Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Konspirasi-2


__ADS_3

Mala masih syok dengan apa yang terjadi, saat mengetahui siapa dibalik wajah yang selama ini tertutup topi dan masker itu, Kini harus dikejutkan lagi dengan adanya warga yang melihat kejadian yang sama sekali bukan kehendak mereka.


Mbak Ratna menutup mulutnya, wanita paruh baya itu tampak syok, melihat Mala sang sahabat sekaligus sudah dianggap seperti adiknya sendiri tampak melakukan perbuatan Kotor.


Warga semakin lama semakin banyak yang berkumpul, dan aurat Mala yang pakaiannya robek akibat perbuatan genderuwo itu tampak jelas terlihat sembulan dua bukit yang selama ini selalu ditutup oleh hijabnya.


Bayu dengan cepat mengambil selimut yang tergeletak diatas ranjang dan menutupkannya kepada aurat Mala agar tidak banyak dilihat orang. Meskipun Mala ingin rasanya menendang Bayu, namun Ia masih mencoba menjaga sikapnya yang kini merasa terpojok.


"Ada apa ini..?! Kita panggil Pak RT Budi untuk menyelesaikan masalah ini." ucap seorang warga.


Para warga mebdesak Mala dan Bayu agar keluar dari kamar dengan segera, lalu menggiring keduanya keruang utama rumah Mala.


Mbak Dewi yang juga kebetulan ada dirumah Mala memandang dengan cibiran."Gayanya saja berhijab besar, tapi kelakuan amit-amit.. Baru berapa bulan menjada sudah genit membawa masuk pria kedalam kamar.." celoteh mbak Dewi dengan nada sinis.


Dilain sisi, banyak para duda dan jomblo ngenes yang harus kecewa dengan kenyataan yang ada, dimana dalam diam ternyata Mala sudah memiliki pria simpanan yang sangat tampan.


Berbagai spekulasi yang berbeda dari setiap isi otak para warga bermunculan dan dugaan demi dugaan yang sangat keji terlontar dari mulut para ibu-ibu yang suka berghibah ria.


Mala bagaikan tersudut dan tak mampu mengayakan apapun. Matanya menatap nanar pada mbak Ratna, berhatap sahabatnya itu mempercayainya, sedikit saja.


Namun, sepertinya mbak Ratna tampak kecewa sekali padanya, sebelum Mala menjelaskan apa sesungguhnya yang terjadi, dan jikapun Ia menjelaskannya, apakah orang-orang akan percaya dengan apa yang akan dijelaskannya..?


Tidak.. Tentu mereka akan menganggap Mala hanya beralibi untuk menutupi kebohongannya. Mala merasakan hidupnya bagaikan telur diujung tanduk, tak dapat mengelak lagi dari tuduhan para warga yang akan menghakiminya.


Haruskah Ia menangisi nasibnya..? Entahlah.. Hanya Tuhan yang tau tentang perasaannya yang kini hancur.


"Itu Pak Budi sudah datang, mari kita mulai saja persidangan ini.. Ini sudah mencemarkan nama baik desa ini.." suara-suara sumbang mulai terdengar ditelinganya, dan itu sangat menyakitinya. Mala semakin merapatkan selimutnya, Ia merasakan hidupnya sangat berantakan.

__ADS_1


Budi sekalu RT didesa itu, memasuki rumah Mala dengan perasaan sangat galau, katena Ia adalah salah satu duda yang mengincar Mala, namun wanita idamannya sudah disambar orang terlebih cepat.


"Ayo..! Pak Budi.. Kita mulai sidang ini, hal ini sangat memalukan, dan mencoreng nama baik desa ini.." kembali suara-suara sumbang bermunculan.


"Apa sebenarnya yang terjadi..?" Tanya Budi dengan setenang mungkin, meskipun hatinya sangat sakit.


"Mbak Ratna saksi utama, coba tanya Mbak Ratna.." usul seirang warga pria yang tampak antusias untuk menghakimi.


Mbak Ratna merasa sangat bergetar dan Ia kini bagaikan buah simalakama, untuk berkata jujur ataukah menutupi aib sahabatnya.


"Nikahkah saja mereka berdua sekarang juga, agar tidak melakukan dosa yang sama.." ucap Mbak Ratna semabri merundukkan kepalanya.


