Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Bermimpi


__ADS_3

Satria berjalan dalam kabut. dari kejauhan, Ia melihat Seorang wanita cantik tengah duduk disebuah bangku kayu, dibawah pohon yang rindang.


Wanita itu tengah mengandung. perutnya terlihat sangat besar. Satria memperkirakan jika usia kehamilan wanita cantik itu sembilan bulan.


wanita cantik itu terlihat tersenyum, memandangi perutnya yang membuncit, sepertinya Ia sangat menantikan kehadiran janin didalam perutnya.


Satria mencoba mendekatinya. namun tiba-tiba, Ia melihat dua orang yang merupakan sepasang suami istri, namun wajahnya tertutup dengan topeng.


kedua orang itu memegangi wanita cantik yang tengah mengandung, lalu datang segumpal bayangan hitam yang masuk kedalam rahim wanita cantik itu, membawa janinnya pergi. diikuti oleh sepasang suami istri yang mencekalnya tadi.


saat itu Satria ingin menolongnya, namun Ia seperti kaku, tak mampu bergerak.


wanita cantik itu menangis dengan pilu, Ia memegangi perutnya yang tiba-tiba mengempis begitu saja.


tangisan wanita itu begitu menyayat hatinya. Ia melangkah mendekati wanita cantik yang malang itu.


ingin rasanya Satria menyeka air matanya yang menangis pilu. namun sepertinya wanita itu tidak menyadari kehadirannya.


Wanita cantik itu melangkah pergi, dengan membawa kepedihan dan isakannya yang masih terdengar ditelinga Satria.


ingin rasanya Ia mengejarnya, namun kakinya terasa kaku tak mampu mengejarnya.


"heiiii..tunggu aku.. jangan tinggalkan aku.. siapa kamu sebenarnya..?" cecar Satria. namun wanita itu tetap melangkah pergi.


Satria tersentak dari tidurnya, Ia bangkit dan duduk bersandar di sandaran ranjangnya. dengan nafas memburu, Ia memikirkan mimpinya, yang terus berulang kali hadir didalam tidurnya.


"siapa wanita cantik itu..? dan apa hubungannya denganku..?"


"mengapa aku seperti mengenalnya..? seperti dekat dengannya?" cecar Satria kepada dirinya sendiri.


Satria memandangi semua fasilitas mewah yang didapatnya dari kedua orangtuanya. namun entah mengapa, Ia seperti orang yang tidak bahagia.


jiwanya seperti kosong, seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.


kasih sayang dan limpahan materi yang diberikan Bram dan Jayanti, tak mampu menggantikan separuh jiwanya yang pergi.


Satria menatap nanar ruangan kamarnya. pertemuannya dengan Hadi siang tadi, membuatnya merasa sesuatu hadir dalam dirinya. sepertinya Ia menyukai pemuda polos itu.


menyukai dalam hal seorang adik dengan kakaknya.


Satria melihat jam didinding menunjukkan pukul 1 dini hari. Ia pergi kekamar mandi, membasuh wajahnya. lalu mengambil wudhu.

__ADS_1


Ia melakukan shalat sunnah dua rakaat dan 1 witir saja. setelah itu berdzikir dengan sangat lama dengan konsentrasi yang tinggi.


hingga tanpa disadarinya, Sukmanya telah berada di alam lain.


Satria melihat sebuah desa yang sangat ramai penduduknya. sepertinya desa itu sudah sedikit mengalami kemajuan. dengan jalanan yang sudah beraspal.


Satria mengedarkan pandangannya keseluruh desa secara perseftik global. hingga Ia melihat seorang wanita cantik yang ditemuinya dalam mimpinya barusan.


Wanita itu kini berhijab, berbeda dengan mimpinya barusan. Ia melihat wanita cantik itu tengah melakukan sahalat malam disepertiga malamnya. Ia seperti bermunajad meminta sesuatu pada Rabbinya.


air mata mengalir dari wanita cantik yang diperkirakan berusia 50 tahunan. namun garis kecantikannya tak jua memudar.


lalu Sukma Satria melihat seorang pria yang juga berusia sama dengan wanita cantik itu tengah tertidur pulas diranjang.


Satria mendengar isakan wanita itu. Ia sedang berdoa dalam hatinya, memohon sesuatu yang sangat diinginkannya.


Sukma Satria mencoba mendekatinya. ingin sekali rasanya Ia memeluk wanita itu. mencari keteduhan dan kenyamanan yang tak pernah dirasakannya.


Seketika, Satria seperti melihat bayangan hitam yang sedang marah dan mengintainya.


bayangan itu sepertinya tak menyukai kehadiran Satria.


