
Setelah Bayu mengambil keputusan Resign dari perusahaan Satria. Ia memulai bisnis barunya. Dengan bekal pesangon yang diberikan oleh Satria, Bayu mulai merintis dibidang property. Seorang sahabat lama yang pernah satu kuliah dengannya mengajaknya ikut berkerjasama membangun perumahan bersubsidi, dimana Bayu adalah pemodal dan Dika adalah sebagai kontraktornya.
Perencanaan yang akan dibangun mereka adalah sekitar 300 unit perumahan bersubsidi. Setelah pencarian lahan yang cocok dan didapat dengan harga murah. Merekapun berangkat menuju lokasi yang akan dijadikan tempat untuk pendirian perumahan tersebut.
------------♡♡♡♡-------
Bayu dan Dika menempuh perjalanan panjang menuju sebuah lokasi yang masih tergolong liar.
dilokasi itu juga masih banyak terdapat pohon-pohon yang sangat besar dan tumbuhan perdu lainnya.
namun yang membuat tempat itu menjadi pilihannya ialah karena akses jalan menuju kesana sudah mengalami pengaspalan. tentu hal imi akan menarik minta para pembeli untuk memilih perumahan yang akan mereka bangun.
Setelah melakukan akta jual beli, lalu mulailah proses pembangunan, dimulai dari pengerasan tanah dan dan sebagainya.
Dika yang berperan sebagai pemegang proyek, menjanjikan jika perumahan itu akan selesai 300 unit dalam jangka waktu ditentukan.
Awalnya semuanya berjalan dengan sangat lancar. Dalam 3 bulan saja, perumahan subsidi itu sudah berdiri. Dan dengan pemasaran yang baik, sudah banyak yang ingin melakukan pengajuan dan bahkan ada beberapa yang sudah melakukan akad jual beli.
Bayu merasa bersyukur atas segala keberhasilan yang didapatnya. Dika juga mulai melakukan pembangunan untuk blok berikutnya, Ia meminta uang dalam jumlah besar dengan alasan bahan bangunan mulai merangkak naik, serta penambahan kenaikan gaji para tukang. Karena selama ini Dika sudah melakukan pekerjaannya dengan baik, maka Bayu tidak merasa ragu untuk memberikan sejumlah uang yang diminta oleh Dika. Kepercayaan yang disematkan untuknya begitu sangat mudah, Sehingga Ia lupa jika uang adalah penyebab kehancuran suatu kepercayaan.
Waktu berjalan, Dika mulai menghilang, proyek mangkrak, dan terbengkalai. Berulang kali Bayu menghubungi, namun tak jua tersambung. Bahkan nomor Bayu sudah masuk kedalam blacklist. Ketika Bayu mencoba menghubungi menggunakan nomor Baru, Dika langsung memutuskan sambungan telefonnya.
Bayu sudah mengirimkan pesan, namun tak juga pernah dibalasnya. Terakhir Bayu melacak keberadaan Dika, jika Ia sedang berada diluar pulau. Hati Bayu hancur. Ia merasa sudah ditipu oleh Dika mentah-mentah.
Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Dika menipunya dengan surat ijin mendirikan bangunan dan usahanya sudah dimanipulasi. dan yang lebih parahnya, ternyata kepemilikan surat tanah ternyata sudah di manipulasi sedemikian rupa. Dimana status surat ternyata tumpang tindih, sehingga pemilik yang awal menuntut akan tanahnya yang merasa dirampas. Lalu memenangkan sidang gugatan, jika Pemilik awal yang menjadi pemenang dipersidangan.
Bayu tidak menyangka jika akan mengalami nasib sesial ini. Ia begitu sangat terpukul akan apa yang dialaminya.
Tagihan-tagihan mulai berdatangan. Semua harus dibayar secara bersamaan. Bahkan rumah mewah yang dimilikinya harus mendapat surat peringatan dari Bank, karena akan dilakukan penyitaan.
"Hallo.. Pak Bayu.. Kapan bisa dilunasi tagihan Bahan bangunannya pak? Kami juga butuh modal untuk diputarkan" ucap seseorang dari seberang telefon.
"tetapi saya minta waktu pak.. Saya usahakan akan mencarikan pembayarannya." jawab Bayu dengan berharap kemurahan hati pemilik toko bangunan itu.
"Maaf pak, kami tidak bisa lagi memberikan toleransi. Kami juga butuh modal untuk perputaran uang kami pak." ucap Pemilik toko tersebut.
