Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 223 (Season 3)


__ADS_3

Menjalankan rutinitas sebagai seorang pelajar di tempuh dengan baik oleh Raihan. Setiap hari ia akan pergi ke sekolah di antar ayah sambungnya atau pergi sendiri.


Terkadang sang ayah kandung menjemput kepulangannya dan mereka bisa menikmati makan siang di kediaman Azam.


Begitulah siklus kehidupan yang Raihan jalani selama ini. Sekarang ia sudah duduk di bangku kelas empat sekolah dasar dan memiliki banyak teman.


"Kalau begitu aku masuk dulu, Yah." Raihan menyalami tangan Zaidan di depan gerbang sekolah.


Zaidan mengangguk pelan lalu membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya.


"Belajar yang rajin yah, Sayang. Dengarkan apa kata guru dan jangan berantem dengan teman, juga-"


"Iya Ayah, Raihan tahu. Raihan sudah besar, sekarang kan sudah kelas empat," ucapnya memotong perkataan sang ayah.


Zaidan tersenyum lebar melihat putra sambung memperlihatkan keempat jarinya. Ia mengusak rambut Raihan pelan membuatnya mengerucutkan bibir.


"Ayah, jangan merusak tatanan rambut buatan mamah," keluhnya.


Zaidan tertawa pelan dan kembali merapikannya. "Maaf-maaf sini Ayah rapikan lagi." ia pun berjongkok tepat di depan wajah Raihan membuatnya mengembangkan senyum cerah.


"Selesai," kata Zaidan setelah beberapa saat.


Zaidan mengangkat bola matanya ke atas seolah melihat rambutnya. Ia lalu kembali pada sang ayah dan memberikan kecupan singkat di pipi sebelah kanannya.


"Aku sayang, Ayah," akunya jujur.


"Ayah juga sayang Raihan," balas Zaidan hangat.


Pemandangan tersebut menjadi tontonan menarik bagi pejalan kaki di sana. Mereka ikut tersenyum menyaksikan interaksi ayah dan anak tersebut.


Termasuk anak bertumbuh gempal yang baru saja tiba di sekolah. Ia melihat dengan jelas bagaimana Raihan begitu akrab dengan ayah sambungnya.


"Kenapa dia terlihat senang sekali dengan ayah tiri itu?" gumamnya pelan.


"Fadil? Sedang apa di sini ayo masuk," ajak temannya dari belakang.


"Eh, tunggu bukankah itu Raihan? Dia datang dengan ayahnya yang berbeda lagi? Wah sungguh mengesankan," lanjutnya. Anak bernama Dwi Sofiyan itu pun menggelengkan kepala tidak mengerti.


Fadil dan Dwi berjalan bersama mendekati Raihan. Hingga keberadaan mereka disadari oleh ayah dan anak itu.


"Fadil, Dwi." Panggil Raihan begitu saja.

__ADS_1


Dwi mengangguk sopan pada Zaidan membuatnya tersenyum hangat. Ia pun kembali bangkit menyaksikan ketiga anak laki-laki di depannya dengan seksama.


"Apa mereka teman sekelasnya, Raihan?" benak Zaidan kemudian.


"Wah kamu benar-benar berani yah menunjukkan kedua ayahmu," kata Fadil sengit. "Bahkan kamu terang-terangan mengundang mereka ke acara hari itu."


"Apa maksudmu?" tanya Raihan tidak mengerti.


"Apa kamu tidak malu mempunyai dua orang ayah?" tanya Fadil lagi membuat Zaidan pun terkejut.


"Maaf yah Nak Fadil, tidak baik seorang anak berbicara seperti itu," ucap Zaidan kala melihat name tag di seragamnya.


Fadil menatap sengit pada Zaidan, melihat hal itu Raihan tidak terima. Ia menarik tangan teman sekelasnya masuk ke dalam.


Dwi yang menjadi penengah di antara mereka pun kembali menganggukkan kepala pada Zaidan. Dalam diam pria itu memperhatikan ketiganya.


"Apa Raihan tidak apa-apa?" gumamnya ce,as.


...***...


Raihan menarik Fadil menuju belakang sekolah. Tempat itu jarang di datangi oleh para siswa dan hanya petugas kebersihan saja yang selalu pergi ke sana.


Ia menghempaskan tangan Fadil membuat sang empunya menatap lekat. Raihan pun membalasnya tak kalah sengit.


Fadil menyeringai dan berkacak pinggang. "Aku hanya bertanya, apa kamu tidak malu mempunyai dua orang ayah? Ayah tiri, apa kamu begitu senang mempunyai ayah tiri?"


