
Suasana malam takziah itu berjalan dengan lancar. Para tetangga datang membantu dan menyelesaikan semua acara dengan tulus..
Setelah acara selesai, tampak seorang pria bersorban datang memasuki rumah. Pria itu masih terlihat tampan dan gagah. Pria itu tak lain adalah Hamdan.
Hadi Menyambutnya dengan sangat senang. Iabtelah menghubungi pria itu berulang kali. Namun karena Ia berada di Mesir dan melanjutjan study, sehingga tak membalas pesannya.
Hadi memeluknya.."Paman.." ucapnya lirih, sembari memeluk Hamdan, dan tak mampu menahan derai air matanya.
" Bersabarlah.. Kita juga sedang menunggu gilirannya.." ucap Hamdan dengan sahaja.
Awal Hadi mengetahui jika Hamdan adalah pamannya, saat itu Roni ayahnya sedang menerima tamu laki-laki yang tak lain adalah Hamdan.
Saat Itu hamdan sedang mengobati tetangga mereka yang terkena santet. Karena Hamdan sudah beberapa kali singgah dirumah Mala. Maka Ia menceritakan sedang mencari adik kandungnya. Lalu Ia menjabarkan asal usul keluarganya. Maka saat itu diketahuilah jika Hamdan adalah kakak kandung dari Ayahnya Roni, yang mana sejak dari umur 6 tahun sudah masuk Pesantren, hingga sampai berkuliah dimesir dengan mendapatkan beasiswa.
Dimana saat kelahiran adiknya Roni, Ia tidak sempat menjenguknya, hanya saat Roni berusia 4 tahun mereka pernah bertemu, setelah itu putus komunikasi. Sampai ayahnya Syekh Maulana meninggal dunia, Ia tidak juga dapat kembali dari negara tersebut, karena terikat kontrak pelajar.
Hingga akhirnya Ia kembali ketanah Air, namun tidak menemukan rumah orang tuanya.
Saat itulah Roni memberitahunya jika Ia adalah anak syekh Maulana yang dibicarakan oleh Hamdan.
Diantara Roni dan Hamdan, sepertinya hanya Hamdan yang mengikuti jejak sang kakek menjadi seorang shaleh. Namun bukan berarti Roni orang jahat, tetapi hanya tidak se zuhud Hamdan.
Chandra yang melihat kehadiran Hamdan, jelas merasa terancam. Karena pada hakikatnya bisa saja Hamdan menggantikan posisi Roni dalam hidup Mala.
Chandra memandang tak senang pada Hamdan. Apalagi tampak Hamdan memiliki kharisma yang begitu menawan. Tentu hal tersebut membuat Chandra merasa semakin tersaingi.
Saat orang-orang sedang sibuk menyambut dan berbincang pada Hamdan. Tiba-tiba saja Shinta merasakan perutnya terasa sakit dan sangat melilit.
Ia sudah mencoba untuk menahannya sedari tadi, namun rasa sakit itu semakin menjadi. wajahnya seketika memucat.
perutnya seakan-akan seperti diputar dan ditusuk ribuan jarum.
__ADS_1
Ia mencoba memanggil Hadi yang sedang bercengkrama dengan Hamdan. Namun suaranya seperti tercekat didalam tenggorokannya.
Seketika Shinta berkeringat dingin. Pandangannya mulai kabur. Lalu Hamdan memandangnya dengan wajah serius. Tanpa memperdulikan yang lain, Hamdan lalu menghampiri Shinta yang membuat orang memandang heran padanya.
Shinta yang saat itu sedang duduk disudut dinding, tiba-tiba menjatuhkan dirinya diatas karpet tebal tersebut. Ia memegangi perutnya yang terasa sakit.
Saat itu, Hadi langsung berlari menghampiri Shinta, begitu juga dengan yang lainnya.
Hadi memangku kepala Shinta, Ia sangat begitu khawatir dan cemas.
"Sayang.. Sayang.. Kamu kenapa..?" tanya Hadi sedikit panik. Ia memeriksa suhu tubuh Shinta dengan menempelkan punggung jemarinya kekening Shinta.
Hadi merasakan suhu tubuh Shinta sedikit tinggi. Nafas Shinta tersengal. Ia terus merintih kesakitan, dan semuanya begitu terasa sangat sakit.
Shinta merasakan ulu hatinya juga terasa bagaikan dipenuhi oleh sesuatu yang menghimpit dan begitu sangat menyesakkan.
