
"mas..kapan akan balik ke Indonesia..?" Jayanti bertanya dengan perasaan gelisah. Sejak penemuan foto Malayang ditemukannya dikamar Hadi, Ia semakin khawatir akan kedekatan keduanya. Jayanti takut jika benar Hadi adalah anak wanita yang pernah Ia curi janinnya.
Meskipun dua puluh tahun uang silam, Ia sepertinya masih mengingat wajah dalam foto tersebut. Dan alasan Ia mau menerima tawaran Rianti Ialah karena Ia melihat Mala adalah wanita yang sangat cantik, maka Ia yakin kelak anak yang akan dilakukan transfer pujon pastinya akan terlahir tampan dan tampak berkelas yang berasal dari keluarga yang kaya.
Hal itu akan membuat kepercayaan mertuanya semakin kuat jika itu adalah anak mereka.
"Siang ini mas akan langsung melakukan penerbangan Ma, jangan terlalu banyak fikiran, nanti kalau darah tinggi Mama kumat bagaimana? Apalagi sampai stroke.. Kan bisa bahaya" ucap Bram mengingatkan.
"ya papa jangan doain mama sampai strokelah..!" jawab Jayanti dengan kesal.
------------
Sudah pukul 7 malam. Jayanti mencoba menghubungi pak Bayu untuk mengantarnya kebandara menjemput Bram, suaminya.
Seharusnya Bram sudah mendarat. Namun belum juga ada kabar dari pihak maskapai.
Hingga sampai 2 jam menunggu, Tiba-tiba saja Ia mendengar berita jika pesawat yang ditumpangi Bram mengalami kecelakaan.
Pesawat itu jatuh dan meledak diperairan laut dalam. Semua pihak keluarga yang sedang menunggu anggota keluarga mereka seketika berteriak histeris.
Jayanti seolah merasakan dunianya berputar. "tidak..tidak.. Ini tidak benar." Jayanti meracau dengan kalut.
pak Bayu yang berada didalam mobil juga terlihat panik. Ia sudah sering melihat banyaknya kejadian pesawat yang mengalami kecelakaan dilaut, dan tidak ada satupun penumpang yang selamat. Semua tubuh mereka terpisah.
Namun pak Bayu tidak ingin terlihat Panik. Ia takut jika nyonya nya akan bertambah gelisah dan dwon.
"doakan saja pak Bram selamat nyonya." ucap pak Bayu mencoba menenangkan hati Jayanti.
"tidak.. ini tidak boleh terjadi." Jayanti seperti orang bingung dan linglung. Ia mengacak rambutnya dengan kasar.
bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja mengirimi pesan masuk "maaf ma, Satria malam ini tidur dirumah kos Hadi." lalu Satria menon-aktifkan nomornya.
Jayanti berusaha menghubungi Satria, namun nomor Satria tidak aktif.
Jayanti bertambah gelisah. Ia tak ingin menanggung beban ini sendirian. Ia butuh Satria untuk menjadi sandarannya saat ini.
"Satria..mengapa nomor kamu tidak aktif. Mama butuh kamu sayang.. Hiks..hiks..hiks" Isak Jauanti dengan derai air matanya yang mengalir deras.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu juga, sebuah pesan masuk kedalam Whatshaapnya. "selamat ya Jayanti. Karena anakmu telah mengacaukan rumahku, maka aku mengatakan jiak dia bukanlah darah dagingmu. Hahahaha" isi pesan dari nomor Rianti.
"haaah..!" Jayanti terperanjat dan melempar handphonenya dilantai mobil.
"ada apa nyonya..?" tanya Bayu dengan sedikit heran.
"Sialan kau Rianti..!!" maki Jayanti dengan wajah pucat. Fikirannya sekarang bertambah kalut.
"ada apa nyonya..?" Bayu turun dari jok depan, lalu menghampiri Jayanti yang duduk di jok tengah.
"Nyonya bisa bersandar dipundak saya, jika itu dibutuhkan." ucap Bayu tulus. Ia melihat Jayanti sangat kacau.
Tanpa berfikir lagi Jayanti memeluk Bayu, Ia menumpahkan segala kesedihannya. Ia sangat terpukul dengan masalah yang dihadapinya secara bersamaan.
"mengapa nasibku seperti ini..?" ucapnya lirih dalam isakan dan tersedu.
"bersabarlah nyonya, semoga ada hikmah dibalik semua ini.
Sebuah pengumuman lagi dari bandara, jika pencarian pesawat yang terbakar akan dilakukan esok. Bagi keluarga yang merasa ada kehilangan segera melaporkan ke pihak maskapai.
