
Hadi bergegas menuju meja makan, disana sudah menanti Mala, Roni, dan Satria. Dan juga Shinta
Pagi ini Ia sudah terlihat sangat rapi, karena Ia akan bertemu dengan staf pimpinan perusahaan. Ia akan mengajukan beberapa keinginannya. Jika diterima ya Syukur, jika tidak ya syukurilah.
Shinta menatap malu- malu padanya. Hadi terlihat sangat tampan saat menggunakan tuxedonya. Tampak begitu sangat bersahaja.
Lamaran tak resmi yang dilakukan Hadi tadi malam padanya, membuat hatinya berbunga- bunga. Ia berfikir, jika apa yang diucpakan Chandra, papanya itu benar. Dimana akan ada pria yang datang mencintainya tanpa bersyarat. Ia merasa begitu sangat dicinta.
Shinta menatap Hadi dengan tak berkedip dan tersenyum manis. Dimana sikapnya telah diketahui oleh Satria dan Mala.
"eheeeem.."
Mala pura-pura berdehem untuk membuyarkan lamunan Shinta yang masih terbengong menatap salah satu anak lelakinya. Ia mengetahui jika gadis itu menyimpan rasa pada Hadi, dan Mala berharap jika Hadi kali ini peka terhadap sikap gadis itu.
Shinta tergelagap saat mengetahui calon ibu mertuanya mengetahui isi fikirannya. Ia tersenyum terpaksa.
"ayo sarapan.." ajak Mala kepada semuanya. Pagi ini Ia membuat sarapan nasi goreng seafood.
"doain ya.. Semoga pengajuanku diterima perusahaan, agar aku bekerja secara online saja." ucap Hadi memeinta doa restu.
"aamiin.." jawab semua secara serentak.
"Insya Allah akan disetujui." jawab Satria santai.
Semua menatap pada Satria.
"Kenapa kamu yakin sekali nak.?" tanya Mala sembari menyuapkan sendokannya kedalam mulutnya.
"emm.. Ya karena Hadi memang berkompeten dalam bidang tersebut. Dia anak yang memiliki bakat lebih dari satu, atau disebut multitalenta." jawab Satria setenang mungkin.
Semuanya mengangguk, menyetujui ucapan Satria, hanya saja Hadi sedikit mencurigai kakaknya "sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan kak Satria.." Hadi menatap penuh menelisik.
"Oh iya, Di.. Kapan rencananya kamu ingin melamar Shinta, gak baik lho jika dilama-lamain..: Ucap Satria santai.
Seketika Hadi dan Shinta tersedak bersamaan. Mala dengan cepat memberikan minum kepada Shinta, sedangkan Hadi wajahnya memerah oleh ucapan Satria yang dianggapnya konyol dan tak terduga.
"busyeet dah.. Apakah kak Satria ada melihat.perbuatanku malam itu saat didapur bersama Shinta..?" Hadi berguman lirih.
__ADS_1
Satria tersenyum geli melihat wajah Hadi yang tampak memerah. "awas kak Satria, ya.. Akan kubalas nanti jika aku melihatnya bersama seorang gadis." Hadi menggerutu.
"apakah benar Di, kamu mau melamar Shinta.?" tanya Mala penasaran. Yang membuat Hadi semakin kelabakan.
"emmm.. Ya Ma.. Rencananya Hadi akan melamar Shinta, secepatnya. Kita akan menikah sirri dahulu, dan acara resepsinya menyusul nanti." jawab Hadi dengan nada bersungguh.
Mala dan Roni saling berpandangan. Mereka tidak menyangka, jika Hadi akan secepat itu menjadi dewasa. Mereka mengira, jika anak lelakinya tidak pernah peka terhadap seorang gadis. Namun, pagi ini, Ia telah membuat kejutan untuk kedua orang tuanya.
"oh.. Syukurlah. Kapan rencanya kita akan menemui keluarga Shinta.?" tanya Roni dengan tak sabar.
"kita tanya Shintanya saja yah, Bu.." jawab Hadi dengan nada sedkit gemeta. Sebab sang gadis masih tertunduk dalam diam.
Mala menoleh kepada Shinta, mencoba bertanya tentang persetujuan dari gadis itu.
"bagaimana menurutmu Shin..? Apakah kamu mencintai Hadi..? Dan apakah kamu bersedia untuk menjadi pendamping hidupnya? Jika kamu bersedia, kami akan melamar untukmu.." ucap Mala dengan lembut.
