Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 99 (Season 2)


__ADS_3

Langit kembali memperlihatkan awan kelabu sepanjang mata memandang. Udara terasa dingin nan sejuk dengan angin berhembus pelan.


Setelah melaksanakan kewajibannya, Alina pun memiliki jadwan untuk mengganti perban. Tidak lama berselang seorang perawat berhijab biru muda masuk seraya menampilkan senyum ramah.


Mereka berbincang-bincang ringan guna menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Namun, Alina sibuk menenangkan Raihan kala melihat luka di kepala sang ibu.


"Jagoan Mamah, ini tidak apa-apa, Sayang. Mamah tidak kesakitan sama sekali." Hibur sang perawat yang ikut andil.


"Benar apa kata Kakak perawat, Mamah sama sekali tidak sakit, Sayang. Berhenti menangis, jagoan Mamah tidak cengeng seperti ini," ujar Alina sambil mengusap air mata Raihan yang tengah duduk di pangkuannya.


"Be-benarkah? Aku tidak ingin melihat Mamah kesakitan," ungkap Raihan sesenggukan.


"Sama sekali tidak. Raihan harus percaya sama Mamah," ujar Alina lagi.


"Jagoan jangan menangis. Jagoan harus menjaga Mamah dengan baik yah, Sayang," lanjut sang perawat lagi.


Raihan pun memandanginya lalu mengangguk pelan. "Raihan akan menjaga, Mamah. Raihan tidak akan membuat Mamah terluka lagi."


"Anak pintar, sekarang perban Mamah sudah diperbaiki. Jaga Mamahnya baik-baik yah, Sayang," ucap perawat itu lagi dengan mengusap puncak kepala Raihan pelan.


"Baik, terima kasih Kakak," jawab Raihan memamerkan deretan gigi-gigi susunya.


"Terima kasih, Sus," kata Alina kemudian.


Perawat itu mengangguk pelan dan tersenyum hangat lalu pergi dari ruang inap tersebut.


Tidak lama berselang pintu ruangan kembali dibuka menampilkan Zara dan Naura datang. Manik bulat Raihan seketika melebar melihat gadis kecil itu tersenyum hangat sembari memanggilnya kakak. Suara cempreng khas anak kecil pun mengalun membuat ia kegirangan.


"Naura." Teriaknya gembira lalu turun dari ranjang.


"Asslamu'alaikum, Sayang," kata Zara sambil menurunkan Naura dari gendongannya.

__ADS_1


Raihan menyalami tangannya dan menjawab salam. "Wa'alaikumsalam. Tante, boleh aku bermain dengan Nuara?"


"Tentu boleh, Tante akan menjaga ibumu," jawab Zara lalu menyerahkan mainan yang dibawanya pada Raihan.


Bocah itu pun menuntun Naura duduk di sofa panjang tidak jauh dari ranjang Alina. Di sana mereka memulai permainan dan masuk ke dalam dunia fantasi anak-anaknya.


Zara meletakan sekeranjang buah di atas nakas samping berankar sambil berkata, "bagaimana keadaanmu, Al?"


"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik," balasnya.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Mau aku kupasin apel?" tawar Zara yang mendapat anggukan dari Alina.


Keduanya pun sama-sama bungkam dan hanya suara buah hati mereka serta televisi mendominasi. Di tengah-tengah acara, breaking news pun datang yang seketika mengejutkan mereka.


"Pemirsa berita kali ini datang dari keluarga pengusaha terpandang, diduga putri tunggal pengusaha AS yaitu YZ telah melakukan penipuan, penelantaran terhadap kembarannya sendiri, dan berbagai kejahatan lainnya. Saat ini YZ sudah diamankan pihak kepolisian setelah pelapor, melaporkannya kepada pihak berwajib," kata sang pembawa acara.


Setelah itu tayangan sosok Yasmin Fauzziyah yang tengah digiring polisi pun muncul. Wajah cantiknya tertutup masker hitam dan mengahalani kamera menggunakan tangannya.


Alina dan Zara tidak menyangka melihat adegan tersebut nyata adanya. Kedua wanita itu terkejut bukan main menyaksikan seorang Yasmin telah tertangkap.


Zara yang masih memandang televisi pun mengangguk skeptis. "Aku rasa begitu."


Hening melanda, Alina dan Zara tidak mengatakan sepatah kata lagi. Lidah mereka kelu menyaksikan berita tersebut.


Polisi pun membeberkan mengenai kejahatan apa saja yang sudah dilakukannya selama ini, termasuk saat bekerjasama dengan seorang dokter dan perawat untuk membawa pasien rawat tanpa prosedur yang berlaku.