Jayanti melepaskan pelukannya. Lalu Ia mengusap air matanya. Ia menuju ruangan tempat pengaduan. Ia memberikan pengaduan jika salah satu penumpang dari pesawat yang terbakar adalah suaminya. Ia memberikan data diri Bram kepada pihak maskapai yang menangani kecelakaan pesawat tersebut.
Berkali-kali Ia menghubungi Satria. Ia membutuhkan anak itu. hanya Satria yang menjadi pelipur lara dan kekuatannya untuk menjalani hidupnya yang rapuh.
"dimana kamu nak..? Jangan tinggalkan mama. Cukup papamu yang pergi meninggalkan mama, jangan kamu lagi." ucapnya dengan lirih.
Ia terus mengirimi pesan Whatsaap kepada Satria agar segera pulang kerumah.
Kabar tentang pesawat yang mengalami kecelakaan tersebar meluas melalui pemberitaan ditelevisi swasta dan nasional. Para tetangga yang sedang menonton berita tersebut, melihat Jayanti tersorot kamera saat berada di bandara, merasa empati.
-----------
Mobil Jayanti telah sampai dirumah. Tetangga sekitar yang mengetahui kabar tersebut melalui media televisi berdatangan untuk memberikan ucapan belasungkawa. Mereka memberikan penguatan kepada Jayanti, meskipun semua nasehat saat ini tak begitu mengena dihatinya.
"pulanglah nak.. Mama butuh kamu." isak Jayanti dengan menghiba.
Bayu mempersiapkan segalanua. Termasuk menyambut para tamu yang akan melayat.
__ADS_1
Karena sang tuan rumah sedang dalam kondisi yang sangat kacau.
-------
Saat pagi tiba, tampak Satria yang datang dengan tergesah-gesah. Ia melihat para pelayat yang berasal dari keluarga dan para kolega papanya dan juga para karyawan sudah berkumpul.
Ia mendapati Jayanyi dengan mata yang sangat sembab. Saat ini Iabtidak ingin menanyakan hal siapa dirinya, karena Ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat. Ia akan menanyakan nanti jika kondisi mental Jayanti sudah kuat.
Satria memeluk Jayanti dengan penuh cinta kasih. Ia memncoba memberikan ketenagan pada Jayanti. Wanita itu memeluku erat Satria seolah tak ingin melepasnya.
"jangan tinggalkan mama.. Jangan pernah berniat tinggalkan mama.." itulah kata yang terus diucapkan dari mulut Jayanti.
Satria tak mampu menjawabnya. Ia hanya memberikan pelukan tulus seorang anak.
Entah apa yang sedang difikirkan Jayanti, tiba-tiba saja Ia tak sadarkan diri.
seketika semua pelayat memandang Iba. Jayanti belum dapat menerima kenyataan jika Bram telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
---------
Jayanti tersadar dari pingsannya. Ia berjalan menuju ruangan utama dengan tertatih sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Dari semalam sore perutnya belum terisi apapun.
Bukan cuma hatinya yang sakit saat ini, tetapi perutnya juga terasa perih seperti sayatan-sayatan sembilu.
asisten rumah tangga yang menjaganya saat pingsan melarang Jayanti untuk bangkit. Namun Ia bersikeras ingin keluar.
Sepertinya kini Ia menjadi orang yang posesif terhadap Satria. Ia akan kebingungan saat tidak melihat Satria di sisinya.
Jayanti memegangi kepala dan perutnya yang perih. Saat itu Ia melihat anggota polisi dan dan anggota Basarnas sedang berbincang pada Satria.
Mereka meminta agar pihak keluarga, terutama anak dari anggota keluarga korban mengirimkan sample berupa rambut, atau bekas sikat gigi untuk mencocokkan DNA dengan korban.
Hal tersebuat membuat Jayanti terperangah. "tidak.. Satria tidak boleh melakukan ini. Aku harus mencari cara untuk menghalanginya." Jayanti semakin kacau.
"kamu pewaris keluarga ini Satria, mama tidak akan melepaskanmu. apapun itu, mama akan memperjuangkan warisan kamu yang telah tertulis di notaris." ucap Jayanti dengan berapi.
~sabar dulu ya pembaca.. Ntar kita ketemuin dengan cara yang berbeda~
__ADS_1
~terimakasih sudah menemani perjalanan menjlis author.. Semoga kalian diberkahi umur dan rezeki. Aamiin..~