Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Goa


__ADS_3

Setelah merasakan tubuhnya cukup untuk pulih dan bergerak, Satria beranjak dari tempatnya beristirahat.


Satria memungut tad ranselnya, lalu membiarkan pakainnya yang tadi basah tergeletak ditepian kolam tersebut, Ia berharap pakaiannya akan segera kering setelah Ia nanti kembali.


Satria berjalan menyusuri goa, mencari kitab segoro geni yang dimaksud berada didalam goa yang sesuai dengan petunjuk yang diberikan saat perjalanan ghaibnya.


Pemuda itu mulai mengamati setiap detail goa, dari dinding, lantai dan langit-langit goa.


Saat sedang asyik mengamati ruang goa, tampak didinding goa sebuah kalimat yang bertuliskan aksara palawa dan bahasa sansekerta yang Satria tidak mengerti apa maknanya dan cara membacanya.


Satria menolehkan kepalanya kebelakang, mencari Widuri yang sedari tadi belum juga kelihatan. "Kemana dia..? Biasanya Ia mengikuti kemanapun.." ujar Satria dengan perasaan yang gunda.


Lalu Ia kembali menatap aksara palawa tersebut yang terpahat didinding goa. Satria menyentuh tulisan itu, mencoba memaksakan diri untuk memahaminya.. " Apa arti dari tulisan ini.." ucap Satria dengan penasaran, Namun tiba-tiba saja, tulisan itu bercahaya, dan memberikan terjemahan seperti yang dipinta Satria.


Wuuuusssh..


Pendaran cahaya berwarna gold keluar dari aksara tersebut. Lalu terlihat arti dari tulisan tersebut. "Bersuci"


Satria bergerak mundur dua langkah. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Bersuci..? Apa maksudnya..?" jika bersuci dari hadas besar aku sudah melakukannya tadi, dengan menceburkan diri dikolam tersebut.." Satria berguman lirih mencoba memahami makna isi dari tulisan tersebut.


Lalu Satria mencoba meneruskan perjalanannya menyusuri goa, mencari petunjuk lain. Saat Ia ini matanya tertuju pada sebuah tempat yang indah, satria terpana olehnya, Ia ingin masuk kesana. Namun langkahnya selalu terhalang oleh dinding tak kasat mata, dan selalu muncul tulisan kata di dinding tersebut "Bersuci..".


Satria mencoba merenunginya, lalu memandang kesekelilingnya. Tampak olehnya satu rembesan air yang mengalir lembut dari langit-langit goa. Satria mendekatinya, lalu mencoba memahami kata bersuci tersebut.


Satria lalu mengambil wudhu, bersuci dari hadast kecilnya. Setelah selesai berwudhu, Ia kembali mencoba menerobos tempat nan indah tersebut, tempat yang tersembunyi didalam goa.


Dan ternyata.. Satria mampu memasukinya. Sebuah tempat seperti surga yang yang begitu indah. Ada dipan-dipan yang tersusun, sebuah mata air mengalir jernih, dan serangga kupu-kupu yang bertebaran. Lalu tanpa diduga, dipan yang tersusun rapi itu dihuni oleh para wanita cantik yang berparas ayu nan rupawan.

__ADS_1


Satria terperangah tak percaya menatapnya. Saat Ia ingin memasuki area tersebut, lalu sebuah dinding penghalang tak kasat mata muncul kembali. Dan kembali datang sebuah tulisan dengan kata Sucikan.


Seketika Satria terdiam. Ia mencoba memahami kata Bersuci dan Sucikan. Hampir sama namun makna yang berbeda.


"Apakah yang harus aku sucikan..?" Satria kembali berguman lirih, mencoba mencari maknanya.


Pemuda itu menatap para gadis nan ayu rupawan yang tampak berbaring santai seolah sedang memanggilnya untuk mengajaknya bercinta.


Seketika Satria beristighfar "Astaghfirullahalladzim.." Ucapnya dengan penuh penyesalan, lalu nenutuo kedua matanya, dan mencoba membuang seluruh pandangan kotornya.


Saat Ia membuka matanya, tampak dipan-dipan dan tempat indah beserta gadis belia nan ayu rupawan itu menghilang dari pandangannya. Semua hanya ilusi belaka, yang ada hanya dinding goa yang lembab.


Lalu Satria kembali melanjutkan langkahnya, menyusuri goa, mencari petunjuk berikutnya. Ia kembali mengedarkan pandangannya dengan sangat jeli, lalu melihat kembali sebuah petunjuk aksara palawa didinding goa. Ia mendekatinya dan menyentuhnya, lalu seperti awal Ia menemukan aksara tersebut, tertulis kata "Menahan hingga Maghrib selama 3 kali matahari terbenam".


