Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Simpati atau Kesempatan


__ADS_3

Shinta tercengang mendengar kabar yang dibawa oleh suaminya.


Shinta membelai lembut punggung suaminya. "Bersabarlah sayang.." hanya itu yang keluar dari mulut Shinta. Ia mencoba menenagkann Hadi yang kini tergugu menahan kepedihannya.


"Aku pulang dulu sayang.. Aku harus melihat kondisi Ibu, Ia membutuhkan dukunganku saat ini.." ucap hadi lirih.


"Aku juga ikut Yank.. Aku gak mau ditinggal sendiri.." Jawab Shinta dengan tulus. Ia juga baru kehilangan calon anaknya, maka Ia sangat tau bagaimana perasaan Hadi saat ini.


Namun disisi lain, Shinta juga tidak ingin jika Ia harus sendirian dirumah dan menjadi kesempatan bagi Nini Maru untuk datang mencelakainya.


Hadi melepaskan pelukannya. Menatap sendu pada Shinta istrinya. "Tetapi kondisimu masih sangat lemah sayang." Hadi mencoba mengingatkan Shinta dengan kondisi kehamilannya saat ini yang sangat rentan dengan keguguran.


"Tetapi .."Suara Shinta terhenti, saat melihat Chandar sudah berdiri diambang pintu.


"Papa juga ikut.." jawabnya menyela pembicaraan Hadi dan Shinta.


Kedua insan itu tercengang. Ternyata mereka tidak menyadari, jika Chandra telah mencuri dengar pembicaraan mereka sedari tadi.


Shinta gelagapan. Ia sepertinya tau apa yang kini berada di dalam benak papanya. "Emm..bukankah Papa sedang tidak enak badan?" sergah Shinta dengan cepat.


"Tidak.. Papa sudah mulai baikan.." jawab Chandra cepat.


"Lebih baik Papa dirumah saja, pulihkan dulu kesehatan Papa" Shinta mencoba mencegah.


Hadi merasa bingung dengan kedua orang yang tak lain anak dan Ayah. Ia bingung dengan sikap Shinta yang kukuh mencegah Chandra sang Papa mertuanya untuk ikut melayat.


"Sayang.. Bukankah lebih baik Papa ikut..?" ucap Hafi dengan lembut.


"Tapi.." Shinta mencoba menahan ucapannya, lalu mendengus kesal.


"Kalau begitu apalagi yang kita tunggu, ayo kita bergerak sekarang..!" sela Chandra, seperti tak sabar.


Hadi meminta Shinta agar segera berkemas. Shinta tak memiliki pilihan lain. Ia harus segera berkemas, berdebat dengan Papanya hanya akan membuanga waktu saja.


Shinta telah mengemas pakaian Hadi dan juga dirinya. Saat mereka sampai di lantai dasar. Tampak Chandra sudah bersiap hendak berangkat.


Hal yang membuat Shinta gemas bin kesal, Ialah saat Ia melihat penampilan Chandra yang layaknya orang sedang hendak pergi healing.


Rasanya Shinta pengen mengomel saat ini juga, namun karena memikirkan perasaan Hadi, suaminya.


Shinta hanya dapat mengelus dada melihat Chandra yang sepertinya akan membuat Shinta kerepotan disana nantinya.


"Ayo kita berangkat.." ucap Chandra tak sabar.


Hadi segera beranjak dan sedangkan Shinta tersenyum sinis dan membuang wajahnya kearah lain.


👻👻👻👻👻

__ADS_1


Mereka melakukan perjalanan yang terbilang sangat melelahkan.


Shinta tampak mulai kelelahan. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Hadi. Sedangkan Chandra masih fokus untuk menyetir.


Hari mulai gelap. mereka masih sepertiga perjalanan. Ini semua karena mereka juga mendapatkan kabar itu sekitar pukul 2 siang.


Lalu mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 4 sore.


Perjalanan yang harus mereka tempuh sekitar 9 jam perjalanan. Saat ini mereka memasuki waktu maghrib. Mereka mencari mesjid terdekat untuk beristirahat dan shalat Maghrib.


Saat itu mereka melihat sebuah mesjid dipinggir jalan yang tertutup. Mereka berniat singgah dimesjid itu, dan shalat diterasnya.


Hadi membantu Shinta sampai ketempat wudhu wanita dan menungguinya, memastikan Shinta baik-baik saja.


Setelah menikah dengan Hadi, Ia mulai belajar banyak tentang kewajibannya sebagai muslim.


Setelah selesai melakukan kewajiban, mereka melanjutkan perjalanan.


Selama dalam perjalanan, Shinta melirik ke arah kaca dashboar, jika Papanya tampak tersenyum-tersenyum sendiri sembari menyetir dengan penuh semangat.


Shinta merasakan jika saja mobil itu dapat terbang, mungkin Papanya sudah menerbangkannya.


