Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 110 (Season 2)


__ADS_3

"APA?"


Tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Zaidan tadi malam, kini Alina tidak percaya jika sahabatnya sudah menolak pernyataan Dimas.


Zara meletakan jari telunjuk tepat di depan bibir ranumnya, "syut, kamu bisa membangunkan anak-anak."


Alina yang beranjak dari duduk pun kembali menjatuhkan diri di atas sofa. Ia memandang lekat sang sahabat yang menunduk menghindarinya.


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu benar-benar melepaskan pria baik seperti mas Dimas? Kamu sendiri yang selalu mengatakan padaku untuk memikirkan lamaran mas Zaidan. Karena dia pria baik yang bisa membahagiakanku dan Raihan, tetapi sekarang-" Alina menjeda ucapannya saat melihat tubuh kecil Zara bergetar.


Ia terkejut bukan main dan seketika langsung berjalan menghampirnya. "Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?"


Alina menggenggam kedua tangan sahabat yang sudah dianggapnya saudarai. Zara menggeleng pelan dan sekilas memandang ke arahnya.


"Tidak mungkin tidak ada apa-apa jika kamu sampai menangis seperti ini. Apa ada seseorang yang menyakitimu dan melarangmu untuk bersama dia?" tanya Alina menggebu.


Lagi dan lagi Zara menggeleng. "Lalu apa?" Alina sudah hilang kesabaran.


"Aku hanya tidak ingin membuat mas Dimas kecewa. Karena ... dulu mas Arfan setelah menyiksaku habis-habisan dia berkata tidak akan ada pria yang mau menikahimu lagi. Wanita sepertimu tidak pantas dimiliki oleh siapa pun. Kamu tidak berguna dan hanya menjadi beban, jika ada pria yang menyukaimu, aku yakin dia adalah pria bodoh dan akan mendapatkan kesialan. Karena aku sangat sial sudah menikah denganmu, dasar wanita murahan. Wanita pembawa sial. Aku takut Alina, aku tidak ingin mas Dimas terkena kesialanku ... aku takut. Maka dari itu, aku tidak bisa menerimanya." Zara terus mengoceh seraya air mata mengalir kembali.


Alina pun langsung memeluknya erat mengusap punggung sahabatnya pelan. Ia tidak menduga jika mantan suami Zara bisa mengatakan perkataan seperti itu. Begitu berat masa lalu yang harus dilaluinya.


Kekerasan rumah tangga memang tidak mudah untuk dimaafkan ditambah dengan kata-kata menyakitkan menanamkan ketakutan pada diri Zara. Alina bisa mengerti bagaimana luka tumbuh di dalam hatinya.


"Aku wanita sial, Alina. Aku wanita yang sangat sial. Aku tidak pantas di cintai oleh siapa pun. Aku wanita yang buruk."


Alina tidak bisa menahan air matanya lagi. ia menangis dalam diam merasakan luka teramat dalam di sanubari keluarganya.

__ADS_1


"Tidak Zara, kamu bukan wanita seperti itu. Kamu wanita yang sangat baik ... kamu juga sudah membuktikannya, bukan? Sekarang kamu berhijab dan memutuskan untuk tidak melakukan hal seperti dulu lagi. Kamu juga sudah mengakui kesalahan dan bertaubat setelahnya. Kamu bukan seperti wanita yang dikatakan mas Arfan, Zara," kata Alina mencoba menenangkan.


Zara masih terisak di balik punggungnya dan tidak menyadari jika sedari tadi dua orang pria dewasa mendengar dan melihat apa yang terjadi. Mereka tidak percaya atas apa yang sudah dilalui wanita itu selama ini.


Keduanya masuk saat mendapatkan kunci cadangan dari Moana. Semalam Alina sengaja memberikannya untuk memudahkan Moana datang ke kediamannya.


Namun, kunci itu digunakan oleh sang anak dan pengawal setianya. Mereka mematung tidak percaya saat mendapati berita tidak mengenakan tersebut.


"Bagiku ... kamu bukanlah bentuk kesialan. Justru kehadiranmu di dalam hidupku memberikan warna berbeda. Hitam yang selalu dilihat perlahan memberikan warna-warni saat aku melihat keberadaanmu. Zara, bagiku kamu adalah sebuah keberuntungan."


Kata-kata hangat menembus sanurabi membentuk melodi haru mengejutkan keduanya. Alina dan Zara melepaskan pelukan lalu menoleh ke arah pintu masuk.


