
"Se..sebenarnya Ayahmu..telah.."ucap Mala lirih dan penuh hati-hati. Ia sangat takut jika sampai ada telinga orang lain yang mendengarnya, hal ini akan membuat masalah baru bagi dirinya dan keluarganya, terutam Roni yang saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Satria memejamkan matanya, tampak olehnya diluar sana ada seseorang yang sedang mengarah kerumahnya. Langkah orang tersebut tampak begitu terburu-buru.
"Stop, Ibu.." jangan dianjutkan.. Ada seseorang yang sedang menuju kearah kemari." ucap Satria mencegah Mala yang sedang berusaha ingin melanjutkan ucapannya.
Tok...tok..tok..
Suara ketukan pintu diluar rumah. Seketika suasana hening, dan senyap.
Satria bergera beranjak bangkit dan menuju pintu rumah. Ia membukanya, tampak seorang gadis manis berdiri diambang pintu, Ia tampak kelelahan.
Nafas gadis itu tersengal, lalu Ia berusaha untuk mengatur nafasnya dan menetralkan irama jantungnya.
"Shafiyah.." Sapa Satria ramah namun penuh penasaran.
"Pak.. To..tolongin ayah saya.. Sepertinya sedang kerasukan sesuatu.." ucap Shafiyah dengan terbata.
Sssssshhhhhtt...
Tampak didalam pandangan Satria jika seorang pria sedang kerasukan makhluk astral, Pria itu tampak kejang-kejang.
"Bu.. Satria keluar sebentar, ada yang ingin Satria urus." ucap Satria tenang.
Mala menganggukkan kepalanya, sepertinya Ia merasa sedikit lega, karena tidak jadi memberitahukan kepada Satria kejadian kurang lebih setahun yang lalu.
"Tutup pintu rapat-rapat Bu, periksa kembali pintu belakang dengan benar, sehingga tidak ada lagi akses bagi penjahat untuk masuk." ucap Satria mengingatkan Ibunya.
Mala kembali menganggukkan kepalanya. Ia belum bisa berkata-kata, karena debaran didadanya masih begitu amat kencang.
Satria menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja tamu, lalu keluar dengan terburu-buru.
Shafiyah tampak berjalan mengekorinya dari arah belakang, namun tidak mengikutinya ke mobil, Ia memilih untuk berjalan kaki menuju rumahnya, yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Satria.
Satria menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh kearah sang gadis. "Heei.. Mengapa kamu berjalan kaki..? Naiklah kedalam mobil.." ucap Satria dengan tenang, namun nada perintah.
Shafiyah segera mematuhi perintah sang atasannya. Ia memasuki mobil dengan perasaan yang tak menentu. Rasa khawatir terhadap Ayahnya, lelah berjalan, dan juga kikuk berada dalam satu mobil dengan sang atasan, semua bercampur menajdi satu, layaknya seperti gado-gado.
__ADS_1
Satria menghidupkan mesin mobil, lalu perlahan bergerak meninggalkan rumah.
"kenapa kamu berjalan..? Kenapantidak naik motor.?" tanya Satria mencoba mencairkan suasana.
"Kan masuk bengkel, tadi pagi juga bapak lihat itu.." jawab Shafiyah dengan lirih. Ia tidak berani menatap mata Sang atasannya, mata itu terlalu indah untuk dipandang.
Satria segera melajukan mobilnya, hanya hitungan 2 menit saja mereka sudah sampai dirumah Shafiyah.
Satria turun dari mobilnya, diikuti oleh Satria. suasana dirumah itu tampak sedikit riuh. Ada beberapa tetangga yang berkumpul.
Suara teriakan Ayah Shafiyah telah mengundang beberapa warga merasa penasaran tentang apa yang sedang terjadi.
Saat Satria berada dibawah tangga, Ia merasakan hawa negatif begitu sangat kental. Hawa dingin uang berbeda begitu sangat kental sangat terasa.
Satria menapaki anak tangga satu persatu, seketika semua siluet begitu tampak sangat gamblang didepan matanya.
Saat Satria sampai diambang pintu, semua peristiwa puluhan tahun yang lalu tampak begitu jelas tergambar dimatanya. Setiap kejadian yang pernah berlaku, dipertontonkan didepan matanya.
Tampak bagaimana saat seorang pria yang saat itu masih berusia 40-an tahun sedang melakukan ritual pemujaan terhadap sosok makhluk berusia ratusan tahun yang sangat menyeramkan dan menjijikkan.
Ritual itu merupakan sumpah janji pengikatan antara Ia dan Iblis betina untuk sebuah hubungan yang sangat tidak lazim.
