
Kejadian mengerikan yang terjadi kemarin memberikan pembelajaran berharga. Perpecahan tidak selamanya mengundang air mata, terkadang mendatangkan kebahagiaan dalam bentuk lain.
Meskipun pada awalnya tidak mudah untuk dilalui, tetapi percayalah Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya larut dalam kesedihan.
La tahzan innallaha ma'ana "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Q.S. At-Taubah: 40)
Masa lalu memang tidak akan pernah bisa dihapuskan, tetapi menjadikannya lebih baik itu sebuah keharusan. Masa depan tidak ada yang tahu dan kedatangannya menjadi sebuah misteri.
Sama seperti perjalanan hidup seseorang, baik dan buruk sudah menjadi kisah yang telah Allah tuliskan. Air mata pasti tidak pernah luput dari kehidupan setiap insan. Entah itu air mata kesedihan ataupun kebahagiaan, semua ada bagiannya sendiri.
Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan pagi, Raihan yang baru saja selesai membasuh tubuh kecilnya dan sedang berpakain di bantu sang ayah mendapatkan kegembiraan lain.
Sudah lama rasanya ia tidak mendapatkan perlakuan hangat dari ayahnya sendiri. Senyum pun sedari tadi terus mengembang di celah bibir kemerahannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hm? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Azam sembari membantunya memakai celana.
Raihan terkekeh pelan, "Raihan hanya merasa sangat senang."
Azam menuatkan kedua alis dalam, "Apa yang membuat Raihan begitu senang sampai-sampai senyum sendiri seperti itu?" Ia lalu menyentil dahi sang putra pelan.
"Karena di sini ada Ayah," balasan Raihan seketika membuat Azam menyunggingkan senyum lebar.
Ia mendaratkan ciuman dalam di puncak kepalanya. "Sudah menjadi tugas Ayah untuk berada di sisimu, Sayang ... kapan pun kamu membutuhkan, Ayah akan selalu ada."
Raihan hanya mengangguk semangat. Mereka pun menikmati sarapan bersama dan berbagi cerita seputar dunia anak-anak.
Di tengah kehangatan yang mendera, pintu ruang inap di buka. Seorang wanita berhijab hitam menyembul membuat lengkungan bulan sabit mengembang di wajah tampan Raihan.
"Mamah? Mamah datang juga?" ujarnya ceria.
Alina yang baru masuk seraya menenteng sekeranjang buah pun mengangguk semangat dan bergegas mendakat.
"Assalamu'alaikum jagoannya Mamah. Bagaimana keadaanmu hari ini, hm?" tanyanya lalu membubuhkan kecupan di dahi sang putra.
"Wa'alaikumsalam," balas Raihan dan Azam bersamaan.
"Raihan sudah merasa sangat baik. Kata Om Dokter, Raihan sudah bisa pulang nanti sore," jawabnya seraya mendongak menatap manik jelaga ibunya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mamah senang mendengarnya," kata Alina lagi kemudian meletakan barang bawaannya.
Tidak lama setelah itu satu sosok lain pun datang ke ruangan. Raihan menoleh dan mendapati ayah sambungnya berdiri di sana.
"Ayah Zaidan? Ayah ada di sini? Alhamdulillah, Raihan pikir Ayah tidak akan pernah datang," ujarnya dengan riang.
Zaidan tersenyum lembut dan melangkah mendekat. "Ayah minta maaf baru sempat menjengukmu sekarang. Apa jagoan Ayah tidak marah?" tanyanya sambil mengusap puncak kepala Raihan beberapa kali.
Sang empunya menggeleng seraya mendongak membalas tatapan Zaidan. "Raihan baik-baik saja. Raihan minta maaf sudah membuat Ayah Zaidan dan Mamah khawatir. Kata Ayah, Raihan tidak boleh menyalahkan diri sendiri ataupun siapa pun. Ayah juga mengatakan untuk menyayangi Ayah Zaidan, karena itu ... Raihan senang hari ini Ayah bisa datang bersama Mamah," celotehnya.
Baik Alina maupun Zaidan, keduanya sama-sama terpaku, tidak percaya jika seorang Azam bisa menasehati sang putra dengan sangat baik.
Mereka pun pada akhirnya percaya jika penyesalan itu benar-benar telah membuatnya menyesal. Alina juga sudah bernapas lega sang mantan suami berubah dengan sendirinya.
"Mulai sekarang, Raihan punya dua ayah. Apa Raihan senang?" tanya Alina kemudian.
