
Pria itu meninggalkan Roni, lalu mengemudikan mobilnya, dan mengklakson Roni, pertanda Ia menyapa.
Roni menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum tipis.
Setelah pria itu pergi, Roni berjalan kembali pulang menyusuri jalanan utama.
🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛
Mala baru saja selesai dengan pekerjaannya. Ia pergi kekamar untuk melihat Roni, suaminya. Ia ingin memberi sarapan kepada suaminya.
Saat sampai didepan pintu kamar, Ia melihat pintu itu terbuka..
Deeeeeeggh...
Jantung Mala seakan berhenti berdetak. "Bang Roni..?" Mala bergegas melongok kedalam kamar, Ia tak menemukan Roni disana.
"Ya Allah bang Roni.. Kemana kamu..?" Mala berguman cemas, dadanya bergemuruh karena ketakutan. Mala bergegas keluar mencari keberadaan Roni.
Saat melihat Bimo, Mala memanggilnya.
"Bim..ada.liat bang Roni keluar gak.?" tanya Mala bimbang dan perasaan kalut.
"gak ada nampak mbak.. Emang kapan sadarnya mbak kalau bang Roni sudah gak ada dirumah.?" ucap Bimo yang juga ikutan panik.
"bantuin Mbak cariin bang Roni, Bim.." ucap Mala dengan cemas.
Bimo mengangguk, lalu mengmbil sepeda motornya, dan menghampiri Mala.
"ayo mbak, kita cari Bang Roni, takutnya kenapa-napa lagi." ucap Bimo, lalu disetujui oleh Mala.
Mala naik keboncengan jok sepeda motor. Ia merasakan kecemasan yang sangat berlebihan.
Mereka menuju ke utara, menyusuri jalanan sembari clingukan kesana kemari.
Sudah hampir mencapai puskesmas, namun mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Roni.
"Bim.. Apa kita singgah ya puskesmas, kasih tau Satria..?" ucap Mala ditengah kegundahan hatinya.
"boleh juga mbak.." jawab Bimo dengan cepat, lalu Ia menepi ditepian, membelokkan stang sepeda motornya, bersiap hendak menyeberang.
🐛🐛🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛
Roni berjalan menyusuri jalanan.Ia telah sampai di simpang rumahnya, Ia memasuki rumah lalu menuju kedalam kamarnya.
Entah mengapa Ia merasakan tenang setelah melakukan jalan-jalan paginya hari ini.
Ia membaringkan tubuhnya ditepian ranjang.. Lalu mencoba untuk tidur, sepertinya Ia tidak lagi menghiraukan suara berisik dari dentingan alat bangunan yang saling bersahutan.
🐛🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛
__ADS_1
Sesampainya di puskesmas, Mala mencoba mencari ruangan kerja Satria. Ia bertanya kepada seorang bidan muda bernama Shafiyah.
"dik.. Ruangan kerja pak Satria dimana ya.?" tanya Mala kepada bidan tersebut.
Shafiyah mengernyitkan keningnya.
"ibu sudah ada temu janji dengan pak Satria.? Karena tidak sembarangan orang bisa bertemu dengannya tanpa ada janji dahulu." jawab bidan tersebut.
"tapi saya..." ucap Mala tak lagi melanjutkan ucapannya karena Ia telah melihat Satria berjalan dari koridor puskesmas, menuju kearahnya.
"ya sudah, Pak Satrianya sudah datang, jadi gak perlu janji temu lagi." ucap Mala lirih.
Shafiyah kaget karena Satria tiba-tiba sudah menghampiri mereka.
"Ibu.. Ada hal apa sampai menjemput kemari..?" tanya Satria lembut, sembari menyalim tangan Mala. Ada tampak raut wajah Mala yang sangat cemas.
Shafiyah terperangah, saat mengetahui jika wanita itu adalah ibunya Satria, kepala puskesmas tersebut.
"Saya permisi, Pak.. Mau anu.. Ke ruangan bersalin.." ucap Shafiyah sembari nyengir kuda kepada Mala, merasa malu karena sudah banyak bertanya tadi.
Setelah berbalik arah, Shafiyah berajalan seperti kilat, seolah ingin segera menghilang dari pandangan keduanya.
Setelah Shafiyah pergi, Satria membawa Mala keruang kerjanya."Ayo bu..keruang kerja saya, kita ngobrol disana." ajak Satria, sembari memimpin pundak Ibunya.
Mala menepiskan tangan Satria. Hal itu membuat Sayti merasa bingung. Satria memandang lekat wajah ibunya "ada apa Bu..? Mengapa terlihat sangat panik?" tanya Satria dengan tenang.
"Sayang.. Ibu kemari mau bilang kalau ayah kamu Roni menghilang.." ucap Mala dengan nada cemas.
"Ayah sedang tidur dikamar.." ucap Satria tenang..
