Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
draft


__ADS_3

Sosok pria berwajah seram sedang menyusuri hutan belantara. Lamanya tinggal dihutan dan tanpa perawatan membuatnya tampak menyeramkan.


Ia menyusuri hutan dengan menyibakkan semak belukar. Ia mencari makan dengan cara berburu apa saja.


Rambut gimbal, rahang keras, hidung besar serta bibirnya yang tebal dan melebar, memnuatnya semakin terkesan menyeramkan.


Rey.. Ya sosok itu adalah Rey, garis keturunan Rianti yang masih bertahan dan berjuang hidup dihutan belantara.



Ia membawa sepucuk senjata yang dari sebatang kayu yang diruncingkannya menggunakan bebatuan yang ditemukannya di pinggir sungai.


Ia memakan mentah apa saja yang ditemukannya. Tanpa proses dimasak terlebih dahulu.


Kehidupannya yang keras dihutan membuatnya semakin liar dan tak terkendali.


Hasrat liar yang selalu Ia salurkan pada binatang apa saja ditemukannya, membuatnya semakin gila.


Tubuhnya tampak sekali kotor, dekil, dengan aroma yang sangat menusuk indra penciuman.


Rey sedang mengincar seekor anak Rusa yang sedang mencari pakan rumput di hutan.Ia mengendap-endap di balik semak dan pepohonan untuk dapat memburu anak rusak tersebut.


Setelah merasakan posisinya sudah sangat dekat dan tepat, Ia menusukkan kayu runcing uang dipeganganya, tepat di bagian perut rusa tersebut.


Rusa itu merasa kaget, lalu berlari kencang dengan membawa senjata kayu yang menancap diperutnya. Ia terus berlari hingga akhirnya roboh dipertengahan jalan, rusa itu tak mampu menahan lagi tubuhnya yang sudah kehabisan darah, rusa itu menyerah pada takdirnya, ambruk ketanah bersimbah darah.


Rey berjalan menyurusi semak dan pephononan dengan mengikuti jejak rusak tersebut melalui darah yang tercecer di setiap dedaunan dan rerumputan tempat dimana rusa itu melarikan diri.


Kini mata Rey tertumpu pada seonggok tubuh hewan buruan yang terkapar diatas dedaunan kering dibawah rimbunan pohon yang tumbuh kokoh dan menjulang tinggi.


Rey perlahan mendekati tubuh rusa yang sudah terkapar tersebut.


Hasrat liar tak terbendung membuatnya begitu ingin melampiasakannya kepada hewan yang sudah tak bernyawa itu.


Ia sudah bersiap dengan senjata pamungkasnya yang akan segera melesak kedalam bagian sensitif hewan itu.


Namun semuanya terhenti, saat sayup-sayup Ia mendengar suara senandung yang begitu mendayu-dayu menyentuh kalbunya. Ia menarik kembali senjata pamungkasnya, lalu memasukkan kedalam celananya yang sudah usang dan sangat dekil sekali.


"kutunggu dirimu


dipenantian panjangku


hadirlah membawa cinta


hingga akhinya kita bersatu

__ADS_1


mengikat janji yang tertunda


Hadirlah... Aku menunggumu disini..


Dalam sepinya jiwaku..


mengisi ruang kosong dalam hatiku..


mengharapkan sentuhan belaian lembutmu..


Hadirlah duhaai sang belahan jiwa


hadirlah.. Hadirlah duhai Belahan jiwa..


sentuh hatiku dengan kasihmu..


sekian lama aku menanti..


waktunya hampir tiba..


dalam penyatuan jiwa..


mereguh asa..


dalam lenguhan jiwa yang meronta.."


Ia terus mengikuti arah suara senandung yang terus berdenging ditelinganya.


Sesaat Rey melupakan hewan buruannya, Ia terus saja menyusuri semak belukar, menyibakkan tumbuhan berduri yang tanpa Ia sadari menusuk kulitnya yang tebal.


Darah yang mengucur dari kulitnya yang tergores duri-duri tersebut tak lagi dirasakannya.


Senandung itu bagaikan maghnet yang memaksanya untuk datang menemui pemiliknya.


Rey tiba disebuah penghujung tebing, matanya nanar menatap sekeliling hutan dan jurang dalam siap menyambutnya.


Rey menghentikan langkahhya. Senandung itu begitu kuat sangat terdengar, sepertinya Ia hampir saja menenui pemilik tersebut. Namun jurang dalam dan terjal harus Ia lalui untuk sampai menuju puncak tebing yang berada diseberangnya.