Raihan menoleh pada sang ibu dan hendak membalas pertanyaannya. Namun, suara lain seketika menginstrupsinya.
"Tidak hanya Ayah, tetapi Raihan juga punya dua orang ibu."
Semua pandangan mengarah pada pintu masuk, Azam beranjak dari duduk melihat istri dan putrinya datang. Ia terkejut dan tidak menyangka jika di waktu bersamaan mereka bisa dipersatukan.
"Kenapa Mas terkejut begitu? Apa aku tidak boleh menjenguk putraku sendiri? Lagipula dari kemarin kakaknya selalu bertanya mengenai kondisi Raihan," balas Jasmin memandangi mereka satu persatu.
Raihan yang kembali menoleh pada Alina pun mendapatkan anggukan yakin dan senyuman manis dari sang ibu.
"Ibu Jasmin?" Panggilan lembut itu langsung membuat atensi mengarah pada Raihan lagi.
"Oh Sayang, senang sekali kamu bisa memanggil Ibu," kata Jasmin mendekati Ranjang.
"Dari kemarin kakakmu sering bertanya tentang kondisi kamu, Sayang," ujar Jasmin lagi menggenggam tangannya hangat.
"Kak Aqeela?" tanyanya polos.
Jasmin mengangguk lalu menoleh ke belakang di mana Aqeela tengah memandangi mereka bergantian. Bola mata hitam legamnya pun berhenti pada satu objek yang sudah lama mengendap dalam pikiran.
Ia menunduk saat Alina melihatnya dalam. "Sayang." Panggilan itu seketika menarik atensinya.
__ADS_1
Aqeela mendongak dan mendapati Alina sudah berada di depannya tengah menyunggingkan senyum manis.
"Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Alina kemudian.
Bukan jawaban yang di dapati Alina melaikan putri pertama mantan suaminya ini menunduk dalam. Tubuh kecilnya bergetar dengan isakan pelan mengalun mengejutkan.
Seketika Alina pun membawanya ke dalam pelukan hangat.
"Kenapa kamu menangis, Sayang?" ujarnya khawatir yang langsung mengusap punggung Aqeela pelan.
"Aqeela ... Aqeela, sudah membuat Mamah pergi. Aqeela minta maaf ... karena sudah berkata tidak baik pada Mamah. Aqeela-"
"Syut, Sayang sudah yah jangan menangis lagi," ujar Alina cepat.
Ia lalu menangkup kedua bahu Aqeela dan mendorong pelan. "Mamah tidak pernah menyalahkan Aqeela untuk apa pun itu. Mamah juga tidak pernah marah ataupun benci padamu, Sayang. Mamah minta maaf sudah meninggalkanmu dengan ayah."
"Benarkah? Benarkah Mamah tidak marah?" tanya Aqeela seraya sesenggukan.
Alina mengangguk yakin dan mengusap air matanya. "Mamah tidak pernah bisa marah padamu, Sayang. Karena Mamah sangat menyayangimu."
Aqeela terharu dan menghamburkan diri memeluk mantan ibu sambungnya erat.
"Apa Mamah mau menjadi ibuku lagi?" bisiknya pelan.
"Sampai kapan pun Mamah akan tetap menjadi ibumu, Sayang ... dan kamu akan tetap menjadi putri kebanggaan Mamah."
Aqeela tidak kuasa membendung air mata. Ia menangis lagi dan lagi, beban beberapa bulan terakhir ini selalu mengendap dalam dada seketika menguap begitu saja.
"Yyeee, Raihan punya keluarga besar. Raihan punya dua Mamah dan juga dua Ayah. Raihan sangat menyayangi kalian." Bocah delapan tahun itu pun mengepalkan kedua tangan dan meninju udara bebas.
Senyum mengembang di wajah tampannya menarik perhatian semua orang. Keempat orang dewasa itu ikut tersenyum menyaksikan sikap manisnya.
"Apa kamu tidak menganggap Kakak?" tanya Aqeela setelah sekian lama berkutat dengan Alina.
Raihan terkekeh dan memandangi kakanya hangat. "Raihan senang punya Kakak sebaik Kak Aqeela," lanjutnya.
Aqeela mendengus pelan dan melipat tangan di depan dada. Alina yang berada di sebelah merangkulnya hangat dan mereka pun tertawa bersama-sama.
__ADS_1
Kebagaiaan pun tengah menari di atas keluarga mereka. Kejadian demi kejadian yang pernah dilewati menyuguhkan misteri tak terduga.
...Bersambung......