
Terkadang cinta hadir sebagai ujian, datang tidak untuk menetap dan hanya meninggalkan kepedihan. Cobaan memang serumit dan semisterius itu, tetapi di baliknya menyimpan berjuta kebaikan.
Episode kehidupan kadang kali terus berputar, keberadaannya mengundang kejutan tidak terelakan. Bisa berupa tawa kebahagiaan atau malah sebaliknya. Namun, Allah tidak akan pernah salah memberikan sesuatu pada setiap hamba.
Jalinan kasih yang sempat pupus karena adanya kematian entah bagaimana caranya tersambung kembali. Benang merah yang telah terputus terikat lagi bersama sihir datang menerjang.
Kejutan yang didatangkan untuk Azam hari ini begitu menakjubkan. Ia termangu, tidak percaya kala Zara, sang sekertaris memperkenalkannya dengan seseorang.
Jam yang masih menunjukan pukul setengah sepuluh pagi telah membangunkan ia untuk terus terjaga. Ia tidak menyangka melihat sosoknya lagi setelah sekian lama.
"Ya-Yasmin?"
Memanggil nama itu lagi seperti ada kerikil tajam tersekat di tenggorokan. Azam bangkit dari singgasananya menyambut kedatangan mereka.
Zara tersenyum lebar dan berjalan mendekat ke meja sang bos.
"Bos, ini Yasmin Fauziyah. Beliau adalah seorang desainer interior yang baru saja tiba dari luar negeri. Yasmin sudah lama tinggal di sana dan baru kembali ke tanah air," jelas Zara memperkenalkan wanita berusia tiga puluh tujuh tahun.
Yasmin Fauziyah berperawakan standar dengan tinggi badan tidak lebih dari 160 cm itu tersenyum hangat.
Ia mengenakan gamis hitam dipadu blazer kopi susu senada dengan hijab syarinya. Namun, ada perbedaan antara Yasmin mendiang sang istri dan Yasmin sekarang.
Yasmin Fauziyah lebih modis dan memperlihatkan sisi elegannya, di bandingkan almarhummah yang lebih senang mengenakan pakaian sangat feminim.
Orang di hadapannya ini begitu mencolok memperlihatkan kesan wanita mandiri yang sangat kuat. Azam mematung di tempat saat melihat senyumnya yang begitu sama. Bak pinang di belah dua, itulah yang ia pikirkan.
"Ba-bagaimana bisa ada dua orang yang terlihat sangat mirip?" cicitnya yang masih bisa didengar oleh mereka.
__ADS_1
Yasmin maju beberapa langkah di depan Zara kemudian menganggukan kepala singkat dan menatap ke dalam mata cokelat terang Azam.
"Seperti yang sudah Nona Zara katakan tadi, saya Yasmin Fauziyah. Beberapa bulan lalu Anda menghubungi saya via email, dan saya mohon maaf baru bisa datang ke sini sekarang. Terlalu banyak pekerjaan di sana yang tidak bisa saya tinggalkan. Mohon maaf atas keterlambatannya," ungkap Yasmin menjelaskan.
Azam tersadar dan menyadari jika wanita tepat di depan matanya ini adalah sosok yang berbeda. Ia pun mengangguk canggung dan mempersilakan keduanya duduk.
Berada di sekitar orang yang begitu mirip dengan mendiang Yasmin membuat Azam tidak bisa berkonsentrasi.
Berkali-kali ia harus memalingkan pandangan setiap kali Yasmin membalas tatapannya. Zara yang menyadari hal itu mengangkat sebelah sudut bibir secara diam-diam, ada makna tersembunyi di baliknya.
"Sepertinya rencanaku berjalan lancar," benaknya.
...***...
Layaknya tanaman kering di siram air, kesejukan serta harapan kembali tumbuh ke permukaan. Azam tidak menyangka bisa dipertemukan dengan seseorang yang sangat mirip dengan Yasmin.
Wanita yang dulu begitu dicintainya telah hidup lagi dalam sosok berbeda, seakan Allah mengirim orang lain untuk mengembalikan kenangan lama.
"Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan? Aku tidak mungkin menginginkannya lagi, sudah tujuh tahun Yasmin pergi. Tidak mungkin dia mendiang istriku, pasti orang yang berbeda," celoteh Azam seorang diri.
