
Bayu meletakkan barang belanjaannya di atas meja dapur. Ia melihat para asisiten rumah tangganya sibuk bekerja.
"salah satu diantara kalian memasaklah.. Aku ingin makan. " ucap Bayu kepada asisten rumah tangganya.
Bayu beranjak kelantai dua. Namun entah mengapa Ia penasaran lagi dengan kamar itu, Ia berniat memasang lampu bohlam agar dapat melihat apa yang ada didalamnya.
Bayu kembali lagi kedapur, mencari kantong kresek yang berisi lampu bohlam, yag dibelinya dari toko sembako milik pak Joko.
Setelah mendapatkannya, Ia begegas menaiki anak tangga dan menuju kamar rahasia itu. Ia mencoba menarik sebuah meja kayu yang terdapat disudut kamar itu, lalu menyeretnya tepat dibawah fitting lampu tersebut.
Tubuhnya yang tinggi, memudahkannya untuk menggapai dan memasangnya.
setelah selesai, Bayu menghidupkan saklarnya. Lalu ruangan berubah menjadi terang.
Bayu kini dengan jelas dapat melihat apa yang ada didalam kamar tersebut.
Ia menuju sebuah altar yang tampak penuh dengan perlengkapan untuk melakukan sebuah ritual ghaib.
Disana terdapat sebuah anglo atau tempat pembakaran dupa dan kemenyan.
Bayu melihat sebuah keris yang tergeletak begitu saja, diatas tempayan terbuat dari tembaga dan sangat berkilau.
Bayu mengambil keris tersebut, lalu memperhatikannya dengan seksama. Ia duduk bersila, lalu mengambil secarik kertas yang tergeletak disana. Lalu membacanya.
"Kun rubbuna nuril jakim" ucap Bayu dengan lirih.
"bukankah ini mantra yang diucapkan Nini Maru saat untuk memanggilnya?" Bayu berguman lirih..
Treteek..teeek...
Tiba-tiba keris yang dipegang oleh Bayu bergetar sangat kuat. Bayu merasa kewalahan dan juga takut. semakin lama getarannya semakin kuat, sehingga tubuh Bayu bergetar hebat.
Bayu berniat melemparkan keris itu, namun tidak dapat dilepaskannya.
Seketika keluar kabut hitam dari dalam keris tersebut. Wujud seorang kakek tua yang sangat renta dan berbadan ceking.
__ADS_1
"Ba...yuu...akhirnya kamu kembali.. Sekian lama aku menunggumu, kini kau kembali padaku." ucap kabut hitam tersebut dengan suara parau dan lirih . Lalu Ia mendekati Bayu yang terduduk dengan ketakutan dan gemetar.
"si...si..siapa kau.? Mengapa kau mengenalku.?" ucap Bayu kepada sosok kakek tua itu..
Bayu semakin gemetar, namun keris ditangannya tidak dapat juga Ia lepaskan. Keris itu seperti menyatu pada dirinya.
"kau adalah garis keturunan terakhirku.. Kau harus menerima titisanku, agar aku jiwaku dapat pergi dengan tenang.." ucap kakek tua tersebut.
"bohong..!! Aku tidak mengenalmu.." Bayu membantah.
Sosok kabut hitam itu terus mendekati Bayu. "suka atau tidak, mau atau tidak, kau harus menerimanya, karena kini aku sedang tersiksa.." ucap Sosok tua itu dengan lirih.
Bayu mencoba beringsut dari duduknya, namun tubuhnya seperti kaku tak dapat digerakkan.
Bayu semakin bergidik karena kakek tua sudah berada didekatnya dengan jarak sekian inci saja.
"jangan dekati aku.. Aku tidak mengenalmu, dan tidak akan pernah mengenalmu..!!" bantah Bayu dengan nada yang cukup keras. Jika saja kamar itu tak kedap suara, maka teriakannya akan terdengar sampai kelantai dasar.
Sosok itu mencengkram kedua pergelangan kaki Bayu. "Ayahmu adalah anakku.. Ia sengaja melarikanmu ke kota sedari kamu bayi, hanya karena Ia tidak ingin kamu menjadi titisanku. Sedangkan pamanmu sudah mati terlebih dahulu, dan kamu adalah yang terakhir.." Ucap Pria kakek tua itu dengan parau.
bayu menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin menjadi pewaris titisan tersebut. Seketika kabut kakek tua tersebut masuk kedalam keris tersebut. Dengan keris yang dipegang oleh Bayu, tiba-tiba berbalik arah kepadanya. Ujung keris memaksa untuk mendekati mulut bayu, lalu perlahan masuk dan melesak menyatu bersama tubuh Bayu.