Semuanya tergambar dengan sangat jelas didepan matanya. Lalu ketika bagaimana saat pria itu memutuskan untuk mengakhiri kisah persekutuan mereka, dan Pria itu juga mencampakkan sekutunya dengan secara sepihak dan sangat menyakitkan bagi Iblis betina tersebut.
Pembalasan dendam..! Ya.. Itulah yang saat ini sedang gencar dilakukan oleh Iblis tersebut. Bahkan Iblis itu berhasil menyekap ke-6 jiwa cucu keturunan dari Pria yang pernah bersekutu dengannya. Bahkan saat ini sudah mampu menambah satu jiwa yang disekapnya, dari garis keturunan cicit Pria tersebut, yaitu Mbah Karso.
Satria tersadar, saat sebuh tangan menyentuh lengannya. "Pak.. Mari masuk, coba lihat dan sembuhkan Ayah saya." suara seorang gadis yang sudah sangat Ia kenal.
Satria tersentak dari perjalanan ghaibnya, Ia menoleh kearah Shafiyah yang sedang memandangnya dengan pandangan iba.
Satria tersentak, lalu memandang pada gadis tersebut. Ia melangkah masuk, beberpa pasang mata memperhatikannya. Ada berbagai pertanyaan dalam hati mereka, tentang kebenaran rumor jika Satria adalah anak korban Pujon beberapa puluh tahun yang lalu.
Ada yang mempercayainya, namun ada juga yang menduga jika Satria adalah anak hasil perselingkuhan Mala dengan pria lain.
Lalu sebagian dari mereka ada yang menyimpulkan jika penyakit Roni yang menderita Skizoprenia karena mengetahui Mala memiliki anak dari hasil perselingkuhan.
Namun, Saat memandang Satria, mereka melupakan sejenak hal negatif yang mereka sematkan kepada pemuda itu.
__ADS_1
Pemuda tampan itu kini sedang berjalan melintasi para warga yang sedang berkumpul dikediaman Shafiyah. tanpa sadar, ketampanannya telah menyihir mata dan kewarasan mereka, sehingga mereka memilih untuk menganguminya, ketimbang menghujatnya.
Satria menghampiri pria yang terbaring diatas kasur tipis dengan mata menengadah keatas.
Satria duduk bersila di sisi kanan pria yang sedang berbaring tersebut.
Ia melihat ada sosok makhluk berjubah putih yang sedang memaksa masuk kedalam tubuh Ayah Shafiyah. Namun, tubuh Ayah Shafiyah tidak sanggup untuk menampung keberadaan makhkuk itu.
Makhluk itu tampak diam saat melihat kehadiran Satria.
Makhluk itu adalah Khodam milik ayah Shafiyah, namun pemiliknya tak mampu untuk menerimanya.
Melihat kondisi ayah Shafiyah yang seperti sekarat, Satria mendekatinya. Lalu mencari ubun-ubun kepala Ayah sang gadis.
Satria menyibakkan rambut yang sedikit sudah beruban itu dengan lembut.
Setelah menemukannya, Satria mendaratkan mulutnya disana, lalu memejamkan matanya, merafalkan doa, dan menghisap dengan sangat kuat ubun-ubun milik Ayah Shafiyah.
Wuuuuuuuusssh....ssst..
Secepat kilat, sesuatu melesak keluar dari tubuh Ayah Shafiya dan masuk kedalam tubuh Satria.
Bersamaan dengan hal itu, Satria tersentak kebelakang dan terlempar, sehingga tanpa sengaja menubruk tubuh Shafiyah yang berada tepat dibelakangnya.
"Aaaaaw.."
Rintih Shafiyah yang kini tubuh mungilnya tertimpa tubuh kekar Satria.
Satria merasa dua buah benda kenyal telah menyokong punggunya. Ia merasakan sesuatu yang mengganjal.
Beberapa orang membantu Satria untuk bangkit dan lepas dari tubuh sang gadis.
Setelah Satria berhasil untuk bangkit, Ia kembali menghampiri Ayah Shafiyah, dan tidak memperdulikan sibgadis yang wajahnya memerah merasa malu dan gemas, karena tidak sengaja tertimpa olehnya.
Kini Ayah Shafiyah perlahan mulai sadar. lalu mengerjapkan matanya. Pria paruh baya itu memandangi seisi rumahnya, dimana Ia melihat beberapa orang mengerumuninya dan menatapnya dengan perasaan lega.
Ia yang tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
__ADS_1
Bersambung.. Author mau memasak dulu..😁😁😁