Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Perjalanan Ke Hutan Larangan 2


__ADS_3

Satria mengemasi semua perlatan makannya. Lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Kini setelah mendapat asupan karbohidrat, tubuhnya kembali mampu mengantarkan oksigen keotak, dan kondisinya sudah mulai segar.


Satria melangkah dengan tenang, dimana Ia harus membagi konsentrasinya terhadap bahhaya dan serangan apapun.


Kwaaak... kwaaaak... Kwaaak..


Suara burung gagak bermata merah itu terbang diudara mengitarinya. Lalu beberapa saat kemudian, Ia bertengger didahan pohon dan terus memperhatikan Satria.


"Pergilah.. Aku tidak menggagumu, maka jangan menggangguku.." ucap Satria kepada burung gagak tersebut.


Satria melihat jika wujud burung gagak itu sebenarnya adalah sososk perempuan yang sangat mengerikan, Ia pernah menjadi teror bagi Mala, Ibunya dengan masuk kedalam magicom dan terbang kepohon mangga.


"Kau telah lancang memasuki kawasan kekuasaan kami.. Maka kau harus bersiap menghadapi perlawanan dari kami.." jawab burung gagak itu dengan suara parau.


Lalu Ia merubah wujudnya menjadi seorang wanita dengan wujud yang sangat menyeramkan.


Sosok itu menatap penuh amarah dan dendam kepada Satria, Ia tidak rela jika sampai Satria mempelajari ilmu tersebut maka, kehancuran akan datang bagi mereka.


"Aku tidak mengganggu siapapun yang tidak menggangguku, maka pergilah. Jika kau tetap memaksa, maka aku akan menggunakan kekerasan untuk mengusirmu dari menghalangi jalanku." jawab Satria dengan tetap tenang.


"Ciiih..terlalu sombong sekali kau hai keturunan Maulana..! Apakah kau fikir kau dapat melintasi kawasan hutan terlarang dengan mudah..? Tidak..! Itu tidak akan terjadi. Bahaya lain yang lebih besar siap menantimu.!!" hardik Sosok itu dengan cibiran dan amarah.


"Lalu apa maumu sekarang..?? Tanya Satria dengan santai, sembari menurunkan tas ranselnya yang sangat berat.


"Ku peringatkan kepadamu, hentikan niatmu mencari kitab tersebut, jika tidak kau akan mati mengenaskan disini.!" ucap sosok perempuan itu dengan nada ancaman.


Satria tersenyum simpul memandang makhluk didepannya. "Jika aku tetap melanjutkannya, lalu apa yang akakn kau lakukan.?" tanya Satria lagi.


"Bedebah..! Kau menantangku hai anak manusia.. Maka terimalah takdirmu, dimana kau akan terkurung dan terpenjara disini selamanya..!!" ucap makhluk itu sembari menyerang Satria.


Satria menangkis serangan makhluk itu dengan menggunakan golok yang dipegangnya.


Lalu terdengar suara sabetan golok yang mengenai lengan makhluk itu, dan lengan itu putus terjatuh ketanah yang dipenuhi rerumputan.

__ADS_1


Makhluk itu bukannya merasakan sakit, Ia malah tertawa mengejek. Lalu dalam sekejap saja, pergelangan tangan itu menyatu kembali, utuh seperti semula. Ternyata makhluk itu memiliki ajian rawa rontek, dimana ia tidak akan pernah bisa mati meskipun dicincang, maka akan kembali lagi menyatu.


Satria terperangah menghadapi lawannya yang dianggapnya tidak biasa.


Makhluk itu terus menyerangnya, hingga Satria merasa sedikit kewalahan.


"Apa kelemahan dari ilmu ini..? Pasti segala sesuatu ada kelemahannya, kecuali Ia yang Abadi hanya Tuhan pemilik semesta Alam." Sayria berguman lirih.


Tanpa disadari, Satria menyabet leher makhluk mengerikan itu, hingga terpisah dari kepalanya, lalu kepala itu menggelinding ditanah, dan dengan cepat menyatu kembali.


Satria masih merasa bingung dalam menghadapi lawannya yang tak biasa.


Lalu sebuah bisiskan datang memberikan bisikan kepadanya. "Ilmu hitam tersebut berasal dari tanah, maka gantunglah Ia didahan pohon hingga mati, jangan sampai menyentuh tanah.." suara bisiskan itu begitu sangat jelas ditelinganya.


