Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Goa-10


__ADS_3

Satria telah menempuh perjalanan yang melelahkan, pemuda itu menghentikan langkahnya.


Ia melihat sebuah mulut Goa yang tampak begitu menganga. Tumbuhan liar rambat banyak tumbuh memenuhi tebing goa tersebut.


"Jika menurut petunjuk itu, maka Goa yang dikatakan sebagai tempat pertapaan Nini Maru adalah tempat ini.." Satria berguman lirih dalam hatinya.


Tak ingin terjatuh dalam jebakan yang sama, saat memasuki goa bersama Widuri waktu itu, maka Satria melakukan cara yang sama, yaitu melemparkan sebongkah batu kedalam mulut goa tersebut.


Duuuuuuuungg...


Terdengar suara nyaring dari dalam goa, dan tak ada pergerakan dari mulut goa tersebut.


Setelah memastikan jika itu bukanlah mulut seekor ular atau binatang lainnya, maka Satria mulai mendekati mulut goa tersebut.


Satria berjalan sangat hati-hati, mencoba memeriksa dalam goa, jika saja ada sebuah jebakan didalamnya.


Semakin memasuki kedalam goa, suasana tampak sangat gelap, dan udara sangat dingin menyergap kedalam tulang.


Satria membenarkan letak ranselnya diatas pundak. Ia kemudian kembali berjalan menyusuri goa yang kini memasuki lorong yang sangat gelap.


Ada sebuah persimpangan, membuat Satria ragu harus mengambil jalur yang mana. Saat Ia bimbang, Satria memilih untuk mengambil jalur sebelah kanan.


Tanpa sadar, Satria memasuki sebuah ruangan yang tampak seperti sebuah tempat untuk beristirahat.


Saat Satria ingin baranjak pergi dari ruangan itu, Ia melihat sebuah sosok wanita sedang berbaring disebuah ranjang batu.


Satria merasa amat penasaran dengan siapa sosok yang sedang berbaring disana. Namun bukan itu yang Ia cari, Ia harus segera menemukan keberadaan Nini Maru yang sedang menjalani pertapaannya.


Satria beranjak dari ruangan itu, lalu mencoba menyusuri lorong yang lainnya.


Samar-samar terdengar suara rintihan seseorang yang meminta untuk dibebaskan.


Satria mempercepat langkahnya dan mencoba untuk melihat tentang suara rintihan yang menyayatkan hati tersebut.


Semakin lama, suara rintihan itu semakin jelas terdengar, dan jumlahnya kian bertambah. Pemuda itu semakin mempercepat langkahnya. Namun, hampir saja Satria mencapai pintu penghubung, seseorang memanggilnya dari arah belakang.


"Siapa Kau..? Mengapa Kau lancang memasuki goa ini..?" ucap seorang wanita muda dengan suara sedikit nyaring.

__ADS_1


Seketika Satria menghentikan langkahnya, mencoba menoleh kearah suara yang memanggilnya.


Saat Ia memutar tubuhnya, dan mendapati seorang gadis berada tak jauh didepannya, Satria sangat kaget dengan sosok tersebut.


"Kau.. Mengapa Kau bisa berada ditempat ini..?" tanya Satria bingung saat melihat gadis cantik yang ditemuinya waktu itu disungai saat ingin digauli oleh Rey.


"Ini rumahku, dan seharusnya aku yang bertanya padamu, apa urusanmu ketempat ini..?" jawab sang gadis mencoba sedikit tenang.


Gadis itu sebenarnya amat gugup saat melihat siapa yang sedang dihadapannya. Namun Ia tidak bisa membiarkan orang asing masuk semabrangan kedalam goa miliknya.


"Maaf, jika aku lancang memasuki rumah milikmu, namun aku tidak bermaksud mengusikmu, karena aku tidak memiliki masalah apapun denganmu.." ucap Satria dengan sopan.


Mirna mulai goyah. Ia sangat menginginkan pemuda itu, namun titah Nini Maru tak dapat dilanggar, Ia harus menjaga ruangan itu dari apapun.


"Namun, aku memiliki tugas untuk menjaga ruangan ini, dan kamu tidak boleh melaluinya." ucap Mirna dengan berusaha tegas, meski tak sesuai dengan isi hatinya.


"Jika aku tetap memaksa masuk..?" tanya Satria sedikit menantang.


Mirna semakin serba salah. Namun Ia tetap mempertahankan apa yang diperintahkan oleh Nini Maru kepadanya.


