
Bayu keluar dari kamar mandi. Ia baru saja selesai membersihkan dirinya.
Sesaat Nini Maru merangkak didinding kamarnya, lalu turun bagaikana seekor cicak.
Bayu yang menyadari kehadirannya, berpura-pura tidak mengetahuinya.
Merasa dicuekin, makhluk itu menghampirinya dengan perasaan kesal.
Bayu fokus mencari pakaiannya dan menyalinnya. Ia sangat tidak ingin untuk melihat wajah makhluk itu, karena sangat-sangat mengerikan. Wajah hancur penuh luka.
"carikan tumbal janin untukku.." ucap makhluk itu dengan geram.
Bayu diam tak bergeming. Dengan perasaan kesal, Nini Maru mencekik leher Bayu hingga membuat pria tampan itu sesak nafas.
Bayu mencengkram kedua pergelangan tangan makhluk itu, terasa kaku seperti kayu, kulitnya sangat keriput, namun kekuatannya sangat dahsyat.
Bayu merasa sesak nafas. dadanya naik turun karena menahan kurangnya asupan oksigen ke paru-parunya.
Wajah Bayu memucat dan Ia semakin tidak kuat untuk menahan cengkraman kedua tangan Nini Maru dilehernya. "apakah kau masih mau melawanku.?" tanya Nini Maru dengan wajah penuh amarah.
Bayu dalam kondisi terjepit berusaha mengambil jalan pintas untuk menyelamatkan nyawanya. Ia menggelengkan kepalanya. Lalu Nini Maru melepaskan cengkaramannya.
"bagus.. Buatkan sesaji untukku nanti malam. Potongkan 3 ekor ayam cemani, tampung dalam 3 gelas, dan bakar ayam tersebut menjadi ayam bakar yang lezat. Sediakan kembang setaman, bakar kemenyan dan dupa, minyak duyung, serta buat salah satu pekerja wanitamu tertidur. jadika itu semua sebagai sesaji untukku. Jangan sampai kau melewatkannya satupun." titah Nini Maru dengan penekanan.
Bayu mengatur nafasnya, agar oksigen mengalir dengan sempurnah. Setelah nafasnya kembali normal, maka menatap Nini maru dengan kesal.
"jangan mematapku seperti itu.. Karena aku akan membunuhmu, meskipun keris itu kini bersemayam ditubuhmu, namun kau tidak mengetahui mantra untuk menggunakannya, maka aku tidak takut padamu..!" ucap Nini Maru dengan mencibir.
Bayu yang dicibir seperti itu bertambah bingjng, karena Ia tidak mengerti dengan apa yang disebutkan oleh Nini Maru. Karena Ia memang tidak tahu tentang keris itu. Ia hanya memegangnya waktu itu, lalu pingsan dan ketika tersadar, Ia tak lagi menemukan keberadaan dimana keris itu.
Jika Nini Maru mengatakan keris itu bersemayam didalam tubuhnya, tentu Ia tidak mengetahuinya.
"segera cari ayam cemani tersebut, jangan sampai kau melewatkannya lagi." ucap Nini Maru dengan nada perintah, lalu menghilang.
__ADS_1
Bayu dengan terpaksa mengiyakan apa yang diperintahkan oleh Nini Maru. Ia mengusap-ngusap lehernya yang masih sakit karena terkena cekikan itu. Setelah merasa cukup baikan, Ia mengambil kunci mobilnya, dan menuju kelantai dasar.
Sesaat dilantai dasar, Ia berpapasan dengan Rumi, lalu berhenti dan memanggil gadis itu.
"Rumi.."
"Iya Tuan.."
"Nanti malam persiapkan dirimu.." ucap Bayu sembari melangkah pergi, meninggalkan Rumi yang masih berdiri termangu karena pesan yang disampaikan oleh Bayu masih mengambang. Ia belum faham dengan arti dari pesan Bayu tersebut.
Bayu bergegas menuju garasi mobilnya. Ia menghidupkan mesin mobil, lalu bergerak menuju tempat pria penjual ayam cemani.
Saat melewati puskesmas, Bayu melihat Satria berada dihalaman sedang melakukan Apel pagi, dan memberikan arahan.
"mengapa Ia lebih memilih menjadi seorang tenaga medis, sedangkan jelas-jelas Ia memiliki kekayaan yang sangat luar biasa, namun mengapa mempersulit dirinya sendiri dengan hidup dikampung seperti ini." Bayu berguman lirih dalam hatinya.