Dalam Ilmu kedokteran yang tentu itu hal yang biasa terjadi pada pengidap asam lambung atau gred.
Namun sakit yang dirasakan Shinta saat ini sungguh berbeda.
Ternyata saat ini, Nini Maru sedang berada didalam rahim Shinta. Ia sudah sangat kelaparan, dan tidak lagi memikirkan resiko apapun.
Seketika Hamdan mengambil tindakan, merafalkan doa dengan begitu fokus. Seketika Shinta mengeluarkan suara lengkingan yang sangat mengerikan. Lalu suara itu mereda bersamaan Shinta yang melemah.
Hamdan melihat sekelebat bayangan hitam yang terbang melayang dari ubun-ubun Shinta.
Hamdan mengikuti keluar dimana bayangan itu pergi. Hingga saatnya Ia melihat, jika bayangan itu masuk kedalam rumah seorang pria yang kini sedang berbaring di tepian ranjangnya.
"Siapa pria itu..? Jika Ia pemiliknya, namun mengapa seperti tampak biasa saja.?" Hamdan berguman dalam hatinya.
Sementara itu, Hadi tak henti-hentinya menciumi kening Shinta. Ia sangat begitu khawatir dan trauma saat kehilangan calon janinnya waktu itu.
__ADS_1
Sesaat kemudian Shinta mengerjapkan matanya, memandang kesekelilingnya. Ia melihat orang-orang sedang mengerumuninya.
"Sayang.. Kamu sudah sadar.." ucap Hadi, sembari terus mengecup kening Shinta dan sesekali mendekapnya.
"calon anak Kita yank.." ucapnya lirih.
"Alhamdulillah aman sayang.. Tadi Paman Hamdan yang bantuin.." jawab Hadi dengan perasaan bercampur aduk.
Mala yang sedari tadi diam, lalu mendekati Shinta. Menggenggam jemari tangan menantunya.
"Kamu harus kuat, demi janin yang kamu kandung. " ucap Mala mencoba memberikan kata-kata motivasi, meskipun Ia sendiri sedang sangat kacau.
Shinta memandang Ibu mertuanya. Ia harus terlihat tegar, karena tidak ingin menambah beban fikiran Ibu mertuanya yang saat ini lebih rapuh darinya.
Chandra menjadi kikuk saat berhadapan dengan Hamdan. Orang yang dianggapnya menjadi saingannya, justru telah menyelamatkan Shinta puteri satu-satunya.
Bahkan Ia merasa jika Hamdan dapat membaca isi hatinya.
Namun, rasa gengsi lebih menguasai hatinya. Chandra tidak ingin dianggap sebagai orang yang lemah dan rendah.
Sudah cukup lama Ia memilih hidup sendiri, dan rasa cintanya untuk Mala masih begitu sangat melekat dihatinya. Masa yang telah ditunggu-tunggunya telah tiba. Dan kini Ia tidak ingin ada lagi pesaing yang dapat menghalangi jalannya. Apalagi pesaing itu adalah kakak kandung dari pria yang dulu pernah mengambil Mala dari sisinya.
Saat itu Ia begitu menghargai Syech Maulana karena beliau mengajarkannya ilmu agama dan mengaji. Namun kini, rasa cinta mengubah segalanya. Ia telah dibutakan oleh cinta. Sehingga Ia menjadi seorang pecundang.
Hamdan memperhatikan secara diam-diam segala gerak gerik dari pria yang tak lain adalah mertua dari Hadi, atau tepatnya Besan Mala.
Hamdan sangat begitu menyanyangkan sikap pria itu, yang mana seolah merasa senang akan kematian adiknya, Roni.
Namun Hamdan hanya dapat melungus kesal dalam hati, tanpa harus mebgutarakannya. Biarlah Ia simpan apa yang Ia ketahui, tanpa harus melukai perasaan siapapun.
Disisi lain, Hamdan sangat prihatin melihat kondisi Shinta.
__ADS_1
"Besok carikan daun bidara, agar kita mandikan Shinta dengan air tersebut, agar iblis betina itu tak lagi mampu berbuat jahat kepada janin Shinta." ucap Hamdan mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang saat melihat Shinta terkapar tak berdaya.
"Baik Paman.. akan saya pesan secara online yang berjualan daun bidara untuk perobatan." jawab Hadi dengan tepat.