
Kesenjangan yang terjadi di antara keduanya begitu nyata dalam pandangan. Hal tersebut pula membuat diri Alina tidak percaya mengenai fakta datang menerjang.
Di tengah kemelut yang terjadi, kembali siluet senja hadir menemani deburan ombak terus menerjang. Sang raja siang perlahan turun hendak bersembunyi ke peraduan.
Keheningan masih tercipta membayangi pertemuan pertama Alina bersama orang tua Zaidan. Perkataan sang kepala keluarga tersebut terngiang dalam pendengaran.
Lidahnya kelu, kata-kata tercekat di tenggorokan dengam bibir ranum terkatup rapat. Retinanya melebar tanpa bisa berbuat apa-apa.
Zaidan memahami kondisinya dan buru-buru melanjutkan apa yang dikatakan sang ayah.
"Alina, apa yang katakan Ayahku tadi benar adanya. Sekarang aku datang ke sini membawa Ayah dan Ibu ingin mengkhitbahmu sebagai istriku. Selama ini aku berusaha untuk mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi ... selama itu pula aku mencoba untuk melupakanmu dan melepaskan perasaan ini."
"Kamu tahu ... semakin aku mencoba melepaskan dan melupakan, maka ... semakin kuat pula perasaan itu."
"Aku sering melakukan salat istiqarah meminta yang terbaik pada Allah ... lagi dan lagi Allah selalu memberikan petunjuk yang mengarah padamu." Zaidan mengulas senyum lembut menyaksikan reaksi Alina yang masih diam sambil menunduk.
Ia pun kembali melanjutkan, "Aku sadar jika mencintai makhluk tanpa mendasar pada Allah, itu tidaklah benar. Maka dari itu aku mencari ilmunya dan Alhamdulillah keyakinan itu semakin membuatku untuk ... menjadikanmu istriku." Penjelasan Zaidan bagikan bunga mekar setelah layu.
Layaknya ada kupu-kupu beterbangan di perut, seperti pelangi muncul setelah hilangnya hujan badai. Namun, semua itu sirna saat kenyataan menerjang secepat kilat menyambar.
Alina menggenggam nampan di atas pangkuan erat. Bulan sabit sempurna terbit menghalau kegelisahan yang sempat datang.
"Saya senang mendengar semua yang Anda katakan, tetapi .... masa iddah saya belum selesai. Juga, saya seorang single parent dan harus fokus membesarkan anak. Untuk menikah lagi ... sepertinya sangat jauh dari jangkauan serta harapan saya sekarang. Terlebih Anda orang terpandang dan mempunyai kedudukan tinggi, alangkah tidak baik jika wanita seperti saya-"
"Alina," potong Moana cepat lalu beranjak dari duduk dan beralih ke samping Alina.
Hal tersebut membuat ketiga orang di sana terkejut. Apalagi pada saat Moana menggenggam tangan Alina.
Seketika rasa hangat yang berasal dari tangan lembut seorang ibu menyebar ke dalam sanubari. Sudah lama sekali sejak Alina merasakan perasaan tersebut dari ibu panti dan sekarang mendapatkannya lagi.
Orang tua Azam yang sempat menjadi mertuanya pun tidak begitu memperhatikan. Karena kesibukan mereka yang selalu berada di luar negeri.
__ADS_1
"Sayang, kami tidak pernah mempermasalahkan status maupun derajat seseorang. Memang, selama ini Mamah dan Papah menginginkan seseorang yang sama agar Zaidan tidak merasakan perbedaan. Namun, saat melihatmu sekarang Mamah hanya ingin yang terbaik untuk Zaidan."
"Dia memang anak yang sedikit manja, terkadang keras juga, tetapi ... jika sudah menyayangi seseorang ia akan sangat serius. Perasaannya padamu nyata adanya."
"Ini pertama kalinya Mamah melihat Zaidan berubah, karena seseorang. Keberadaanmu sangat berarti baginya dan juga Mamah. Apa pun yang dikatakan Zaidan, Mamah yakin itu pengaruh darimu. Jadi, Mamah harap kamu bisa mempertimbangkan lamaran kami," tutur Moana panjang lebar.
