Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Susuatu


__ADS_3

Setelah rombongan Mala pulang dari makam Roni, Bayu kembali kemakam itu.


"Selamat tinggal teman.. Esok aku datang mengunjungimu lagi, sama saat kau menungguku ditepi jalan." Ucapnya lirih, lalu beranjak pergi meninggalkan makam Roni.


Sementara itu..


Mala yang masih larut dalam kesedihannya, sepertinya tidak memperdulikan lagi apapaun. Ia termenung didalam kamarnya.


Ia baru saja kehilangan Satria, dan sekarang.kehilangan Roni untuk selamanya.


Ia seperti tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Ia masih duduk ditepian ranjang, menopangkan dagu dikedua lututnya.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan dari luar kamar.


Mala hanya diam membisu. Lalu tampak Hadi membuka pintu, dan masuk kedalam kamar.


Hadi menghampiri Mala uang masih berdiam diri didalam kamar. Ia membelai lembut punggung Ibunya. "Bu.. Kita sarapan dulu ya.. Ibu juga harus jaga kesehatan, jangan sampai sakit." rayu Hadi, mencoba memberikan kenyamanan bagi Mala.


Sebenarnya banyak hal yang ingin Ia tanyakan, terutama tentang menghilangnya Satria, namun kondisi Ibunya yang masih dalam suasana berduka, rasanya tidak mungkin akan dilakukannya.


Setelah dengan sagala bujuk rayu yang dilakukan oleh Hadi, akhirnya Mala mau juga keluar untuk sarapan.


Ia dibimbing Hadi dengan merangkulnya dan berjalan tertatih.


Sesampainya di meja makan, tampak Chandrayang sudah tersenyum-senyum tidak jelas melihat kehadiran Mala di meja makan.


Sementara itu, Shinta yang sudah menyadari sikap Papanya semenjak tadi merasa sangat dongkol dan ingin rasanya segera menghilang dari pandangan mereka.


Beruntungnya saat ini Mala, sang Ibu mertuanya tidak begitu perduli dengan apa yang terjadi disekitarnya.


Wajah sedihnya dengan mata sembab yang setiap saat selalu mengalirkan air mata, masih saja mempesona. Hal itu tak dapat dipungkiri oleh siapapun, sedangkan Shinta mengakui hal itu.


Hadi tampak berusaha menyuapkan sesuap demi sesuap sarapan itu kemulut Mala, Ibunya. wanita itu mengunyah dengan sangat lamban, seperti mengunyah bahan berduri..


Tenggorokannya terasa sangat sulit sekali untuk menelan makanan tersebut. Sesaat Ia mengalirkan air matanya.


Setelah 3 kali suapan, Ia meminta Hadi menghentikannya. Chandra terus menatapnya tanpa henti.

__ADS_1


"Sesakit itukah kau kehilangannya.? Lalu bagaimana saat aku pergi menghilang saat itu..? Apakah kau juga merasakan hal yang sama saat kehilangannya saat ini..? Atau kau sama sekali tidak merasakan kehilanganku.. " Chandra berguman lirih dalam hatinya.


Mala beranjak dari tempat duduknya, lalu kembali masuk lagi kekamar.


Sesaat dari luar tampak mbak Ratna datang dengan sekeranjang belanjaan.


"Nak Hadi, nanti tolongin Ibu ya ambil belanjaan kepasar pakai mobilnya nak Hadi. Soalnya nanti malam ada acara sedekah buat malam takziah." ucap Mbak Ratna dengan nafas tersengal. Sepertinya Ia sedang sangat lelah.


Hadi datang mengahampiri, dan meeaih keranjang yang penuh belanjaan tersebut.


"Iya Mbak.. Apakah sekarang atau nanti..?" tanya Hadi dengan sopan.


"Kalau bisa sekarang, ya sekarang.." Terang Mbak Ratna.


"Oke, Bu Ratna. Tetapi sepertinya Bu Ratna sarapan dulu deh, ntar sakit kan jadi gak enak Bu. Nanti saya beri vitamin penambah stamina." ujar Hadi dengan tulus.


Mbak Ratna menganggukkan kepalanya, pertanda setuju. Ia ikut sarapan dimeja makan.


Namun sesaat Ia melirik kearaha Chandra yang tak lain adalah mertuanya Hadi. Ia memperhatikan dengan seksama.


"Kamu Chandra anaknya Lili bukan..? Yang dulu tinggal diujung jalan sana..?" ujar Mbak Ratna, sembari mengunyah sarapannya.


