucap Mala yang masih terus bersikeras untuk keluar.
__ADS_1
"Esok pagi saja kamu menjenguknya, alasan kamu ketiduran.. Saat ini nyawamu juga dalam bahaya.."Titah Bayu mencoba memberikan pengertian kepada Mala.
Namun tampaknya, rasa penasaran terhadap Sahabatnya membuat Mala memaksa untuk keluar dari rumah. "Biarkan aku melihatnya sejenak saja, memberikan kekuatan padanya.." Ucap Mala, sembari menepis tubuh Bayu yang bersandar dipintu, mencoba untuk menghalangi langkahnya.
"Apapun status kita, aku sekarang suamimu, maka turuti perintahku..!" ucap Bayu mulai kesal.
"Sebentar saja.." ucap Mala bersikukuh dan menarik handle pintu.
Rasa kesal yang memuncak, membuat Bayu merasa kehilangan kontrol. Ia menarik tubuh Mal dalam pelukannya dan mendekap wanitanya dengan erat.." Jangan mencoba membantahku, ini demi keselamatanmu.." Ucap Bayu mencoba menahan rontaan Mala yang ingin berusaha meloloskan diri.
Melihat wanitanya yang terus meronta, dengan sangat kesal, Bayu menyesap bibir Mala yang tampak keras kepala itu, membuat Mala tersentak dan gelagapan. lalu Bayu melepaskan dekapannya. "Coba saja jika Kamu berani melangkah keluar, aku akan melakukan lebih..!" Ancam Bayu.
Dengan tatapan kesal dan wajah masam, Mala memutar tubuhnya, membuang wajah dan menuju kamar. Lalu terdengar suara hempasan pintu kamar ditutup dengan sangat keras.
Baaaaam...
Bayu hingga tersentak mendengar kerasnya suara hempasan itu.
Namun dengan Bayu, Ia selalu merasa kesal dan jengkel jika berada didekat pria itu, entah apa yang membuatnya sangat kesal.
Mala mengusap bibirnya. Hari ini sudah kedua kalinya pria itu dengan sengaja menyesapnya, rasa jengkel dan debaran bercampur aduk mejadi satu, karena Mala merasa sesapan Bayu terasa sangat liar, meskipun Ia melakukannya dalam kondisi emosi.
Dengan rasa kesal, Ia kembali membaringkan tubuhnya diranjang, Ia merasa jika Bayu sudah mulai berkuasa dirumahnya. Namun Ia tidak ingin pria itu akan berbuat nekad lebih jauh, da Ia memilih untuk mengalah.
Sementara itu.. Didalam Goa, Satria merasakan tubuhnya bergetar sangat hebat, keringat dingin mengucur diseluruh tubuhnya, hawa panas kian menjalar disekuruh tubuhnya.
Widuri terus menatapnya, memastikan pemuda itu tidak tertidur sebelum pukul 12 siang esok.
Diluar Goa, Chakra Mahkota bersiap siaga untuk menahan serangan dari pasukan berbulu berwarna hitam yang siap menyerang.
"Ki Wowo.." sebuah panggilan ghaib dari kejauhan.." sosok berbulu itu menajamkan indra pendengarannya. "Ada apa Ni..?" jawab Sosok berbulu yang tak lain adalah Genderuwo.
__ADS_1
"Serang mereka, gagalkan segala usaha pemuda sialan itu..! Aku akan menyempurnakan kekuatanku.." Titah Nini Maru dari dalam goa yang lain.
"Baik Ni..aku akan melaksanakan perintahmu.." ucap Genderuwo dengan sangat yakin.
Lalu percakapan gahib mereka terputus.
"Wahai saudaraku.. Mari kita lakukan penyerangan, untuk menggagalkan tirakat pemuda itu..! Serang...!!" Titah Genederuwo, kepada pasukannya yang membentuk gulungan awan hitam.
Seketika langit kelam nan pekat yang semula cerah berubah semakin pekat. Rembulan tertutup awan mendung, sehingga menambah kepekatannya.
Mendadak suara halilintar dan petir yang bergemuruh menyambar Goa tempat Satria sedang fokus bertirakat.
Widuri tersentak dengan apa yang terjadi. Ia merasakan jika diluar sanna sedang terjadi serangan dan gangguan untuk mengganggu konsentrasi Satria.
Widuri memejamkan matanya, melihat Chakra Buana yang sedang berusaha menahan masuk para pasukan genderuwo.
Khadam Naga Emas itu, mencoba memberikan perlindungan berlapis agar menahan serangan yang datang.
Suara gemuruh dan sambaran petir yang maha dahsyat, membakar pepohonan yang tumbuh disekita goa.
Suara gemuruh petir tersebut, bebrapa kali membuat Satria tersentak karena kerasnya suara sambaran petir tersebut.
Para pasukan genderuwo dan demit lainnya meringsek hendak menerobos dinding goa. Setiap kali mereka menyentuh dinding goa, maka mereka akan terpental dan mengerang kesakitan.
Namun mereka sepertinya tidak merasa putus asa untuk terus dapat menerobos masuk kedalam goa.
Sementara itu, Widuri terus berjaga untuk memastika Satria tidak tertidur dalam tirakatnya. Setiap kali Ia melihat Satria akan oleng, maka dengan cepat Ia menjentikkan sebuah batu kerikil kecil dan menjentikkannya kelutut pemuda itu agar kembali tersentak.
Hari meringsek ke subuh, kini waktunya Satria harus melaksanakan shalat subuhnya, mata lelahnya begitu tampak kentara. Namun Ia harus terus melawannya, kerena ini adalah hari terakhir tirakatnya.
Dengan tubuh yang sempoyongan, Satria mencoba mendirikan shalat subuhnya yang merupakan kewajiban dan syarat yang harus dilakukannya.
__ADS_1
Setelah selesai melaksanakan Shalat subuhnya, Satria harus kembali merafalkan ajian segoro geni tanpa henti, hingga nanti sampai pukul 12 siang, tanpa tidur sedikitpun.