Dahulu mereka memiliki helikopter pribadi, pemberian Oma-nya Lili, dan pernah digunakan atas perintah Shinta untuk menjemput Mala dan Roni saat Hadi sekarat waktu dihajar Rey.


Namun karena pertengakran kemarin, Oma Lili menyitanya.


Shinta yang terus memperhatikan expresi pria tampan itu, Ingin rasanya Shinta mendamprat Papanya. Ia akan sangat Malu jika Hadi memergoki sikap Papanya yang tak sumringah atas musibah yang tengah dihadapi menantunya.


Shinta mencoba menahan emosinya. Ia membayangkan jika saja disana nanti Papanya membuat ulah, maka Ia akan merasa sangat malu.


Lalu Ia mengalihkan pandangannya kepada Hadi yang duduk bersandar disandaran kursi.


"Yank.. Aku lapar. Kita singgah ya cari makanan.." ucap Shinta sembari mengelus perutnya yang masih tampak datar.


Hadi menjawab dengan anggukan. Bagaimanapun, kesehatan mereka juga harus dijaga. Karena masih ada Mala yang kini menjadi tanggungjawabnya.


"Pa.. Kita cari tempat makan dulu ya.." ucap Shinta berusaha tenang, mwskipun dalam hatinya Ia sangat sebal dengan Papanya.


"Ok.. Sayang.!" jawab Chandra dengan semangat.


Mereka memasuki kawasan perkampungan. Namun belum ada tampak tanda-tanda orang yang menjual makanan disepanjang jalan itu.


Lalu mereka melewati perkebunan karet yang sangat luas. Ditengah sepanjang jalan perkebunan itu tampak sangat sunyi. Pengendara juga tampak sepi yang melintas.


Saat itu, terlihat sebuah cahaya pelita yang berada dikejauhan. Sebuah gerobak penjual makanan tampak disana.


Chandra menepikan mobilnya. "Kita makan disini ya.. Karena perkebunan ini sangat luas, dan nantinya sempat membuat Shinta lapar. Kasihan anak didalam kandungannya." ucap Chandra, dan kali ini ucapannya tampak serius dan sedikit bijak.

__ADS_1


Lalu Hadi dan Shinta menyetujuinya. Meskipun mereka sedikit aneh dengan penjual makanan itu.


Dua buah lampu pelita yang biasa digunakan para pelaut tampak tergantung disudut atas kiri dan kanan gerobaknya.


Pelita itu berguna sebagai penerangan satu-satunya bagi pedagang itu.


Mereka bertiga turun dari mobil, lalu menuju lapak pedagang itu. Mereka duduk dibangku kayu yang terbuat dari satu keping papan.


pedagang itu tampak diam, putih dan pucat seperti kapas.


"Bang.. 3 porsi mie goreng ya.. Pakai telur mata sapi ya.."Hadi memesan pesanannya.


Pedagang itu hanya mengangguk saja, tanpa menjawab apapun.


Ia mulai memasak pesanan Hadi, membuat 3 porsi mie goreng.


Namun Hadi merasa ada kejanggalan pada mereka. Dimana setiap pengendara yang melintasi mereka memandang seperti heran dan bingung.


Pesanan telah selesai dengan sangat cepat.


Lalu pedagang itu menyajikan 3 porsi mie goreng kepada mereka bertiga.


Saat Hadi menyendokkan mie tersebut, dalam temaram cahaya lampu pelita itu, Ia melihat mie goreng tersebut seperti menggeliat dan berjatuhan lagi kepiring.


Hadi terperangah dan tersentak, lalu meleparkan piringnya, dan menyambar sendok yang digunakan Shinta yang sedikit lagi akan masuk kedalam mulutnya.


Shinta terkejut dengan perbuatan Hadi.


Begitu juga dengan Chandra yang sedang menguyah mie goreng tersebut.


"Jangan makan Mie..!! Ini Ilusi." teriak Hadi.


Chandra yang sudah sempat mengunyah mie tersebut segera memuntahkannya.


"hoeeek..hooeek." Karena Ia merasakan mie tersebut seperti hidup didalam mulutnya.


Belum habis keterkejutan mereka, tiba-tiba saja pedagang itu merubah wujud menjadi Nini Maru.yang tertawa cekikikan dan terbang melayang diudara.


Sesaat mereka menyadari, jika mereka tengah duduk diatas rerumputan, tidak ada gerobak dagangan, dan juga tidak ada meja dan bangku kayu. lalu pinggir mereka duduk, terdapat sebuah kanal yang berair cukup deras.


Dengan sigap, Hadi menggendong Shinta dan membawanya masuk kedalam mobil.


Lalu Chandra mengekorinya dari arah belakang sembari terus merasa mual karena sempat mengunyah mie goreng tersebut.


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan dengan rasa lapar.


namun Shinta teringat, dikantong jok mobil, ada sebungkus roti, yang cukup buat mengganjal perut mereka yang keroncongan.

__ADS_1


__ADS_2