
Satu bulan berlalu sejak kedatangan Yasmin Fauziah kehidupan Azam berubah. Hal tersebut tidak luput dari perhatian Alina yang kerap kali menangkap gerak-gerik mencurigakan. Seperti, ia tidak terlalu memperhatikannya, mengurangi interaksi bersama keluarga, dan lainnya.
Sebagai seorang istri yang sudah hidup selama delapan tahun bersama sang suami, Alina memiliki firasat Azam menyembunyikan sesuatu.
Ia menyadari jika alur kehidupan tidak akan sama selamanya. Bagaikan roda berputar, antara kebahagiaan dan kesengsaraan silih berganti. Waktu selalu memberikan kejutan tak terduga, terkadang kehadirannya bisa membawa kegembiraan atau sebaliknya. Namun, sebagai hamba yang percaya hal tersebut perlu diambil pelajaran, jika Allah tidak mungkin memberikan ujian di batas kemampuan hamba-Nya.
Seperti de javu yang kembali hadir, ketakutan masa lalu datang menerjang. Alina menyadari sikap Azam belakangan ini sama seperti mendiang Yasmin masih ada, tetapi ia tidak tahu sebab musabab hal itu terjadi.
"Apa ada orang ketiga lagi? Ah, tidak-tidak-tidak ... itu pasti tidak mungkin, tapi-" ucapannya terputus saat satu ingatan terpendar di kepala berhijabnya.
"Tapi bagaimana jika memang itu yang terjadi? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku-"
"Mamah." Gumaman Alina terputus kala Aqeela memanggilnya.
"Ah, iya Sayang?" tanyanya berpura-pura.
"Apa yang sedang Mamah pikirkan? Sedari tadi aku lihat Mamah terus bergumam tidak jelas," ucap Aqeela penasaran.
Manik jelaga Alina melebar sempurna, bola matanya bergulir ke sembarang arah menghindari tatapan sang putri. Ia tidak menyadari keberadaannya yang tengah ada di ruang makan. Selesai memasak ia menata makanan di meja dan menunggu kedatangan anggota keluarganya.
Ia terlalu masuk ke dalam lamunan sampai tidak menyadari kehadiran Aqeela. Sekuat tenaga Alina berusaha bersikap tidak terjadi apa-apa, mengingat putri pertamanya sangat peka terhadap kejadian sekitar, terutama keluarganya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mamah hanya berbicara mau beli apa saat belanja nanti, makanan di rumah kita sudah hampir habis," dustanya lalu duduk di hadapan Aqeela.
Gadis berusia delapan tahun itu pun mengangguk pelan dan mulai menikmati sarapan yang disodorkan ibunya.
Alina memandang ke depan mencari dua sosok yang belum kelihatan batang hidungnya.
"Sayang, di mana adik dan ayahmu?" tanyanya kembali pada Aqeela.
"Aku tidak tahu ayah di mana, tapi Raihan baru beres mandi," jawabnya. Alina hanya mengangguk sebagai jawaban dan masih menunggu kehadiran mereka.
Tidak lama berselang keduanya pun datang seraya bergandengan tangan. Bibir ranum Alina melengkung sempurna melihat ayah dan anak itu sangat mirip.
Ia pun beranjak dan mulai menuangkan nasi untuk mereka. Namun, hanya Raihan yang berjalan mendekat, sedangkan Azam mematung beberapa meter.
Alina mengangkat kepala dan bersitatap dengan suaminya. "Kenapa Mas hanya diam saja di sana? Ayo, sarapan."
Azam menggeleng sambil tersenyum. "Aku minta maaf hari ini sudah ada janji dengan seseorang. Kalau begitu aku pergi dulu yah, Assalamu'alaikum," sambarnya cepat lalu melangkahkan kaki dari hadapan mereka.
__ADS_1
Alina termangu, lidahnya kelu dengan bibir terkatup rapat. Netra cokelatnya masih memandangi tempat Azam berdiri, seketika kehampaan menyapa cepat.
"Mamah, kenapa diam saja? Mana sarapan Ihan?" Suara lembut sang putra menyadarkan.
Alina tersentak dan buru-buru menuangkan nasi beserta lauk ke dalam piring.
"Makan yang banyak, yah," titahnya.
Kembali mengulangi kegiatan yang sama, tetapi berbeda rasa begitu kentara akhir-akhir ini. Sudah ketiga kalinya Azam tidak sarapan atau makan malam bersama.
Takut, khawatir, curiga menjadi satu. Ciri-ciri itu mengarah pada seseorang yang sedang mempunyai kegiatan lain.
Intuisi tersebut semakin menguat kala seminggu yang lalu Alina memergoki Azam tengah berada di kamar mendiang Yasmin.
Rasa tidak enak itu terus menerus hinggap sampai sekarang. Namun, Alina berusaha untuk tidak memikirkan terlalu jauh dan membuat keadaan yang sudah baik-baik saja menjadi runyam.