Ia tidak pernah membayangkan, jika Ia baru saja memasuki dimensi lain.


"Apa yang terjadi padaku..? mengapa aku mampu menembus alam lain..?" ucapnya dengan seribu pertanyaan yang tak mampu Ia jawab.


****


Satria tengah bersiap hendak kekampus. Ia turun dari lantai dua kamarnya. Ia melihat kedua orangtuanya tengah bersiap untuk sarapan.


"wah..sayang Mama sudah rapi saja.." ucap Jayanti saat Satria sudah duduk disebelahnya. Satri menyalim kedua orantuanya, sembari tersenyum datar.


Ia duduk tepat disebelah sisi Jayanti. lalu menyendok sarapannya. "Sayang..Mama dan Papa hari ini mau ke Osaka, Jepang, ada urusan penting. Kakekmu Reksa, meminta Papa dan Mama untuk segera terbang ke Umeda sekarang juga. " Ucap Jayanti menjelaskan.


Satria hanya menanggapinya dengan anggukan dan senyum datar. Ia seperti orang yang tak bahagia. entah apa yang sedang dicarinya saat ini, untuk mengembalikan jiwanya yang kosong.


Jayanti dapat merasakan, jika anaknya ini sangatlah dingin, jarang sekali bicara. ada perasaan seperti diabaikan. namun, karena Satria dianggap pembawa Hokki dalam hidupnya, Ia mencoba menerimanya.


sesungguhnya Ia sangatlah menyayangi puteranya itu, namun sepertinya Satria begitu dingin padanya.


setelah menyelesaikan sarapannya, Satria berpamitan pergi kekampus, memberikan ciuman kepada Jayanti "Satria pergi kekmpus dulu Ma.. dan hati-hati diperjalanan menuju Umeda. " ucap Satria dengan tenang, lembut dan tanpa ekspresi. lalu menyalim kedua orang tuanya dan beranjak pergi.

__ADS_1


"Pa.. mengapa Satria seperti dingin terhadap kita ya..?" ucap Jayanti pada Bram. Suaminya.


"kan emang dari dulu Ia seperti itu.."


"sudahlah Ma, jangan difikirkan, yang penting kita sudah memiliki keturunan, meski melalui jalan yang salah.


"sebaiknya kita segera berkemas untuk pergi ke Umeda, Jepang. karena akan menandatangi surat serah terima apertemen milik papa." ucap Bram bersemangat.


"ok pa..siaap" ucap Jayanti dengan senyum mengembang.


****


Satria mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ditengah jalan, Ia melihat Hadi yang berada di Halte sedang menunggu angkot.


Satria menepikan mobilnya, menurunkan kaca pintu mobilnya. "masuk.." saat melihat pandangan Hadi kearahnya.


Hadi tersenyum bahagia, Ia dapat bertemu lagi dengan idolanya. Ia dengan sangat senang hati menerima tumpangan dari Satria.


"waah..mobil kakak bagus ya..?" ucap Hadi dengan polosnya. saat Ia berada didalam mobil. Ia memandangi semua detail mobil Satria.


Satria mengendarai mobilnya sembari tersenyum manis melihat ulah Hadi yang begitu polosnya.


"kamu nge-kos dimana Di..?" ucap Satria dengan tenang dan lembut.


"didekat sini kak, biar gak terlalu jauh dari kampus, tetapi dengan harga kos yang terjangkau.


"kamu mau tinggal bersama kakak. dirumah banyak kamar kosong. jika kamu mau, kakak akan ngomong sama Mama." ucap Satria.


"haaah..? beneran kak..? gratiskan kan kak..?" ucap Hadi seenak jidatnya.


Satria menganggukkan kepalanya sembari terkekeh mendengar ucapan Hadi.


untuk pertama kalinya hatinya bisa tertawa lepas. Ia merasa jika Hadi sangatlah polos dan juga baik.


Satria seperti memiliki kemampuan menebak isi hati setiap lawan bicaranya hanya dengan melihat getak-geriknya saja.


bahkan, dengan hanya melihat bentuk mata seseorang, Ia dapat mengetahui seperti apa watak orang tersebut.


"Mau kak..mau...pake banget. kan bisa menghemat pengeluaran ibu dan bapak untuk membayar kos saya setiap bulan" ucap Hadi haru bercampur bahagia.


"ya sudah..nanti sepulang kuliah, kita ambil semua perlengkapanmu dikosan, kamu pindah saja kerumah orangtua kakak.

__ADS_1


__ADS_2