Ia duduk diujung tebing, tanpa takut sedikitpun dengan ketinggian dan jurang terjal yang siap menyambutnya.


Ia berfikir bagaimana caranya Ia akan sampai ditebing jurang yang berada didepannya.


Suara senandung itu begitu mengusik hatinya, rasa hampa menyelimuti jiwanya. Rasa sepi yang membelenggu jiwa dan sangat ingin Ia curahkan dalam harapan hampa yang belum pasti nyata.


Senandung itu lambat laun menghilang, meninggalkan kesunyian jiwa pada Rey yang mendamba. Matanya nanar menatap tebing jurang diseberang, Ia harus mencapai kesana, apapun caranya.

__ADS_1


Rey melihat sekitar jurang yang menjadi tempat duduknya. Ia mengamati sulur-sulur tanaman rambat dan akar-akar pepohonan yang menjalar ditebing jurang.


Ia berfikir bagaimana caranya untuk menggunakan sulur tanaman dan akar pohon yang ada disekitaran tebing sebagai sarana untuk sampai kedasar jurang, dan mendaki kembali tebing seberang, semua demi untuk menemukan pemilik senandung yang begitu membuatnya sangat penasaran.


Rey melihat akar pohon yang terjulur di didinding tebing. Rey mulai menurunkan satu kakinya, lalu tangan kanan berpegangan pada satu akar dan mulai menggapai satu akar satu sama lainnya.


Ia mulai menuruni satu persatu dengan memijakkan kakinya kedahan-dahan pohon sebagai pijakannya.


Dengan kekuatan yang penuh dengan semangat untuk demi dapat menemukan pemilik senandung tersebut.


Setelah usaha yang cukup keras, Rey telah hampir mencapai dasar jurang. Sekitar 10 meter lagi Ia akan mencapai dasar.


Saat akan meraih sulur tanaman rambat, Ia tergelincir dan terjatuh..


"aaaaarrgh..." Rey terpekik saat Ia merasakan tubuhnya tergelincir, lalu berhasil kembali meraih akar pohon dibawahnya. Sekuat tenaga Ia bertahan, namun masih ada jarak 4 meter lagi kebawah. Ia masih berusaha untuk mencapai dasar jurang.


Saat ingin mencapai suluran tanaman rambat dan akar pohon disisi kanannya..


"Aaaarrrggh.."


Suara pekikan Rey menggema di seluruh hutan. Ia jatuh berguling-guling ditebing jurang, hingga mencapai dasar jurang, dan berhenti setelah berbenturan dengan sebongkah batu besar.


Buuuugh..


Kepala Rey membentur batu tersebut.Tubuhnya penuh luka goresan ranting pohon dan bebatuan kecil tebing.


Terlihat sangat mengenaskan, namun Ia berusah bangkit meski terhuyung-huyung, dan kepalanya terasa sangat sakit dan pemandangannya berkunang-kunang.


Rey mencoba sehala kekuatan dan mengembalikan tenaganya, namun sepertinya Ia tak sanggup lagi menahan segala kesakitan yang kini mendera tubuhnya, hingga akhirnya Ia merakan pemandangannya mendadak menjadi gelap dan ambruk diatas bebatuan kecil.


tubuh Rey yang penuh luka dan darah segar yang mengalir dari setiap luka goresan dan benturan mengundang berbagai jenis hewan penyuka darah segar dan lainnya berkerumun membentuk kawanan yang berbondong-bondong mendekatinya.


Hewan-hewan seperti semut yang menyukai aroma amis darah tersebut mulai membentuk koloni untuk mendekati tubuh tersebut.


Dengan jarak radius 100 kaki atau jarak 30 meter, koloni semut itu mampu mencapai indra penciumannya.


koloni semut tersebut mulai membentuk barisan untuk menemukan aroma amis tersebut.


Mereka berjalan dengan berbaris untuk mencapai sang target.


Setelah target mereka ditemukan, koloni itu mulai menaiki tubuh Rey yang penuh luka. Mulut-mulut kecil itu terus menyesap darah yang keluar dari luka Ru, tak jarak juga mereka menggigit daging tubuh Rey yang penuh luka tersebut.


Semakin lama, koloni semut tersebut semakin banyak berdatangan. Tubuh Rey bagi mereka adalah sebuah rezeki yang patut disyukuri.


Bersambung..

__ADS_1


~Harap bersabar ya reader.. Bukannya ceritanya muter2, tapi ini semua akan saling berhubungan satu sama lainnya.🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰~


~Maaf kalau ada typo.. Authornya mengantuk..~


__ADS_2