
Sendirian dirumah itu sangatlah tidak enak. biasanya Hadi selalu manja kepada Mala. Meskipun tubuhnya gede, tapi manjannya seperti anak umur 5 tahun. Apalagi Selama ini Ia merasa anak satu-satunya, sehingga Mala begitu memanjakannya. Dari kecil hingga dewasa saat ini, Mala selalu mengistimewakannya.
Malam ini perutnya keroncongan. Setelah magang tadi, Ia belum sempat memasak atau membeli makanan. Cacing-cacing diperutnya sudah bernyanyi ria meminta untuk diisi sesuatu makanan. Hadi mengusap perutnya yang terdengar bunyi kriiiuk...kriuk..
Tok..tok..tok
Suara ketukan pintu dari luar rumah. Hadi beranjak dari bangkitnya. Menuju pintu dan membukanya.
Saat pintu dibuka, tampak Shinta telah berada diambang pintu. Ia tampak cantik malam ini. Meskipun malam - malam biasanya juga cantik, namun malam ink bertambah cantik. Ditangannya Ia menenteng dua buah boks makanan.
"Shinta.. Sama siapa kemari..?" tanya Hadi clingukan mencari seseorang lainny.
"sendiri.." jawabnya lirih, dan juga malu- malu.
"mari masuk.." jawab Hadi, lalu membiarkan pintu itu terbuka. Karena Ia takut akan menjadi fitnah warga nantinya.
Shinta melangkah masuk. Hatinya dag dig dug bagaikan genderang mau perang.
Ia sangat gugup jika berduaan dengan Hadi. Selama magang ini Ia sering bermain kerumah Hadi, Namun, saat Mala ada dirumah. Yetapi kali ini Ia kerumah Hadi dengan sendirinya, dan berdua saja, membuatnya sangat begitu gugup.
"Ini.. Anu..emm.. Aku mau ajak kamu makan malam dirumah ini.." ucap Shinta sembari menyodorkan dua boks makanan itu.
"waaah..kebetualan sekali, saat ini aku memang lagi lapar. Cacing-cacing diperutku jiga sudah bernyanyi ria. Kamu emang baik deh.." ucap Hadi tanpa sungkan.
"haah..?" Shinta terperangah mendengar ucapan Hadi. Dimana pemuda itu tanpa Jaimnya mengucapkan seseuatu.
Hadi pergi kedapur untuk mengambil piring dan sendok beserta teko berisi air putih dan gelasnya.
Shinta tepok jidat, Ia mengira makan malam ini akan romantis seperti khayalannya, meski hanya makan nasi ayam geprek, tetapi Ia merasa ini sudah lebih dari cukup.
Ia meletakkan boksnya diatas meja. Hadi keluar dari dapur membawa peralatan makan dengan kesusahan. Shinta datang membantu, Ia ingin mengambil teko uang dibawa Hadi. Tanpa sengaja Ia menyentuh kulit tangan pemuda itu.
Rasanya seperti tersengat aliran listrik ribuan volt. Wajah Shinta memerah menahan semua itu.namun Ia berpura- pura bersikap biasa saja.
Ia meletakkan teko diatas meja. Lalu Hadi ikut meletakkan piring itu diatas meja yang sama. Shinta mengambil piring itu, lalu menata nasi dalam boks keatas piring. Ia tampak gemetaran. Sentuhan tanpa sengaja tadi membuatnya sangat gugup.
Hadi yang melihatnya, mengernyitkan keningnya. "kamu sakit Shin..? Tanya Hadi dengan khawatir.
Shinta menatap Hadi, wajahnya terlihat pucat. Hadi menempelkan punggung tangannya dikening Shinta, memastikan Shinta baik- baik saja.
Hal itu justru membuat Shinta bertambah panas dingin. Bulir peluh berjatuhan dati keningnya. Wajahnya semakin pucat. " tapi kening kamu tidak panas, hanya sedikit hangat." ucap Hadi bingung.
Lalu menarik tangannya. "kamu merasakan pusing dikepalamu?" tanya Hadi kepada Shinta.
Shinta hanya menggelengkan kepalanya. Hadi bingung dengan gejala sakit apa yang diderita oleh Shinta.
"emm.. Saya tidak sakit koq.. Hanya sedkit lapar.. Mari kita makan." Ajak Shinta lirih, mengalihkan perhatian Shinta. Ia panas dingin bukan karena demam, tapi gak kuat menahan gejolak hatinya yang menderu.
Ia tak dapat menahan lama pandangan mata Hadi yang begitu terasa mengkhawatirkannya.