Di tengah kepelikan, suara pintu yang digeser seketika mengenyahkan lamunan. Alina dan Zara memandang ke arah yang sama. Dua pria dewasa hadir dengan salah satunya membawa buket bunga mawar merah segar.


Ia berjalan mendekat lalu menyodorkannya pada Alina.


"Bunga cantik ini untukmu. Semoga kamu bisa cepat sembuh," katanya.

__ADS_1


Alina mengulas senyum sekilas dan menerima buket tersebut. "Terima kasih."


"Mas Zaidan? Mas Dimas? Kalian datang ke sini lagi?" tanya Zara memandangi mereka bergantian. Zaidan dan Dimas mengangguk dan tersenyum mengiyakan.


"Oh iya, apa kalian tahu? Yasmin sudah ditangkap, dia-"


"Semalam Tuan Zaidan yang melaporkannya kepada polisi. Kami sudah menemukan bukti mengenai kejahatannya selama ini," jelas Dimas mengundang manik jelaga Alina maupun Zara melebar sempurna.


Dalam diam Alina menggulirkan bola mata memandangi Zaidan yang tengah menggaruk pangkal lehernya kikuk. Ia tidak menyangka jika Dimas akan membeberkan semua yang dilakukannya. Ia pikir akan menjadi rahasia dirinya dan Tuhan saja.


Semalam di saat Zaidan mengurungkan niat untuk masuk ke dalam ruang inap Alina, ia langsung mengatur strategi dengan Dimas. Kedua pria tampan tersebut mengumpulkan bukti-bukti mengenai apa yang selama ini sudah Yasmin Fauzziyah lakukan.


Zaidan tidak menyangka dan menduga jika wanita itu benar-benar licik. Ia sudah membawa kabur kembarannya sendiri yang tengah menjalankan perawatan.


Meskipun Jasmin berhasil mendapatkan donor sumsum tulang belakang dan berhasil melewati masa kritisnya, tetapi Yasmin menyekapnya serta memperlakukannya tidak baik. Aksinya pun dibantu oleh seorang dokter dan perawat tempat di mana Jasmin di rawat di tanah air.


Dokter Samuel merupakan teman masa kecil Yasmin. Ia mengancamnya dengan hubungan gelap yang sang dokter lakukan bersama perawatnya bernama Anggun.


Karena mendapatkan ancaman tersebut dokter itu pun mau tidak mau menerima apa yang Yasmin suruh. Pada malam itu Yasmin, Samuel, dan Anggun bekerjasama membawa kabur Jasmin keluar negeri.


Kini Dokter Samuel pun ikut terseret kasusnya dan mendapatkan teguran keras dari sang istri. Karena rumah sakit yang ia pegang selama ini merupakan milik istri sahnya. Namun, adanya pemberitaan tersebut membuat hubungan mereka pun ikutan hancur.


Saat ini istri dari Dokter Samuel sudah hadir di ruang rawat Alina. Ia tidak menyangka dan menduga setelah mendengar penuturan panjang lebar dari Zaidan serta Dimas, wanita berkedudukan tinggi itu pun datang menemuinya.


"Saya Safira, istri dari Samuel. Saya datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih. Karena Anda sudah membuka kebusukan yang dilakukan mereka. Jika Tuan Zaidan dan Dimas tidak mengatakannya mungkin saya tidak akan pernah tahu apa yang sudah dilakukan suami saya di luar sana. Alina, Anda wanita hebat yang sudah berhasil berjuang untuk menegakan keadilan," tuturnya panjang.


Alina kembali dibuat terkejut atas apa yang dilakukan Zaidan di belakangnya. Ia tidak menyangka jika pria itu sudah menceritakan semua yang dialaminya selama ini.


Wanita berambut sedada itu tersenyum hangat, Alina tahu arti sorot mata yang saat ini tengah memandanginya. Itu adalah tatapan terluka dan kecewa, sama seperti yang ia rasakan waktu itu.


"Tidah mudah memang melihat suami kita mencintai perempuan lain, tetapi sebagai seorang wanita dan istri, kita berhak melepaskan untuk kebaikan kita sendiri. Anda juga wanita hebat mampu berdiri dengan gelombang kuat yang datang menerjang," tuturnya.

__ADS_1


Safira mengangguk memahami apa yang dikatakan Alina. Sebagai sesama wanita korban dari keegoisan seorang pria, mereka mempunyai luka yang sama.


...Bersambung......


__ADS_2