Hadi yang mendengar ucapan Mbak Ratna sedikit bingung. "Lho.. Koq Bu Ratna tau Papa mertua saya nama Ibunya Lili..?" tanya Hadi heran.


Mbak Ratnah terkejut. "Wah.. berarti dugaan saya bener dong.. Ternyata kalau sudah jodoh itu tidak dapat dielak ya..? Dulu Chandra tidak jadi berjodoh dengan Mala, ini malah anaknya yang berjodoh.." ungkap Mbak Mala seceplosnya.


Seketika Shinta dan Hadi saling pandang. Terutama Chandra yang merasa kelimpungan dengan ucapan Mbak Ratna yang tiba-tiba saja nyerocos.


Shinta membatu, saat mendengar ucapan Mbak Ratna.


Chandra cuma nyengir saat Mbak Ratna mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


"Maksud Bu Ratna apa ya..? Apakah dahulunya Papa Mertua orang desa ini juga..? Dan memiliki hubungan sesuatu dengan Ibu..?" tanya Hadi penasaran.


"Emm..sayang.. Ayo kita kepasar sekarang.. Nanti keburu siang, para tetangga datang dan gak ada yang mau dikerjakan. "Shinta menyela.


Seketika Hadi menghentikan pertanyaannya. Bersaaman dengan itu, Mbak Ratna juga sudah selesai sarapan. Lalu mereka beranjak pergi kepasar.


Sesaat Chandra bingung harus berbuat apa. Ia clingukan kesana kemari tanpa ada teman ngobrol.

__ADS_1


Saat Itu Ia ingin melihat Kamar sebelah yang tampak tertutup rapat, dan Ia ingin mandi dan juga beristirahat sejenak, namun Ia tidak berani membukanya. akhirnya Ia tiduran disofa, sembari menunggu Hadi dan Shinta pulang dari pasar.


Saat, Mala keluar dari kamarnya. Sepertinya Ia baru saja selesai mandi. Itu tampak dari pakaiannya yang sudah berubah saat dipakainya pagi tadi. Serta aroma sabun yang dipakainya, begitu sangat menyeruak keindra penciumannya.


Mala menggunakan hijab besarnya. Tatapannya masih sendu, penuh raut kesedihan.


Chandra terpana melihat keanggunan wanita yang yang bertathta dihatinya. Tak lekang oleh waktu, terus dan terus mencintainya.


Ia beranjak bangkit, duduk termangu memandang wanita nan ayu rupawan tersebut.


Namun sepertinya Mala tidak menyadari akan kehadirannya. Ia hanya larut dalam kesedihannya, tanpa menghiraukan kehadirannya yang begitu sangat mendamba sapaannya, senyumnya, dan semua yang ada padanya.


Sejak kedatangannya, Tak ada sambutan apapun darinya, meskipun itu hanya sebuah sapaan.


Chandra beranjak bangkit dari duduknya, Ia mengintai Mala yang ternyata menuju kamar yang sedari tadi menjadi perhatiannya.


Sangat lama Ia didalam kamar itu, Entah apa yang sedang dilakukannya disana.


Setelah hampir 30 menit, Mala keluar kembali.


Lalu Chandra mencoba menyapanya. "Hai.. Apakah kamu baik-baik saja.?" ucapnya dengan lirih.


Mala memandang sayu pada pria dihadapannya. Ia hanya tersenyum datar. Tanpa sepatah katapun.


"Apakah aku boleh beristirahat dikamar ini..? Aku sangat lelah.." Tanya Chandra dengan harap.


Seketika Mala menggelengkan kepalanya. "Tidak.. Tidak boleh.. Ini kamar Satria, tidak ada satupun yang boleh memasukinya kecuali aku dan Satria..!" ucapnya sedikit ketus.


Chandra tersentak dengan jawaban Mala. Ia tidak pernah melihat Mala dalam urasan apupun.


Namun kali ini, Ia begitu tampak sangat serius dalam ucapannya.


Chandra menyadari tidak boleh memasuki kamar orang lain. Namun Ia sangat membutuhkan ruangan privasi saat ini. Ia ingin sesak buang air dan membersihkan diri.


Belum sempat Ia mengutarakan keinginannya, tampak Hadi dan yang lainnya sudah pulang dari pasar. Itu semua terdengar dari deru mobil yang berhenti di bagasi mobil yang dirancang oleh Satria. Setiap orang menenteng kantong belanja .


Chandra buru-buru beranjak dari tempatnya. Ia tidak ingin kepergok yang lainnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2