"oh..kamu lapar ya.. Kenapa gak bilang dari tadi.? Kebetulan aku juga lapar..!" ucap Hadi seenaknya.
"uuhuuuuk.."
Shinta tersedak dengan ucapan Hadi, dikiranya Hadi akan mengerti perasaan dirinya yang kini sedang mabuk kepayang kepada dirinya, ternyata Ia masih memikirkan cacing dalam perutnya.
Sepertinyan Shinta harus ekstra sabar untuk menyentuh hati pemuda ini. Dikatakan blo'on tiadak mungkin, karena Ia memiliki IQ yang sangat tinggi. Mungkin lebih tepatnya tidak peka.
Hadi membantu Shinta mengambilkan air minum. Lalu memberikannya kepada Shinta. Shinta meminumnya hingga habis. Nafasnya tersengal karena menahan tersedaknya tadi juga menahan sikap Hadi yang terlalu polos.
tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu diluar..
"Di.. Hadi.." ucap Mbak Ratna dari luar. Lalu Ia melongok kedalm rumah.
"Iya Bu.." sahut Hadi sembari beranjak dari duduknya. Lalu menghampiri mbak Ratna.
"waaah.. Lagi ada Mbak Shinta juga rupanya.." mbak Ratna melirik Shinta, yang sedang memakan ayam gepreknya.
Shinta nyengir kuda. "mari makan bu.." ucap Shinta menawarkan.
"kenyangin saja mbak Cantik.. Saya kemari mau anterin ini makanan, saya kira Hadi belum makan , karena mbak Mala keluar kota. Tetapi sudah ada yang bawain. " ucap Mbak Ratna menggoda keduanya yang terlihat salah tingkah.
__ADS_1
"Buk Ratna bisa saja." ucap Hadi menyela. Ia menjadi kikuk karean godaan buk Ratna.
"ini Mas Hadi, mie tiaw buatan saya. Dimakan ya.." ucap Mbak Ratna kepada keduanya.
"Iya bu Ratna.. Makasih ya bu.." ucap Hadi tulus.
"iya sama- sama.." jawab Mbak Ratna, sembari beranjak ingin pergi.
"Bu Ratna gak ikut makan bareng kita.?" Hadi menawarkan.
"gak..akh.. Masa saya jadi obat nyamuk orang yang lagi pacaran." celiteh mbak Ratna dengan terkekeh.
"haaah..?!" sahut Hadi dan Shinta bersamaan. Mereka tidak menyangka mbak Ratna akan mebgucapkan kata itu.
Shinta hampir saja tersedak kedua kali, Ia menekan dengan cepat makanannya.
Sebelum pergi mbak Ratna membisikkan kata " jangan lama- lama mas Hadi, ntar sempat disamber orang mbak Shintanya." Mbak Ratna terkekeh sembari ngeloyor pergi.
Hadi menatap kepergian mbak Shinta dengan kikuk. lalu membawa mie tiauw pemberian mbak Shinta.
"jangan didengerin dan dimasukkan kedalam hati ucapan Buk Ratna tadi ya." pinta Hadi kepada Shinta, lalu meketakkan mie tiauw itu ketasa meja.
Hati Shinta nelangsa. Selama ini perhatian Shinta tak membuat Hadi peka padanya. Bukan karena Hadi memiliki gadis idaman lain, karena Ia tau Hadi tidak pernah dekat dengan gadis manapun.
Ucapan mbak Shinta barusan juga tak mampu menyentuh hatinya. Segitu dinginkah Iandalam memahami hati seorang wanita. Sehingga Shinta merasa takut, jika nantinya Ia akan kecewa.
"ini mie Tiauwnya Shin.. Coba deh, masakan bu Ratna enak lho." ucap Hadi sembari mencomot mie tersebut menggunakan sendok garpu.
Shinta melongo melihat Hadi, yang baru saja memakan nasi auam geprek, kini menambah oorsi mie pemberian Mbak Ratna.
"kamu mau..?" ucap Hadi, sembari menyendokkan mie tersebut lalu memberikannya kepada Shinta.
Shinta yang tampak malu- malu menerima suapan dari Hadi, lalu melahabnya. Saat Shinta memakannya dan menelannya. Hadi terlihat cengengesan. Shinta menatap bingung.
"kenapa..? Ada yang lucu ya..?" tanya Shinta penasaran, lalu mengambil air minum untuk melancarkan makanan yang masuk kedalm tenggorokannya.