Bayu mematikan sambungan telefonnya. Lalu menonaktifkan telefon.
belum lagi hilang rasa pusing dikepalanya, kini Ia harus dihadapkan oleh kurir kantor pos yang mengantarkan beberapa surat tagihan credit card nya yang sudah mencapai ratusan juta.
__ADS_1
Masalah demi masal menghampirinha. Membuat Bayu semakin kesulitan dan rasanya sesak nafas.
Bayu semakin frustasi dengan semua masalah demi masalah yang.yang sedang Ia hadapi. Semuanya berawal dari peryemuannya dengan Dika yang telah mengiming-imingkan janji manisnya. Ia tidak pernah membayangkan jika Dika dapat setega itu padanya. Karena selama ini mereka sudah berteman dengan sangat dekat dan sangat baik.
Bayu merasa terpuruk, Ia sangat kehilangan pegangan, Ia meratapi nasibnya yang malang.
Disaat keterpurukannya, Nimar datang menghapirinya, Ia datang dengan membawa sejuta harapan, sejuta janji kehormatan, dan kemewahan harta berlimpa.
Nimar datang dengan pesona yang begitu menggoda. Ia datang pada seseorang yang sedang berputus asa. "Hai Bayu.. Bagaimana dengan tawaranku saat itu.? Bukankah aku sudah katakan padamu, jika kau telah mengikat janji padaku, maka tidak akan dapat lari begitu saja. Seluruh hartamu akan aku kembalikan, bersekutulah denganku." bisik Nimar pada Bayu.
Bayu menatap pada wanita cantik disisinya.."Mala.." ucapnya lirih..
Lalu dengan erat Ia memeluk pinggang wanita yang dianggapnya adalah Mala. Dengan segala kekalutan dan kersahannya, Ia seperti mendapatkan secercah harapan yang hampir punah. Ia mencumbu rayu wanita itu dengan syahdu.
Rasa cinta menggebu dan haus akan kebutuhan hasrat membuatnya seakan buta tentang apa yang sedang dialaminya.
Ia merasakan sebuah puncak surgawi yang membuatnya melambung sampai menembus kelangit biru. Sekejap Ia melupakan rasa lelah dan dukanya.
Sesaat setelah semuanya selesai. Bayu tersadar jika Ia baru saja melakukan percintaan dengan sesosok makhluk yang sangat menyeramkan.
Bayu merasa gemetar, Ia tidak tau harus berbuat apa. Nini maru menghampirinya, dalam wujud yang sangat menyeramkan.
"a..aku tidak mau.." ucap Bayu menolak.
Nini Maru menancapkan kuku-kukunya yang tajam tepat dilehernya. "kau harus mengucapkannya.." Nini Maru memaksa dengan menekankan kukunya. Yang membuat rasa panas dan menyakitkan.
"aku tidak mau.." bantah Bayu..
"benarkah.? Maka kau akan merasakan yang lebih menyakitkan lagi." Nini Maru kembali menekankan dengan sangat keras.
"aaaargh.."
Bayu terpekik, Iat idak dapat bernafas, wajahnya memerah dan matanya membulat menahan sesak nafas.
"ucapkan...!!" perintah Nini Maru..
Bayu sudah tidak dapat lagi menahan sesaknya. "baiklah.. Aku akan mengucapkannya." Ucap Bayu menyerah.
Baiklah.. Ucapkan mantranya. "Kun rubbuna nuril jakim" ucap Bayu dengan terbata.
__ADS_1
"hahahhaa.. Akhirnya, kamu mengucapkan persekutuan denganku. Mulai malam jumat esok, kamu harus menyediakan tumbal untukku." ucap Nini Maru dengan menyeringai.
Bayu merasa gemetar, tubuhnya serasa panas. Ia tidak bisa menahan rasa yang tak biasa.
"mari lantunkan senandung ini.. Aku akan memberikan kekayaan yang kau inginkan." titah Nini Maru.
Dengan lirih, Bayu menyenandungkan lagu tersebut. Nini Maru menyeringai dengan tahapan licik.
Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo Tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet
Menjelang malam, dirimu (bayangmu) mulai sirna
jangan terbangun dari tidurmu
awas, jang terlihat (memperlihatkan diri)
aku sedang gelisah
jin setan ku perintahkan
jadilah apapun juga,
namun jangan membawa maut
Nini Maru memberikan satu karung perhiasan untuk Bayu. Seketika Bayu terperangah. Ia merasa kini sudah dapat menyelesaikan hutanganya.
__ADS_1