"Apa masalah bagimu aku mempunyai dua ayah? Kenapa? Apa kamu iri padaku?" tantang Raihan tidak mau kalah.


"Bukankah itu artinya ibumu murahan? Punya dua ayah sekaligus?"


Mendengar kata murahan yang ditujukan pada sang ibu seketika membuat Raihan naik pitam. Ia melepaskan tas sekolahnya dan berjalan cepat ke arah anak tambun itu.


Ia mencengkram kerah kemejanya membuat wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang lumayan dekat.


Dwi yang menjadi orang ketiga di sana pun berusaha melerai perseteruan kedua teman sekelasnya tersebut.


"Hei, sudah hentikan bisa gawat jika ada guru yang lewat. Sudah hentikan!" katanya memperingatkan.


Raihan masih mencengkram kemeja Fadil kuat, tatapan matanya nyalang menusuk ke retina sang lawan. Tanpa gentar Fadil mengangkat sebelah sudut bibir mengejek Raihan.


"Jaga bicaramu, jika tidak ingin aku melakukan hal buruk padamu," kata Raihan, suaranya teredam menahan amarah dalam dada.

__ADS_1


"Lakukan saja, ayo lakukan," tantang Fadil, "kenapa diam saja? Apa kamu takut? Apa kamu takut mengecewakan kedua ayahmu dan membuat ibumu malu?" Fadil pun tertawa kencang mengenyahkan keheningan di sana.


Raihan semakin mencengkram erat pegangannya ingin sekali memberikan pukulan telak di wajah sombong itu. Namun, ia teringat pesan Zaidan tadi untuk tidak bertengkar dengan teman sekelasnya.


"Sudah hentikan, Fadil jangan seperti itu," kata Dwi lagi.


Belum sempat anak berisi itu membalas perkataannya, suara pegawai kebersihan menghentikan cepat.


"Hei apa yang sedang kalian lakukan di sana?" teriak pria dewasa itu.


Fadil seketika menghempaskan tangan Raihan dan buru-buru pergi dari sana. Dwi pun ikut menyusul membiarkan Raihan sendirian.


"Nak, apa yang sedang kalian lakukan barusan?" tanya petugas kebersihan tadi.


Raihan menggeleng pelan dan berjalan mengambil tasnya berada. "Tidak ada, maaf merepotkan," katanya pelan lalu bergegas menuju kelas.


...***...


Sepanjang hari Raihan terus berpikir atas apa yang terjadi tadi pagi. Ia tidak habis pikir akan ada anak yang berbicara seperti itu kepada ibunya.


Raihan tidak bisa menghilangkan kekesalan dalam dada dan mengabaikan makan siangnya. Ia melamun dan melamun sampai tidak menyadari seseorang duduk di sebelah.


"Raihan, kenapa kamu pergi ke lapangan basket? Apa di kelas membosankan?" Suara halus menyapa membuatnya menoleh.


Ia mendapati Cyla tengah tersenyum manis padanya. "Em, begitulah," jawabnya singkat.


"Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya gadis manis itu lagi.


Raihan terdiam, kepalanya menunduk ke bawah melihat kerikil-kerikil kecil berserakan di sekitarnya.


"Apa memiliki dua ayah itu adalah sebuah kesalahan?" tuturnya kemudian.


"Tentu saja tidak. Dari mana asal pikiranmu itu? Justru memiliki dua ayah itu hebat, selagi mereka menyayangi kita sebagai anak kandung sendiri. Namun, jika sebaliknya maka malapetaka yang dihasilkan."


Mendengar penuturan tersebut, Raihan kembali menoleh memandangi wajah seputih susu itu tengah mendongak menatap langit.


Ia menyadari ada makna di balik kata-kata yang dilontarkan teman sekelasnya. Kepala bersurai hitamnya pun mengangguk singkat.


"Em, aku setuju. Karena itu aku bangga memiliki dua ayah di hidupku, mereka bisa memberikan kasih sayang sempurna dnegan caranya sendiri," balasnya lagi.


"Kamu benar, aku juga sangat terharu saat mendengar puisi yang kamu bacakan. Aku mengerti bagaimana perasaanmu mempunyai dua orang ayah dan ibu. Bisa di bilang aku iri padamu," kata Celia menatapnya langsung.

__ADS_1


Raihan terpaku menyaksikan lengkungan bulan sabit di wajah ayunya. Ia pun kembali mengangguk tanpa mengatakan apa pun.


...Bersambung......


__ADS_2