"bukan.. Tapi sendok ini bekas mulut saya tadi.." ucap Hadi kembali cengengesan.
"ooh.. Kukira apaan, karena kutau itu bekas kamu, makanya aku mau kamu suapin." ucap Shinta bersikap biasa saja.
Shinta bertambah nelangsa. "emm..aku pulang ke kost dulu ya.. dua hari lagi kita selesai magang, dan aku akan kembali ke kota." ucap Shinta. Ia sudah tahu lagi harus berbuat apa untuk menyentuh hati pemuda itu. Ia beranjak bangkit dan melangkah hendak pergi.
"koq buru- buru.." ucap Hadi mencoba menahan Shinta. Lalu mengikuti langkah Shinta.
"Iya. Gak enak juga jika temen yang lain mencariku." jawab Shinta.
"tapi kan mereka..." ucap Hadi menggantung ucapannya, karena Shinta sudah terlebih dahulu membungkam mulut Hadi dengan bibirnya.
Tanpa kata sepatahpun, Shinta berlari meninggalkan Hadi yang masih berdiri mematung. Ia mengendarai mobilnya dan pergi pulang ke kost dengan perasaan yang kacau.
Hadi menatap mobil Shinta yang sudah menghilang dengan perasaan yang bergetar. Perlakuan Shinta barusan tentu mebuatnya terhenyak, karena hal itu baru pertama kalinya Ia rasakan. Dan gadis telah mencurinya kecupan pertamanya dengan sangat cepat.
Hadi mengunci pintu rumahnya, lalu terdudduk di sofa. Ia tidak pernah menduga, jika Shinta seagresif itu. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, lalu memejamkan matanya. Ia mencoba memahami bahasa tubuh gadis itu. Tatapannya yang yang seolah ingin mengatakan sesuatu, namun masih terhahan.
Tetapi Hadi, mengapa tidak pernah memahami semuanya semenjak awal. "apakah Ia menyukaiku.?" Hadi berguman lirih.
Ia teringat saat pertama kali Shinta juga mencuri pelukan pertamanya saat pembebasan penyekapan malam itu.
Cantik.. Ya.. Tentu saja dia gadis yang cantik.
--------♡♡♡♡♡-----
Shinta masuk kekamarnya dengan perasaan kacau. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur dengan kasar.
Ia menyalahkan dirinya sendiri yang telah jatuh cinta pada pemuda lemot seperti Hadi.
Bahkan Ia sampai bersikap konyol melakukan kecupan kepada pemuda itu.
Rere yang merupakan rekan sekamarnya merasa bingung melihat tingkah Shinta. Bukannya tadi waktu pergi Ia tampak bersemangat, tetapi mengapa tiba-tiba pulang dengan wajah kusut.
"kamu kenapa Shin.? Kusut bener tu muka.." goda nya kepada Shinta.
"tau.. Akh..!!" jawab Shinta ketus. Ia merubah posisi tidurnya miring menghadap Rere.
__ADS_1
Rere mencoba mendekati Shinta, Ia melihat jika Shinta sedang dirundung masalah.
"cerita donk.. Kamu ada masalah apa..? Mungkin aku bisa bantu." ucap Rere tulus.
Shinta beranjak bangkit, lalu duduk menghadap Rere.
"Hadi, Re.." ucapnya lirih.. Lalu menghamburkan dirinya kepekukan Rere. hatinya begitu nelangsa mengejar cinta pemuda lemot itu. Ia menumpahkan segala keresahan hatinya pada Rere, Ia berharap mendapatkan solusi yang terbaik.
Rere melepaskan pelukan Shinta, lalu memegang kedua pundak Shinta yang terguncang karena perasaan perih.
"pandang aku Shin.. Dan dengarkan apa yang aku ucapkan." Rere.menatap penuh makna kepada Shinta.
Shinta mencoba menatap mata sahabatnya itu dengan pandangan sayu.
"Hadi itu tampan.. Ya tentu.! Aku juga mengakuinya. Tetapi Ia pemuda yang sulit untuk ditebak isi hatinya. Untuk mengetahui apakah Ia menyimpan rasa untukmu atau tidak, maka kau jangan mengejar. Tetapi sebaliknya. Cobalah dengan cara menghindar. Jika Ia menyukaimu, maka Ia akan mencarimu, dan penasaran denganmu. cobalah bersikap acuh tak acuh padanya, maka kau akan melihat seberapa ada Ia memiliki rasa. Jika tak menemukan reaksi. Maka sebaiknya kau mundur pelan-pelan saja.." Rere memberikan saran kepada Shinta, berharap temannya itu menemukan solusinya.
