
Rombongan keluarga Satria sudah sampai dihalaman rumah Syafiyah. Dimana keluarga Syafiyah juga sudah menunggu lama menyambut kehadiran mereka.
Semua orang dalam suka cita saat ini, dan tentunya dalam menyambut niat baik kedua belah pihak.
Namun satu sosok yang tampak berwajah datar, tanpa ekspresi, Ia adalah Mirna.
Diantara semua keluarga, Ia tampak tampil berbeda. Ia melepaskan hijabnya, saat akan turun dari mobil, tanpa ada yang menyadari.
Sebagian warga sekitar rumah Sayafiyah berkumpul menyaksikan rombongan keluarga pihak pria yang tampak menaiki mobil-mobil mewah dalam acara lamaran tersebut.
Bagi warga kampung, hal tersebut tentu meruoakqn pemandangan yang menakjubkan, jika anak gadis mereka dilamar oleh keluarga yang memiliki harta melimpah. Meskipun sebenarnya mereka masih bingung dengan status kebenaran Satria adalah anak Mala.
Segala tudingan tentang almarhum mbah Karso dan jejak hitamnya kian tergerus dengan kekayaan yang kini dimiliki oleh keturunannya, masyarakat mulai menghargai Mala dan keluarganya.
Ya.. Harta dapat merubah siapa saja menjadi terhormat.
Diantara para rombongan, para remaja putera, duda bahkan pria beristri, seketika terpana saat melihat Mirna turun dari mobil.
Ia sengaja menyibakkan rambut hitamnya yang tergerai lurus. Berjalan melenggang dengan memamerkan lekuk tubuhnya yang aduhai.
Mirna sengaja berjalan dengan membususngkan dadanya, seolah Ia ingin menjadi sosok wanita yang dipuja dan agungkan.
Mata para Pria yang menyaksikan pesona dari gadis itu tak mampu mengedipkan matanya, mereka seolah tak ingin melewatkan setiap langkah dan gerakan gadis itu, sungguh pesonanya mampu menyihir siapapun juga.
Para istri yang menyadari jika mata para suami mereka tersihir oleh gadis tersebut, dengan segera melayangkan cubitan kerasnya dipinggang atau dilengan para lelakinya. Para istri-istri tersebut tak rela mata suaminya ternoda oleh kecantikan sang gadis.
Apakah Mirna menyadari jika para istri mereka tak menyukainya..? Ya.. Ia menyadari sepenuhnya, karena Ia adalah manusia setengah jin, dan dapat membaca isi hati siapa saja.
Bahkan sebagian dari pria merasakan fantasi liar mereka bangkit seketika, membuat tanpa sadar senjata mereka mengeras dan terasa sesak didalam sangkarnya.
__ADS_1
Hingga saatnya keluarga Satria memasuki rumah Syafiyah. Segala sambutan ramah diberikan dengan begitu indah.
Syafiyah duduk disisi Ayahnya, Amran. Ia sudah berhias dengan riasan yang terkesan natural untuk menyambut keluarga calon suaminya.
Ketika seluruh rombongan sudah duduk ditempat yang disediakan, tak terkecuali Mirna. Ia duduk di sisi Bayu. Entah mengapa, saat pertama melihat pria itu, Ia merasakan hal yang berbeda, seperti mengenal, namun entah dimana.
Lalu proses lamaranpun dimulai, kesepakatan kedua belah pihak telah ditemukan. Meskipun keluarga Syafiyah memintah hantaran dalam jumlah yang fantastis, namun Rakesh datang menyanggupinya. Sehingga tidak ada perdebatan.
Hari pernikahan direncanakan seminggu lagi, dan tak ingin diperlama-lama.
Mala memanggil Syafiyah untuk menghampirinya. Mala menyematkan cincin tersebut ke Jari manis sang calon menantu. Maka acara pertunanganpun telah resmi.
Saat acara penyematan selesai, tanpa sengaja Sayafiya menatap gadis yang duduk disisi Bayu, calon Ayah mertua sambung dari Satria.
Tatapan gadis itu sangat misterius, membuat Syafiyah merasa merinding. "Siapa Dia...? Aku tak pernah melihat sebelumnya." Syafiyah berguman lirih dengan perasaan yang tak nyaman. Namun Ia mengakui jika gadis itu sangatlah mempesona.
Syafiyah kembali duduk disisi ayahnya, Ia terkadang melirik kearah sang gadis misterius yang tampak tanpa ekspresi.
Ketika orang-orang makan hidangannya dengan santai, Mirna mengambil satu potong paha ayam bakar itu dan memakannya dengan sangat lahab.