Mereka terperanjat dan langsung beranjak dari tempatnya semula. Manik Zara maupun Alina melebar menyaksikan kedatangan mereka.


"Ma-Mas Dimas? Mas Zaidan?" gugup Alina.


Dimas berjalan beberapa langkah ke depan dan memandangi Zara yang menunduk dalam. Alina yang melihat tersebut bergeser ke samping memberikan akses pada mereka.


"Aku minta maaf sudah mendengar perkataanmu tadi, tetapi ... sekarang aku tahu alasan kamu menolakku. Zara ... aku ingin mengatakan sekali lagi apa yang ada di dalam hati ini sekarang."


Zara terdiam, Alina dan Zaidan menjadi saksi atas pengakuan yang hendak dilakukan Dimas. Keduanya tidak sabar mendengaran semua pengakuan pria berkacamata tersebut.


"Setiap insan yang lahir ke dunia tidak ada yang membawa kesialan. Keberadaannya bahkan mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Aku yang tidak tahu apa itu cinta dan kesenangan di baliknya hanya terpaku pada pekerjaan."


"Sedari kecil aku dituntut untuk menjadi pria yang bisa menguasai berbagai bidang seni bela diri. Ayahku berkata seorang pria harus kuat untuk melindungi wanita yang dicintainya. Namun, waktu itu aku tidak mengerti apa yang diucapkannya dan ... aku berusaha menjadi lebih kuat untuk bisa melindungi Tuan Muda."


"Semua waktu yang aku habiskan dari masa remaja sampai sekarang hanyalah untuk pekerjaan semata. Namun, setelah bertemu denganmu aku menyadari jika ... cinta itu nyata adanya."

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu, Zara. Bisakah kamu menjadi pendampingku? Istri dan ibu dari anak-anakku kelak? Aku juga sudah sangat menyayangi Naura layaknya anak sendiri. Gadis kecil itu membukakan mata hatiku jika keberadaan seseorang sangat penting dalam kehidupan." Di pungkas dengan senyum lembut Dimas mengutarakan semua yang mengendap dalam dada.


Zaidan tidak menyangka jika rekan, sahabat, sekaligus pengawal, sekertaris, dan orang kepercayaannya bisa menyatakan cinta tepat di depan matanya. Ia tersenyum haru dan mengusap liqud bening di ujung mata mendengar kesungguhan Dimas.


"Zara, aku tidak bermaksud untuk membuat Dimas terlihat lebih baik. Karena dia adalah orang terbaikku, tetapi selama kami tubuh bersama ... dia tidak pernah berbuat macam-macam. Baru kali ini aku melihat dia begitu menginginkan seseorang. Perasaannya padamu begitu tulus," lanjut Zaidan menambahkan.


Dimas mengulas senyum simpul mendengar penuturan sang tuan. Ia lalu mengepalkan tangan kuat menahan gejolak emosi yang kian membuncah.


Zara masih diam dan menundukan kepala dalam. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengar pernyataan yang terlampau manis tersebut. Ini juga pertama kali bagi Zara bisa diperjuangkan sebegitunya oleh seseorang.


Tidak lama berselang suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Kedua kaki Zara diterjang kuat dengan pelukan hangat sang buah hati.


Kepala bersurai hitam legam sedadanya mendongak, bibir merah muda itu melebar memperlihatkan gigi putihnya.


"Naura ... ingin yang terbaik untuk Mamah." Kata-kata itu mengingatkan ia pada Raihan. Ia yakin jika setiap anak menginginkan yang terbaik untuk orang tuanya.


"Bismillah, dengan izin Allah ... aku ingin melamarmu Zara," lanjut Dimas yang menarik atensi Zara.


Wanita berhijab abu itu pada akhirnya mendongak menyaksikan sendiri keseriusan dari sorot matanya. Ia tidak bisa menahan kesedihan dan kembali menangis haru.


Alina yang berada di sampingnya langsung menggandeng lengan Zara kuat dan mengusap punggungnya pelan.


"Dia melamarmu ... apa yang akan kamu berikan sebagai jawabannya?" bisik Alina.


Zara memandanginya sekilas dan Dimas bergantian. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kepala berhijabnya mengangguk pelan membuat manik ketiga orang dewasa di sana melebar sempurna.


"MasyaAllah, kamu juga berhak bahagia, Zara." Alina memeluknya erat dan ikut merasakan kebahagiaannya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2