Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Dua Karakter


__ADS_3

Mereka melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Rasa syok yang mereka alami begitu sangat berat.


"Dasar Syetan sialan..!! Bisa-bisanya ngerjain kita.." ujar Chandra dengan kesal. Ia menggerutu akan perlakuan Nini Maru yang sangat berlaku kurang ajar.


Sesekali Chandra merasa mual, jika mengingat peristiwa saat Ia mengunyah mie yang ternyata cacing tanah tersebut.


Setelah menempuh perjalanan cuckup melelahkan. Akhirnya mereka sampai hampir pukul 6 pagi.


Chandra yang kelelahan ternyata tak sanggup.lagi menahan kantuknya. Ia langsung tertidur di dkarpet yang terhampar diruang tengah.


Suasana sudah tampak sepi, para pelayat sudah tidak ada lagi. Hanya Mbak Ratna yang masih setia menemani Mala. Ia sudah meminta izin kepada suaminya, untuk menemani Mala malam ini.


Melihat Hadi datang, Ia menyambutnya dengan sebuah pelukan. Ia sangat tau jika pria itu sangatlah hancur hatinya.


"Ibu mana Bu Ratna..?" ucap Hadi lirih sembari masih tergugu. Mereka tidak lagi menemui jenazah Roni. Karena fardhu kifayahnya telah disegerakan dan diselesaikan.


Hadi memandangi ruangan rumahnya yang kini telah telah berubah 100% Hadi melihat Ibunya tertidur debgan posisi sambil terduduk. Tampak sekali wajahnya yang begitu sangat lelah. Ia tidak berani membangunkannya, karena Ia tahu jika Ibunya pasti sangat membutuhkan waktu istirahat.


Mbak Ratna menghampirinya, lalu membelai lembut pundak Hadi. "Ini adalah takdir hidup yang harus kita jalani. Mau tidak mau, suka atau tidak, kematian itu pasti akan datang, dan kita hanya tinggal menunggu gilirannya saja." ucap Mbak Ratna, mencoba memberikan semangat kepada Hadi.


Lalu Ia melirik kepada Shinta yang tampak kelelahan. "kalian beristirahatlah dahulu.. Kareana pasti sangat melelahkan. Tadi Ibumu berpesan, kamar kamu ada disebelah sana.." ujar Mbak Ragna, sembari menunjukkan kamar untuk Hadi dan Shinta.


lalu keduanya mengangguk, dan berniat hendak beristirahat sejenak.


Mbak Ratna merasa sangat kekah juga. Lalu Ia berniat hendak pulang karena rumah mereka juga tidak cukup jauh. Lalu Ia beranjak pulang kerumahnya.


hari menunjukkan pukul 7 pagi. Mala tersentak dari tidurnya, lalu memandang kesekelilingnya. Ia terperangah saat melihat seorang pria sedang tidur dengan posisi bertelungkup. "Siapa itu..?" Mala merasa penasaran, karena suasana sangat sunyi, bahkan Ia tidak melihat Mbak Ratna lagi.


Mala mencoba menghampirinya, melirik kewajah orang tersebut.


Seketika Ia membulatkan matanya, lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangnnya.

__ADS_1


Ia tidak mempercayai apa yang sedang dilihatnya. "Mengapa Ia ikut kemari.? Berarti Hadintelah sampai, dan sekarang sudah berada dikamar..?" ucap Mala dengan lirih.


Lalu Ia beranjak dari tempatnya, Ia melihat pintu kamar Hadi masih tertutup, Iya yakin Hadi masih beristirahat. Lalu Ia menuju kamar untuk membersihkan dirinya. Ia ingin segera berziarah kemakam Roni.


Mala sudah bersiap-siap hendak pergi, lalu Ia dikejutkan oleh seseorang yang menyapanya.


"Hai.. Aku turut berduka cita atas musibah yang telah menimpamu.." ucap Seseorang, yang tak lain adalah Chandra.


Mala menarik nafasnya dalam, dan menghelanya. "Terimakasih.. Lebih baik berisitirahat sajalah dahulu, pasti sangat lelah melakukan perjalanan jauh.." ucap Mala dengan dingin.


"Rasa lelahku telah hilang, saat melihatmu.." ucap Chandra keceplosan, dan ucapan disaat yang tidak tepat.


Seketika Mala mengernyitkan keningnya, menatap datar pada Chandra.


"emm..bukan begitu maksudku.. Lelahku sudah hilang saat tertidur tadi." ujar Chandra dengan tergagap.