Mala mengernyitkan keningmya, lalu memandang dengan tatapan bingung pada Satria.
"Gak ada sayang.. Sudah ibu periksa jawab" Mala meyakinkan Satria.
Satria tersenyum "percaya pada Satria.. Ayah sedang tidur.." ucap Satria meyakinkan..
"Benarkah.." ucap Mala dengan hati yang ragu.
Satria menganggukkan kepalanya.
Akhirnya Mala meyerah, dan memilih untuk mempercayai ucapan Satria.
"Baikah.. Ibu akan coba lihat dirumah.." jawab Mala meski masih ragu.
"hati-hati ya bu..." ucap Satria dengan tulus.
Mala menganggukkan kepalanya.
"Iya.." mala menjawab dengan singkat.
__ADS_1
Dengan tergesah-gesah Mala meninggalkan puskesmas, lalu menuju pulang kerumah.
"Bim.. Kita pulang kerumah.. Kata Satria, abang sudah sampai dirumah.." ucap Mala dengan debaran yang tak menentu.
Bimo yang melihat wajah kakak sepupunya itu dengan raut wajah kalut menjadi iba.
"Iya..ayo naik mbak"jawab Bimo, sembari menghidupkan mesin sepeda motornya.
Mala menganggukkan kepalanya, lalu naik kenoncengan.
Sepanjang perjalanan, Mala hanya diam tak bergeming. Ia merasakan perasaan yang sangat gelisah. Ia menduga-duga andai yang dikatakan Satria salah, Ia tak dapat membayangkan apa jadinya jika sampai Roni menghilang.
"Mbak.. Kita sudah sampai rumah.." ucap Bimo, menyadarkan Mala dari lamunannya.
Mala tergagap, tanpa mengucapkan terimakasih Ia bergegas menuju kamar, saat berada diambang pintu, Ia mendapati Roni sedang tertidur pulas.
Nafas Mala yang tadi tersengal, berubah mejadi lega. Ia melangkah mendekati tepian ranjang. Lalu duduk disana. "Ya Allah, Bang.. Kamu sudah buat jantung adik hampir copot.. Kamu kemana tadi sayang..?" Mala berguman lirih, sembari mengecup lembut kening Roni.
Air matanya tanpa terasa jatuh membasahi pipi Roni. Mala sepertinya harus siap dan rela dengan kondisi Roni saat ini.
Ia teringat jika Roni belum sarapan. Ia berniat mengambilkan Roni sarapan. Ia bergegas keluar kamar, menuju dapur.
"mbak Mala.. Bang Roninya sudah ketemu?" tanya Bimo dari kuar rumah.
"sudaah.." Sahut Mala sedikit berteriak. Karena posisinya kini berada di dapur, agar Bimo mendengar suaranya.
"oh.. Syukurlah.." jawab Bimo, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Mala tak menjawab Bimo. Ia sibuk mengambil sarapan untuk Roni.
Setelah sampai dikamar Ia membangunkan Roni, mengguncang tubuh itu pelan dan lembut.
"bang.. Bang Roni.. Makanlah.. Dari tadi abang belum makan.." ucap Mala dengan lembut.
Namun Roni tak jua membuka matanya. Mala mendenguskan nafasnya..mencoba bersabar dengan semua ujian yang sedang dialaminya.
Melihat Roni tak jua bangun, Mala membawa kembali sarapan itu kedapur.
Ia berjalan dengan gontai, Ia merenungi apa yang sedang dialaminya.
"ya Rabb.. Ampunilah segala dosa dan khilaf yang pernah kami lakukan. Angkatlah segala sakit dan penyakit yang ada didalam tubuh suami hamba." Rintih Mala dalam doanya.
Ia menuju dapur, meletakkan kembali sarapan itu diatas meja makan. Hatinya begitu nelangsa, sepi, tak ada lagi keceriaan, belaian cinta kasih dari sang pujaan hatinya.
Andai saja dulu Reza tak melakukan hal gila itu, mungkin Roni, suaminya tidak akan membunuhnya, dan sekarang Roni tidak akan mengalami tekanan-tekanan mental, sehingga membuat nya mengalami skizoprenia."
Tanpa Ia sadari, air matanya bergulir membasahi pipinya.
"bang Roni.. Apakah tidak kau rasakan hati ku yang kini sedang pilu." guman Mala lirih sembari menyeka air matanya..
__ADS_1
Bersambung..
Innalillahi wa'inna ilaihi raji'un.. Semoga para korban gempa di Cianjur husnul khatimah.. Aaamiin.. Dan para korban selamat diberikan ketabahan dan kesabaran dalam setiap ujian yang diberikan oleh Allah. Karena Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar dari kesanggupan setiap hamba. Sehat, selalu wahai saudara-saudari yang berada di Cianjur.