Seketika Satria menghindarinya, lalu sengaja melompat masuk kedalam ruangan yang ternyata didalamnya ada 8 kerangkeng besi yang tampak menahan jiwa-jiwa para tahanan.


7 kerangkeng lainnya berisi jiwa bersih dan suci, tanpa noda, namun beranjak dewasa sesuai usianya. Sedangkan satu jiwa yang lainnya tampak legam, dan diselubungi asap hitam.


Melihat kehadiran Satria didalam goa itu, seketika ke tujuh jiwa itu merintih dengan rintihan memilukan, dan meminta untuk dibebaskan.


Namun, Mirna juga sudah berada didalam ruangan tersebut. "Pergilah.. Sebelum aku berlaku kasar padamu.." ucap Mirna mengingatkan Satria. Jauh dilubuk hatinya, Ia tak ingin menyakiti pemuda itu, Ia menginginkannya.


"Aku hanya ingin membebaskan ke tujuh jiwa yang tertahan." jawab Satria dengan tenang. "Maka jangan halangi aku.." Satria mencoba menjelaskan kepada sang gadis.


"Namun, menjaga jiwa ini ada tugasku, dan aku tidak boleh melanggarnya.." jawab Mirna lirih. Ia bimbang akan tugas dan hatinya.


Satria mencoba mendekati jiwa-jiwa suci yang bercahaya keperakan itu. Suara rintihan kian menggema meminta segera dilepaskan.


Mirna kembali melancarkan serangannya, Ia melemparkan selendang itu, lalu tanpa diduga membelit tubuh Satria yang terlihat lengah karena memandangi ketujuh kerangkeng besi tersebut.


Dengan cekatan, Mirna menarik tubuh Satria kehadapannya. Saat Mirna mendapatkannya, mata mereka saling beradu, membuat Mirna melepaskan tubuh Satria dan menghempaskannya kelantai.

__ADS_1


"Siaaall..!! Mengapa Ia setampan itu.." gerutu Mirna dalam hatinya.


Kemudian Mirna menarik lepas selendangnya, dan membiarkan tubuh Satria bergelinding dilantai goa.


Satria kembali berusaha bangkit, lalu berusah untuk berdiri tegak. "Mengapa Kau tidak melukaiku..? Bukankah kesempatan itu ada.." cibir Satria yang melihat sikap keraguan Mirna.


"Bagaimana mungkin Aku melukaimu, jika Kau pernah menolongku saat disungai waktu itu.." jawab Mirna sekenanya, meskipun bukan itu alasannya sebenarnya. Ia telah menyimpan rasa untuk sang Pemuda saat pertemuan pertamanya, ditambah lagi Ia sangat merasakan begitu sangat dekat dengan sang Pemuda.


"Jika begitu, bolehkah Aku membebaskan mereka..?" tanya Satria dengan lembut. Membuat hati sang gadis semakin goyah.


Namun, tanpa mereka sadari, hari semakin gelap, dan gerhana bulan total akan semakin dekat.


"Pergilah dari tempat ini, jika kamu tidak ingin celaka.. Nini Maru akan menyempurnakan pertapaannya untuk mencapai tingkat tertinggi menjadi Kuntilanak Merah.." ucap Mirna mengingatkan.


"Dimana tempat pertapaannya.." tanya Satria dengan cepat. Ia tidak menyangka jika sang gadis mengetahui keberadaan Nini Maru, dan jelas jika Sang Gadis memiliki hubungan dengan Nini Maru.


Duuuuuuuuuaaar...


Sebuah ledakan maha dahsyat menggema diseluruh ruangan goa, dan menggetarkan langit-langit goa, bersamaan dengan munculnya gerhana bulan total dilangit kelam.


"Celaka..!! Segeralah pergi, nyawamu dalam bahaya..!" Pinta Mirna agar Satria mendengatkan ucapannya.


"Aku akan pergi, setelah membebaskan para tahanan ini.." jawab Satria dengan keinginannya.


Suasana goa semakin bergetar dan menggugurkan puing-puing bebatuan langit-langit goa.


Mirna tampak diam, tak ada larangan dan juga tak ada ijin darinya.


Satria memahami sikap diam Mirna, Maka Satria mendekati satu buah keramgkeng besi dan mencoba untuk membuka kuncinya.


Namun, belum sempat Satria membukanya, sebuah serangan berupa pukulan yang maha dahsyat mengenai punggungnya, hingga membuatnya terlempar.


Buuuuugh...


Satria terlempar dilantai goa.


Lalu tampak berdiri seorang wanita berambut panjang dengan gaun berwarna merah, dan sorot mata yang tajam menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2