Satria merasa tersentak, Ia tidak mengetahui siapa pengirim pesan itu, namun itu menjadi sebuah jalan untuk menghancurkan musuh yang kini berada dihadapannya.


Satria masih tetap menghindari serangan demi serangan yang dilakukan oleh makhluk tersebut.


Dengan cepat Satria melompat, dan layaknya seseorang yang sedang memanjat tebing Ia memanfaatkan sulur itu memanjat keatas.


Tanpa diduga, makhluk itu mengikuti Satria dan ingin menyerangnya. Ia mengikuti pemuda dengan menggunakan sulur pohon beringin untuk memanjat.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Satria mengikatkan leher makhluk itu menggunakan sulur tersebut.


Makhluk itu meronta-ronta ingin melepaskan dirinya, namun dengan cepat Satria mengikat seluruh tubuh makhluk itu denhan sulur, hingga menyerupai mummy.


Makhluk itu menjerit dan melengking. Suaranya menggema menggetarkan alam hutan terlarang. Ia merutuki Satria yang telah mengetahui kelemahannya.


Dengan cepat Satria turun dari pohon tersebut, dengan cara merosot melalui sulur pohon tersebut.


Satria kembali memunguti barang-barangnya, dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Hari beranjak semakin senja, Satria mencari tempat untuk beristirahat dan ibadah sjalat maghrib. Karena bagaimanapun, Ia harus mendirikan tenda untuk menginap malam ini.

__ADS_1


Setelah mendaptkan lokasi yang Ia rasakan sangat tepat untuk bermalam, maka Satria membuat tenda otomasis yang bisa dilipat dan menggunakan resleting. Sebuah dataran berumput tipis menjadi pilihannya.


Satria mencari sumber air untuk mengambil air minum, namun tak tampak ia menemukannya. persediaan air minumnya kian menipis.


Satria mencoba memakan beberapa biskuit sebagai pengganjal perutnya, lalu meneguk air sedikit saja. Ia harus menemukan sumber air minum sebelum maghrib tiba, karena jika malam hari akan menghalangi pandangan matanya.


Satria merasa cukup dengan ngemilnya, lalu meninggalkan tenda berkemahnya. Satria membawa beberapa botol air minum untuk persediaannya.


Telinganya mempertajam suara kiranya ada gemericik air sebagai sumber air minumnya.


pandangan mata Satria menyapu seluruh alam sekitar, melihat jika ada sungai kecil atau genangan air.


Saat itu, Satria melihat tak jau dari tempatnya berdiri, mengalir sebuah anak sungai yang sangat jernih airnya.


Satria tersenyum bahagia, Ia bergegas menuju kearah anak sungai tersebut.


Namun langkahnya terhenti saat melihat segerombolan singa juga meminum air disana. Satria bersembunyi dibalik rimbunan tumbuhan perdu, lalu mengintai gerombolan hewan tersebut.


"Sial..! Sepertinya malam ini aku harus menginap diatas pohon, ternyata gerombolan singa itu tidak berada jauh dari tempatku mendirikan tenda. Bisa saja mereka menyerangku saat tidur dan mencabik-cabikku.." Satria berguman lirih dalam hatinya.


Setelah gerombolan singa itu pergi menjauh, Satria mencoba mengambil air minum tersebut, setelah merasa cukup, Ia kembali ketenda.


Sesampainya diatas tenda, Satria terperangah saat melihat tendanya sudah acak-acakkan. Seingatnya Ia telah menutup rapat resletingnya. Tampak olehnya segerombolan kera telah mencuri perbekalannya. Mereka tampak seperti begitu sangat senang memakan persediaan makakan Satria.


Pemuda itu hanya terperangah menatap apa yang dilihatnya.


"Ya Rabb.. Cobaan apalagi ini.." Ia tidak tau apakah harus marah atau tersenyum saat melihat gerombolan makhluk nakal itu mengacak isi tenda dan tas ranselnya.


kera-kera itu begitu sangat antusias menyantap makanan yang tak pernah mereka coba sebelumnya.


Sebelum semuanya habis, Satria mengusir para kawanan kera itu dengan mengacunkan goloknya. Seketika para kawanan itu berlari berhamburan saat melihat kehadiran Satria.


Saat satria mengecek kondisi ranselnya, hanya sebungkus biskuit yang mereka sisakan untuknya, selebih mereka bawa kabur saat menghindari amukan Satria barusan. Pemuda itu hanya menepuk jidatnya, dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2