Tiing...
Satu pesan masuk. Dari satu nama, Hadi.
"Shin.. Kenapa kamu buru-buru pulang.?" isi pesan tersebut.
"gak apa-apa, maafkan aku, masalah yang tadi. Dan lupakan saja, anggap tidak pernah terjadi.." balas Shinta dengan gugup.
"Shint.. Ada yang ingin kukatakan padamu.." tulis Hadi.
Shinta dan Rere saling pandang, mereka berharap-harap cemas tentang apa yang akan dikatakan Hadi. Akankah Hadi menyatakan perasaannya pada Shinta, atau sebaliknya.
"apa..itu..katakan saja?" balas Shinta dengan ketikan jemari yang bergetar dan tak sabar.
"aku mau katakan.. Sendalmu ketinggalan Shint, kamu buru-buru banget tadi perginya." balas Hadi.?
"Haaaah..?!" teriak Shinta dan Rere bersamaan.
Rere terpingkal-pingkal membaca pesan Hadi. Ternyata yang mereka harapkan jauh panggamg dari Api.
"emang sendal kamu ketinggalan dirumahnya? Koq bisa.?" tanya Rere sembari memenggangi perutnya yang keram.
Shinta menghempaskan Handphonenya dikasur, lalu dengan bibir Manyun Ia mendengus kesal. "tadi aku kerumahnya, trus aku refleks cium dia, karena malu ya aku kabur gitu saja. Bahkan aku gak ingat jika sendalku ketinggalan." ucap Shinta.
"ya ampun Shin.. Konyol banget sih kamu." ucap Rere yang masih belum reda tertawanya.
"kamu ya.. Tega bener ledekin temen yang lagi kesel." jawab Shinta , lalu berbaring, dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Ia masih dapat mendengar suara tawa Rere yang seperti tertahan, Ia mencoba mengabaikannya, lalu memejamkan matanya.
---------♡♡♡♡♡------
Esok paginya, Shinta dan Rere berjalan menyusuri koridor puskesmas. Dikejauhan, Ia melihat Hadi sedang menenteng kantong kresek berwarna hitam.
Rere sudah dapat menebak apa isi dari kantong tersebut. "Shin.. Liat tu, Pangeranmu bawain sendal cinderella yang ketinggalan sepasang dirumahnya, bukan sebelah." ledek Rere sembari mencoba menahan tawanya.
Dengan cepat Shinta melayangkan sebuah cubitan gemas dipinggang Rere.
"ooww..Sakit Shint." rengek Rere dengan bibirnya yang juga yampak masih cengengesan. Shinta melepasa
Rasanya Shinta ingin memasukkan wajahnya kedalam lemari kabinet agar tidak melihat Hadi. Ia merasa malu akan perbuatannya tadi malam, yang telah mencuri kecupan pada bibir pemuda lemot itu.
"Shin.. Ini sendalmu, aku bawain.." ucapnya tenang, tak terlihat seperti ada masalah disana.
"oh..iya.. Terimakasih.." ucap Shinta datar.
"sudah dulu ya, aku mau kekantin sama Rere." ucap Shinta, sembari menyeret Rere yang Ia tau pasti masih merasa geli dengan peristiwa ini.
Hadi menatap keduanya dengan sayu. "hati wanita emang sulit ditebak.." ucapnya lirih. Lalu kembali masuk menuju ruangan prakteknya.
Hadi melihat pesan masuk di emailnya. Perusahaan tempatnya bekerja secara online menawarkan kepadanya sebuah gaji fantastis jika Ia mau bergabung denhan mereka. Bahkan akan menduduki posisi penting diperusahaan itu.
Hadi terlonjak membacanya. Lalu, seorang sekretaris perusahaan mengundangnya untuk datang keperusahaan mereka, agar dapat bertatap muka. Selama ini mereka hanya mengetahui Hadi secara online saja, tanpa belum pernah bertemu.
Hadi meminta waktu 2 hari lagi, untuk menyelesaikan magangnya di puskemas ini. Dan Ia akan segera datang kesana.
Pihak perusahaan memberikan kelonggaran waktu untuknya.
__ADS_1
Kini Ia merasakan mendapat semangat baru. Namun tujuan awalnya untuk menjadi dokter kandungan tetaplah menjadi prioritasnya. Jika perusahaan itu mengijinkan pekerjaan online, Ia akan menerimnanya, dimana tidak akan mengganggu pekerjaan utamanya.