Aksara pallawa atau aksara Jawa ini pada awalnya dibawa oleh Aji Saka seorang penyebar agama Budha dari India dan berkembang dipulau Jawa.



Yang penasaran dengan aksara Pallawa atau aksara Jawa. Namun sekarang tidak lagi digunakan.


Kini kita kembali pada Satria. Setelah mengetahui artinya, maka Kini Satria harus mencari makna kata menahan hingga maghrib selama 3 kali matahari terbenam.


Satria mencoba mencermati apa yang tersirat dalam kalimat tersebut. "Apa ibadah biasanya ditahan sampai hingga waktu maghrib..?" Satria mencoba mencari tahu maknanya. "Apakah berpuasa..?" Satria mencoba menterjemahkan asumsinya.


"Mungkin mulai esok aku harus berpuasa selama 3 kali berturut-turut." Satria mendenguskan nafasnya. Jika begitu, Ia harus mempersiapkan dirinya untuk berpuasa esok hari dan mencari bahan untuk bersahur dan berbukanya.


Ia kini melirik kearah belakang "Kemana Widuri..? Mengapa Ia belum juga kelihatan..? Satria tampak gusar. Sesaat Ia melihat dikejauhan sosok peri itu terbang melayang menuju kepadanya.

__ADS_1


Sekeyika Satria tersenyum sumringah melihat kehadiran sang peri cantik tersebut.


Setelah jarak mereka sudah dekat, Widuri menjaga jarak dengan Satria, membuat pemuda itu merasa penasaran.


"mengapa kamu menjauhiku..?" tanya Satria penasaran. Ia merasakan sikap Widuri berbeda sejak kejadian dikolam tersebut.


"Kamu dalam kondisi menjaga wudhu, aku tidak boleh menyentuhmu, nanti wudhumu batal.." jawab Widuri mengingatkan.


Sesaat Satria tercengang mendengar penuturan peri tersebut. Ia tidak menyangka jika Widuri mengetahui segala hal tentang yang dilakukannya.


"Terimakasih, telah mengingatkanku.. Kamu memang istimewa.." ucap Satria tulus, lalu memalingkan wajahnya, tak ingin berlama menatap wajah cantik peri tersebut, karena dapat menggoyahkan imannya.


Satria kemudian berjalan kembali mengelilingi goa, dqn mencari petunjuk lainnya. "Aku besok berpuasa, apakah kamu bersedia mencarikanku makanan untuk bersahur dan berbuka..?" pinta Satria tanpa menoleh kepada sang Peri.


Widuri hanya menganggukkan kepalanya, lalu terbang melayang mendahului langkah Satria. Ia berhenti pada sebuah dinding Goa yang kembali tertulis sebuah aksara pallawa yang kalimatnya sangat panjang.


Satria bergegas menghampiri apa yang ditemukan oleh Widuri, Ia mempercepat langkahnya, hingga Ia sampai ditempat mana Widuri memandangi sebuah kalimat yang tertulis didinding tersebut.


Sebuah rafal mantra yang sangat membuat Satria merasa penasaran.


BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM


Niat ingsun amatek ajiku Segoro Geni, diijabahi marang gusti kang nggadha Geni, amergo ingsun anyakseni siro kang kasebut Ratuning Geni. Siro kang kasebut jagad Geni, siro kang kasebut Segoro ning Geni, Ratuniro, Ratuning Geni, Jagadniro, Jagad Geni, Segoroniro Segoro Geni Yahu Allah Yahu Allah Yahu Allah Hu.


Satria terperangah melihat apa yang ada dihadapannya. "Apakah ini rafal dari mantra ajian segoro geni..?" Satria menutup mulutnya tak percaya. Hatinyanpenuh debaran yang tak mampu Ia gambarkan dengan apapun.


"Ya.. Ini adalah rafal ajian tersebut.. Maka kamu harus menghafalnya, dan ini akan kamu baca sebanyak 333 kali saat melakukan tirakat nanti." Widuri menuturkan apa yang Ia ketehaui.

__ADS_1


Namun, masih banyak hal yang akan kamu lalui untuk mencapai itu semua, dimana jika saja puasamu batal sekali, maka kamu harus mengulangnya dari awal dan ini tidak bisa ditawar lagi.." ujar Widuri mencoba memberikan penjelasan.


__ADS_2