Duuuuueeer...


Bagaikan tersambar petir disiang bolong, Mala merasakan hidupnya hancur. Bagaimana mungkin Ia harus tiba-tiba menikah dengan pria yang dulu pernah hampir menodainya, bahkan Ia tak menyangka jika Bayu mengekorinya sampai ke desa ini, dan mencoba menjadi pengintai untuknya. Lalu apa yang akan dikatakan oleh Mala kepada Hadi dan Satria kelak dengan pernikahan yang mendadak ini.


"Tetapi..." Mala mencoba membuka mulutnya untuk bersuara, mencoba membela dirinya dan menjelaskan kronologi kejadian yang sesungguhnya.


"Sudah.. Nikahkan saja mereka berdua malam ini, agar mereka puas mau melakukan apapun tanpa harus berzinah.." cecar warga lainnya.


Banyaknya desakan-desakan dari warga yang membuat Pak Budi merasa harus mempertimbangkan segala kemungkinan terburuknya, maka Ia harus mengambil keputusan yang tepat.


"Jika tidak mau dinikahkan, maka kita arak mereka berdua keliling kampung, agar memberi efek jera.." usul warga lainnya.


Mala semakin pucat ketakutan, alangkah malunya Ia jika saja warga sampai nekad mengaraknya dengan dosa yang tidak Ia lakukan.


Disisi lain, Bayu hanya diam tak bergeming. Haruskah Ia merasa senang dengan apa yang Ia dengar..? Menikahi sang wanita pujaannya? Meskipun dengan cara yang tak diharapkannya? Atau justru sebaliknya.

__ADS_1


Kini Ia juga larut dalam alam fikirannya yang masih bingung dengan apa yang kini dialaminya.


"Baiklah.. Siapa nama saudara..? " tanya Budi dengan setenang mungkin, meskipun sakit dihatinya.


"Bayu pramata.." Jawab Bayu lirih.


"Apakah anda bersedia menikahi warga kami bernama Mala Juwita malam ini juga..? Atau memilih hukuman diarak keliling kampung..?" ucap Budi memberikan pilihan.


Bayu diam tak bergeming, membuat para ibu-ibu semakin geram dengan sikapnya, terutama mbak Dewi.


"Heei..! Bayu.. kamu itu jangan diam saja, udah enak-enakan gak mau tanggung jawab.." cecar mbak Dewi dengan kesal.


"Iya.. Iya.. Kita arak saja keliling desa biar memberi efek jera bagi warga lainnya jika ingin berbuat zinah.." ucap warga lainnya.


Budi melihat suasana semakin sangat memanas, dan hal ini akan menimbulkan masalah semakin melebar.


Lalu Budi mencoba menengahinya. "Tenanglah, biarkan saya mencari jalan tengahnya.." ucap Budi dengan suara sedikit keras dan tegas.


Seketika suasana menjadi hening. Mala masih dalam kehancurannya, Ia tidak membayangkan jika harus diarak keliling desa atau bahkan memilih menikah dengan Bayu tanpa sebab yang jelas.


"Saudara Bayu.. Apakah keputusan anda sekarang..? Dan status saudara kni sebagai duda atau pria beristri..?" tanya Budi dengan mencoba tenang.


"Saya duda.." ucapnya lirih, dan mencoba menegaskan.


"Lalu apa keputusan saudara dalam masalah ini..?" cecar Budi mulai sedikit kesal, karena Bayu masih diam saja.


"Saya akan memilih..." ucapan Bayu menggantung, membuat warga tak sabar untuk mendengarnya. "Saya memilih menikahinya.." ucapnya dengan suara tegas dan membuat warga tercengang sekaligus lega, karena setidaknya Bayu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

__ADS_1


disisi lain, Mala merasa syok mendengar pernyataan Bayu, namun Ia juga tidak memiliki pilihan lain. Semuanya terjadi begitu cepat, tanpa diduga dan tak pernah dibayangkan olehnya.


"Kalau begitu, segera panggilkan wali hakim, kita nikahkan secara sirri malam ini, esok akan kita bawa ke kantor KUA untuk melegalkan pernikahannya." ucap Budi, dengan senyum miris, yang diikuti anggukan setuju oleh para warga.


__ADS_2