Mala mendengus kesal. Lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat itu..


Hadi dan Shinta datang menghampiri, lalu Hadi memeluk erat Mala. Maka tangis keduanya tak mampu dibendung lagi. Mereka meluapkan semua kesedihannya dengan tangisan yang begitu sangat dalam.


Suara sedu sedan keduanya masih begitu terasa.


Sementara itu, seorang pria berpakaian serba hitam dan menggunakan kacamata hitam, masker dan topi, sedang berada dimakam Roni. Ia membawa seikat bunga yang diletakkan diatas makam Roni.


"Hai teman.. Aku datang mengunjungimu.. Bukankah setiap pagi kau yang mengunjungiku..? Menunugguku di pinggir jalan, lalu kini.. Semua hanyalah sebuah kenangan. Aku datang untuk menyapamu. Semiga kamu tenang disana. Aku berjanji akan mencari cara untuk melepaskan ikatan perjanjianku dengan makhluk sialan itu, dan aku akan membinasakannya. Janji seorang pria kepada temannya harus dipenuhi bukan..? Dan aku akan memenuhinya.." ucap Pria itu. Lalu mengambil sebotol minuman mineral, dan menyiramkannya diatas makam Roni.


Dilain tempat. Mala dan Hadi, juga Shinta dan Chandra sedang menuju kepemakaman. Mereka telah sampai di pintu pagar makam umum tersebut.


Suara derap langkah mereka terdengar oleh pria berpakaian hitam, lalu Ia segera beranjak pergi, bersembunyi dibalik sebuah pohon beringin uang tumbuh dengan sangat kokoh ditengah pemakaman umum itu.


Ia melihat sebuah rombongan yang berjumlah 4 orang sedang menuju kemakam Roni.

__ADS_1


Ia melihat wajah wanita pujaannya dalam raut kesedihan, terpuruk dan dan hancur. Tampak air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.


"Andai dapat kusentuh hatimu..


Aku akan menjagamu dengan sepenuh jiwaku..


Andai dapat kuseka air matamu..


Takkan ada duka lara dihatimu..


Jika lelahmu telah tiba..


Bersandarlah dibahuku..


Aku akan senantiasa membuatmu bahagia.."


Pria bernama Bayu itu, termangu dalam pengintaianya. Tampak olehnya dua bola mata indah milik wanita itu sembab dan begitu sayu. Rasa iba yang begitu besar, membuatnya merasa ingin memberikan sebuah kekuatan yang ingin sampaikan, namun Ia tak mampu untuk melakukannya.


Ya.. Ia hanyalah seorang pengagum rahasia, dalam diam Ia memuja wanitanya, tanpa berani untuk mengungkapkannya, apalagi ini adalah masa berduka bagi wanita itu, dan yang menyakitkan, orang yang telah pergi itu adalah seseorang yang sudah dianggapnya teman barunya.


Bayu mencoba mengingat Pria dewasa yang berada disisi Mala. " bukankah itu Chandra..? Orang yang sering bekerjasama diperusahaan almarhum Pak Bram.? Mengapa Ia bisa berada disini.? Lalu pria yang terlihat suami istri itu apakah anaknya Mala? Yang berarti adiknya Satria.?" Bayu mulai menerka-nerka apa yang kini ada dibenaknya.


Saat itu.. Mala melihat seiikat bunga yang terletak diatas makam Roni. Ia meyakini jika ada seseorang yang baru saja mengunjungi makam suaminya. Itu semua terlihat dari tanah makam yang masih tampak basah, dan baru saja disiram, menggunakan air mineral, dengan bekas botol tersebut, yang tergeletak diatas tanah tak jauh dari makam.


"Siapa yang mengunjungi makam bang Roni..? Pasti ada seseorang yang lebih dahulu kemari.. Tetapi siapa..?" Mala berguman lirih dalam hatinya, mengedarkan pandangannya mencari seseorang, namun tak menemukan jejaknya.


Mala dan Hadi tampak begitu terpukul dengan perginya Roni untuk selamanya. Mereka memanjatkan doa yang begitu tulus, dan memohon ampunan dan kelapangan kubur bagi Roni sang suami, dan sekaligus ayah.


Disisi lain. Chandra tampak begitu senang. itu tergambar dari raut wajahnya yang tampak sumringah.


"Akhirnya kamu meninggal juga.. Sudah lama sekali aku menunggu moment ini.. Dan aku akan mendapatkan kembali lagi Malaku.. Yang dulu pernah kau ambil.." Chandra berguman lirih dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2