Alina terpaku, kata-kata seorang ibu mengalun layaknya musik merdu. Simfoni hangat menelisik ke relung hati mengeluarkan embun merembes di manik bulannya.
Ia melihat tangan yang tengah digenggam Moana. Begitu hangat nan lembut, membuatnya terharu.
"Apa ini rasanya digenggam oleh seorang ibu?" benaknya tidak bisa berkata-kata.
"Aku akan menunggu sampai masa iddahmu selesai, Alina," lanjut Zaidan kembali.
Air mata menitik membasahi pipi yang lembab. Alina sangat terharu mendapatkan perlakuan hangat dari orang yang baru saja ditemuinya.
"Kehidupan memang terkadang tidak seperi yang kita bayangkan. Kadang mendatangkan luka teramat perih dan meninggalkan luka menganga, bahkan mungkin ... trauma. Namun, yang harus kamu tahu jika kehidupan juga tidak semenyeramkan itu. Karena Allah sudah menyiapkan yang terbaik untukmu."
Alina semakin terisak sampai tubuh kecilnya bergetar. Ia benar-benar tidak menyangka bisa dipertemukan dengan seseorang yang sungguh luar biasa.
Orang tua Zaidan mengatakan pada dirinya sendiri Papah dan Mamah, seolah sudah menerima Alina sebagai bagian dari hidupnya.
Moana pun langsung mendekapnya hangat dan memberikan usapan lembut di punggung tangannya.
"Menangislah, Sayang. Kamu harus membiarkan perasaan sesak itu keluar," bisik Moana tepat di telinganya.
Alina mengangguk pelan serya berkata lirih, "Terima kasih." Hanya itu yang bisa diungkapkannya.
"Pikirkanlah lagi, kesungguhan seorang pria tidak datang dua kali. Mungkin ini balasan atas semua kesabaran yang kamu lakukan," kata Moana lagi.
Alina diam tidak mengatakan apa pun. Debaran jantungnya terus berpacu cepat mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
__ADS_1
Zaidan memandangi dua wanita berharganya dalam diam. Ia tersenyum hangat lalu memandangi sang ayah yang mengangguk singkat.
Dari arah kasir, Zara mengusap lembut liqid bening meluncur di pipinya. Ia begitu terharu saat melihat adegan nyata tepat di depan mata kepalanya sendiri. Ia senang menyaksikan sahabat sekaligus keluarganya dilamar pria yang sangat luar biasa.
"Aku harap kamu bisa menerima dia dan hidup bahagia bersama. Aku yakin mas Zaidan mampu membahagiankanmu, Al," cicit Zara.
"Aamiin." Suara di sebelah seketika mengejutkan.
Zara menoleh ke samping dan terkejut melihat Dimas tengah membetulkan letak kacamata. Kedua alis tegasnya menaut dalam memandangi pria itu lekat.
"Sejak kapan Mas Dimas ada di sini?" tanya Zara penasaran.
"Sejak mereka berbicara," balasnya singkat.
"Apa? Em, aku tidak sadar ada orang lain di sini."
"Maka perhatikan seseorang yang ada di depanmu sekarang."
Pernyataan tersebut membuat Zara terpaku. Ia mematung di tempat menelisik ke retina lawan bicaranya.
Sorot mata hangat nan mendalam memandanginya lekat. Zara melepaskan kontak mata lalu menunduk menghindarinya.
"Mungkin bisa dibilang ini semua kebetulan, tetapi menurutku tidak ada yang serba kebetulan. Karena apa pun yang terjadi dalam hidup sudah menjadi bagian dari rencana-Nya."
"Aku ... mencintaimu, Zara," aku Dimas menglirkan rona merah ke wajah putihnya.
Zara mengangkat kepala berhijabnya lagi dan memandangi sosok pria itu sekilas. Seulas senyum terpendar di wajah tampan Dimas.
Ini pertama kalinya Zara mendapatkan pernyataan cinta yang begitu tulus. Karena selama ia hidup hanya ada kepalsuan yang setiap kali pria layangkan.
Cinta tulus tidak pernah ia dapatkan. Selama ini ia membuka hati untuk menjalin hubungan, semua pria yang pernah dikencaninya selalu memanfaatkan. Sampai ia dijodohkan dan mengalami kekerasan rumah tangga.
__ADS_1
...Bersambung......