Ia tidak menemukan keberadaan keris dan kakek tua itu lagi.
Bayu beranjak bangkit. Ia merasakan kepalanya sangat berat. "apakah aku hanya bermimpi.?" ucap Bayu sembari memegangi kepalanya yang pusing, dan berjalan keluar meninggalkan kamar tersebut.
🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛
Aaaaarrrghh...
suara erangan dari seorang pria renta yang tak berdaya. tubuhnya yang ceking bagaikan hanya seonggok tulang yang tak dan kulit yang membalutnya.
"Nini... Kini sudah waktunya aku harus pergi.. Kamu jaga dirimu baik-baik.." ucap Pria renta itu dengan parau dan lirih.
Wanita renta itu tidak dapat membendung kesedihannya. "apakah kamu tega meninggalkanku seorang diri Ki..??" Ucap wanita itu dengan lirih.
__ADS_1
pria itu tak mampu menjawab apapun. Tubuhnya bergetar dan tak terkendali. Sesaat tubuh itu diam tak bergeming. Ki..aki.. Bangunlah Ki..
"Siapa yang akan menemaniku disini Ki.." ratap wanita renta itu.
Seketika Ia mengingat sesuatu. Ia berjalan tertatih, mengambil sebilah pisau dan menyayatkan jemarinya, hingga darah mengucur dan ia arahkan kepada mulut lelakinya.
"bangkitlah Ki.. Bangkit.. Dan tetap hidup.." ucapnya sembaribterus berkomat- kamit membaca mantra.
Seketika mata pria itu terbeliak. Lalu tersenyum menyeringai.
🐛🐛🐛🐛🐛
Bayu berjalan menuju kamarnya. namun Ia merasa sangat lapar. Ia sangat terkejut, karena hari sudah gelap. Ia baru menyadari jika Ia tertidur saat berada didalam kamar tersebut.
Ia berjalan dengan terhuyung, karena mengalami mimpi yang mengerikan. Ia mencoba mengabaikan mimpi itu.
Saat akan menuju dapur, samar-samar Ia mendengar suara rintihan orang sedang bercinta. Karena merasa penasaran, Bayu mencoba menajamkan indra pendengarannya dan mencari sumber suara itu. Dengan berjinjit Ia berjalan menuju kamar pak Danang sang tukang kebun, yang berada di dekat gudang.
Bayu menutup mulutnya dan membeliakkan matanya, saat melihat pak Danang sedang menggauli Rumi Asisten rumah tangganya.
Entah apa yang difikirannya, Ia mengambil phonselnya dan merekam perbuatan kedua pekerjanya itu.
Setelah merasa cukup, Ia bergegas meninggalkan kamar pak Danang yang sedang memacu Rumi sebagai kuda tunggagannya.
Seketika Ia menjadi kenyang, dan laparnya seketika menghilang.
Bayu bergegas menuju kamarnya. Lalu membaringkan tubuhnya ditepian ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya. Bayangan wajah Mala terus menari di kelopak matanya. "duhai Juwitaku.. Mengapa aku selalu merindumu..?" gumannya lirih dalam hatinya yang terperih.
🐛🐛🐛🐛🐛
"aduh.. Pak Danang.. Kenapa ke bablasan sih..? Kalau aku sampai hamil gimana nih..?" ucap Rumi kesal.
"tenang saja di Rumi, akang siap tanggung jawab." ucap Danang meyakinkan.
Rumi tampak kesal, karena Danang sudah melangar janjinya. "sudahlah dek Rumi, jangan kesal begitu, nanti akang janji belikan kamu phonsel yang kamu inginkan." kang Danang mencoba menenangkan hati Rumi.
__ADS_1
Rumi menoleh kearah pria yang bertaut 8 tahun darinya itu. "beneran ya kang.?" Ucap Rumi penuh penekanan.
Danang menganggukkan kepalanya." Iya.. Akang janji, mana mungkin akang lupa ma janjiku." jawab Danang dengan sumringah saat mengetahui jika Rumi sudah tidak marah lagi padanya. Ia menarik Rumi dalam pelukannya.