"Bos pasti terkejut, kan? Orang itu sangat mirip dengan mendiang istrimu." Zara kembali masuk ke ruangan tanpa diundang mengejutkannya.
Azam mengangkat kepala memandang lurus ke depan di mana sekertaris yang sudah lama bekerja bersamanya, dulu sempat mengungkapkan perasaan.
Rasa tidak percaya dan bimbang hinggap dalam dada, tetapi ia menyadari jika antara pekerjaan dengan urusan pribadi adalah hal berbeda. Karena itulah Zara masih bekerja di sana dan tetap menjadi sekertarisnya.
Selain kinerjanya yang bagus, Azam juga telah mempercayainya sebagai kaki tangan. Namun, tidak ada yang tahu seperti apa hati manusia.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu menemukan Yasmin Fauziah?" tanya Azam penasaran.
Wanita berambut ikal sebahu itu pun mendudukan diri tepat di depan sang atasan. Bibir merah meronanya merekah saat pandangan mereka saling bertemu, buru-buru Azam memalingkan muka dan bersikap biasa.
"Tidak usah khawatir, Mas. Aku sudah tidak punya perasaan apa pun padamu," ungkap Zara menyadari gerakannya.
Bagai mengorek luka lama, Azam hanya mengulas senyum dan menunggu jawaban Zara atas pertanyaannya tadi.
"Oh, maaf atas kelancangan saya. Kita masih di kantor tidak seharusnya saya lancang," lanjutnya lagi.
"Tidak usah dipikirkan, kita sudah lama berteman. Lakukan apa pun yang membuatmu nyaman ... jadi?" ucap Azam mengingatkan.
Zara mengangguk sekilas dan menatap lekat sosok di hadapannya. Azam masih sama seperti dulu, baik, ramah, dan tidak membeda-bedakan siapa pun. Itulah yang membuat ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sayang perasaannya harus bertepuk sebelah tangan kala ia mengetahui jika Azam sudah menikah dengan Yasmin.
Ia mengurungkan rasa suka itu dan hanya bisa menatap Azam dalam diam. Namun, ia pun mengetahui jika sang atasan sudah menikah kembali. Ia tidak percaya sampai melihat dan mendengar sendiri apa yang sudah terjadi.
Kesempatan untuk bersamanya terbuka lebar, ia menjadi kesal ketika mengetahui jika Alina sosok istri kedua Azam. Ia berusaha membuat mereka berpisah, tetapi caranya tujuh tahun lalu tidak berhasil.
Ia ditolak secara langsung menorehkan luka teramat dalam. Ia pikir sudah tidak ada jalan, sampai satu kesempatan datang dan dirinya mulai merancang kembali kisah yang sempat pupus.
"Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku hanya menginginkanmu saja, Mas. Tidak adakah tempat di hatimu untukku? Kenapa Alina bisa sedangkan aku tidak? Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkanmu," benak Zara seraya terus memandang lurus pada Azam.
"Lima bulan lalu aku bertemu dengan Yasmin di salah satu event. Waktu itu aku sedang berada di luar negeri dan terkejut melihat wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang istrimu. Aku mencoba berkenalan dengannya, kemudian seperti takdir ... ia ternyata berprofesi sebagai desain interior. Saat itu aku berpikir apakah lebih baik jika kalian bertemu? Aku hanya ingin memperlihatkannya saja padamu, Mas," jelasnya kemudian.
Azam termangu, pikirannya kembali gamang. Jantungnya berdegup kencang layaknya kembang api bertaburan di langit malam. Meskipun gelap mendominasi, tetapi ada cahaya menyejukan dari indahnya pijar yang menyala.
__ADS_1
Melihat diamnya Azam, Zara tersenyum penuh arti. Ia tidak berbohong saat mengatakan ingin mempertemukan keduanya. Di balik itu ia menyimpan rencana dan hanya dirinya serta Tuhan saja yang tahu.
"Sampai saatnya nanti tiba, aku yang akan menghapus lukamu. Aku ingin berada di sampingmu dan mengatakan lagi jika ... aku sangat mencintaimu, Mas Azam." Hati itu berkata kala obsesi menjadi sebuah candu yang ingin didapatkan.