Bayu menambah kecepatan laju mobilnya, Ia ingin segera sampai ditempat pria penjual ayam cemani tersebut.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit lamanya, akhirnya Ia sampai ditempat. Bayu memarkirkan mobilnya dan turun dengan tergesah-gesah. Ia mencari keberadaan si penjual ayam cemani, namun tampaknya sangat lengang dan sunyi.
Bayu menghampirinya. "Pak.." sapa Bayu ramah.
Si pria tua menoleh kearah orang yang memanggilnya. Ia sampai kaget saat menyadari Bayu sudah berada disisi kanannya.
"eh.. Mas ganteng.. Kapan datangnya? Koq gak ngabarin dulu untung saja saya masih disini." ucap Pria tua penjual ayam tersebut.
"baru saja Mas. Waktu itu saya kembali lagi menjelang senja, tetapi bapak tidak ada." ucap Bayu sopan.
"waah, saya kalau senja sudah balik pak kerumah, saya disini cuma sampai jam 5 sore saja." sahut Pria tersebut.
Bayu manggut-manggut pertanda mengerti.
"ada perlu apa Mas ganteng..?" tanya si Pria tua itu dengan ramahnya.
__ADS_1
"saya mau pesan ayam cemani lagi pak, tiga ekor. Apakah ada.?" tanya Bayu sopan.
"Ada Mas.. Biar saya siapkan ya.." jawab Si bapak sumringah.
"emm.. Tapi ada tempatnya gak pak? Soalnya yang kemarin mati, sesampainya dirumah, karena terhimpit."ucap Bayu dengan hati-hati, takut menyininggung perasaan si Bapak.
"Siip.. Mas ganteng.." jawab Si Bapak dengan semangat.
Si Bapak bergegas mencari kotak kayu yang biasanya Ia pakai untuk mengirim orderan bunga ke kota.
Ia menangkap ke tiga ekor ayam tersebut, lalu memasukkannya kedalam kotak kayu, dengan terlebih dahulu mengalasinya dengan kertas kardus agar tidak mengotori mobil Bayu, saat ayam-ayam tersebut membuang kotorannya.
Setelah selesai, Bayu membayar sesuai harga, dan melebihkan uang untuk kotak kayunya.
"terimakasih pak, saya permisi pulang dulu.." ucap Bayu ramah, sembari menyodorkan uang pesanannya.
Si Bapak mengangguk, lalu tersenyum."sama-sama Mas.." jawab Si Bapak dengan sumringah.
Bayu mengangkut kotak kayu yang berisi 3 ekor ayam cemani tersebut, dan beranjak menuju bagasi mobil. Ia membuka pintu bagasi, lalu memasukkan peti kayu tersebut. Setelah merasa aman, Ia segera menutupnya, dan bergegas menuju pintu kemudi.
Saat Bayu akan memasuki pintu mobil depan, Si Bapak memanggilnya.
"Mas, ganteng.."
"Iya Pak.." Jawab Bayu menahan langkahnya untuk masuk kedalam mobil.
"Jika bisa melepaskan, maka lepaskanlah ikatan perjanjian dengan Iblis manapun. Saya dapat melihat, jika sesungguhnya Mas ganteng orang baik, semoga suatu saat nanti, ada.orang yang dapat menolong mas ganteng terbebas dari jeratan Iblis yang kini sedang membelenggu Mas ganteng." ucap Si Bapak dengan nada serius.
Deeeeeegh..
Ucapan si Bapak begitu mengena dihatinya. Sebenarnya jika Ia turutkan kata hati, Ini sangat berrentangan dengan hatinya. Namun perjanjian tanpa sengaja yang dibuatnya, membuat Ia terjerat dalam belenggu makhluk Iblis laknat tersebut.
Bayu menanggapinya dengan senyum datar. Lalu Ia masuk kedalam mobil, dan menghidupkan mesin mobilnya, lalu bergerak perlahan meninggalkan rumah sang Pria Tua tersebut.
__ADS_1
Didalam perjalanannya, Bayu mencoba merenungkan setiap kalimat yang diucapkan oleh Pria Tua tersebut.
Bayu bagaiakan sampan kayu yang terombang ambing ditengah lautan tanpa kemudi. Ia seperti tidak memiliki tujuan, sebenarnya Ia merasakan kehampaan yang sangat menyiksanya. Ia tidak tahu mengapa Ia sampai terperosok dalam jurang dosa yang sangat membingungkannya.