Syafiyah yang menyaksikkannya tampak bergidik melihat gadis itu dengan cara makan yang tak biasa.
Seorang pemuda yang bernama Anang yang sedari tadi sedang memperhatikan Mirna, tampak meneteskan air liurnya, Ia begitu tak tahan melihat dua bongkahan didada gadis itu. Ia amat penasaran.
"Dimana gadis itu tinggal.? Mengapa baru kali ini aku melihatnya..." rasa sesak di area sensitifnya membuatnya serasa tak mampu menahan gejolak yang menggebu. Andai saja gadis itu berada sendirian, mungkin Ia sudah menerkamnya.
Acara lamaran telah selesai, lalu rombongan itu berpamitan untuk pulang, dan saling bersalaman. Anang yang sedari tadi sudah memperhatikan Mirna, mengambil kesempatan berbaur dengan keluarga dan menghampiri sang gadis.
Dengan sengaja Ia mencolek bokong sang gadis, dengan diiringi kedipan mata nakalnya. Mirna yang membaca isi hati pemuda itu,tersenyum misterius, membuat sang pemuda seperti tersengat aliran listrik dan tak berdaya.
__ADS_1
"Oh... Tuhan. Senyumnya saja mampu merobek hatiku, apalagi jika...." fantasi liar sang pemuda bergelora, tak mampu Ia ungkapkan dengan kata.
Rombongan Satria kembali pulang, mereka membawa kabar gembira untuk Satria. Seminggu lagi akan dilangsungkan pernikahan.
Kabar itu membuat Mirna merasa sangat sedih dan kecewa, namun ada sesuatu yang membuatnya tersenyum entah apa yang sedang direncanakannya.
Hadi tak bisa berlama lagi tinggal dirumah Ibunya, apalagi setelah Rakesh mengembalikan posisinya sebagai presedir perusahaan, maka segala pekerjaan yang tertunda harus diselesaikannya, dan Ia tak dapat lagi menghadiri pesta pernikahan Satria, mungkin Shinta dan Chandra yang akan menghadirinya.
Rakesh dan Ayunda akan ikut bersama Hadi pulang esok, karena mereka akan terbang ke Osaka, Jepang. Dan keduanya juga tak dapat menghadiri pernikahan Satria, namun mereka sudah menyiapkan kado yang sangat istimewa.
Mala mempersilahkan Rakesh dan Ayunda untuk beristirahat dikamar Hadi,sedangkan Hadi untuk sementara waktu dikamar Satria.
Disaat semua orang sedang bercengkrama, Bayu menghilang. Ia pergi kepemakaman, menjenguk makam Roni.
Didepan Makam itu Ia berjongkok, dan memandangi makam tersebut, lalu meletakkan buket bunga lily putih diatasnya. "Hai... Ini hari ke 99 kepergianmu, esok adalah genap ke seratus. Aku sudah memenuhi janjiku, melindungi wanitamu, dan menjaganya." ucapnya lirih, lalu Ia memunajatkan doa kepada Rabb-Nya agar sahabatnya itu ditempatkan ditempat sebaik-baiknya.
Bayu meninggalkan lokasi pemakaman, dan pulang kerumah Mala.
***!**
Mirna termenung didalam kamarnya. Ia melepaskan pakaian gamisnya. Mengambil pakaian daster yang diberikan Mala untuknya. Menyadari Ia menjadi pusat perhatian para pria, sepertinya Ia memiliki sebuah misi terselubung.
Luka dihatinya karena diabaikan pemuda idamannya, membuat Ia menjadi sosok yang sangat misterius. Setiap senyumnya akan memberikan makna dari setiap rencananya.
Mirna keluar dari kamarnya, Ia Ia berniat kekamar mandi, saat itu Ia keluar dari kamarnya, Ia melihat Satria sedang makan dimeja makan.
Melihat pemuda idamannya, Ia tampak tersenyum simpul, lalu berjalan melintasi Satria. Saat jarak mereka begitu dekat, Mirna sengaja menyibakkan rambut panjangnya, hingga mengenai wajah Satria.
Tanpa merasa bersalah Ia segera memasuki kamar mandi, meninggalkan pemuda itu yang tampak gelisah.
__ADS_1
Satria segera mempercepat makannya, lalu segera menghilang dari dapur menuju kamarnya.
"Apa yang dilakukan Mirna..? Mengapa Ia begitu sangat nakal saat ini..? Sebaiknya aku membelikan rumah untuknya, yang terpisah dari rumah ini. Jika Ia terus berada dirumah ini, akan merusak imanku. Bagaimanapun juga aku ini lelaki normal." ucap Satria dengan kalut.