...***...
Restoran bergaya klasik menjadi tujuan Azam pagi ini, setelah memarkirkan kendaraan mewahnya ia bergegas masuk ke dalam.
Senyum terpendar di bibir menawan pria itu ketika pandangannya jatuh pada orang yang tepat. Seorang wanita berhijab hitam sudah duduk di sana seraya memainkan ponsel.
"Maaf, sudah menunggumu lama. Apa kamu sudah memesam makanannya, Yasmin?" tanyanya riang.
Yasmin Fauziah mengangkat kepala lalu menggeleng singkat. "Belum, aku sengaja menunggumu."
Mendengar jawaban tersebut degup jantung Azam tiba-tiba saja meningkat. Darahnya berdesir hebat kala suara yang hampir menyerupai sang mendiang menyapa indera pendengaran.
Ia merasakan jika sekarang sedang bersama istri pertamanya, Yasmin Zakiyyah. Perasaan itu seketika timbul melupakan seseorang yang selama ini bersamanya.
"A-ah, begitukah? Kalau begitu ayo kita pesan makanannya," gugup Azam lalu memanggil pelayan.
Seorang pria pun menghampiri meja mereka dan menyodorkan menu. Yasmin langsung membukanya dan tidak menunggu lama memberikan pesanan pada sang pelayan.
"Saya mau menu sarapan sederhana dengan teh melati hangat."
Untuk kedua kalinya Azam terpaku dan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Jawaban yang diberikan Yasmin membekukan dirinya serta membuat ia memutar ingatan ke beberapa tahun belakang.
"Aku selalu suka makan sarapan sederhana seperti nasi goreng dan teh hangat," lanjut Yasmin memandangi Azam dipungkas senyum manis.
__ADS_1
Hal tersebut semakin membuat pertahanan ayah dua anak itu runtuh. Ia terus menerus tidak menyangka jika kesukaan Yasmin yang tengah duduk di hadapannya sekarang sama persis seperti mendiang istrinya.
"Kalau begitu saya pesan menu yang sama," ucap Azam mengalihkan pembicaraan.
Pelayan itu pun mengulangi pesanan mereka kemudian berlalu. Sepeninggalannya keheningan membuat Azam terus memandangi sosok di depannya.
Yasmin yang terus diperhatikan seperti itu tidak mengerti.
"Apa ada yang salah?" tanyanya penasaran.
"Apa kamu seseorang yang selama ini aku kenal?" Azam malah memberikan pertanyaan.
Yasmin mendengus sambil menoleh ke samping di mana kaca besar memperlihatkan keadaan luar. Ia kemudian membalas tatapan Azam tak kalah serius.
"Jika aku orang yang selama ini Mas kenal ... apa yang akan Mas lakukan?"
Seperti menuang bensin pada api, perkataan Yasmin membangkitkan semangat yang sempat meredup. Sorot mata penuh harap menatapnya lekat, Azam terkejut atas jawaban yang diberikan.
"A-apa kamu tidak sedang bercanda?" gugupnya.
Beberapa saat Yasmin terus diam mengundang rasa penasaran dan takut. Sampai tidak lama kemudian suara tawa renyah menendang kesadaran.
Yasmin menyeka sudut matanya yang berair. "Mas ... Mas, lucu sekali. Masa iya aku orang yang Mas kenal. Kita baru berkenalan satu bulan yang lalu, Mas mudah sekali ditipu."
"A-ah, iya kamu benar. Mana mungkin sebelumnya kita saling mengenal," balas Azam lesu, pandangannya jatuh ke bawah kehilangan minat.
Yasmin yang mengerti perubahannya merasa bersalah. Ia menghentikan tawa dan memperhatikan pria yang saat ini menjadi rekan kerjanya.
"Aku minta maaf, karena sudah membuat Mas merasa tidak nyaman. Aku-"
"Aku merindukan mendiang istriku. Dia sama sepertimu, namanya, wajah, suara, sampai kesukaan ... sama persisi. Entah bagaimana aku bisa melihatmu sama sepertinya. Aku minta maaf," sambar Azam cepat.
Kini giliran Yasmin mematung, dirinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Mendiang istri? Bukankah istri Mas masih hidup? Sshh, namanya siapa? Em, Alina?" ungkapnya serya mengingat-ingat pertemuan pertamanya dengan Azam.
Waktu itu Azam menceritakan jika dirinya sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Namun, ia tidak memberitahukan mengenai Yasmin.
"Sebenarnya, Alina istri keduaku. Delapan tahun lalu istri pertamaku meninggal akibat leukimia. Dulu aku sangat mencintainya, dulu dan sekarang-" ucapannya pun terputus.
__ADS_1
Yasmin diam-diam terus memperhatikan Azam, sudut bibirnya perlahan terangkat. Entah apa yang tengah ia pikirkan, tetapi kedua tangannya saling mengepal.