Wajah Shinta memucat. Sesungguhnya Ia sangatlah mencintai Hadi, namun Ia ragu, apakah Hadi kelak akan tetap mencintainya jika dimalam pertamanya nanti Ia mendapati dirinya sudah tidak suci lagi. Keraguan datang menghampiri Shinta. Apalagi Ia melihat jika Mala adalah calon ibu mertua idaman, tentulah hal yang sangat didambakan oleh setiap calon menantu perempuan.
"emmm.. Beri saya waktu bu.. Karena say harus membicarakannya terlebih dahulu pada papa.." jawab Shinta tersenyum datar.
Hadi sudah menyelesaikan sarapannya..."bu.. Hadi berangkat dulu, doain ya, agar pengajuannya diterima." ucap Hadi sembari beranjak bangkit.
"aku ikut..! Kan sekalian melewati rumahku.." ucap Shinta yang juga ikut bangkit hendak mengekori Hadi.
"ya sudah.. Kami juga tidak bisa menahanmu terlalu lama tinggal disini, karena kamu dan Hadi tidak mwemiliki ikatan pernikahan." ucap Mala to the point..
"Iya Ma.. Eh.. Bu.." jawab Shinta kikuk.
Shinta menyalim tangan Mala dan Roni bergantian. Lalu tersenyum nyengir kepada Satria. Ia berpamitan kepada semuanya.
---------♡♡♡♡--------
Shinta dan Hadi diam sepanjang perjalanan. Sepertinya keduanya larut dalam fikirannya masing-masing.
"Shin.. Apakah kau menolak lamaranku..? Ucap Hadi penasaran, sembari fokus menyetir.
Shinta membulatkan matanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. "emm.. Bukan itu maksudku..! Aku hanya sedikit ragu pada hatiku.." jawab Shinta dengan gugup.
__ADS_1
"apa yang membuatmu ragu.?" cecar Hadi.
Shinta menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya. "Di.. Kamu itu tampan, juga berpendidikan. Bahkan kamu akan merangkap posisi tinggi diperusahaan. Apakah kamu nantinya tidak akan berpaling dariku, jika mengetahui siapa aku sesungguhnya." ucap Shinta dengan mata berkaca kaca.
"apa yang tidak kuketahui darimu.?" tanya Hadi sembari masih terus mengemudi.
"Hadi.. Aku ini gadis yang sudah.." Shinta terhenti dengan ucapannya. Karena Telapak tangan Hadi telah mengunci mulutnya.
"kamu tidak perlu mengatakannya, karena aku sudah mengetahui segalanya tentangmu. Menikahlah denganku, aku akan menjagamu seutuhnya." ucap Hadi dengan tulus.
Shinta terperangah mendengar ucapan Hadi, yang mana Ia juga mengetahui kondisi Shinta sebenarnya.
Hadi menepikan Mobil ditepian jalan. Ia menatap lekat pada mata gadis itu. sehingga membuat sigadis tak berkutik. Bagaimana mungkin seorang Hadi yang pernah dianggapnya tidak peka, kini berbalik lebih agresif dari apa yang Ia fikirkan.
Hadi meraih jemari Shinta. Lalu menggenggamnya.erat. "percaya padaku.. Aku tidak akan mengkhianatimu." ucap Hadi meyakinkan hati Shinta.
debaran debaran dihati Keduanya kian bertambah kencang. Shinta tersenyum sumringah. Lalu mengangguk menyetujui, dan Memeluk Hadi dengan hangat.
------♡♡♡♡------
Hadi memasuki perusahaan tersebut. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pangan. Yaitu produksi makanan ringan.
Pertama kalinya memasuki sebuah perusahaan, membuatnya merasa kagum. Hadi menaiki Lift menuju ruangan yang diberikan petunjuk oleh pihak recepsionist. Setelah Hadi mendapatkan ruangan tersebut. Ia mengetuknya . "masuk..!!" ucap pemilik ruangan itu.
Lalu Hadi memasuki ruangan itu, melangkah dengan tegas dan akan memulai wawancaranya secara langusng.
Hadi melihat seseorang sedang duduk dengan sahaja dikursi tersebut. Pria berusia 45 tahun itu masih tampak gagah dan muda.
"dengan saudara Hadi..?" tanya pria dewasa itu dengan tegas dan sopan.
Hadi mengangguk "ya pak..jawab Hadi tenang.
Lalu mereka melakukan wawancara dan membahas tentang pengajuan poin tertentu oleh Hadi.
Tanpa terlalu banyak ribet, akhirnya Hadi mendapatkan surat tanda tangan kontrak kerja dengan menyetujui segala pengajuan yang diajukan Hadi dengan mudahnya.
setelah selesai, Hadi diminta untuk menemui distributor yang menjadi rekan bisnis mereka, dan Hadi menyetujuinya.
__ADS_1